APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Simpanan Miliarder

Wanita Simpanan Miliarder

Amara terpaksa menjadi sekretaris sekaligus wanita simpanan Rendra Baskara, seorang CEO dingin, demi biaya operasi jantung putranya. Tugas rahasia ini menyiksa batin Amara karena ia harus mengkhianati Laras, istri Rendra yang bersikap sangat baik kepadanya. Begitu masa kontrak mereka selesai, Amara memilih pergi. Namun, Rendra yang mulai menyadari perasaannya justru menolak melepas wanita itu. Hubungan mereka pun terjebak dalam dilema cinta, pengorbanan, dan rasa bersalah.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari pertama Amara bekerja di Baskara Group adalah hari yang terasa seperti ujian mental tanpa akhir. Ia tiba di kantor pagi-pagi sekali, berusaha menghindari tatapan tajam karyawan lain. Ia sadar, posisinya sebagai sekretaris pribadi Rendra Baskara akan menjadi perhatian banyak orang. Apa pun langkahnya, ia harus sangat berhati-hati agar tidak mengundang kecurigaan.

Ruangan kerja Rendra terasa sunyi saat ia tiba. Pria itu belum datang, jadi Amara duduk di meja kecil di luar ruangannya, mencoba mempersiapkan mental. Di atas meja, sebuah jadwal kerja telah disiapkan untuknya-rincian tugas administrasi yang tampak formal dan profesional. Namun, itu tidak membuat kegelisahannya berkurang.

Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas saat suara langkah berat terdengar dari arah lorong. Semua orang yang sedang berjalan di sekitar kantor langsung berhenti dan memberi salam dengan membungkukkan badan. Rendra Baskara telah datang.

Amara berdiri buru-buru, tangan gemetar saat pria itu melintas di depannya. Ia hanya melirik Amara sekilas dengan tatapan dingin, lalu masuk ke ruangannya tanpa sepatah kata. Pintu tertutup dengan suara pelan, tapi rasanya seperti pintu besi yang mengurungnya di dalam perangkap.

Lima menit kemudian, interkom di meja Amara berbunyi. Ia terkejut, hampir menjatuhkan pena yang sedang dipegangnya. Dengan napas tertahan, ia mengangkat gagang telepon.

"Masuk," suara berat itu terdengar singkat di seberang.

Amara menelan ludah. Ia berdiri, merapikan bajunya yang sudah rapi, lalu mengetuk pintu sebelum masuk. Di dalam, Rendra duduk di kursi kulit besar, matanya tertuju pada layar komputer di depannya. Ia tidak segera menoleh saat Amara masuk, membuat wanita itu merasa semakin kecil.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan hari ini?" tanyanya tanpa basa-basi, matanya masih terpaku pada layar.

Amara mengangguk, meskipun ia tahu pria itu tidak melihatnya. "Ya, Pak. Saya sudah membaca jadwalnya."

Rendra akhirnya menoleh, menatap Amara dengan mata dingin yang membuatnya merinding. "Bagus. Tapi ada satu hal lagi yang perlu kau ingat, Amara. Mulai hari ini, kau bukan hanya sekretarisku. Kau adalah milikku."

Kalimat itu menghantam Amara seperti pukulan di dada. Ia tahu peran tambahan itu sejak awal, tapi mendengarnya langsung dari mulut pria itu membuat semua terasa lebih nyata dan lebih mengerikan.

"Saya mengerti, Pak," jawabnya pelan, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaranya.

"Bagus," ujar Rendra. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga jaraknya hanya beberapa langkah dari Amara. "Ingat, tidak ada yang boleh tahu tentang perjanjian kita. Jika aku mendengar ada rumor sedikit saja, kau tahu apa yang akan terjadi."

Amara mengangguk lagi, kali ini lebih tegas meski hatinya berdebar kencang. Rendra kembali ke mejanya, seolah tidak ada yang terjadi. "Kau bisa keluar. Aku akan memanggilmu jika butuh sesuatu."

Dengan cepat, Amara melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya. Napasnya terasa berat, dan tangannya mencengkeram meja kecil di ruangannya untuk menenangkan diri. **Apa yang sudah aku masuki?** pikirnya.

---

Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang tiada akhir. Amara melakukan tugas administrasinya dengan baik, tapi setiap malam ia harus tetap berada di kantor hingga larut, memenuhi permintaan Rendra yang sering kali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kadang hanya untuk duduk menemaninya bekerja, kadang untuk mendengar pria itu berbicara tentang hal-hal yang bahkan tidak ia pahami.

Namun, malam itu berbeda. Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Rendra memanggilnya ke ruangan. Amara masuk, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meski tubuhnya terasa tegang.

"Kau sudah makan malam?" tanya Rendra tiba-tiba, nadanya terdengar lebih santai daripada biasanya.

Pertanyaan itu membuat Amara bingung. Ia ragu sejenak sebelum menjawab, "Belum, Pak."

Rendra berdiri dari kursinya, melepas jasnya, lalu berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta di malam hari. "Aku tidak suka makan sendirian. Temani aku."

Amara terkejut. Ia ingin menolak, tapi tatapan dingin Rendra saat berbalik memotong semua alasan yang mungkin keluar dari mulutnya. "Tentu, Pak."

Mereka berdua pergi ke restoran mewah di lantai atas gedung. Tempat itu sudah sepi, hanya ada mereka berdua di meja besar dengan lampu-lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut. Amara merasa tidak nyaman, tapi ia berusaha menjaga sikapnya.

Saat makanan datang, Rendra mulai berbicara. Untuk pertama kalinya, ia berbicara panjang lebar, bercerita tentang perusahaannya, ambisinya, bahkan sedikit tentang masa lalunya. Amara mendengarkan dengan hati-hati, mencoba memahami sisi lain dari pria itu.

"Kau tahu," kata Rendra tiba-tiba, menatap Amara dengan tatapan yang berbeda. "Aku bukan pria baik. Tapi aku juga tidak percaya pada cinta atau hal-hal bodoh seperti itu."

Amara terdiam, tidak tahu bagaimana harus merespons.

"Namun," lanjutnya, suaranya lebih pelan, "ada sesuatu dalam dirimu yang menarik. Kau membuatku penasaran."

Pernyataan itu membuat Amara merasa terjebak. Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya, meski hatinya berteriak.

Malam itu, saat mereka kembali ke ruangan, Rendra menghentikan langkahnya di depan pintu kantor. "Ingat, Amara. Tidak ada perasaan dalam perjanjian kita. Jangan pernah lupa posisimu."

Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Amara. Tapi ia hanya mengangguk, menahan semua emosi yang bergejolak dalam dirinya.

**"Aku tidak akan lupa, Pak,"** bisiknya sebelum melangkah pergi, meninggalkan pria itu dengan rasa yang mulai bercampur aduk di dalam hatinya.

Amara tidak tahu, malam itu adalah awal dari perang yang lebih besar-bukan hanya antara dirinya dan Rendra, tapi juga antara logika dan perasaannya sendiri.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
9.4
Ella terjepit perasaan rumit pada William, sahabat kecilnya yang kini jadi pewaris tunggal nan kaya raya. Walau menganggap Ella sangat berharga, hati William justru tertambat pada Camelia. Situasi Ella kian menyiksa saat dituding merusak hubungan mereka, sementara William abai pada kepedihan batinnya. Akankah William tetap menjaga Ella, ataukah kehadiran Camelia akan menghancurkan persahabatan masa kecil mereka selamanya?
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Dua belas tahun di New York tak mampu menghapus obsesi Bryan Alexander pada adik tirinya, Deanisa Melody. Kini, sang CEO playboy harus menghadapi takdir saat Nisa mendadak menjadi asisten pribadinya. Meski bertekad menjaga jarak dan memperingatkan Nisa agar tetap profesional di kantor, Bryan terus tersiksa oleh perasaan lamanya. Batasan kerja pun diuji saat ia berjuang keras menahan hasrat mendalam terhadap gadis yang selalu menjadi candu baginya.
Sampul Novel Hot Daddy
8.4
Miliarder berstatus duda, Dominic Immanuel Horrison, sangat disegani karena sikapnya yang kaku dan tanpa ampun. Di balik pesona ketampanannya yang memikat banyak wanita, ia sangat berhati-hati memilih calon ibu untuk sang anak. Dominic akhirnya menjatuhkan pilihan pada sekretaris setianya, Arabelle, yang dinilai punya kepribadian paling pas. Akankah ikatan kerja mereka berdua mampu bertransformasi menjadi cinta sejati yang menyatukan mereka dalam pernikahan?
Sampul Novel Invisible Rich Man
9.5
Demi mencari ketulusan cinta, Davin yang merupakan pewaris takhta bisnis global rela menyamar menjadi petugas kebersihan. Di Jakarta, takdir mempertemukannya dengan Vania, sosok wanita yang menerimanya tanpa peduli status sosial. Vania pun sukses membuktikan kesetiaannya melalui berbagai ujian dari Davin. Namun, hubungan mereka kini terancam hancur saat keluarga konglomerat Davin datang menentang keras dan mencoba memisahkan keduanya secara paksa.
Sampul Novel My Perfect Hero
8.6
Demi menjaga nama baik keluarganya, Raline terpaksa menikah dengan Liam Bernardus Nelson untuk menggantikan sang kakak yang melarikan diri di hari pernikahan. Liam, seorang miliarder yang terkenal dingin dan kejam, perlahan menunjukkan sisi pelindung saat Raline menghadapi masa-masa sulit. Namun, pernikahan mereka yang mulai harmonis kini terancam hancur ketika Bora kembali dan mencoba merebut Liam. Raline pun harus berjuang keras mempertahankan posisinya sebagai istri sah.
Sampul Novel Patah Hati Terlalu Dalam
9.3
Hidup Livia Suryani, CEO sukses merek kosmetik ternama, seketika runtuh saat memergoki Adrian berselingkuh. Tunangannya itu tega mengkhianatinya bersama Amara, saudara tirinya sendiri. Terpuruk dalam kesedihan yang mendalam, Livia memutuskan untuk menenangkan diri di klub malam. Namun, keesokan paginya ia justru terbangun di sebelah lelaki asing yang sangat posesif. Kini, di tengah luka akibat pengkhianatan Adrian, Livia harus menghadapi takdir baru bersama pria misterius tersebut.