
Wanita Satu-satunya di Asrama Pria
Bab 3
Saat itu, Federic tidak mengenakan atasan, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kencang dan berisi. Dia terlihat begitu kuat dan maskulin.
Aku hanya melirik sekilas, lalu buru-buru menundukkan kepala, merasa canggung dan tak berani menatapnya lagi.
"Halo Kak Wendy!"
Federic menyapaku dengan santai, seolah-olah kejadian semalam sama sekali tidak pernah terjadi.
Aku hanya mengangguk singkat. Saat ini, aku hanya ingin segera pergi, menjauh darinya.
Namun, tubuh Federic yang besar menghalangi jalanku. Saat tak ada orang di sekitar, dia membungkuk mendekat dan berbisik di telingaku.
"Kak Wendy, maaf ya ... kejadian semalam. Tapi aku tahu kamu juga menginginkannya. Aku akan datang menemuimu malam ini, jangan lupa bukakan pintu untukku ... "
Usai bicara begitu, dia berbalik hendak pergi, tapi sebelum benar-benar pergi, dia malah menepuk bokongku dengan usil.
Aku terdiam di tempat, wajahku langsung memanas dan pikiranku terasa kacau.
Setelah beberapa saat berdiri linglung di luar, aku berjalan kembali ke ruang jaga seperti zombie tanpa jiwa.
Bagaimana ... kalau coba saja? Lagipula, aku sudah menahan diri begitu lama. Sesekali melepaskan diri, sepertinya tidak ada salahnya!
Tapi, seorang wanita tidak bisa serendah itu! Jika hal ini sampai ketahuan, aku pasti akan jatuh ke dalam jurang tanpa dasar!
Sepanjang hari, aku tidak bisa fokus melakukan apapun. Kata-kata Federic terus terngiang-ngiang di kepalaku dan dua suara bertentangan di dalam hatiku terus berdebat satu sama lain.
Pada akhirnya, setelah pergolakan batin yang begitu lama, aku kalah oleh hasratku sendiri.
Setelah makan malam, aku mulai membongkar lemari mencari pakaian yang cocok.
Setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku menemukan rok super pendek dan tanktop tipis.
Aku menutup rapat pintu ruang jaga, lalu melepas semua pakaian yang kupakai, bersiap menggantinya dengan baju yang baru saja kupilih.
Namun, saat melihat bayanganku di cermin, sejenak aku terdiam.
Wanita dalam cermin itu memiliki lekuk tubuh yang indah, dengan bentuk tubuh yang masih kencang dan menggoda. Dari setiap bagian tubuhnya, terpancar pesona seorang wanita dewasa.
Namun, siapa yang tahu? Wanita ini sudah lebih dari setahun tidak merasakan sentuhan seorang pria. Setiap malam yang dilaluinya selalu ditemani kesepian dan kehampaan.
Aku segera mengenakan pakaian itu. Saat melihat bayanganku lagi di cermin, aku tersenyum puas.
Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu.
Dari dalam ruang jaga, aku bisa mendengar suara para pria bercanda di lorong. Tatapanku terus menerus melirik ke arah jam dinding, berharap waktu bisa berlalu lebih cepat.
Akhirnya, tiba saatnya pintu asrama dikunci. Aku segera menutup pintu utama dan menyuruh para pria di lorong untuk kembali ke kamar mereka.
Setelah kembali ke ruang jaga, aku membiarkan pintunya sedikit terbuka. Jantungku mulai berdebar semakin kencang, membayangkan Federic yang akan datang sebentar lagi.
Namun, satu jam berlalu ... dua jam berlalu ... tiga jam berlalu ...
Lorong sudah sepi, tapi Federic tetap tidak muncul. Menunggu itu benar-benar melelahkan.
Hingga akhirnya, aku mulai mengantuk dan tertidur di ranjang.
Namun, belum lama aku tertidur, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu yang berputar pelan.
Aku membuka mata dan di depan pintu ... Federic berdiri di sana tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
Tanpa berkata apa-apa, dia langsung masuk, mengangkat selimutku, lalu menyelinap ke dalamnya. Bibirnya langsung menempel pada bibirku.
Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, menarikku semakin erat ke dalam pelukannya.
Sambil terengah-engah, aku bisa merasakan tangannya mulai bergerak menuju pangkal pahaku.
Astaga ... ini benar-benar akan terjadi!
Aku menutup mata dengan gugup, aku sudah menunggu begitu lama!
Anda Mungkin Juga Suka





