APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel WARUNG KOPI JENNY

WARUNG KOPI JENNY

Demi sang ibu, Jennyta memilih menetap di Rusunawa Depok setelah pulang menjadi TKW Malaysia. Sisa modalnya ia pakai untuk mendirikan sebuah warung kopi kecil. Sayang, ketenangannya kerap terusik oleh ulah Jimmy Waluyo, mantan preman yang selalu mengganggunya. Namun, dari pertengkaran harian itu, tumbuh perasaan cinta yang tak terduga. Kini Jennyta bimbang, mampukah ia melupakan sosok sang kekasih, Januar Arifin, demi menerima Jimmy di hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Habis dari mana, Bang?" Saripah bertanya ketika Kakak laki-lakinya pulang saat adzan maghrib sedikit lagi akan berkumandang.

"Kerjalah. Dari mana lagi? Emang Abang lo ini penggangguran?"

"Yeee... Nyolot amat sih, Bang. Nih, nomor handphone Mpok Jejen Ipah kasih kalo mau nih," sahut Saripah membuat langkah kaki Jimmy berhenti di depan pintu dapur.

"Buat apa nomor handphone dia," ketus Jimmy kembali berbalik dan ngacir ke meja makan.

"Ya elah, Bang. Buat di kecengin dong. Buat apaan lagi coba? Kali aja Ipah sering-sering kebagian pisang goreng atau kopi mocca gratis pas nongol di warung barunya tuh. Bener, nggak?" Saripah mengejar Abangnya, dan perkataan tersebut sukses membuat air putih yang hampir Jimmy telan keluar bak air mancur di Bundaran Hotel Indonesia.

"Ukhukkk... Ukhukkk..."

"Astaga, Bang! Kalo minum itu hati-hati kenapa sih? Kebiasaan banget. Kayak anak kecil aja! Mana muncratnya kena tangan Ipah lagi. Basah deh kertas nomor handphone Mpok Jejen nih!"

"Hah?! Serius lo, Pah? Mana sini coba Abang lihat tuh kertasnya," Jimmy segera mencengkeram tangan Saripah dan berniat merebut kertas yang sudah basah itu.

Sayangnya kertas tersebut tersobek dan bagian yang ada di tangan Saripah pun bentuknya sudah seperti bubur kertas akibat muntahan air tadi.

"Ya, Ipahhh... Robek, kannn..." gerutu Jimmy mengangkat potongan kertas dari buku tulis bergaris itu ke udara.

"Alah, gitu aja kok repot! Tuh, warungnya Mpok Jejen masih buka sampai habis Isya, terus bakalan tutup kalo Bapak-Bapak udah habis ngeronda keliling kompleks. Lagian, katanya tadi buat apaan nomor handphone Mpok Jejen! Taunya di rebut juga dari tangan Ipah," sahut gadis itu melepas mukenanya yang basah, "Minat Ping! Minat sosor tuh di bawah. Alasan ngopi kek apa kek. Gitu aj---"

"Mau bilang apaan, hem? Gitu aja kok repot? Terus aja itu kata lo pake sampai tua. Ya iyah Abang repot, Pah. Kan Abang bukan pe-ngang-guran! Jadi selalu repot alias sibuk!" sanggah Jimmy menekan ujung kalimatnya.

"Cih, nyindir! Mentang-mentang udah lama kerja sama Bos Gege yang tampan dan tajir melintir, terus bisanya tiap hari nyindir Adeknya muluk. Huh, dasar! Ipah doain jadi bujang lapuk nggak kawin-kawin baru nyahok!" gerutu Saripah dan Jimmy terkekeh keras.

"Nggak mungkin Abang lo ini jadi bujang lapuk, Pah. Orang tiap hari ada aja yang minta Abang perawanin kok, apalagi yang minta di kawinin? Ban-- Aduhhh... duhhh... Kuping gueee... Sakit, Makkk... Ampunnn...! teriak Jimmy tak menyelesaikan ucapannya.

"Biarin aja sakit! Biarin juga sampai putus kalo perlu! Mak heran ya sama lo ini, Jim. Masih aja lo demen gangguin anak orang rupanya!" kesal Mak Rapeah yang baru keluar dari kamar mandi.

"Becanda kali, Mak. Mana berani lagi Jimmy aneh-aneh sekarang, Mak. 'Kan Jimmy udah kerja tuh sama Bos Gege yang eksklusif gitu," jurus berkelit pun keluar dari mulut Jimmy, "Nih, liat. Baju kerja Jimmy aja udah kayak orang kantoran, Mak. Terus liat juga nih. Kunci mobil, Mak. Ke mana-mana Jimmy naik mobil, terus--"

"Terus lo mandi, karena gue mau sholat maghrib ke musola. Gue nggak mau denger acara ngeles lo yang panjang lebar tentang laut biru. Ayo, Pah. Jalan gih. Nanti ke buru di mulai," repet Mak Rapeah menarik tangan Saripah.

"Wuekkk... Dadahhh... Abanggg..." ejek Saripah menjulurkan lidahnya.

"Ck. Apaan sih Emak ini. Bikin kesel aja. Udah ach mandi dulu mendingan juga," gumam Jimmy mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Ritual mandi bersih ala Jimmy Waluyo pun terjadi di detik berikutnya, ketika semua pakaian sudah ia lepaskan. Dan pita suara yang berada di tenggorokannya pun ikut beraksi mendendangkan lagu dari si Raja dangdut, Bang Haji Rhoma Irama.

Sayangnya tepat saat Jimmy baru akan membuka mulut, 'Tok... Tok... Tok...' ketukan di pintu kamar mandi membuat laki-laki dua puluh tiga tahun itu terkejut seketika.

"Astaga, Makkk...! Bikin kaget ajaaa... Tung--"

"Maaf, Bang Jim. Ini bukan Mak Rapeah. Ini Jenny, Bang. Kebetulan tadi goreng kue pisangnya kebanyakan. Karena kata Ipah Abang udah pulang, Jadi Jenny anterin dikit buat ucapan permintaan maaf soal yang tadi pagi itu."

Deg...

Jantung Jimmy hampir melompat keluar saat mendengar suara halus Jenny masuk ke telinganya.

"Jenny taruh di meja aja ya, Bang? Maaf udah bikin Bang Jimmy marah," lanjut Jenny, karena tak kunjung mendengar sahutan dari dalam kamar mandi, "Assalamualaikum, Bang." dan kini ia pun berniat pergi dari sana.

Tapi baru saja tiga kali Jenny melangkah, ternyata Jimmy sudah berhasil meraih tangan gadis itu dan menyudutkan ke tembok di lorong dapur.

"Apa kamu nggak punya cara lain buat minta maaf, selain dengan cara ngagetin aku pas mandi dan ngasih pisang goreng?"

Ampunnn... Dj...

Wanita mana yang bisa bernapas ketika Jimmy bertanya dengan jarak hanya lima sentimeter seperti sekarang ini. Bahkan biasanya ia akan lebih dulu mendapat serangan, karena tatapan mata elangnya yang super memabukkan.

"Ja-jadi..." Jenny menggantungkan ucapannya, "Ap-apa yang Abang mauuu..."

"Cium pipi aku yang kamu tampar tadi," segera saja Jimmy berkata seperti itu, "Gampang, kan?"

Cup

Dan Jenny melakukannya dengan secepat kilat, hingga membuat Jimmy berdiri kaku di tempatnya.

"Permisi, Bang," Jenny mendorong tubuh kekar Jimmy dan berlari menuju pintu keluar.

Namun roh Jimmy yang terbang sudah kembali ke dalam tubuhnya, dan ia tak mau menyia-yiakan kesempatan dari celah pintu yang sudah di buka oleh pemiliknya.

"Bang Jim-- Hemphhh..."

Jimmy dengan beringas melumat habis bibir Jenny, dan lagi-lagi ia merapatkan tubuh sintal buruannya ke daun pintu yang masih tertutup.

Ia bahkan membawa kedua tangan Jenny ke atas kepala, dan dengan bebas pula menghimpitkan tubuhnya agar semakin rapat.

"Achhh..." satu erangan lolos dari pita suara Jenny, karena ternyata bibir Jimmy sudah merambat turun di lehernya.

"Jawab aku, Jen. Kamu masih perawan atau udah janda?" Jimmy ingin memastikan status Jenny, karena tak ingin di grebek masa akibat meniduri Istri tetangga di rusunawanya sendiri.

"Aku..."

"Tolong, Jen. Aku nggak bisa sentuh kamu kalau ternyata Suami mu lagi nungguin di bawah sana," kejujuran pun keluar dari mulut Jimmy.

"Iya! Ak-aku udah punya Suami, Bang!" Jenny menjawab asal, sembari menunjukkan cincin polos yang ia kenakan.

Sial!

Jimmy dengan cepat melonggarkan pelukan, melepaskan genggaman tangannya di kedua pergelangan Jenny, kemudian berbalik menuju ke kamar mandi lagi.

BRAKKK...

Ia bahkan membanting pintu kamar mandi dengan keras, hingga membuat Jenny menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.

Deg.

Satu perasaan kecewa tiba-tiba saja timbul dari dalam hati si pemilik warung kopi, namun ia tak mau ambil pusing dengan hal tersebut.

"Maafin aku, Bang," hanya tiga kata itu yang terus Jenny lontarkan di sepanjang perjalanan dari keluar pintu sampai ke bawah tangga.

Seolah paham jika ia sudah salah menempatkan diri, dengan memancing syahwat seorang Jimmy Waluyo.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel akan ku tuju sampai ke ujung
9.6
Siera sangat menikmati masa lajangnya sebagai wanita mandiri. Di sisinya, ada Roma, sahabat masa kecil yang selalu loyal mendukungnya. Namun, ketenangan hidup Siera terusik sejak kehadiran Xavier, bos besar di kantornya. Meski sang atasan berkarakter angkuh dan dingin, perlahan ketulusan Siera mampu melunakkan hatinya. Kini, Siera terjebak di antara loyalitas sahabatnya dan daya pikat sang bos yang mengubah takdirnya.
Sampul Novel Dewi Mayapada
8.0
Fina tumbuh dalam limpahan kasih sayang sang ibu yang selalu melindunginya. Namun, fase kedewasaan membawa tantangan berat saat ia harus memilih pendamping hidup. Di tengah badai keraguan dan kekecewaan yang kerap datang, ibunya tetap berdiri sebagai pelindung utama. Lewat berbagai wejangan berharga dan keteguhan menghadapi cemoohan orang sekitar, sang ibu menuntun Fina hingga akhirnya ia berhasil menemukan keyakinan penuh untuk melangkah ke masa depan.
Sampul Novel Diperbudak Nafsu
9.5
Mengusung genre romansa modern dewasa, kisah ini menyoroti perjalanan hidup penuh gairah dari seorang tokoh utama bernama Fahrizal. Cerita dimulai sejak ia berumur tiga belas tahun, saat bakat dan keahlian luar biasanya dalam hal intim mulai terlihat. Diwarnai deretan adegan eksplisit yang sensual, pembaca akan diajak menyaksikan bagaimana hasrat mendalam Fahrizal terus berkembang seiring berjalannya waktu melalui alur narasi yang berani.
Sampul Novel Dua Pria, Satu Permaisuri
9.6
Meskipun kehilangan penglihatannya sejak kecil, Wulan berhasil tumbuh menjadi terapis pijat terkenal berkat bimbingan ibu asuhnya. Namun, rutinitasnya di tempat kerja mendadak berubah drastis saat seorang pelanggan penting dan berpengaruh datang berkunjung. Pria misterius yang menginginkan sensasi berbeda tersebut secara mengejutkan menarik pakaian Wulan, lalu menuangkan minyak pijat ke dadanya demi mendapatkan layanan yang tidak biasa.
Sampul Novel Dua Tahun, Tapi Dia Pilih yang Polos
8.0
Dua tahun dihabiskan demi memuaskan sang kekasih, Aidan Jace, bahkan sampai berjuang lulus kuliah lebih cepat demi janji pernikahan. Namun, pengkhianatan pahit terungkap di sebuah bar saat Aidan meremehkan kesetiaan tersebut di depan teman-temannya dan memuji gadis lain yang dianggap lebih polos. Rasa sakit hati ini memicu keputusan besar untuk berbalik arah. Tanpa ragu, sebuah proyek rahasia negara diambil demi mendedikasikan sisa hidup sepenuhnya untuk bangsa, meninggalkan masa lalu yang sia-sia.
Sampul Novel Gadis Imigran
8.8
Demi membiayai ayah dan adiknya, Iris Barcova terpaksa menempuh jalan kelam sebagai PSK. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius dari kalangan mafia menawarkan pernikahan kontrak demi pengobatan ayahnya. Di sisi lain, ada seorang dokter tulus yang mencintainya, membuat Iris terjebak dilema. Namun, kenyataan pahit perlahan terungkap bahwa pria penyelamatnya itu diduga merupakan dalang utama di balik segala tragedi yang menimpa hidupnya.