APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Simpanan Nakhoda

Wanita Simpanan Nakhoda

Baru sebulan menikah, Kemuning ditinggal pergi begitu saja oleh suaminya, Amer, yang bekerja sebagai nakhoda. Lima tahun lamanya ia bertahan hidup dalam ketidakpastian tanpa kabar. Luka hati yang mendalam akhirnya mendorong Kemuning untuk menyusul ke kota demi mencari keberadaan sang suami. Namun, tujuannya bukan untuk berbaikan atau merajut kembali rumah tangga mereka, melainkan untuk menuntut balas atas segala penderitaan yang telah ia lewati seorang diri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kalau udah nikah nanti, kamu jangan ngelupain aku ya, Ning!"

Kemuning mengangkat wajahnya, saat ini ia tengah dihias oleh Nanci yang kebetulan menguasai bidang itu, dengan sendu ditatapnya wajah Nanci, lalu tidak lama ia tersenyum.

"Gak bakal, Nan, kamu kan sahabat aku," jawabnya.

Hampir 18 tahun hidup berdampingan dengan Nanci, bagi Kemuning wanita itu segalanya, mereka sudah berteman sejak kecil dan menjalin ikatan yang hebat.

"Kalau kamu pindah ke kota, kita gak ketemu lagi." Nanci mengeluh untuk kesekian kali, rasanya berat melepaskan Kemuning menikah, tetapi ia juga tidak bisa mengubah apapun.

"Tenang aja, kita bakal sering ketemu kok," hibur Kemuning diiringi tawa, meskipun sebenarnya ia juga sedih meninggalkan Nanci.

Tetapi yang namanya seorang istri, ke mana pun sang suami pergi ia akan tetap harus ikut.

"Ya, sudah, gak apa-apa. Yang penting kamu senang." Membubuhkan bedak di wajah Kemuning, dengan ahli Nanci mengubahnya menjadi sangat cantik.

Kemuning yang sudah cantik jadi semakin menawan di saat menggunakan make up, Nanci berharap teman kecilnya ini akan hidup bahagia, dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik setelah dinikahi Amer.

"Calon suami kamu pasti akan pangling," goda Nanci.

Mengerlingkan matanya Kemuning jadi salah tingkah, sejak satu jam terakhir mereka memang belum ada bertemu, padahal Amer dan keluarganya sudah tiba di rumah. Kata Nanci pria itu menggunakan kemeja putih dan terlihat sangat tampan.

"Kamu tunggu di sini dulu ya," kata Nanci.

"Aduh, jadi makin deg-degan nih!"

Kemuning sangat gugup, jantungnya berdebar keras menantikan detik-detik pertemuan mereka lagi, ada banyak sekali cerita yang ingin ia sampaikan kepada Amer, harapannya setelah menikah mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan bercerita.

"Udah boleh, Ning, ayok ke luar!" Nanci heboh sendiri memanggil Kemuning, wanita itu pun menggiringnya ke luar untuk bertemu Amer.

Kedua perempuan itu melangkah beriringan, Nanci mengiringinya dengan sebaik mungkin, senyuman Kemuning sontak melebar saat melihat Amer yang saat ini tengah tersenyum.

Keduanya tampak sangat serasi dengan balutan pakaian bewarna putih gading.

"Mas Amer," lirih Kemuning.

"Kemuning," sahutnya begitu khas.

Tanpa membuang waktu lagi Amer dan Kemuning pun langsung berpelukan, kedua anak manusia itu tampak saling melepas rindu, bahkan tidak mempedulikan semua orang yang saat ini menatap ke arah mereka.

"Aku minta maaf agak terlambat datang," kata Amer.

Gadis cantik itu mengangguk, bahkan Kemuning tidak sedikitpun mengecilkan senyumannya. "Gak apa-apa, Mas, yang penting sekarang kamu udah di sini."

Menatap ke arah ibu dan bapaknya Kemuning seakan terharu, ia tidak pernah menyangka akhirnya mendapatkan restu dari orangtua, begitu juga dengan Amer yang berhasil mengajak keluarganya untuk datang ke sini.

"Kemuning, ini adik dari ibu kandungku, dan bapak itu teman dekatnya mendiang ayahku," jelas Amer seraya mengajak Kemuning mendekati keluarganya, yang diangguki oleh ibu dan bapak.

Membungkukkan setengah badannya Kemuning pun mencium punggung tangan kedua orangtua itu, tidak lupa ia juga memberikan senyuman terbaik, dan kesan pertama yang manis.

"Cantik ya," puji wanita yang biasa Amer panggil bibi.

Kemuning hanya tersipu malu, apalagi saat wanita itu menyentuh lembut punggungnya seakan mendukung pilihan sang keponakan, lalu mereka tersenyum lebar.

"Amer orangnya pekerja keras, dan bijaksana," lanjut pria yang berada di sampingnya wanita itu, Kemuning mengerjapkan mata, dan menoleh ke arah Amer yang tertunduk malu.

***

Angin pantai berembus kencang, Amer dan Kemuning berjalan menyusuri pesisir pantai dengan tangan yang bertaut, keduanya tampak menikmati momen-momen yang tidak terlupakan ini.

Menyelipkan anak rambut Kemuning di balik telinga Amer menatap gadis di depannya penuh arti, terlalu naif jika tidak pernah menginginkannya, bahkan pria itu selalu bermimpi dan membayangkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan.

"Besok kita akan menikah," kata Amer begitu dalam.

Kedua matanya menatap wajah Kemuning, sejak awal bertemu Amer memang tidak pernah berdusta jika ia sangat ingin memilikinya, menjadi seorang pria yang paling beruntung karena telah memperistri gadis secantik Kemuning.

"Uhm, ya, aku tahu," balas Kemuning.

Meraih kedua tangan Kemuning yang mungil, dengan penuh perasaan Amer menggenggamnya, lalu berkata lirih. "Aku gak pernah menyangka bisa jatuh cinta hingga sedalam ini, Ning."

"Begitupun denganku, Mas, aku juga gak nyangka bisa jatuh cinta padamu," sahutnya lagi begitu jujur.

Kemuning tersenyum saat Amer mencium punggung tangannya, hal yang selalu ia dapatkan setiap kali mereka bertemu, sepertinya momen seperti ini akan semakin sering ia rasakan.

"Aku berjanji akan selalu mencintaimu," ungkap Amer.

"Ya, aku pun juga begitu, Mas," jawab Kemuning.

Keduanya pun berpelukan lagi, Amer memeluk tubuh ramping Kemuning dengan sangat erat, memberikan jawaban atas prasangkanya selama ini, dan ia berjanji mulai dari sekarang akan lebih mengutamakan dirinya.

"Jangan pernah berhenti mencintaiku ya," bisiknya.

"Aku gak akan melakukan itu, Mas." Dengan tatapan sendunya Kemuning berusaha meyakinkan, ia terlalu besar mencintai Amer, dan berusaha menjaga hati. "Yang aku takutkan itu kamu, mungkin aja saat di kota atau berlayar nanti kamu mengkhianatiku."

"Gak akan pernah terjadi," tukas Amer langsung.

Mengerjapkan matanya Kemuning sangat tersentuh, sikap dan perkataan Amer selalu membuatnya lebih percaya diri, apalagi setelah hari ini, orang-orang yang tadinya melihat sebelah mata, kini tampak berbeda. Hubungan yang tidak pernah dilihat itu, sekarang telah memberikan bukti, dan kebahagiaan untuk bersama.

"Boleh peluk lagi?" tanya Amer menggoda Kemuning.

Tanpa berpikir panjang Kemuning pun mengangguk.

"Kalau cium boleh?" Kini tatapan Amer mengarah ke bibir Kemuning, dan menunggu jawaban.

Tangan Amer yang kasar menyentuh pipi Kemuning, membelainya penuh perasaan, dengan senyuman yang lebar pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis polos itu, lalu ia pun terkekeh dan melangkah mundur.

"Aku tidak akan melakukannya sebelum kita nikah," kata Amer diiringi tawa, ia sangat terhibur saat melihat Kemuning salah tingkah, bahkan sampai memerah.

Di tempatnya Amer hanya memperhatikan Kemuning yang berlari-larian sambil menyembunyikan perasaan gugupnya, gadis itu tampak lucu dan menggemaskan sekali di saat tengah tersipu.

Amer tidak menyesal telah jatuh hati pada Kemuning, bahkan ia merasa sangatlah beruntung dipertemukan dengan gadis secantik dirinya.

"Ombak pantai, dengarkanlah, sebentar lagi kita akan menikaaah!" Kemuning berteriak di bibir pantai, gadis itu melakukan hal yang konyol untuk menutupi gugup.

Sore ini sepertinya akan menjadi hari yang paling baik dan sempurna, Kemuning merasa sangat bahagia, ia berjanji tidak akan mengeluh lagi setelah ini, tentunya setelah dinikahi oleh Amer.

"Berhentilah bertingkah konyol, Kemuning!" tegurnya.

Kemuning menoleh, dengan begitu Amer langsung menyambar tubuh mungilnya, dan mengangkatnya tinggi untuk dibawa berlari-larian di sepanjang pantai.

"Mas Ameer!"

Bersambung ...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku
8.1
Zayden Alaric Veyra, bos kartel Raven sekaligus pebisnis ulung, tak pernah menduga hatinya yang dingin akan terpikat oleh Kaela Seraphine saat mereka bertemu di sebuah pesta. Di balik pesonanya, Kaela memendam misi rahasia untuk melenyapkan sosok Raven. Ketika takdir menjebak keduanya dalam sebuah misi penuh mara bahaya, benih cinta mulai tumbuh. Kini, mereka harus memilih antara mengikuti kata hati atau saling membunuh demi tuntutan dunia hitam yang kejam.
Sampul Novel Empat Puluh Sembilan Buku, Satu Perhitungan
9.2
Baskara menebus perselingkuhannya dengan buku langka. Empat puluh sembilan kali dia berkhianat, selama itu pula aku memilih diam. Namun, batas sabarku habis saat dia mengabaikan ayahku demi membelikan Jelita apartemen, membiarkan selingkuhannya merusak taman kenangan ibuku, hingga membocorkan duka keguguranku. Kini, sebagai ahli strategi politik, aku memasang penyadap. Buku kelima puluh bukan lagi tanda maaf, melainkan awal kehancuran kariernya secara total.
Sampul Novel Lima Tahun Usai Berpisah
8.0
Tiga tahun membina rumah tangga tanpa anak memaksa Lisa memilih antara dipoligami atau berpisah. Janji setia Farhan sirna setelah pertunangan rahasianya terbongkar, membuat Lisa murka dan memutuskan pergi. Lima tahun berselang, takdir mempertemukan mereka lagi saat Farhan menjadi bos baru Lisa. Keadaan kian pelik ketika Farhan bersua Davin, putra Lisa, dan menyadari bahwa mantan istrinya itu sedang mengandung saat mereka bercerai dahulu.
Sampul Novel Rahasia Hati Suami Lumpuh
9.4
Mayang menghadapi ujian kesetiaan berat ketika suaminya, Galang, yang lumpuh mulai bersikap dingin dan menjauhkannya. Saat hubungan mereka merenggang, Elang datang menawarkan kehangatan cinta baru, sementara Leo terang-terangan meragukan pernikahan mereka. Meski Galang bertekad kuat untuk tetap menjadi suaminya selamanya, rayuan dari pria-pria dominan ini terus mengguncang komitmen Mayang. Mampukah ia tetap bertahan demi Galang di kala godaan cinta lain datang mendesak?
Sampul Novel Terperangkap Dendam Bos Arogan
8.3
Galih menuduh Aziya sebagai penyebab kecelakaan tragis adik dan tunangannya. Didorong dendam, ia tega menghancurkan pernikahan Aziya hingga berujung perceraian. Namun, kebenaran terungkap saat para korban siuman dan membenarkan isu perselingkuhan yang sebenarnya terjadi. Meski Aziya telah menderita hebat akibat amarah buta Galih, takdir tak terduga justru mempersatukan mereka kembali dalam sebuah ikatan pernikahan baru.
Sampul Novel Wanitamu Canduku
8.1
Rene, staf finansial, terjebak dilema cinta akibat kehadiran Tatang dan Farhan. Tatang, manajer bank yang matang, memicu kecemburuan Rene karena hubungan dekatnya dengan Ajeng. Sementara itu, Farhan yang posesif kembali dari London meski didera isu kehamilan Putri, sang mantan. Di tengah kejaran dua pria ini, Rene harus memilih di antara mereka sambil menghadapi konflik masa lalu dan ujian persahabatan yang menguji kesetiaan hatinya.