APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel When the Night Comes

When the Night Comes

Mawar yang cantik menyimpan sejarah kelam. Di balik keindahannya, seorang anak menanggung kutukan berat yang melenyapkan seluruh warna dari kehidupannya. Ia pun melewati hari-hari dalam kesunyian dan kehampaan tanpa harapan. Namun, roda takdir berputar ketika ia bertemu dengan sosok yang dicintainya. Kehadiran cinta sejati ini menjadi titik balik krusial yang menuntunnya keluar dari kegelapan misterius yang selama ini menyelimuti dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Eropa, 2010

Kan kutemukan dirimu, walau kuharus menerjang segala sesuatu yang ada di dunia ini ... Tak peduli jika sampai membutuhkan berapa abad pun takkan kubiarkan kau menderita sendiri karena kau adalah .... 

"Ah!?" Ku bangun dari tidur.

"Mimpi itu lagi ..."  Gumamku. Tanpa kusadari setetes air mata mengalir di pipi.

" Selalu saja setelah memimpikan mimpi itu ..." Ucapku sembari mengambil tisu dan mulai menyeka jejak air mata ini. Sudah 3 tahun ini aku sering memimpikan hal itu. Suara lembut yang kurindukan ..., tapi aku tak tau itu suara siapa? Wajahnya pun terlihat samar dan aku tak bisa membuka mataku, karena terasa berat. Ah! Cuma mimpi juga. Aku pun bersiap untuk menjalani jadwal hari ini. Namaku Nea aku seorang gadis biasa berumur 23 tahun, yang memiliki kesibukan sebagai seorang Mahasiswi di sebuah Universitas yang ada di kota tempatku tinggal. Aku mengambil studi Arkeologi.

Kata Ibu, aku adalah seorang gadis berambut hitam keunguan yang panjang dengan bola mata berwarna merah muda. Aku tidak tahu, mengapa bola mataku berbeda dengan anggota keluargaku.

Hanya aku dan Kakak laki-lakiku saja yang memiliki bola mata berwarna merah muda ini. Sedangkan kedua orang tua serta Adik-adikku memiliki bola mata berwarna merah. Walau bola mata Kakak berukuran lebih gelap. Yaa ... Katanya sih ini kelainan genetik yang langka gitu, tapi Ibu bersyukur, bahwa kami tumbuh dengan sehat tanpa ada masalah. Aku sayang Ibu. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku serta tiga Adik yang manis. Aku juga memiliki seorang Kakak laki-laki. Tapi sekarang sudah tinggal sendiri karena lebih dekat dengan tempat kerja.

Yah ....

Kadang pulang ke rumah untuk melepas rindu dengan membawa banyak hadiah untuk kami. Hm... Dia Kakak yang terbaik. Dia sangat peduli dengan keluarganya, terutama kami Adik-adiknya. Ibuku bernama Sarah dan Ayahku Nathaniel. Sedangkan Adik-adikku yang manis bernama Ella, Ellard dan Liz. Ellard dan Liz adalah saudara Kembar. Untuk Kakakku, dia bernama Theo. Dan kami tinggal di kota Valetia yang ada di Eropa Selatan. Kami adalah Keluarga Rozenweits. Jam 6 pagi, saatnya aku membangunkan Adik-adikku dan membantu mereka bersiap pergi ke sekolah. Segera aku berjalan menuju kamar mereka.

"Ella, Ellard, Liz ... Ayo bangun, sudah pagi sayang." Ucapku sambil membuka pintu mereka dan melihat mereka yang mulai bangun.

"5 menit lagi, Kak ..." Jawab Ella sambil menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Ellard dan Liz yang duduk di tempat tidur, karena sudah bangun. Hanya memandangi Ella, bersamaku yang memelototinya.

"Kak bangun. Kak Nea serem, lho." Bisik Ellard yang menarik-narik selimut Ella.

"Ampun Kak, Ampun." Ucap Ella yang langsung membuang perhatiannya ke arah mana dan duduk sambil merapatkan kedua tangan di depan wajah.

"Oke, cepat bereskan tempat tidur kalian, sayang." Mereka bertiga dengan cepat merapikan tempat tidur.

"Beres Bos." Ucap mereka serentak setelah menyelesaikan apa yang kuperintahkan.

"Tidak, Ayo siap-siap untuk sekolah." Akupun membantu ketiga Adikku untuk bersiap, selesai bersiap kami sarapan bersama kedua orang tua kami.

"Ayo makan Ella! Kamu kemarin nggak makan siang kan? Sekarang harus makan." Ucapku sambil tersenyum.

"I-iya Kak ..." Ella langsung makan sarapannya dengan lahap.

"Hm ..." Aku memberikan senyuman termanis ke Ella. 

"Seram ..." Gumam si Kembar yang sedang memakan sarapannya.

"Apa sayang?" Aku menoleh ke si Kembar.

"Ti-tidak Kak, Kakak cantik deh." Jawab Ellard.

"Makasih sayang. Kan Kakak memasang senyum termanis sekarang, jadi pasti cantik lah." Ucapku dengan bangga.

"Hehe ... Iya Kak." Setelah itu Ellard menghabiskan sarapannya. Jam 7 mereka berangkat sekolah. Aku mengantarkan Adikku ke sekolah mereka sesampainya di sekolah Ella. Aku menepikan mobilku, lalu berkata pada Ella.

"Maaf El, Kakak nanti tidak bisa dihubungi Ella sepulang sekolah. Karena Kakak harus mengerjakan tugas dari kampus." Ucapku dengan cemas.

"Baik Kak, Kakak jangan khawatir. Nanti Ella akan pulang bersama teman Ella." Balas Ella sambil tersenyum dan turun dari mobil. Ella pun masuk ke sekolah sambil melambaikan tangan ke Kakaknya. Akupun membalas dengan lambaian tangan juga. Kemudian aku pergi ke kampus.

Sesampainya di tempat parkir mobil, Nea langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju ruang kelas. Saat di lorong, ia tiba-tiba dihadang oleh seorang cowok yang ... Um ... Seperti jagoan kampus gitu ....

"Nea, Malam ini kau nganggur kan?" Ucap si cowok sambil berdiri dihadapannya.

"Maaf aku sibuk." Jawab sambil mencoba untuk melewatinya, akan tetapi cowok itu masih tetap menghadang Nea.

"Ayolah kuajak kau keluar untuk healing." Rayu cowok itu.

"Tidak terima kasih aku sudah ada janji dengan seorang lelaki." Masih berusaha melewatinya, tapi tetap sulit.

"Ha! Siapa cowok itu?" kata  dengan geram.salah satu lelaki preman kampus dengan geram.

"Oh, Dia tampan dan rupawan. Ia lembut serta berwibawa, matanya Biru Saphire, Rambutnya hitam seperti pekatnya malam. Lalu dia bukan kau!" Kataku seraya melewatinya dan masuk ke kelas. Penjelasan tentang ucapannya tadi, saat ia di kelas dan tidak memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan.

"Yang kusebutkan tadi, ciri-cirinya siapa ya? Aku seperti pernah mengetahuinya, tapi siapa...?" Batinku saat tenggelam dalam pikiran.

"Yak Nea Jelaskan apa yang dimaksud dengan Aelius?" Ucapkan dosen yang membuyarkan pikiranku.

"Aelius yang berarti Matahari adalah nama dari sebuah Istana yang berada di Eropa Selatan, memiliki luas sekitar 30.000 meter persegi."

"Ok, cukup." Potong Pak Ahad saat aku menjelaskan.

"Baik Pak." Aku kembali larut dalam pikiran.

Usai kelas ....

"Hei, Nea! Kamu tadi kenapa? Pak Ahad si dosen killer itu sampai nunjuk kamu tadi?" Celetuk seorang cewek bernama Dea di belakangku.

"Mungkinkah dia menguji pengetahuanku?"Jawabku sambil memutar mata ke arah lain."Duluan ya, aku harus pergi." Imbuhku sambil keluar kelas.

Pukul 3 di museum. Aku sudah berada di tempat, dimana aku harus meneliti serta mempelajari tentang sejarah yang ada disini.

"Hm ... Istana Aelius. Mari kita mulai~" Ucapku dengan semangat dan mulai memasuki Istana. Setelah membayar biaya masuk.

"Aelius, seperti kataku sebelumnya. Adalah sebuah nama dari Istana yang berarti Matahari. Memiliki luas 30.000 meter persegi. Dengan panjang 130 meter dan tinggi 50 meter ini adalah Istana Kerajaan Aeterna pada masa 1810. Kerajaan Aeterna yang berarti Abadi. Tapi menurutku tak abadi, kecuali Istana ini sih" ucapku dalam hati sambil mengelilingi dan melihat-lihat bagian dalam Istana. Istana yang sudah diterangi gemerlap cahaya, saat aku mulai masuk. Membuatku terkesima. Kuedarkan pandangan. Ada beberapa orang juga yang mengunjungi Istana ini.

Yaa ... Istana Aelius termasuk Istana yang indah namun memiliki sejarah kelam.

"Istana ini luas sekali sih? Tidak bisa membayangkan mereka pas zaman itu, saat ingin ke toilet." Aku tertawa kecil saat membayangkan hal itu.

"Ukh?! Tempat ini ..." Saat tiba di Hall tempat biasanya diadakan. Aku terdiam, entah mengapa aku merasakan suatu perasaan yang aneh. Aku merasakan nostalgia, sedih, marah ... Aku hanya bisa bersandar di dinding menuju ketenangan.

"Huufft ..." Setelah aku kembali tenang, akupun melanjutkan perjalananku untuk menjelajahi Istana ini. Hal-hal menarik dan penting aku catat di catatan.

"Hm... Hm~" Tak terasa kakiku membawaku ke sebuah ruangan. Hm ... Bisa dibilang ini kamar raja deh, sepertinya. Ruangan yang terlihat sangat mewah, dengan banyak hiasan yang gemerlap. Tempat tidur mewah, sepertinya sangat nyaman. UPS, tak boleh dicoba. Ruangannya masih terawat. Padahal sudah 2 Abad berlalu. Akupun melihat-lihat sekeliling ruangan. Dan...

"Maaf Nona. Kami mau tutup." Ucap seorang penjaga yang mengagetkanku.

"Ah?!Ah? Maaf, baik terima kasih Pak."Jawabku sambil keluar ruangan dan kembalilah di jalanan yang kulalui tadi.

"Ke arah mana ini tadi?"Gumamku yang mencengangkan sambil clingukan melihat sekeliling, mengingat-ingat jalan yang kulalui.

"Ah!Kesini."Ucapku dengan PD nya.

"Lah? Dimana ini?" Aku yang semakin bingung saat tiba-tiba di sebuah ruangan lain. Ruangan ini gelap, hanya ada penerangan dari cahaya bulan. Saat aku melihat isi ruangan itu. Aku seperti melihat sesosok laki-laki berambut perak yang sedang melihat keluar jendela, tampak jelas rembulan disana.

"Permisi."Namun saat saya hendak bertanya ke arah jalan keluar pada orang itu. Tiba-tiba..

"Nona, nona sedang apa disini?" Aku dikagetkan oleh suara Penjaga Istana ini.

"Ah? Saya tersesat."Jawabku sambil melihat ke arah jendela yang terbuka disana.

"Bukan ke arah sini Nona. Mari ikuti saya." Ucapnya seraya berjalan lebih dulu.

"Ah?Baik." Akupun menjaga sambil berpikir." Tidak ada siapa-siapa disana tadi? Padahal aku yakin melihat seseorang disana. hanya halusinasiku saja memang." Batinku sambil menganggapnya tak penting.

"Tidak. Ini pintu keluarnya Nona." Seru penjaga yang membuyarkan lamunanku.

"Terima kasih banyak Pak." Ucapku sambil keluar dan menuju ke parkiran. Tak terasa, menjelajahi

Istana Aelius membuatku lupa waktu, hingga jam 9 malam begini. ya ... Aku segera pulang, tidak khawatir. Akupun mempercepat langkahku.Namun tiba-tiba aku dihadang oleh Michael. Si cowok yang tadi pagi juga menghadang ku. Dih, jantan banget.

"Minggir kau! Aku mau lewat." Ucapku dengan tenang."Kenapa? Mana tuh cowok yang kamu bilang tadi, Nea? Katanya ada janji dengannya. Ternyata Kau ke Istana ini." Michael bicara seolah sedang mengamatiku.

"Masalah? Aku tuh nggak suka sama kamu. Emang ya, semua harus diucapkan dengan jelas. Biar otak bodohmu itu bisa nyambung." Balasku sambil berjalannya.

"TONGKANG?!" Michael menghidupkanku dengan mencengkram erat tanganku.

"Lepasin!!" Akupun memberontak untuk menarik tanganku. Namun Michael semakin memperkuat cengkramannya. Saat itu aku melihat ada sesosok laki-laki di belakang Michael. Aku tak bisa berkata apa-apa, karena apa yang dilakukan itu mudah sekali. Hanya dalam satu kedipan mata, Michael sudah tersungkur di tanah. Tanganku sudah bebas dari Michael, tapi malah berpindah ke tangan seorang laki-laki.

"Terima kasih sudah membantu saya. "Ucapku sambil tersenyum dan saat melihatnya. Bola mata berwarna abu-abu yang indah, layaknya bulan yang berkabut. Melihat mata itu, aku seperti merasakan perasaan rindu yang mendalam. Hingga tanpa sadar kuteteskan air mataku. Dia terbelalak saat aku mengungkapkan. Namun setelah itu, ekspresi sedih yang terlihat di wajah. 

"Maaf Tuan? Terima kasih telah membantu saya." Ucapku untuk kedua kalinya yang membuat kesadarannya kembali.

"Maafkan aku. Ya, sama-sama. Lain kali hati-hati." Lelaki itu mulai berjalan pergi dari tempatku berada. Aku hanya bisa memandangi dia yang menjauh. Badan yang tegap dan gagah. Rambutnya yang berwarna silver...? Seperti... 

"Ah?Jam berapa ini? Aaaa ... Jam 10 malam. Aku harus segera pulang." Ucapku yang akan tayang hari yang sudah larut. Dengan panik, aku segera menuju tempat mobilku terparkir. Sesampainya di rumah ....

"Maafkan aku Ibu, Ayah. Aku lupa waktu karena terlalu menjelajahi Istana Aelius.

"Ucap yang sampai rumah jam 11.

"Hm ..." Kedua orang tuaku hanya melihat kedua mataku saja.

"Dah sana tidur!" Ucap Ibu.

"Baik Bu." Jawabku yang kemudian menuju kamarku. Di kamar, aku hanya bisa berbaring sambil membayangkan kejadian tadi. 

"Lelaki itu siapa ya? Entah mengapa aku seperti pernah bertemu dengannya." Pikirku. 

"Suaranya pun seperti pernah ... Ah!? Suara lelaki yang ada dimimpiku. Iya. Suaranya mirip orang tadi." Aku terus berpikir dan mulai merasa ngantuk.

"Apa cuma perasaanku saja ya? Entahlah. Aku lelah. Mau tidur saja. "Akupun masalah sambil menarik selimut dan kemudian mematikan lampu kamarku. Akupun mulai terlelap dalam tidurku. 

Malam itu aku memimpikan mimpi yang lain. Sebuah Hall luas yang sudah nampak ramai orang. Mereka semua memakai pakaian yang indah dengan aksesoris yang terlihat sangat mahal. Mereka semua berhubungan tentang entah apa aku tak tau. Karena aku tak bisa mendengar doa mereka. ketika lagu dansa pertama dimainkan. Ada seseorang yang menghampiriku dan berkata.

"Maukah Anda berdansa denganku, My Lady?" Ajaknya dengan lembut dan sopan.

"Dengan senang hati saya mau, Pak." Akupun menerima ajakannya untuk berdansa. Kami berdansa mengikuti irama musik. Entah mengapa, saya tidak melakukan kesalahan saat berdansa. Seperti saya sudah hafal ritmenya. Saat lagu selesai. Kami berdua saling memberikan rasa hormat satu sama lain. Dan para tamu undangan yang lain secara bersamaan memberikan tepuk tangan kepada kami. Aku merasa sangat bahagia. Karena bisa bersamanya..

Halo semuanya bagaimana ceritanya? Apakah menarik? Nantikan episede selanjutnya yaa ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Annaya dan Kaisar Kegelapan
9.2
Vlad IV, pangeran vampir penguasa Kastil Bran yang bergelimang harta dan kekuatan, didera kesepian mendalam. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Annaya di kelas merangkai bunga. Gadis mandiri itu menutup rapat hatinya akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Uniknya, kekuatan supranatural Kazi sama sekali tidak mempan terhadap Annaya. Di tengah perbedaan dunia yang membentang, sang pangeran harus berjuang keras meyakinkan Annaya yang skeptis agar mau membuka hati bagi cinta mereka.
Sampul Novel Cinta berlapis Dusta
8.4
Dalam novel Cinta berlapis Dusta, seorang wanita terlahir kembali demi menghindari takdir tragis diselingkuhi dan dilumpuhkan oleh Jayden. Ia memilih menikah dengan adik iparnya, Simon Hanson. Saat kecelakaan serupa terulang, Simon langsung menjebloskan Clarisse ke penjara. Namun lima tahun kemudian, ia menyadari kebenaran pahit bahwa Simon dan putra kandungnya sendiri sebenarnya hanya mencintai Clarisse. Ia pun memilih melepaskan mereka.
Sampul Novel Istri ke 96 Sang Raja Muda
9.4
Fatima El Sayeed terasing di Kerajaan Khorasan akibat fisik yang dinilai tidak menawan dan asal-usul sang ibu. Walau dibuang ayahnya, ia punya imajinasi tinggi. Nasibnya kian terancam saat seorang raja kejam yang gemar menghabisi pasangannya memilih Fatima menjadi istri ke-96. Terinspirasi kisah klasik 1001 malam, Fatima kini wajib berjuang bertahan hidup. Lewat kemampuan mendongeng, ia berusaha meredam amarah sang raja gila demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
Sampul Novel PESUGIHAN BONDHO TURAH
8.6
Hancurnya jalan ke Desa Kayu Dawung memicu rentetan peristiwa kelam akibat keserakahan, kedengkian, dan sihir. Di balik akses yang rusak itu, takdir mempertemukan jiwa-jiwa serta entitas roh yang sebelumnya asing satu sama lain. Kisah panjang ini mengupas tuntas sisi gelap ketamakan manusia yang berpadu dengan rumitnya misteri cinta. Perpaduan tersebut pada akhirnya menciptakan jalinan nasib yang tidak terduga bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Sampul Novel SUARA
9.6
Pasca-perceraian orang tua, Suara yang berumur 12 tahun terpaksa tinggal di rumah tua kosong saat ibunya bekerja. Di sana, ia terus menghadapi teror gaib ayah tirinya sekaligus gangguan makhluk halus tiap malam. Namun, aduannya justru terancam membuat sang ibu menganggapnya gila. Sejak kecil diikuti lelembut, kini Suara harus berjuang sendirian atau memercayai sosok pelindung tak kasat mata yang selama ini mendampinginya secara rahasia.
Sampul Novel Terpisah Antara Dua Dunia
8.6
Semua orang mengira John adalah suami idaman yang sangat memuja istrinya, Talita. Namun, kebenaran pahit terungkap saat Talita mengetahui perselingkuhan John. Kecewa, Talita menghubungi sistem khusus untuk keluar dari dunia tersebut. Sistem memberinya waktu lima belas hari untuk mempersiapkan kematian palsu dengan melompat ke laut. Setelah rencana matang berhasil dieksekusi, Talita pun lenyap tanpa jejak. Kehilangan ini seketika menghancurkan dunia John, menyisakan penyesalan hebat dan pencarian tanpa arah yang membuatnya hampir gila.