
18 Kali Gagal Nikah
Bab 3
Keesokan paginya, aku bangun dan mulai berkemas.
Di tengah aku berkemas, Nathan pulang dengan mengenakan kemeja berwarna merah muda.
Ketika dia masuk, aroma parfum mawar yang menyengat tersebar ke udara.
Aku tertegun sejenak.
Dulu, dia sangat tidak menyukai aroma parfum.
Karena hal ini, selama kami bersama, aku tidak pernah memakai parfum, bahkan membuang parfum kesayanganku yang sudah kusimpan selama bertahun-tahun.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya dia bukan tidak menyukai aroma parfum, melainkan tidak menyukaiku memakai parfum.
Ketika masuk dan melihatku sedang berkemas, dia tertegun sejenak. "Semalam, Shilla baru sadar tengah malam. Aku tidur di hotel, makanya nggak pulang."
Aku menatapnya dengan heran.
Selama tiga tahun menikah, ini adalah pertama kalinya dia berinisiatif menjelaskan padaku.
Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia perlahan-lahan berjalan ke hadapanku, lalu menatapku sambil bertanya, "Kamu berkemas karena ada jadwal penerbangan kerja?"
Aku mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
Mendengar jawaban ini, entah mengapa dia menghela napas lega. Dia lanjut berkata, "Hari ini, aku ada urusan. Aku akan pergi setelah mengambil barang, aku nggak makan siang di rumah."
"Oke."
Aku tidak mengangkat kepalaku dan lanjut mengemas koperku.
Awalnya, aku berencana untuk menyampaikan kabar pengunduran diriku di saat makan siang dan mengakhiri hubungan kami yang sudah berlangsung selama delapan tahun. Sekarang, sepertinya aku tidak memiliki kesempatan lagi.
Setelah itu, Nathan mengambil tas merah dan pakaian yang tergantung di dekat pintu. Dia pergi dengan terburu-buru.
"Buk!"
Begitu dia pergi, bingkai foto yang sudah tergantung di pintu selama delapan tahun tiba-tiba jatuh.
Pecahan kaca bertebaran di lantai.
Aku menoleh. Itu adalah foto aku dan Nathan menonton konser untuk pertama kalinya. Dalam foto itu, kami bergandengan tangan dan tersenyum lebar.
Hari itu, dia berjanji padaku. Sesibuk apa pun dia, setiap tahun dia akan menemaniku menonton konser. Namun, sejak Shilla menjadi muridnya, dia melupakan semua ini.
Di dalam ruangan kosong ini, hanya terdengar suara detak jam.
Aku terdiam untuk cukup lama. Pada akhirnya, aku membersihkan pecahan kaca di lantai, lalu membuang foto bahagia itu dan ketidakrelaanku ke tempat sampah.
Anda Mungkin Juga Suka





