APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel 3 LEGION

3 LEGION

Kedamaian tiga bangsa kini terancam akibat hadirnya sosok misterius dari masa lalu. Tokoh ini memegang kunci penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ia juga menjadi figur sentral yang akan mengungkap kebenaran di balik sejarah kelam Legion yang lama tersembunyi. Lewat petualangan penuh misteri ini, identitas asli sang pendatang akan membongkar rahasia besar yang telah lama terkubur rapat dari dunia mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sains sepertinya akan memberi kejutan. Dia mengendalikan segalanya.

Uang hanyalah pengalihan.

Dering ponsel itu memecah keheningan di dalam mobil XR 910 milik David. Terpampang nama Richard Glosie di layarnya. Dia yakin jika Richard menghubunginya, itu berarti tugas.. atau mungkin hal lain seperti menghabiskan waktu di bar sembari menikmati beberapa gelas bir.

‘Halo,’ David menyapa.

‘Di mana kau?’ suara di telepon itu terdengar tergesa-gesa.

David memandang ke arah sekitarnya. ‘105st Vilaneuve. Ada apa?’

‘Kau akan ke markas?’

David mengerling sejenak. ‘Ya. Tapi mungkin aku akan singgah ke toko bunga terlebih dahulu untuk membelikan Moly mawar di sana.’

‘Lupakan soal Moly dan mawarnya. Datang secepatnya ke sini. Buronanmu menunggu untuk diinterogasi,’ Richard menekankan.

David terkejut. ‘Buronanku? Maksudmu Schneider?’ ujarnya. Ada nada menerka-nerka dalam kalimat itu.

‘Tentu saja! Siapa lagi?’ Richard mengomel, ‘kau tidak akan percaya dengan apa yang terjadi pada lelaki gila itu.’

‘Beri aku lima belas menit,’ kata David sebelum mengakhiri sambungan telepon itu.

David segera memacu cepat mobilnya menuju markas polisi Hubber. Senyumnya merekah lebar ketika tahu jika Schneider menyerahkan diri.

Marion Schneider adalah Penjahat kelas kakap yang terlibat dalam banyak kasus kejahatan, termaksud pembunuhan level satu (pembunuhan lintas bangsa). Dia diduga ikut terkait jaringan teroris Liberian, sebuah sekte bawah tanah pengagung teori keTuhanan. David telah memburu lelaki paruh baya itu selama lebih dari dua tahun, waktu yang terlalu lama bagi kepolisian Hubber menangkap seorang buronan.

Markas kepolisian Hubber tampak riuh dengan bisik-bisik orang di dalamnya. Mereka menyebut-nyebut nama ‘Schneider’, ada nada ketakutan dari beberapa suara di sana. Sementara di depan cermin dua arah itu terdengar gumaman kecil dari seorang lelaki berkulit gelap dengan setelan biru tua di tubuhnya. Richard Glosie menaruh telunjuk itu di dagu lebarnya seraya menatap ke arah ruang interogasi. Taringnya yang sedikit lebih panjang dari ukuran manusia itu menggeretak, menggesek satu sama lain. Lelaki itu tampak sedang berpikir.

Si ‘hantu’, begitulah Richard memberi julukan kepada Schneider, lelaki tua di depannya yang tampak begitu tenang. Tidak ada raut ketegangan di dalam sorot matanya. Untuk ukuran Lork, Schneider terlalu bersikap dingin bagi Richard, seolah tidak ada rasa takut di dalam diri pria tua itu meski tahu umurnya mungkin tidak akan lama lagi.

Sementara itu beberapa saat setelah sampai di markas kepolisian Hubber, David segera berlari kecil menyusuri lorong yang membawanya menuju ruang interogasi, melewati beberapa orang yang terdengar menyapa. David tidak membalas sapaan itu, dia benar-benar sedang terburu. Begitu sampai di hadapan ruang interogasi ia sontak menyingkap jasnya sembari bergerak mendekat ke arah Richard. Tatapan David kemudian terfokus kepada pria tua yang duduk di dalam ruangan itu.

“Dia tampak sangat tenang,” Richard berkata.

“Aku tidak menyangka dia setua itu,” David mendesah heran.

Richard tampak menyeringai. “Dia Lork, tentu saja ia bertambah tua.”

David tersenyum lalu menggeser pandangannya perlahan ke arah Richard. Air muka seorang David tampak senang.

“Tidak perlu berterima kasih,” Richard berujar malas.

“Akan aku traktir.”

Richard sontak tersenyum lebar bersama alisnya yang meninggi. “Darah murni?”

Wajah David sontak berubah masam. “Mintalah pada ibumu,” ketusnya.

Kening Richard merosot seketika. “Delapan tahun kita bekerjasama dan kau bahkan tidak pernah membelikan aku darah se-kalipun.”

“Aku membelikan bunga saat pernikahanmu,” David menekankan.

“Ya.. Bunga.. bukan darah,” Richard menyahut malas.

David melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang interogasi itu dengan napas yang tersendat, ada perasaan segan kepada pria bernama Schneider itu. Bagi David tatapan Si Hantu adalah yang paling menakutkan dari semua pelaku kejahatan yang pernah ditemuinya. Naluri manusianya mengatakan bahwa Schneider bukanlah penjahat sembarangan dan andai saja Richard tidak menahan pria itu di Hubber untuk beberapa saat, mungkin pasukan keamanan Fleo sudah mengambil alih tugas itu. David merasa beruntung bisa berhadapan dengan buronan kelas kakap yang sudah lama diincarnya itu.

Schneider menyambut kehadiran David dengan ujung matanya. Lelaki tua itu tidak menunjukan ekspresi apapun dengan bibir keringnya yang tampak kaku. Bahkan ketika David menyapa hangat, Schneider menjawab sinis sapaan itu.

“Selamat siang, Mr. Schneider,” kata David dengan senyum kecilnya yang terlihat begitu ramah.

“Bagaimana aku tahu ini siang jika kalian menutup semua jendela,” Schneider menyahut sinis. Terdengar seperti sindiran tajam.

David tidak merespon jawaban Schneider. Ia kemudian duduk di salah satu kursi di depan meja besar yang memisahkannya dengan Schneider sambil menggulung lengan bajunya. Matanya melirik cepat ke arah rantai yang membelenggu pergelangan tangan lelaki itu kemudian berdehem sedikit sambil mengusap mulutnya. Tatapan David kini tepat mengarah kepada Si hantu.

Tidak ada kalimat yang keluar dari dalam mulut mereka berdua selama beberapa saat. Seolah saling menunggu satu-sama-lain. Mereka hanya saling menatap, memburu bersama bisikan hati mereka masing-masing hingga Schneider tiba-tiba menunjukan senyumnya, bahkan akhirnya ia tertawa kecil.

“Apa yang kau tertawakan, Mr. Schneider? Apa aku terlihat lucu?”

Schneider menggelengkan kepalanya. “Kau tentu terlihat berwibawa,” ucapnya.

“Lalu mengapa kau tertawa?”

Schneider berpikir sebentar. “Aku menertawakan dua tahun yang kau habiskan untuk memburu orang yang pada akhirnya datang sendiri menghadap kepadamu,” ujarnya.

Itu adalah sindiran yang kedua kalinya sejak David masuk ke dalam ruang interogasi itu. David coba meredam emosinya, ia telah banyak menghadapi hal semacam itu, baginya ucapan santai Schneider hanyalah cara untuk mengusir perasaan gugupnya saja.

“Aku menangkapmu dua tahun lalu dengan kau menyerahkan diri secara sukarela tentu tidak akan berbeda. Pengadilan akan menjatuhi kau hukuman tanpa memberi sedikitpun pengampunan.”

Schneider tertawa lagi. Ucapan David dianggapnya bak lelucon anak ingusan yang coba menakut-nakuti penjahat kelas kakap. Ada kesombongan di dalam suara tawa Schneider saat itu.

“Apa menurutmu aku datang ke sini untuk meminta pengampunan?”

David menggeleng. “Kau datang untuk mengakui kejahatan yang kau lakukan!” tegasnya.

“Apa aku kelihatan akan mengakui itu?”

“Apa kau punya pilihan lain?”

Schneider tertawa lagi. Namun kali ini kepalanya tertunduk, seolah ia menyembunyikan tawa itu dari jangkauan mata David yang memburu. Begitu tawa itu usai, Schneider mengangkat kepalanya lagi.

“Siapa yang menulis undang-undang negara ini, Detektif?” tanya Schneider.

“Apa kau peduli dengan hal itu?” David menyahut sinis.

“Tentu aku peduli,” dia menganggukan kepala, kalimatnya terdengar tegas.

“Oh ya? Lalu mengapa kau melanggar semua aturan yang ada?”

“Aku tidak melanggar apapun,” Schneider menghela.

“Membunuh warga Legion adalah kejahatan.”

“Aku tidak melakukan kejahatan apapun!!” Schneider membentak keras bersamaan dengan tangannya yang menggebrak meja itu hingga terdengar seolah akan memutuskan rantai yang membelenggu pergelangan tangannya.

“Tenangkan dirimu, Mr. Schneider,” David berkata dengan tenang.

Hembusan napas Schneider terdengar mendesak-desak di hidungnya, seperti tercekal. Lelaki tua itu menatap penuh amarah. Ketenangan yang sedari tadi terpancar dari dalam dirinya runtuh seketika. Di saat bersamaan, David merasakan ada energi yang keluar dari tubuh lelaki itu.

“Kalian tunduk pada teroris,” Schneider mendesah dengan mata yang menatap dalam ke arah David. “Kalian tunduk pada maklhuk titipan iblis.”

David tidak bergeming. Dia mencoba tetap tenang sebisa mungkin.

“Lycan....” Schneider menarik napas dalamnya, “akan ada yang menghabisi mereka.”

David sontak tersenyum kecil. Merekayasa emosinya agar terlihat tenang. “Yang pasti bukan kau,” ucapnya.

“Aku akan mati sebentar lagi,” Schneider mengangguk-anggukan kepala, “tentu saja bukan aku.”

Pikiran David seolah menangkap makna tersembunyi di dalam kalimat Schneider itu. Sedikit kemungkinan lelaki tua itu bersungguh-sungguh. Tapi apa mungkin akan ada yang merealisasikan ucapannya? Pikir David.

“Aku tidak ingin berbasa-basi denganmu, Mr. Schneider. Jika kau datang untuk menebus dosamu. Maka aku akan sangat menghargainya.” David menekankan.

“Menebus dosa?” Schneider mengerutkan kening, seringai lebar tampak jelas di bibirnya. Wajah itu seperti menyiratkan sesuatu yang tidak akan disukai David.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Rio terbangun dalam kegelapan tanpa memori apa pun, terkecuali namanya sendiri. Ia terdampar di Midgard, sebuah dunia fantasi abad pertengahan yang asing dan penuh bahaya. Demi bertahan hidup, Rio bersatu dengan orang-orang yang mengalami nasib serupa. Bersama-sama, mereka mendirikan kelompok tentara bayaran dan melatih kemampuan bertarung. Perjalanan penuh ketidakpastian pun dimulai bagi mereka yang bangkit dari abu demi mengukir takdir baru di tengah dunia yang kejam ini.
Sampul Novel CINTA SEJATI SANG PESULAP
8.5
Meski berbakat dalam dunia sulap, Jaime rela menjadi pelayan restoran demi menyokong impian perempuan dambaannya. Pengorbanan ini menuntunnya pada takdir luar biasa yang melintasi dimensi waktu. Namun, saat keberhasilan telah digenggam, Jaime justru terus mengejar cinta masa lalunya tanpa memedulikan bahaya. Ia tidak menyadari kehadiran sosok lain yang selalu setia menanti dan siap menerima dirinya dengan tulus apa adanya.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Wasiat terakhir sang guru setelah wafat membuat Zhao Erhu terkejut. Ia diutus turun gunung untuk mencari tujuh kakak seperguruan dengan misi yang tidak biasa. Demi menyelamatkan nyawa mereka dari bahaya besar yang mengancam, Erhu harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Meski instruksi aneh ini terdengar sangat membingungkan bagi semua orang, sang guru menegaskan bahwa hubungan intim itu adalah satu-satunya jalan keluar untuk bertahan hidup.
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka
8.3
Haura Ghania Eftikhar, eks tentara bayaran, luluh oleh kesabaran CEO karismatik Sean Wijaya dan bersedia menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan mereka hancur seketika saat Haura memergoki perselingkuhan Sean. Di tengah penyesalan Sean yang memohon kesempatan kedua, hadir seorang remaja tampan yang menawarkan cinta tulus namun obsesif, kian memperumit luka batin Haura yang mendalam.
Sampul Novel Misteri Masalembo (Crash Landing)
8.8
Badai dahsyat menyeret pesawat Airbus A320 masuk ke portal masa lalu di sebuah benua asing. Di tengah kabin yang dipenuhi arwah berdosa dan gas beracun selama dua jam penuh teror, sang pilot Adam bekerja sama dengan ahli astrofisika Austria, Ingrid Rose. Mereka berjuang memecahkan teka-teki rumit demi kembali pulang. Upaya itu berhasil, namun badai membuat bahan bakar habis. Pendaratan darurat di perairan luas pun tak terhindarkan agar semua bisa selamat.
Sampul Novel Skandal Cinta Pilot Angkuh
8.4
Senyum ceria Lara justru menyulut kebencian di hati Ardan Pradipta. Pilot berdarah dingin itu merasa terusik karena kebahagiaan Lara terus membangkitkan trauma masa lalunya. Namun, sebuah insiden tak terduga membuat keduanya terdampar di pulau terpencil. Di sana, keangkuhan Ardan perlahan terkikis oleh pesona Lara. Sayangnya, kepulangan Ardan sudah ditunggu oleh tunangan yang setia menantinya. Akankah perasaan ini bersemi atau terkubur menjadi skandal?