APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Sang Presdir - Nathan & Angeline

Wanita Sang Presdir - Nathan & Angeline

Angeline menaruh kebencian mendalam pada Nathan, atasan angkuh yang mencaplok perusahaannya. Demi ambisi, Nathan bahkan tega merusak jalinan cinta Angeline lalu memaksanya menjadi asisten pribadi. Benturan hebat terjadi karena Nathan menyukai kebebasan dalam hubungan, sedangkan Angeline sangat menjaga kesucian sebelum pernikahan. Di tengah perbedaan prinsip dan bayang-bayang masa lalu yang kelam, mampukah Nathan memikat Angeline, ataukah mereka akan selamanya terasing?
Bab
Bagikan

Bab 2

Selama empat tahun bekerja belum pernah Angeline sesibuk ini. Ada saja yang diperintahkan Nathan kepadanya, mulai dari mengambil dokumen di departemen lain hingga mengambilkan stelan jas di tempat laundry. Angeline tidak akan heran jika suatu hari nanti Nathan akan menyuruhnya mengepel lantai.

Yah, ternyata jobdesc sekretaris dan asisten pribadi memang berbeda.

"Angel, kamu pegang ini." Nathan memberikan sebuah kartu tebal berwarna hitam.

Angeline mengambil dan mengamatinya. Tidak banyak keterangan yang tertulis di kartu, hanya tertera nomor lantai dan nama gedung.

"Untuk apa ini, Pak?" tanya Angeline.

"Sebagai asisten pribadi sewaktu-waktu saya akan meminta kamu naik ke penthouse. Lift dan pintu hanya dapat dibuka dengan kartu ini." Nathan bicara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

"Oke. Masih ada yang lain?" Angeline menggenggam kartu itu.

"Tidak ada. Kamu boleh kembali."

Angeline pun keluar dari ruangan Presiden Direktur. Untuk meredakan ketegangan dia mampir ke meja Cindy.

"Hai, sudah nggak ada kesibukan?" tanya Cindy dengan senyum manis di wajah.

"Baru saja selesai merapikan meja. Mau nafas sebentar," ujar Angeline.

"Ya, silakan. Tapi hati-hati saja. Pak Nathan bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di gedung ini."

"Oh ya? Kamera tersembunyi?" Angeline mengernyit.

Cindy mengangkat bahu, "Di beberapa tempat."

"Bos paranoid," celetuk Angeline.

Cindy tertawa kecil, "Namanya juga bos. Dimaklumi saja lah. Untuk saat ini tempat teraman adalah toilet wanita."

"Iya sih, sebenarnya nggak masalah, asal nggak sampai mengganggu privasi."

Baru saja Cindy hendak bicara telepon di mejanya berdering. Wanita itu melirik Angeline dan menjawab panggilan. Dari mimik wajahnya bisa ditebak kalau yang menelepon adalah Nathan. Agar tidak mempersulit Cindy, Angeline berjalan kembali ke ruangannya.

Pukul lima sore terjadi pergerakan massal di gedung kantor ini. Semua orang meninggalkan ruangan masing-masing untuk pulang. Angeline pun bersiap untuk pergi. Sayangnya pintu penghubung ruangan terbuka, menampakkan sosok Nathan dengan segala keangkuhan dan auranya yang dominan.

"Angeline, kita bicara sebentar," perintah Nathan.

"Ya, Pak," keluh Angeline. Tampaknya sulit untuk lolos dari mulut harimau.

"Bagaimana hari pertamamu?" Nathan memimpin jalan ke ruangannya.

"Masih baik," jawab Angeline yang bertanya-tanya apa maksud dan tujuan Nathan.

"Karena kita akan sering bersama sebaiknya tidak ada ganjalan yang menghalangi," ucap Nathan.

"Iya, Pak."

"Apa ada ganjalan di hatimu?" Nathan berjalan mendekat.

Angeline mengernyit, "Mungkin sedikit, mengenai yang terjadi tadi pagi."

Nathan tersenyum, "Tidak nyaman melihatnya?"

"Tentu saja. Saya bukan penyuka exhibisionis," tukas Angeline.

"Kamu harus membiasakan diri dengan saya, Angeline. Mungkin akan ada yang berikutnya," kata Nathan dengan suara rendah menggoda.

"Saya akan pura-pura tidak melihat," ujar Angeline sambil menahan rasa muak.

"Bagus." Nathan mengangkat tangan ke arah Angeline untuk melihat reaksinya. Tidak disangka wanita yang terlihat lembut itu akan menepis begitu cepat.

"Sorry, saya tidak nyaman disentuh oleh lawan jenis," kata Angeline dingin.

"Kamu tidak punya pacar?" Diam-diam Nathan mengukur kemampuan Angeline dari sentuhan singkat tadi. Sepertinya wanita ini memiliki kemampuan tersembunyi.

"Saya berhak untuk tidak menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi," jawab Angeline. Jantungnya berdebar kencang mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Fair enough. Kamu bisa beladiri?"

Angeline tidak menjawab.

Nathan bertaruh. Dia kembali mengulurkan tangan untuk menyentuh Angeline. Lagi-lagi wanita itu menepis dengan akurat. Kali ini Nathan terus maju. Tangan kanan ditepis, tangan kiri menyusul menjangkau Angeline. Bukan hanya menepis, Angeline juga mengeluarkan pukulan yang ditangkis sempurna oleh Nathan.

"Cukup, Pak." Angeline mengernyit.

"Tidak salah saya memilihmu menjadi asisten pribadi." Nathan tersenyum lebar.

"Saya kembali—"

"Angel, saya belum menyuruhmu pergi," potong Nathan.

"Ada apa lagi, Pak?" Angeline menjaga jarak, tapi lelaki itu berjalan ke meja.

"Hubungi nomor ini. Katakan saya membutuhkannya besok siang." Nathan mengambil sebuah kartu nama berwarna merah muda dan memberikannya pada Angeline.

Mata Angeline membulat membaca nama yang tertera di kartu nama, sebuah nama yang dikenal sebagai penyedia escort. Dia protes, "Kenapa saya yang harus menghubungi mereka? Anda 'kan bisa sendiri?"

"Untuk apa saya menggajimu?" Nathan tersenyum lebar.

"Untuk bekerja di kantor sesuai jobdesc saya, bukan mewakili Anda memesan wanita panggilan!" Suara Angeline meninggi.

"Kenapa keberatan? Kamu tinggal bicara atas nama saya, bukan? Itu masih termasuk dalam jobdesc kamu sebagai asisten pribadi. Apa kamu cemburu?" goda Nathan.

Pertanyaan itu seolah menampar wajah Angeline, bolak-balik. Wajahnya memucat karena marah. Tanpa sadar tangannya meremas kartu nama merah muda itu.

"Saya berhak menolak." Dengan ketenangan luar biasa Angeline meletakkan kartu nama yang telah kusut di atas meja.

Nathan merasa senang karena berhasil membuat asisten pribadinya emosi. Senang sekali melihat wajah manis itu menahan marah, membuatnya terlihat menggemaskan.

"Kamu tahu apa konsekuensi menolak perintah langsung dari atasan?" pancing Nathan.

"Apa?" tantang Angeline.

"Bekerja satu bulan tanpa gaji."

Angeline memicingkan mata, berpikir apakah perlawanannya sepadan dengan konsekuensi yang mengancam di depan mata. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Jika saja dia bertemu dengan Nathan di tengah jalan bukan sebagai bosnya, bisa dipastikan dia akan memukul wajah lelaki itu sekuat tenaga.

"Bagaimana?" Nathan tersenyum begitu jahat sehingga dapat membuat setan iri.

Untuk beberapa saat keduanya saling adu tatap. Nathan cukup terkesan dengan keberanian Angeline menantangnya. Terlihat jelas wanita ini keras hati, keras kepala, dan entah apa lagi. Dia sedang bertaruh, apakah Angeline akan menyerah atau terus melawan.

Perlahan Angeline meraih kartu nama yang tergeletak di meja, "Ada pesan khusus, Pak?"

"Katakan saja yang seperti biasa."

"Saya telepon di meja Cindy." Tanpa menunggu respon Nathan, Angeline bergegas keluar.

"Satu kosong," gumam Nathan.

Setelah melaksanakan perintah bosnya yang cukup gila, Angeline duduk sejenak di meja Cindy untuk menenangkan diri. Karena sudah lewat jam kantor semua orang sudah pulang. Suasana begitu sepi.

"Pak, pekerjaan sudah beres, saya pulang dulu." Angeline yang sudah tenang menghadap Nathan.

"Hmm ...." Nathan sedang mengetik sesuatu di laptop.

"Sampai besok, Pak." Angeline hendak beranjak.

"Buatkan saya kopi," ucap Nathan.

"Sekarang?"

"Bukan. Besok. Ya tentu sekarang. Kamu sedang terburu-buru?" tukas Nathan.

Sambil menggerutu dalam hati Angeline pun ke pantry untuk membuatkan secangkir kopi. Timbul niatnya memasukkan garam sebagai ganti gula, tapi memikirkan resikonya Angeline membatalkan niat tersebut.

"Kopinya, Pak." Angeline meletakkan secangkir kopi di meja.

"Thanks."

"Saya boleh pulang?" tanya Angeline.

Nathan mengangkat wajah, "Seharusnya kamu tidak pulang sebelum saya selesai, tapi karena ini hari pertama kamu boleh pulang."

"Oke. Sampai besok, Pak." Angeline segera angkat kaki sebelum bosnya yang sedikit gila dan reseh menahan lagi.

Emosi terpendam yang disebabkan oleh perilaku Nathan dilampiaskan Angeline di gym tempatnya rutin berlatih kickboxing. Setiap pukulan dan tendangan dilakukan sepenuh tenaga.

"Hei, lagi emosi dengan siapa?" tanya Yoga, pacar Angeline selama tiga bulan terakhir.

"Jobdesc baru, bikin capek," sahut Angeline. Enggan menceritakan tentang keanehan bos barunya kepada Yoga.

"Oh, sudah dapat pekerjaan baru? Bagus lah, jadi kamu nggak usah pusing mikir cocok apa nggak sama bos baru," ujar Yoga.

Angeline meringis. Seandainya Yoga tahu.

"Ya sudahlah. Jangan dipikirin lagi. Lebih baik mikirin aku." Yoga tersenyum manis.

Senyuman itu melenyapkan sebagian beban hati Angeline, "Iya deh. Aku pikirin kamu saja."

Sejauh ini Yoga adalah pacar yang baik di mata Angeline. Lelaki berkulit gelap itu tidak pernah berbuat kurang ajar. Hubungan mereka pun sebatas berciuman tanpa bersentuhan melewati batas. Angeline nyaman berada di dekat Yoga, demikian pula sebaliknya.

"Mau langsung pulang?" tanya Yoga.

"Iya. Aku mau istirahat lebih cepat supaya besok pagi nggak ngantuk. Asisten pribadi harus datang lebih pagi dari bos." Angeline telah selesai berkemas. Tas besarnya tersampir di bahu.

"Oke. Let's go." Yoga menggandeng tangan kekasihnya ke tempat memarkir motor di depan gym.

"Sorry ya, tiga bulan ini masa percobaan, jadi mungkin setiap hari aku bakal langsung pulang," ucap Angeline.

"Nggak apa-apa. Masih ada weekend untuk kita." Yoga membelai rambut Angeline, menyisipkan helaian-helaian yang nakal ke belakang telinga.

"Thanks." Angeline tersenyum lebar.

Luput dari perhatian mereka, seseorang mengamati dari dalam mobil yang diparkir di seberang gym. Lelaki yang duduk di belakang kemudi itu menyeringai melihat interaksi antara Angeline dan Yoga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica harus menjalani kenyataan pahit saat terjebak dalam cengkeraman Dave, seorang miliarder kejam yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap tangisan dan rasa sakit yang dialami Nica justru menjadi kepuasan tersendiri bagi Dave, yang terus memperlakukannya dengan semena-mena. Di bawah dominasi kekuasaan sang miliarder, Nica tidak berdaya dan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Hubungan penuh paksaan ini pun meninggalkan trauma mendalam yang merenggut kebebasannya.
Sampul Novel Belenggu Mantan
9.6
Nasib Diandra berbalik total setelah dipaksa menikah dengan Dave Airlangga, pewaris tunggal Aerles Corporation. Sayangnya, prahara akibat salah paham fatal merusak pernikahan mereka hingga berujung perceraian. Di antara luka ego dan bayang-bayang masa lalu yang belum usai, mampukah mereka berdua mengatasi keretakan yang ada? Ikuti kisah emosional perjuangan mereka dalam menyatukan kembali puing-puing rumah tangga yang sempat hancur.
Sampul Novel Cinta Bisa Tumbuh Lagi
8.8
Tepat sebelum hari pernikahan, penglihatan wanita ini mendadak pulih setelah sebelumnya buta demi menyelamatkan Doni. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia menyaksikan calon suaminya justru bermesraan dengan adik sepupunya sendiri di ruang tamu. Menyadari perselingkuhan yang telah berlangsung lama di belakangnya, ia memutuskan untuk merahasiakan kesembuhannya. Dengan tekad bulat, ia menghubungi ibunya untuk membatalkan pernikahan dengan Doni, lalu memilih untuk menikahi pria vegetatif dari Keluarga Barata.
Sampul Novel Dendam dan Hasrat Liar
9.5
Alyssa Hartanto menyamar sebagai asisten pribadi demi menghancurkan Damian Valente, miliarder yang telah meruntuhkan bisnis dan keluarga orang tuanya. Namun, misi balas dendam tersebut terancam gagal saat kebencian di hati Alyssa perlahan terkikis oleh gairah yang tak terduga. Kini, ia didera dilema besar: tetap menuntaskan dendam masa lalunya atau justru menyerah pada perasaan cinta yang mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Love my adoptive father
7.9
Demi mengobati luka hatinya, Alexander Lux mengadopsi Bella Laurent yang berusia tiga belas tahun dari panti asuhan. Alex sempat berjanji tidak akan menikah lagi, tetapi kedekatan mereka justru menumbuhkan cinta terlarang yang begitu mendalam. Hidup Alex menjadi lebih berwarna dan hubungan keduanya pun kian intim. Sayangnya, kisah asmara mereka kini terancam hancur akibat rencana perjodohan dari orang tua Alex serta kembalinya sang mantan kekasih yang mulai mengusik.
Sampul Novel Malam Gairah: Cinta Adalah Game Pemberani
7.9
Pernikahan impian Camila hancur seketika saat sang calon suami tidak datang, menjadikannya bahan tertawaan para tamu. Dalam balutan amarah dan rasa kecewa, ia nekat melewati malam bersama seorang lelaki asing. Camila mengira kisah itu selesai begitu saja, tetapi pria misterius tersebut justru menolak pergi dari hidupnya. Kini, Camila dihadapkan pada pilihan sulit: mengabaikan godaan pria itu atau kembali membuka hatinya untuk asmara yang baru.