APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Warisan Sang Monster

Warisan Sang Monster

Bosan dengan kekayaannya, triliuner Alexander Volkov memilih menyamar sebagai tunawisma. Di jalanan, ia bertemu Elara, seorang ibu tunggal miskin yang dibuang keluarganya demi mengobati sang putri yang sakit keras. Kebaikan Elara yang tulus berbagi makanan menyentuh hati Alexander. Saat Elara terancam kehilangan hak asuh anaknya, Alexander membongkar identitas aslinya. Ia siap menolong, asalkan Elara bersedia menjadi kekasihnya dan menyerahkan satu malam bersamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Waktu bergerak seperti air raksa yang kental, melambat hingga setiap detik terasa menyiksa. Setelah Elara meninggalkan Montage Lounge dengan tas penuh uang tunai di tangannya, dunia lamanya seolah runtuh menjadi debu di belakangnya.

Viktor, si tangan kanan Alexander yang dingin, menjemputnya. Dia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Dia hanya menyerahkan kunci elektronik dan kartu akses ke sebuah apartemen baru di sebuah kompleks mewah.

"Apartemen sementara. Tuan Volkov ingin kau dan putrimu pindah segera," kata Viktor, matanya tanpa ekspresi. "Pengacara akan menemuimu malam ini. Semua detail medis Lily akan diurus. Kau tidak perlu khawatir lagi."

Elara merasa mual. Uang itu terasa berat dan kotor. Dia menatap tumpukan dolar di tasnya-jumlah yang bisa membeli kebahagiaan bagi Lily, tetapi telah merenggut seluruh harga dirinya.

Dia kembali ke apartemen lamanya yang apek, ke kamar kecil yang selama ini menjadi benteng pertahanannya. Dia menatap Lily yang sedang tidur nyenyak.

Lily, malaikat kecilnya, kini aman. Nyawa Lily dibeli. Dibeli dengan apa? Dengan martabat ibunya.

Dia menghabiskan sisa sore itu dalam keheningan yang menyakitkan. Dia mengemasi beberapa barang yang paling penting: boneka usang Lily, beberapa foto, dan obat-obatan. Dia tidak membawa banyak pakaian lamanya. Pakaian itu tidak akan cocok dengan kehidupan barunya, kehidupan yang dijual.

Ketika dia memberi tahu Lily bahwa mereka pindah ke tempat yang lebih baik-tempat yang lebih besar dan cerah-mata Lily bersinar dengan kebahagiaan murni.

"Mama! Apakah akan ada taman yang bagus?" tanya Lily, suaranya lemah karena sakit, tapi penuh harapan.

"Ya, Sayang. Taman yang sangat bagus," kata Elara, memeluk putrinya erat-erat. Pelukan itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah kekacauan yang menghancurkan jiwanya.

Dia tahu, dia tidak boleh menyesal. Keputusan ini, meskipun kotor, adalah pilihan yang menyelamatkan hidup. Dia telah memilih Lily di atas dirinya sendiri.

Apartemen barunya-atau lebih tepatnya, apartemen Alexander-terasa seperti rumah boneka yang terlalu mahal. Segalanya baru, bersih, dan terlalu sempurna.

Dindingnya berwarna krem lembut, dilengkapi furnitur Italia dan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang sama yang dilihat Alexander dari kantornya. Ada kamar tidur yang cerah untuk Lily, lengkap dengan mainan baru dan selimut tebal.

Elara membaringkan Lily di kasur yang lembut. Lily langsung tertidur lelap, kelelahan karena penyakitnya dan perpindahan yang mendadak.

Setelah memastikan Lily aman, Elara berdiri di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh kemewahan yang tidak dia inginkan. Dia merasa seperti penjahat yang bersembunyi di balik kekayaan curian.

Tepat pukul 20:00, bel pintu berbunyi.

Elara tahu siapa itu. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena takut kehilangan Lily, tetapi karena takut pada apa yang akan dia hadapi.

Dia membuka pintu. Alexander Volkov berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang membuat kehadirannya terasa mengancam, bahkan tanpa ia mengucapkan sepatah kata pun. Dia membawa sebotol anggur merah yang sangat mahal dan map kulit.

"Selamat datang di neraka berlapis emasmu, Elara," kata Alexander, matanya dingin dan datar.

Dia masuk tanpa diundang, meletakkan anggur dan map di atas meja kaca. Dia langsung berjalan ke kamar Lily. Elara menahan napas, takut Alexander akan menyentuh putrinya.

Alexander hanya berdiri di ambang pintu, menatap Lily yang tidur nyenyak. Ekspresinya tidak terbaca. Tidak ada kelembutan, tetapi juga tidak ada ketidaksukaan. Hanya pengamatan yang dingin.

"Kamar yang bagus untuknya," katanya singkat. "Perawatan terbaik akan tiba besok pagi. Dan pengacara terbaikku akan menyelesaikan Hartono sebelum akhir minggu."

Dia berbalik dan menatap Elara.

"Mari kita selesaikan bisnis kita, Elara. Malam ini adalah awal dari transaksi kita."

Dia berjalan ke sofa kulit dan membuka map kulit itu. Di dalamnya ada dua lembar dokumen tebal. Kontrak.

"Duduk," perintah Alexander.

Elara duduk di seberangnya, merasakan jarak yang tak terhingga antara mereka.

"Kontrak ini sederhana," jelas Alexander, suaranya tenang, seperti sedang membahas harga saham, bukan menjual jiwa seseorang. "Ini bukan kontrak asmara, ini kontrak kepemilikan. Kau akan menandatanganinya untuk menjamin pembayaran 1,5 juta dolar yang sudah kau terima, dan untuk menjamin perlindungan hukum dan medis Lily seumur hidupnya."

Alexander mulai membacakan pasal-pasalnya, dan setiap kata terasa seperti cambukan di punggung Elara.

Pasal 1: Kepatuhan. Kau adalah kekasih bayaranku. Kau akan menemaniku ke mana pun aku pergi, kapan pun aku memintanya. Pakaianmu, penampilanmu, bahkan jam tidurmu, adalah urusanku. Kepatuhan total, tanpa pertanyaan.

Pasal 2: Anonimitas. Identitasmu yang sebenarnya, terutama latar belakangmu sebagai pelayan dan penyamaranku sebagai Alex si gelandangan, harus tetap rahasia. Kau tidak akan pernah membeberkannya, bahkan kepada Lily.

Pasal 3: Sentimen. Ini adalah transaksi. Aku bukan kekasihmu. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Jangan pernah menuntut kasih sayang, kemesraan, atau emosi apa pun.

Pasal 4: Malam Panas. Kau telah setuju untuk menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadaku, dan kau harus menerima itu sebagai bagian dari harga yang kau bayar. Mulai malam ini.

Elara mendengarkan dengan kepala tertunduk. Air mata membasahi pipinya, tetapi dia tidak mengeluarkan suara. Dia tahu dia tidak bisa menawar.

"Aku sudah memberimu uang, Elara," kata Alexander, nadanya sedikit lebih rendah, seolah-olah dia sedang mencoba memahami emosi wanita itu. "Ini adalah malam pertamamu. Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang ekstrem, tapi kau harus memahami posisi dan komitmenmu. Aku membeli malam ini, dan malam-malam selanjutnya."

Dia mendorong pena emas di atas kontrak ke hadapan Elara.

Elara mengambil pena itu, tangannya gemetar. Dia tidak membaca detail hukum di balik kata-kata itu. Dia hanya melihat satu kata: Lily.

Dia menandatangani, dengan tulisan tangan yang goyah, di mana namanya sendiri terasa asing.

Alexander mengambil pena itu kembali, menatap tanda tangan Elara, dan mengangguk puas. Sebuah kemenangan yang dingin.

"Sekarang, mari kita minum. Malam ini kau akan tidur di kamar ini, dan aku akan tidur di kamar utama. Kau harus membiasakan diri untuk memenuhi setiap keinginanku. Malam pertama kita akan dimulai setelah kau merasa lebih nyaman," kata Alexander. Dia menunjukkan sisi kemanusiaan yang aneh, seolah-olah dia sedang memberi waktu kepada hewan buruannya sebelum ia menerkam.

Elara, terkejut dengan 'kebaikan' kecil itu, hanya bisa menatapnya. "Anda... tidak akan memaksaku?"

"Aku tidak memaksakan sesuatu, Elara," balas Alexander dingin. "Aku membeli persetujuanmu. Dan kau sudah setuju. Malam ini kau hanya perlu membiasakan diri berada di bawah pengawasanku. Bersihkan dirimu. Kita akan minum anggur dan membahas masa depanmu."

Elara berjalan ke kamar mandi, merasa seperti robot. Dia menanggalkan pakaian kerjanya yang usang, pakaian yang dipenuhi noda kopi dan bau minyak goreng. Pakaian itu terasa seperti penyamaran, topeng yang sudah dia kenakan terlalu lama.

Dia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang besar. Tubuhnya kurus, dipenuhi memar kecil dari shift kerja yang brutal. Wajahnya pucat, matanya merah. Ini adalah Elara yang sebenarnya-bukan kekasih bayaran yang glamor, tapi seorang ibu yang putus asa.

Dia mandi dengan air panas, yang terasa begitu asing. Air panas tak terbatas. Sesuatu yang mewah yang bahkan tidak pernah dia impikan sebelumnya. Setelah mandi, dia melilitkan handuk tebal di tubuhnya dan kembali ke ruang tamu.

Alexander tidak ada di sana. Dia sedang berbicara di telepon di balkon, suaranya pelan dan berwibawa.

Elara berjalan ke kamar Lily. Lily tidur dengan nyenyak, tampak lebih tenang daripada yang pernah dia lihat dalam waktu lama.

Lily aman. Lily hidup. Elara mengulanginya, menjadikan frasa itu sebagai mantra, sebagai perisainya.

Ketika dia kembali ke ruang tamu, Alexander sudah selesai menelepon. Dia melihat Elara-rambutnya basah, hanya mengenakan handuk.

Tatapan Alexander berubah. Bukan lagi dingin seperti es, tetapi panas dan penuh penilaian. Tatapan itu menelanjanginya, menganalisis setiap lekuk tubuhnya, bukan dengan nafsu murahan, tetapi dengan rasa kepemilikan yang kuat.

"Kau terlihat jauh lebih baik," katanya, suaranya sedikit serak.

Dia menuangkan anggur merah ke dua gelas kristal.

"Duduk," katanya lagi, kali ini nadanya lebih lembut, lebih persuasif. "Kita akan minum dan kau akan bercerita tentang dirimu. Bukan sebagai pelayan restoran, tapi sebagai dirimu sendiri, Elara Senja."

Elara duduk, menerima gelas anggur itu, dan meminumnya hingga separuh. Cairan pahit dan manis itu membakar tenggorokannya, memberikan keberanian yang dia butuhkan.

"Apa yang ingin Anda ketahui?" tantang Elara, matanya yang merah menatap Alexander.

Alexander menyesap anggurnya, menatap Elara. "Aku ingin tahu mengapa kau memberiku roti basi itu di taman. Kau tahu kau lapar. Kau tahu kau butuh setiap remah. Kenapa?"

Pertanyaan itu menghantam Elara. Itu adalah pertanyaan yang sangat pribadi, pertanyaan yang mengungkapkan bahwa pria di hadapannya ini adalah Alex si gelandangan.

"Putriku," bisik Elara. "Dia selalu ingin berbagi. Dia punya hati yang baik. Aku melakukannya untuknya. Agar dia bangga pada ibunya."

Alexander menghela napas. Itu adalah hal yang paling jujur dan paling polos yang pernah dia dengar dalam bertahun-tahun.

"Kebaikan yang mahal," gumam Alexander. "Kebaikanmu hampir membuat putrimu mati kelaparan, dan membuatmu menjadi milikku."

Elara tersentak. "Itu adalah pilihan yang saya buat! Bukan salah kebaikan saya, tapi salah kekejaman orang-orang di dunia ini!"

"Dan di sinilah aku masuk, Elara," kata Alexander, senyum tipis di wajahnya. "Aku adalah orang yang kejam itu. Aku akan menggunakan kekejamanku untuk melindungimu. Selama kau berada di bawah perlindunganku, kau akan aman. Tidak ada Hartono, tidak ada tagihan, tidak ada kedinginan."

Dia menghabiskan anggurnya dan berdiri. Handuk di tubuh Elara terasa semakin longgar, semakin tidak aman.

"Sekarang, Elara. Malam sudah larut."

Elara merasa takut. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ini dia. Momen yang dia jual.

Alexander berjalan mendekat, dan Elara menutup matanya, bersiap untuk serangan yang kejam dan transaksional.

Namun, Alexander hanya berhenti di depannya. Dia mengangkat tangannya, dan perlahan, dengan gerakan yang lembut, dia menyentuh rambut basah Elara.

"Tidak malam ini, Elara," bisik Alexander. Suaranya rendah, nyaris seperti belaian. "Aku memberimu satu hari lagi. Tidurlah di kamar ini. Aku ingin kau tahu, aku bisa saja memaksamu, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya. Aku ingin kau datang kepadaku, bukan karena aku memerintah, tetapi karena kau memilih untuk mematuhi."

Dia melepaskan sentuhannya. Dia meninggalkan gelas anggurnya, dan berjalan menuju kamar utama, meninggalkan Elara dalam kebingungan dan ketakutan.

"Malam pertama kita akan terjadi besok," kata Alexander, suaranya kembali dingin, sebelum menutup pintu kamar utama dengan bunyi 'klik' yang pelan.

Elara ditinggalkan sendirian. Dia harus tidur di tempat tidur yang dingin dan empuk, di bawah atap emas, sementara martabatnya sudah direnggut. Malam panas itu tertunda, tetapi bayangan Alexander yang dingin dan menuntut terasa jauh lebih menakutkan daripada paksaan fisik. Dia harus tidur sendirian malam ini, tetapi mulai besok, dia akan tidur bersama iblis yang telah membeli nyawa putrinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Balik Topeng Cinta Pertama
8.5
Kehilangan putri tercinta akibat serangan jantung menyisakan duka mendalam bagi sang ibu. Kehancuran itu memuncak saat tahu sang suami menyuap dokter demi memindahkan jantung anak mereka ke putri teman masa kecilnya. Di saat suami merayakan keberhasilan itu, sang istri justru divonis menderita leukemia stadium lanjut. Sambil mendekap guci abu anaknya, ia pulang dan mendapati suaminya bersiap keliling dunia bersama teman masa kecilnya itu.
Sampul Novel Kontrak Pewaris Lima Miliyar
8.0
Demi memenuhi tuntutan sang ayah, miliarder dingin Narendra Adipradana harus segera mencari penerus tanpa mau terikat pernikahan. Ia pun menawarkan kesepakatan senilai lima miliar rupiah kepada Kirana Maheswari, gadis desa yang terlilit utang besar, untuk melahirkan anaknya tanpa melibatkan perasaan. Namun, begitu kehamilan Kirana berjalan, keteguhan hati Narendra mulai goyah. Akankah ikatan bisnis ini berujung pada cinta, atau Kirana justru pergi setelah tugasnya selesai?
Sampul Novel Menikahi Ceo
8.7
Arga, seorang CEO yang dingin soal asmara, mendapati hidupnya berubah setelah bertemu Raisya, siswi SMA tegar yang tinggal bersama sang kakak. Pertemuan tak sengaja di depan rumah memicu aksi usil Raisya yang perlahan meluluhkan hati Arga. Sayang, kisah unik ini kandas ketika Raisya kuliah ke luar negeri dan melupakan Arga. Saat kembali, Raisya mendapati Arga telah bertunangan. Akankah cinta lama mereka membara lagi, atau Arga memilih setia pada tunangannya?
Sampul Novel Menikahi Mantan Istriku Lagi: Cinta pertama dan selamanya
8.3
Dahulu, pernikahan Jennifer dan suaminya yang miliarder hanyalah kesepakatan bisnis tanpa cinta hingga berujung cerai. Sebelum proses hukum usai, Jennifer memilih kabur dalam kondisi hamil. Lima tahun kemudian, sang mantan suami memakai dominasi bisnisnya demi memaksa Jennifer pulang bersama putra mereka. Di saat publik merasa kasihan karena mengira sang konglomerat akan menikahi perempuan lain, mereka tidak tahu bahwa Jennifer yang akan kembali naik pelaminan.
Sampul Novel MENJADI BUDAK NAFSU TUAN YUAN
9.8
Sepulang dari London, Hani Paulla bekerja jadi sekretaris di bawah pengawasan sang kakak, Yuan Andersson. Namun, pesona Hani memicu obsesi gelap Yuan hingga memaksanya melayani hasrat sang billionaire. Terjebak hubungan terlarang, sentuhan Yuan justru membuat Hani kecanduan. Kini ia bimbang antara kabur atau menyerah pada cinta, sambil terus didera ketakutan jika rahasia ini terbongkar di hadapan orang tua mereka.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan CEO Posesif
8.6
Amber, wanita yang kerap dicap sebagai anak haram dan diabaikan keluarganya, harus menghadapi takdir rumit saat dipaksa menjadi istri dadakan bagi Reyvan. Reyvan adalah seorang CEO dingin dan angkuh yang sejak awal memperingatkan Amber untuk menjaga jarak serta tidak jatuh cinta kepadanya. Pernikahan mereka bahkan dibatasi oleh tenggat waktu perceraian yang telah ditentukan. Namun, seiring berjalannya waktu, sang CEO justru menyadari bahwa ia tidak sanggup hidup tanpa kehadiran Amber di sisinya.