APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanitamu Canduku

Wanitamu Canduku

Rene, staf finansial, terjebak dilema cinta akibat kehadiran Tatang dan Farhan. Tatang, manajer bank yang matang, memicu kecemburuan Rene karena hubungan dekatnya dengan Ajeng. Sementara itu, Farhan yang posesif kembali dari London meski didera isu kehamilan Putri, sang mantan. Di tengah kejaran dua pria ini, Rene harus memilih di antara mereka sambil menghadapi konflik masa lalu dan ujian persahabatan yang menguji kesetiaan hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

BAB 1

Happy reading

********

Rene menekan tombol bell di dekat daun pintu. Rene melihat jam melingkar di tangannya menunjukkan pukul 18.30 menit. Dari kantor ia langsung ke rumah Dian. Ada sesuatu yang ingin ia ceritakan kepada sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Dian pulang jam empat sore, sudah pasti wanita itu ada di rumahnya.

Rene menekan tombol itu lagi, hingga sang pemilik rumah membukakan pintu. Sedetik kemudian pintu terbuka. Rene menatap laki-laki berdiri tepat di hadapannya. Ia tahu bahwa laki-laki itu adalah saudaranya Dian yang bernama Tatang. Karena Dian sering menceritakannya. Ia sering sekali ke rumah Dian, tapi ini merupakan pertama kalinya ia bertemu dengan laki-laki ini.

"Dian nya ada?" Ucap Rene.

"Kamu siapa?" Tanya Tatang, memperhatikan wanita di hadapannya ini. Ia tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya.

"Saya Rene, temannya Dian,"

Tatang memperhatikan penampilan Rene, jujur ia sering mendengar nama Rene sebelumnya dari ke dua orang tua dan adiknya. Nama itu memang tidak asing baginya. Tapi ia baru tahu, ternyata wanita inilah yang bernama Rene. Wanita itu ia yakini belum pulang ke rumah, karena baju kaku itu masih terpasang sempurna di tubuhnya.

"Jadi kamu namanya Rene, masuk aja," ucap Tatang, ia memperlebar daun pintu untuk wanita itu.

Rene lalu masuk ke dalam, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ruangan itu terlihat sepi, ia lalu menoleh ke arah laki-laki itu.

"Dian belum pulang, jadi tunggu aja, sebentar lagi juga pulang kok" ucap Tatang.

"Iya, Om sama tante, kemana?" Tanya Rene lagi.

"Masih di toko, katanya sih masih rame," ucap Tatang.

Tatang melirik Rene, "Kamu satu kantor sama Dian, seharusnya ya pulang sama-sama,"

"Aku beda devisi mas sama Dian. Aku accounting, pulangnya jadi beda. Tadi aku samperin ruangan Dian udah gelap. Kirain udah pulang ke rumah, ternyata enggak" ucap Rene, ia lalu duduk di sofa. Ia simpan tasnya di sampingnya.

"Kamu naik apa kesini?" Tanya Tatang penasaran.

"Naik taxi mas,"

"Mungkin sekarang Dian, lagi jalan sama pacarnya," ucap Tatang, ia juga duduk di samping Rene, agar ia bisa memperhatikan Rene. Wanita itu berwajah oriental.

Rene hanya diam, karena ia tahu bahwa pacarnya Dian udah datang dari New York. Rene lalu membuka tasnya, ia merogoh ponselnya yang mati total itu. Tidak lupa Ia mengambil charger,

"Mas, ada terminal nggak,?"

Tatang melihat ponsel dan charger di tangan Rene. Wanita itu memerlukan isi batrainya, "Ada, itu di dekat Tv banyak yang kosong,"

"Numpang ya mas,"

"Iya,"

Rene lalu berjalan menuju ruang Tv, sementara Tatang memperhatikan wanita itu, dan mengikutinya. Rene nampak tidak asing dengan rumah ini. Ia memperhatikan secara jelas rok span berwarna coklat terang itu, ada sedikit bercak di sana.

"Ren ..." ucap Tatang.

"Iya, mas," ucap Rene, setelah berhasil mencolok charger untuk ponselnya.

"Kamu datang bulan ya,"

Rene mengerutkan dahi, "enggak sih," ucap Rene ragu-ragu.

"Tapi itu ada bercak darah di rok kamu,"

Rene dengan cepat memeriksa roknya. Ia lalu menepuk jidat, dan pantasan aja dari tadi sore perutnya enggak enak.

"Jadi gimana dong mas,"

"Coba kamu ke kamar Dian, mungkin kamu bisa menggantinya," ucap Tatang.

Rene mengangguk dan mengikuti langkah Tatang. Jujur ia dari tadi deg-deg kan berdua saja di rumah ini bersama saudaranya Dian itu. Entahlah tatapan Tatang seakan menusuk ke hatinya. Kini ia berada di lantai dua, karena inilah kamar Dian.

"Kamar Dian di kunci, tapi aku punya kunci serep nya," ucap Tatang, membuka hendel pintu. Setelah itu ia buka pintu itu untuk Rene.

"Makasih mas," ucap Rene, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

Tanpa ia sadari, kaki kiri Rene tersandung, karena ia menginjak salah satu sendal berbulu, yang di letakkan sembarangan oleh sang pemilik kamar. Otomatis tubuhnya oleng.

Tatang melihat tubuh Rene hampir ambruk, ia menarik Rene dari belakang. Dirinya bermaksud untuk menyelamati Rene, tapi dirinya malah jatuh bersamaan.

Rene meringis menahan sakit, karena dirinya tersungkur mencium lantai, ia membenarkan posisinya. Tatang melirik Rene yang berada tepat di sampingnya. Tatang dengan cepat mendekat,

"Hey, kamu enggak apa-apa," ucap Tatang, ia memperhatikan seluruh tubuh Rene, tidak ada satupun terlihat tanda-tanda terluka dari tubuh mulus itu. Tatang menelan ludah, karena rok sepan yang di kenakan Rene tersingkap ke atas, paha mulus itu sungguh membuatnya sulit berpikir jernih.

Rene memandang Tatang, tepat di atas tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba saja terasa hening. Hanya hembusan nafas terdengar. Begitu juga Tatang, ia malah mengurung Rene dengan ke dua tangannya. Ini adalah posisi ini sangat intim. Dirinya memang benar-benar sadar atas apa yang ia lakukan.

"Mas ..." ucap Rene.

Tatang mengatur nafasnya, jujur ia masih sulit berpikir, karena ia memang menginginkannya.

"Bolehkah mas cium kamu," ucap Tatang seketika.

Lama terdiam satu sama lain, Rene bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, atas ucapan laki-laki itu. Tatang menyadarkan dirinya, ia sudah gila, meminta secara terang-terangan mencium teman adiknya sendiri, di awal pertemuannya. Tatang lalu menarik diri dari hadapan Rene, dan mencoba menegakkan tubuhnya.

"Maaf," ucap Tatang.

Rene juga menegakkan tubuhnya dan ia lalu berdiri tidak jauh dari Tatang. Ia mendengar Tatang mengatakan maaf. Rene menahan debaran jantungnya. Rene menatap Tatang yanga akan meninggalkannya.

"Mas ..." ucap Rene.

Tatang menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Rene. Ia menatap mata sendu dan bibir kecil itu memang sungguh menggodanya dari tadi.

"Ya,"

"Boleh kok," ucap Rene pada akhirnya.

Tatang sempat tidak percaya apa yang di ucapkan wanita di hadapannya ini. Tatang berjalan mendekat, ia bisa memandang secara jelas wajah wanita itu. Ia tahu bahwa Rene menginginkannya juga.

"Kamar mas ada di sebelah," ucap Tatang.

"Kenapa,"

"Ya, mas cium kamu di kamar mas aja, jangan di sini," ucap Tatang, berusaha tenang.

"Kan Diannya enggak ada,"

Tatang tersenyum, ia meraih jemari Rene, "Tapi mas maunya di kamar mas," ucap Tatang, ia lalu menarik tangan Rene menuju kamarnya.

Ini pertama kalinya Rene masuk ke kamar laki-laki. Kamar itu terlihat rapi berwarna biru gelap. Ia melihat Tatang kini sudah di hadapannya. Ia merasakan tangan Tatang sudah di tengkuknya dan siap untuk menciumnya.

"Mas ..." ucap Rene.

"Ya, Ren," ucap Tatang, ia mengelus tengkuk Rene.

Rene tidak tahu sejak kapan Tatang sudah melumat bibir. Tatang menghisap bibir bawahnya seakan tidak ingin berhenti. Rene mengalungkan tangannya ke leher Tatang, ia membalas kecupan itu. Jujur ini bukan pertama kalinya ia ciuman, ia pernah melakukan itu kepada mantan-mantanya terdahulu. Lumatan-lumatan kecil itu kini berganti dengan lumatan rakus. Tatang seakan tidak ingin berhenti mencium bibir tipis itu.

Tatang mengangkat tubuh Rene, dan mendudukan tubuh itu di pangkuannya. Agar ia bisa mencium bibir itu dengan leluasa. Hingga akhirnya ke duanya ke habisan nafas. Tatang melepaskan pangutannya, ia memandang Rene. Rene membalas tatapannya.

Tatang menepis rambut Rene, kebelakang, ia meneruskan aksinya dan memeberi kecupan di leher itu. Ia mengecup leher itu secara perlahan, dan Rene memberi akses lebih agar mengecupnya lebih dalam.

Rene tidak sanggup lagi untuk tidak menahan desahannya. Ia meremas baju Tatang, karena laki-laki terus mengecupnya hingga dalam. Sentuhan-sentuhan itu hingga ia melupakan segalannya. Rasanya begitu nikmat dan seakan tidak akan berhenti. Rene meraih kepala Tatang, agar tidak melanjutkan aksinya. Ia memandang wajah tampan itu.

"Mas, aku datang bulan," ucap Rene pelan.

Tatang sadar apa yang ia lakukan. Ia hampir saja melupakan itu. Tatang mengangguk dan mulai mengerti. Ia lalu tersenyum kepada Rene, ini bahkan baru pertama kalinya ia bertemu dan ia sudah berani melakukan tindak kan sejauh ini.

"Mas hampir lupa," ucap Tatang, ia mengelus punggung Rene. Ia yakin kancing kemeja itu sudah hilang entah kemana, karena ia telah merobeknya tadi.

Tatang melepaskan diri dari tubuh Rene, sementara Rene merapikan kemejanya yang setengah terbuka. Rene mengerutkan dahi menatap Tatang.

"Mas, kemeja aku kancingnya hilang dua," ucap Rene.

Tatang tersenyum, dan ia tahu itu akibat ulahnya. "Yasudah kita beli yang baru. Mas antar pulang yuk, kamu naik taxi kan tadi," ucap Tatang.

"Tapi, aku ada perlu sama Dian mas,"

"Besok masih ada, kamu bisa bertemu Dian di kantor," ucap Tatang, ia melangkah menuju lemari, mengambil salah satu jaketnya. Ia mendekati Rene menyampir jaket itu di pundak Rene.

"Iya deh," ucap Rene.

********

"Kamu sudah punya pacar," tanya Tatang, membawa Rene ke bawah.

"Enggak ada mas,"

"Baguslah kalau gitu," ucap Tatang lalu tersenyum.

"Mas ajak jalan, kamu mau enggak," ucap Tatang lagi, ia membuka pintu mobil untuk Rene.

"Kapan mas?" Tanya Rene.

"Ya, kapan-kapan, kalau kamunya mau,"

"Mau kok, mas," Rene masuk ke dalam mobil, dan ia lalu duduk.

"Iya," Tatang menutup pintu itu kembali.

Percakapan berlanjut hingga sepanjang jalan menuju rumah Rene.

*********

"Makasih ya mas udah di antarin Rene pulang," ucap Rene, ia melepas sabuk pengamannya.

"Iya," ucap Tatang.

Tatang memandang Rene yang sedang membuka sabuk pengaman. Wanita membuka hendel pintu otimatis lampu dasbor menyala. Tatang menarik tangan Rene dan mendekatkan tubuhnya.

Rene hanya diam, memegang erat tas yang ia pegang. Ia merasakan bibir Tatang melumat bibirnya lagi, kali ini begitu dalam. Ia tidak menolak dan malah membalas lumatan Tatang.

Tatang melepas pangutannya, ia mengelus wajah cantik Rene,

"Terima kasih," ucap Tatang,

"Iya mas,"

*********

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bidadari Untuk Tuan Mafia
9.3
Silvana Aramazd, gadis lembut bercadar yang terbiasa hidup tenang, harus menikahi Don Vincent Corleane. Pernikahan ini bukan sekadar perjodohan bagi sang pemimpin mafia yang kejam, melainkan jalan keluar dari dunia hitam yang kelam. Di sisi lain, persatuan mereka menjadi kunci untuk menguak misteri di balik kematian orang tua Silvana. Mampukah Silvana bertahan mendampingi Vincent di tengah benturan dua dunia mereka yang jauh berbeda?
Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipersatukan oleh kepedihan yang sama akibat dikhianati pasangan mereka. Demi membalas dendam kepada para mantan, Regan menawarkan sebuah kesepakatan kerja sama kepada Nayana. Siapa sangka, kolaborasi tersebut justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga di antara keduanya. Hubungan mereka pun kian dalam hingga saling bergantung. Akankah ikatan baru ini membawa kebahagiaan sejati, atau justru menorehkan luka yang lebih dalam?
Sampul Novel Gairah Tanpa Akhir
8.8
Kehangatan menyelimuti ruang tamu sederhana saat Renata mendesah pasrah di bawah kecupan mesra Eka pada lehernya. Di atas sofa tua yang bergoyang, hasrat muda mereka meledak. Jemari nakal Eka menyusup ke balik kaos oblong Renata, meremas tubuhnya dan mengalirkan getaran hebat di ruangan sempit itu. Dalam dekapan erat sang kekasih, Renata hanya mampu mendesah memanggil nama Eka seiring sentuhan intens yang memilin seluruh raganya.
Sampul Novel Jerat Pesona Ayah Anakku
8.9
Kehilangan kesucian dalam satu malam menghancurkan hidup Kara. Diasingkan dan menderita, ia berjuang sendirian demi membesarkan anaknya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi dalang kehancurannya. Kini, pria tersebut kembali hadir untuk menjerat kehidupan Kara lebih dalam. Kara didera ketakutan hebat. Sanggupkah ia bertahan ketika buah hatinya terancam direbut oleh pria yang dahulu merusak dunianya?
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
8.2
Demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya setelah tiga tahun menikah, seorang suami berhasil menciptakan obat khusus. Namun, saat mengantarkan obat dan bekal ke kantor sang istri, Nadya, ia justru dituduh sebagai sopir penggoda oleh sekretaris istrinya. Di depan umum, sekretaris itu menumpahkan makanan ke kepalanya, merobek pakaiannya, dan menginjak obat berharga tersebut hingga hancur. Tanpa rasa bersalah, sekretaris itu justru dengan bangga melapor kepada Nadya bahwa dia telah berhasil mengusir sopir yang mencoba menggodanya.
Sampul Novel Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami
9.6
Kehidupan Seren Ayandra hancur akibat dendam dan kepura-puraan Arden Valez, pria keras yang didera trauma masa lalu. Meski awalnya dikuasai kebencian, Arden kini didera penyesalan mendalam karena takut kehilangan Seren. Uniknya, walau terus disakiti, hati Seren selalu kembali pada sosok Arden yang menjadi badai sekaligus rumah baginya. Di balik rasa bersalah, kedua jiwa yang terluka ini mencoba saling menyembuhkan dalam ikatan cinta yang nyata walau tak sempurna.