APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel 30 Days With Mr. Vague

30 Days With Mr. Vague

Rose tak menyangka bahwa penculiknya adalah Louton Vague, seorang pewaris takhta kaya raya yang terkenal berwibawa. Di balik ketampanannya, Louton menyimpan kekejaman dan misteri besar. Namun, kebersamaan mereka selama penyekapan justru mengungkap luka batin mendalam yang menyiksa pria itu. Rasa iba pun tumbuh di hati Rose, memicu hasrat untuk menyembuhkan sisi gelap sang miliarder. Kini, ia didera dilema hebat: melaporkan kejahatannya atau mengikuti kata hati untuk menolongnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku diculik.

Setidaknya itu yang aku tahu ketika terbangun sudah berada di sebuah ruangan berukuran kurang lebih dua belas meter persegi. Memang tidak jauh berbeda dengan ukuran ruang kamarku, tapi meminum dua teguk sampanye untungnya tidak terlalu membuatku mabuk hingga lupa bagaimana rupa dari kamar yang telah aku tempati selama hampir dua puluh tahun. Terlebih tidak ada apa-apa di dalam ruangan ini selain tempat tidur, meja, juga shower box.

"Halo?" panggilku pada siapa pun yang mungkin saja mendengar. Sayangnya, tidak ada jawaban.

Sial. Aku tidak bisa bersikap biasa saja seperti ini. Aku sedang diculik. Aku tidak tahu apa yang akan penculik itu lakukan padaku jika aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa membebaskan diri.

Belum juga kakiku mencapai pintu, pintu yang dimaksud tiba-tiba mengeluarkan bunyi desis. Bersamaan dengan itu pula pintu bergeser ke samping seperti halnya sebuah pintu lift ketika terbuka.

Dari balik pintu yang telah terbuka tersebut, seorang pria muda berwajah tampan, berpostur tinggi, tegap, proporsional, model rambut buzz cut, muncul dan berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya menjinjing sebuah paper bag, sementara tangan kirinya disembunyikan dalam saku jaket bomber berwarna hijau army yang ia pakai.

Aku mematung di tempat. Menatap seseorang yang aku sendiri tidak menyangka bahwa ialah orang yang telah menculikku.

"Mr. Vague?" tanyaku bernada tak percaya. "I-ini benar kau?"

Mata Mr. Vague memicing sedetik setelah aku menyebut namanya.

"Rupanya kau mengenalku," ujarnya datar dan terkesan tidak terlalu senang.

"Ya—eh, tidak," ralatku segera. "Maksudku, tidak terlalu kenal, tapi aku tahu kau tentu saja."

"Rasa-rasanya aku tidak berencana untuk mengekspos diriku sendiri agar diketahui orang banyak."

Mr. Vague melangkah lebih ke dalam ruangan. Tadinya aku pikir ia akan membiarkan pintu tetap terbuka, tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang ada pada salah satu sisi tembok dan pintu kembali tertutup. Mungkin ada semacam pemindai telapak tangan di sana. Dan, itu tampak tidak bagus untukku.

"Kau … mungkin begitu, tapi tidak dengan orang lain. Mereka dengan senang hati membuatmu terekspos," jawabku tanpa sadar bergerak mundur secara perlahan saat Mr. Vague mendekat.

“Jadi apa yang kau tahu dariku?” tanya Mr. Vague sudah berdiri tepat di depanku.

"Kau?"

"Siapa lagi?"

Meskipun masih berjarak satu langkah, aku sudah bisa melihat mata birunya yang jernih. Belum pernah aku melihatnya dalam jarak sedekat ini dan kuakui bahwa matanya begitu memukau.

Aku menelan ludah. Bagaimana caranya menatap membuatku terintimidasi.

"Oh, kau …," jujur saja aku canggung ditatap dengan seorang pria sepertinya, "yang aku tahu kau menjadi ahli waris Vague Holding Group."

"Hanya itu?"

Aku berpikir. "Memang hanya itu informasi yang paling melekat di dirimu," jawabku. Selama sesaat yang tidak terlalu menyenangkan, kupikir ia akan merespons jawabanku, tapi ternyata ia hanya diam seolah menunggu kalimatku yang selanjutnya. “Tapi aku rasa kau tidak terlalu senang dengan posisi itu.”

Mata biru Mr. Vague menyala.

"Kau berpikir begitu?"

“Maaf,” kataku kemudian. “Itu hanya menurutku. Tolong jangan cabut beasiswaku hanya karena aku berkata kurang sopan.”

"Rupanya kau berkuliah di UC Berkeley." Mr. Vague memberi tanggapan.

“Kau menebaknya."

“Karena program beasiswa Vague Holding Group memang hanya ada di sana,” jelas Mr. Vague seraya menyodorkan tangannya yang sedari tadi memegang paper bag. “Makananmu seharian ini. Pastikan cukup sampai makan malam."

Aku memandang paper bag yang masih menggantung di tangannya. Menerima dengan ragu sambil mengecek apa isi di dalam paper bag tersebut.

"Sandwich dan air mineral?"

"Seperti yang kau lihat."

"Dan kau bilang hanya ini makananku untuk seharian ini? Apa kau serius?"

"Aku tidak pernah tidak serius dan jangan buatku harus menjelaskan dua kali."

“Mr. Vague, tapi ini … jujur aku bisa menghabiskan semua ini sekarang juga. Bahkan aku bisa menghabiskan dua sandwich sewaktu sarapan," ungkapku dan ia hanya bergeming mendengar pengakuanku yang mungkin sedikit memalukan. Terlihat sekali jika aku sangat lapar juga banyak makan.

“Silakan saja jika ingin langsung kau habiskan, tapi kutegaskan bahwa aku hanya akan memberikan makanan untukmu satu kali di pagi hari setiap harinya dan untuk hari ini hanya itu yang aku berikan,” jelasnya berbalik pergi di saat aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku pada akhirnya. Kemunculan Mr. Vague beberapa menit lalu nyaris membuatku lupa bahwa aku sedang diculik olehnya.

Langkah kaki Mr. Vague terhenti, lalu ia kembali berbalik menghadapku.

“Apa yang aku perbuat sampai kau berbuat seperti ini? Bahkan aku sama sekali tidak mengenalmu. Jika ada suatu kesalahan yang pernah aku lakukan, tolong katakan, tapi jangan seperti ini.”

“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Rose.”

Aku tertegun. “Kau tahu namaku.”

“Hampir semua informasi tentangmu ada di dalam dompet dan ponsel.”

“Oh.” Kepalaku berkeliling. Baru sadar jika tas, dompet, juga ponselku tidak ada di mana pun. “Lalu apa? Jika aku tidak melakukan kesalahan apa pun padamu, kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa kau menculikku?” tanyaku menekan dan matanya kembali menyala.

Mr. Vague sekali lagi mendekat. Tidak terlalu tampak, tapi aku merasa ada perbedaan dari sorot mata juga ekspresi wajahnya. Rahangnya mengatup kuat, kulit di area wajah dan lehernya tertarik, bibir tipisnya mengerut seakan tengah menahan sesuatu yang muncul dari dalam dirinya. Apa aku membuatnya marah? Tapi seharusnya akulah yang marah!

“Kau tidak perlu tahu alasannya,” jelasnya dengan suara pelan, dalam, dan mengintimidasi.

Aku takut, tapi aku tetap berusaha terlihat berani.

“Aku perlu tahu," tegasku.

"Tidak untuk sekarang."

"Apa bedanya sekarang atau nanti?" balasku berkeras tanpa memedulikan reaksinya. "Intinya aku perlu tahu alasan kenapa aku ada di sini. Kau tidak bisa seenaknya melakukan ini pada—AH!” jeritku ketika Mr. Vague tiba-tiba menjambak rambutku begitu kuat hingga kepalaku ikut tertarik ke bawah dengan kasar. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh tarikan yang terjadi di antara rambut dan kulit kepala benar-benar terasa menyakitkan.

Dalam posisi itu, Mr. Vague semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ekspresi yang tadinya terlihat datar, seketika berubah menjadi bengis.

“Kau ikuti saja apa yang aku perintahkan,” katanya berbisik dan menekan, dimana bibirnya nyaris mengenai daun telingaku. Menghadirkan rasa merinding yang luar biasa. Mataku terpejam dan hanya bisa merintih.

"Cukup … tolong … ini sakit," rintihku saat ia makin menjambak rambutku.

"Kukatakan sekali lagi. Itu adalah makanan dan minumanmu selama seharian ini dan kau tidak perlu bertanya kenapa kau bisa ada di sini. Mengerti, Proserpina Johnson?”

Mendengar Mr. Vague menyebut nama lengkapku, hanya makin membuat tubuhku seperti terserang oleh sengatan listrik ratusan volt. Terkesan berlebihan, tapi memang itu yang kurasakan. Suaranya benar-benar mampu menghadirkan sensasi itu.

"Jawab aku jika kau mengerti."

Kepalaku mengangguk pelan.

"Aku butuh suaramu, Rose."

Sebisa mungkin aku berusaha mengeluarkan suaraku di tengah kesakitan yang kuterima.

"A-aku mengerti."

"Gadis baik."

Setelahnya, Mr. Vague melepas tangannya dengan lebih dulu menarik rambut, kepala, beserta tubuhku hingga jatuh ke lantai. Kemudian ia langsung pergi tanpa mengatakan apa pun. Betul-betul pergi menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Meninggalkanku seorang diri dengan kondisi masih dihinggapi rasa tidak percaya, bingung, dan takut atas perlakuan seorang Louton Vague.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Comeback With You
8.1
Sejak SMP, Laluna terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia dan utang di Nepal. Demi bertahan hidup, gadis asal desa di Indonesia ini tumbuh menjadi kriminal tangguh. Ia memilih jalan sebagai pencuri untuk menghidupi keluarga serta membebaskan sahabat-sahabatnya. Takdir mempertemukannya dengan seorang tentara Indonesia yang tengah menyamar dalam misi penyelamatan budak. Bersama-sama, mereka kini harus berjuang melawan sindikat kejam demi bisa pulang ke tanah air.
Sampul Novel CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
8.8
Demi kesembuhan ibunya dan membantu sang ayah, Havva, gadis belia asal desa di Ankara, terpaksa menerima pinangan Irlan. Miliarder tersebut terpikat pesona polos Havva saat menginap di tempat kerja ayah Havva. Namun, pernikahan ini justru membawa duka. Havva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Irlan telah beristri. Bilqis, sang istri pertama yang modis, terus menyiksa batin Havva dengan intimidasi kejam. Sanggupkah gadis lugu ini bertahan?
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa terus mendampingi pria yang dahulu hidupnya telah ia hancurkan. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, akankah ketulusan Nada mampu meluluhkan amarah di hati Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf hanya akan berujung sia-sia?
Sampul Novel Keputusasaan Wanita Desa
8.9
Kehidupan seorang wanita desa berubah drastis setelah kepergian suaminya. Di tengah kesunyian malam, ia didera oleh gairah fisik yang membara dan sulit dikendalikan. Tersiksa oleh kebutuhan biologis yang kian memuncak di usianya saat ini, ia akhirnya memberanikan diri menemui dokter desa setempat. Berharap mendapatkan solusi medis untuk kondisi tubuhnya yang sensitif, ia justru dihadapkan pada tindakan sang dokter yang sama sekali di luar dugaannya.
Sampul Novel Pacar CEO Batal Nikah, Aku Langsung Menghilang!
8.2
Tujuh tahun menjalin hubungan dengan seorang CEO, rencana pernikahan wanita ini harus kandas sebanyak 99 kali. Sang kekasih selalu pergi demi menolong asisten perempuannya, meninggalkan dirinya menanggung malu sendirian di kantor catatan sipil. Lelah menjadi prioritas kedua, dia akhirnya menyerah dan memilih pergi dari Kota Niros. Namun, kepergiannya justru memicu obsesi sang CEO untuk mencarinya tanpa lelah selama lima tahun berikutnya.
Sampul Novel ULANG TAHUN IBU MERTUA
8.1
Madina kerap direndahkan Tuti, mertuanya, karena berasal dari keluarga biasa. Saat Tuti berulang tahun, Madina bahkan diperlakukan bak pelayan. Situasi kian pelik akibat rencana keluarga Alka yang berniat menjodohkannya dengan Ratna demi harta. Setelah difitnah dengan kejam, Madina dan Alka akhirnya berpisah. Di tengah kesendiriannya, Madina bangkit dan sukses menjadi penulis novel ternama. Akankah kesuksesan ini menyatukan mereka kembali, atau jalan berbeda yang akan mereka pilih?