APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Penggoda CEO Kaya

Wanita Penggoda CEO Kaya

Carolin Azetta yang nyaris mengakhiri hidup akibat dikhianati keluarganya diselamatkan oleh Darren Agler. Sejak itu, Carolin terobsesi pada Darren. Ia nekat mengubah penampilan dan menyebar fitnah untuk mendepak Quina. Usahanya berhasil, namun saat posisi di samping Darren berhasil ia rebut, kehadiran sosok misterius bernama Jerremy mengancam hubungan mereka. Carolin kini harus menghadapi konsekuensi dari ambisi dan intriknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Mom, hentikan. Olin bukan pacar Darren.” Darren menghela napas kesal lantaran ibunya sejak tadi terus mengatakan kalau Olin adalah pacarnya. Padahal Darren dan Olin sudah menjelaskan bahwa keduanya hanya sang penolong dan yang ditolong.

Namun, Samantha bersikeras mengatakan kalau hubungan keduanya adalah pacaran. Bukan hanya Samantha, Zea juga ikut mendukung sang ibu, hanya Gunawan saja yang tidak berpihak, tapi tetap saja membuat Darren kesal lantaran ayah sambungnya itu tertawa melihat kesulitan Darren.

“Jangan berbohong, Darren. Mom tahu kalau kalian punya hubungan khusus.” Samantha masih terus membahas soal hubungan keduanya.

Darren tidak menyerah untuk mendebat ibunya, tapi jika tidak mendebat maka ibunya akan terus

mengatakan yang tidak-tidak.

“Mom. Hentikan. Mom tahu sendiri kalau aku sudah memiliki Quin.” Darren akhirnya membela diri dengan menyebut nama kekasihnya yang berada di luar negeri karena urusan karier

model.

Samantha menampilkan ekspresi tidak senang saat nama Quin disebut oleh Darren.

“Ya ... ya ...,” tukas Samantha kesal. Lalu menatap Olin yang hanya diam. “Kau akan tinggal di sini, kan?” tanya Samantha meyakinkan diri. Padahal tadi Darren sudah mengatakan kalau Olin akan tinggal bersama mereka karena tidak punya tempat tinggal. Oleh karena itu pula, Samantha yakin kalau Darren punya hubungan dengan Olin.

“Iya, Tan. Olin akan tinggal di sini sampai mendapatkan tempat tinggal,” sahut Olin pelan.

“Ya, sudah. Kamu bilang tadi kalau mau membereskan kamar yang mau ditempati, kan? Ayo, tante bantuin.” Samantha memapah Olin menuju kamar diuang tidak jauh dari ruang makan.

Rumah Darren terdapat lima kamar. Dua kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Kamar utama di

atas menjadi milik Darren, dan kamar satu lagi disulap Darren menjadi ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi. Sedang di bawah menjadi milik orang tuanya, Zea dan tentu saja Olin.

“Ini akan jadi kamar kamu, Lin.” Samantha mulai membereskan kamar itu mulai dari mengganti seprei lama dengan seprei baru yang baru diambil dalam lemari.

“Kamar ini masih sama aja, ya, Mom,” seru Zea saat menyaksikan kamar yang dekorasinya tidak

berubah sama sekali.

Olin mengernyitkan kening. “Ini kamar siapa dulunya?” tanya Olin penasaran.

Zea tersenyum manis.

“Ini kamar sempat ditempati oleh Mbak Maya, sekretaris Kak Darren.”

Olin mengangguk.

Ternyata Darren pernah membawa orang asing tinggal di sini selain dirinya.

“Tapi setelah Mbak Maya menikah, ia akhirnya ikut dengan suaminya, deh,” lanjut Zea lagi.

“Tante kira dulu mereka punya hubungan, tapi saat Maya menerima lamaran teman bisnis Darren, tante kecewa.” Samantha menghela napas saat mengingat betapa senangnya dulu

saat Maya berada di rumah itu.

Olin menatap

Samantha dalam. Ia baru menyadari jika ibu dari Darren itu terlihat cantik di usia yang tidak muda lagi.

“Dan sekarang Mom berharap kalau Kak Olin adalah pacarnya Kak Darren.” Zea memeluk lengan Samantha sembari menyandarkan kepalanya di bahu.

Samantha mengangguk.

“Mom hanya berharap Darren mendapatkan yang terbaik, Zea. Apa kau mau kalau dia mendapatkan seseorang yang tidak memedulikan keluarga kita?” Samantha melirik

Zea.

Zea menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak mau, Mom. Zea tidak ingin memiliki calon kakak

ipar yang jahat kayak nenek lampir. Big no!” Zea menolak mentah-mentah.

Interaksi ibu dan anak itu tidak luput dari fokus Olin. Ia mengulum senyum dan entah kenapa bulir air matanya jatuh merembes hingga ke pipi. Zea dan ibunya sangat manis dan terlihat akrab. Membicarakan hal kecil walau sebenarnya tidak terlalu penting.

Tertawa sampai rasanya mereka berdua adalah pemilik dunia ini.

Olin iri, sungguh. Ia tidak pernah merasakan kebersamaan yang seperti itu pada keluarganya

sendiri. Ayahnya terlalu sibuk mengatainya anak durhaka, sedangkan ibunya terlalu peduli pada Elana dan Elana sendiri terlalu sibuk menggoda lelaki yang sebenarnya adalah kekasih Olin.

Keluarga yang mengerikan.

Mungkin diusir dari rumah adalah jalan terbaik. Setidaknya ia bertemu dengan Darren yang peduli padanya tanpa menyudutkannya meskipun berat badannya melebih batas normal.

Keluarga Darren yang juga terlihat welcome padanya padahal ini pertama kali mereka bertemu.

“Olin.” Samantha mengelus pipi Olin saat menyadari jika tamu mereka itu sedang melamun dengan tatapan kosong.

Spontan Olin tersadar. Berkedip beberapa kali untuk menetralkan ekspresinya dan itu membuat

Samantha serta Zea gemas sendiri.

“Kau memikirkan apa, ha?” tanya Samantha. Ia membawa Olin ke pinggir tempat tidur dan mendudukkannya di sana.

Olin menggeleng.

“Tidak apa-apa, Tante. Hanya ... em ... aku senang melihat keakraban Tante dan Zea.” Olin melengkapi pernyataannya dengan senyum merekah.

Samantha mengangguk.

“Itu hal yang wajar antara ibu dan anak. Dengan begitu, kita bisa saling memberi pengertian dan kasih sayang satu sama lain.” Samantha menjelaskan.

Tidak ada sahutan dari Olin.

“Istirahatlah. Ini sudah terlalu larut.” Samantha menyuruh Olin untuk segera istirahat.

“Terima kasih karena Tante dan Zea sudah membantu merapikan kamar ini,” ucap Olin sungguh-sungguh.

Zea mengedipkan matanya sebagai jawaban bersamaan dengan senyum manis. Sedang Samantha mengecup kening Olin dengan lembut.

“Tidur yang nyenyak,” ucap Samantha. Ia lantas menarik pelan tangan Zea agar keluar dari

kamar Olin.

“Selamat tidur, Kak Olin.” Zea tidak mau ketinggalan untuk mengucapkan selamat tidur pada Olin.

“Selamat tidur juga buat Zea,” balas Olin sembari melambai.

Setelah Samantha dan Zea keluar dari kamar,  Olin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menarik selimut sebatas perut. Ingatannya melayang pada keluarganya yang sama sekali tidak menghargai keberadaannya. Dibenci, dikucilkan dan diabaikan!

Hingga sampai detik ini, Olin masih bingung alasan di balik keluarganya membencinya sedemikian dalam. Jika ia adalah petaka sekaligus musibah, kenapa dia dibiarkan hidup?

Bukankah akan lebih baik jika ia dicekik sejak lahir? Pemikiran macam apa itu? Olin menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan hal negatif dari otaknya. Bagaimanapun, ia harus bersyukur, karena kejadian yang menimpanya itu ia bisa bertemu dengan Darren dan keluarga lelaki itu. Tuhan itu adil.

Sekarang ia tinggal berbuat baik dan tidak mengecewakan keluarga Darren. Ia harus membantu berberes dan mencari pekerjaan agar bisa membiayai hidupnya kelak.

“Selamat malam dunia.” Olin memejamkan mata setelah bermonolog ria. Kebisaan yang selalu ia

lakukan ketika akan tidur.

Belum sempat terlelap, pintu kamar diketuk oleh seseorang.

“Boleh aku masuk?” tanya Darren dari luar.

Olin bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang lalu berkata,

“Masuklah.”

Tidak lama pintu terbuka. Darren terlihat di sana dengan pakaian santai dan siap tidur. Celana

training hitam dan kaos oblong warna putih. Di tangan lelaki itu ada kotak P3K.

“Ada apa?” tanya Olin. Ia penasaran kenapa Darren ke kamarnya di saat malam semakin larut.

Darren duduk di pinggir ranjang, menyingkap selimut hingga menampakkan kaki Olin. “Perbannya belum diganti, kan?” tanya Darren.

Olin menggeleng.

“Aku tidak bisa melakukannya. Terlalu menakutkan. Ditambah lagi, aku tidak tahu di mana kotak obat kau simpan,” kata Olin.

Darren melepas perban lama yang membalut tapak kaki Olin. Dengan hati-hati ia mengelap menggunakan kapas yang sudah ia basahi dengan alkohol.

“Akh,” pekik Olin tertahan.

“Maaf,” kata Darren dengan mimik khawatir.  Ia tidak sengaja menekan luka itu hingga membuat Olin memekik.

Olin tersenyum masam. “Bukan salahmu, Darren. Aku aja yang terlalu takut pada luka itu.”

Darren kembali melanjutkan kegiatannya membersihkan luka itu dan setelahnya menutup dengan perban. “Besok kita ke dokter, ya,” ajak Darren. Olin menggelengkan

kepala. “Tidak perlu, Darren. Kau sudah melakukan yang terbaik jadi tidak usah ke dokter lagi,” tolak Olin. Alasan lainnya karena ia tidak ingin terus berhutang budi pada Darren.

“Kau yakin?” tanya Darren memastikan.

“Tentu saja. Aku yakin, dalam dua hari, luka itu akan sembuh.” Olin meyakinkan Darren.

“Baiklah.” Darren membereskan kotak P3K dan bangkit dari duduknya. “Tidurlah. Jika kau butuh

sesuatu saat tengah malam, kau bisa menghubungiku.” Meletakkan ponsel mewah

berwarna merah marun di atas nakas. “Nomorku sudah tersimpan di sana.”

Olin menganga. Ia tahu bahwasanya harga ponsel itu bukan sesuatu yang murah. Sangat mewah dan juga keluaran terbaru. Bagaimana Darren meninggalkan kepadanya? Apa Darren se

percaya itu padanya? Olin pernah melihat di televisi jika harga ponsel pintar itu sampai puluhan juta.

Astaga!

“Aku akan kembali ke kamarku. Jangan tidur terlalu malam.” Darren tersenyum sebelum meninggalkan kamar Olin.

Olin meraih benda pipih itu dan memperhatikan desain yang luar biasa membuatnya terpesona. Untuk pertama kalinya ia menyentuh ponsel yang harganya fantastis.

Bolehkah ia berharap untuk memiliki ponsel itu selamanya?

Olin tersenyum lalu kembali meletakkan ponsel itu ke atas nakas. Ia sudah sangat mengantuk dana sebaiknya ia tidur sebelum malam semakin larut.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, seorang gadis biasa, mendadak jadi sorotan saat Nyonya Silviana menunjuknya sebagai pewaris tunggal. Perubahan nasib yang instan ini memicu penolakan dari orang-orang sekitar yang meragukan dirinya. Di tengah kepalsuan dan intrik kaum elite, Lucyana harus berjuang bertahan hidup. Mampukah ia menghadapi tekanan lingkungan barunya sembari menemukan sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Istri yang Tidak Disentuh
8.1
Kehidupan miskin mulanya sirna saat takdir mempertemukanku dengan suami kaya raya yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama. Di balik sosoknya yang tampan, setia, dan tanpa cela, tersimpan keanehan yang mengusik jiwa. Sikap dinginnya yang tak wajar membuatku terus bertanya-tanya tentang jati diri pria yang kunikahi ini. Mengapa ia begitu berjarak? Aku bertekad mengungkap rahasia besar yang selama ini sengaja ia sembunyikan dariku.
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Dita dan Bagas dijodohkan sejak kecil oleh Fahri dan Damar. Akibat kondisi Fahri yang memburuk dan krisis keuangan di bisnis Damar, mereka terpaksa menikah muda saat Dita berumur 16 tahun. Setelah akad, keduanya langsung berpisah tanpa komunikasi. Bertahun-tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir menjadi dokter spesialis dan Bagas telah sukses sebagai CEO. Akankah pernikahan dingin masa lalu mereka kini berubah menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Keyakinan Cinta
8.5
Adelle Collin Nicholas, pewaris konglomerat keturunan Prancis-Australia, terbiasa dengan kemewahan. Namun, hidupnya berubah saat bertemu Farhan, pemuda muslim sederhana yang saleh dan aktif di masjid dekat gereja Adelle. Perbedaan status sosial dan agama yang mencolok tidak menghalangi tumbuhnya rasa cinta di antara mereka. Kini, hubungan tulus tersebut harus menghadapi rintangan besar. Mampukah mereka mempertahankan cinta di tengah jurang perbedaan yang nyata?
Sampul Novel Kupu-kupu Sang Miliarder
9.2
Di balik gemerlap malam pesisir Jakarta, Niela berjuang menjaga kehormatannya di tengah cemoohan. Namun, desakan sang ibu memaksanya masuk ke dunia kelam hingga bertemu Darren Alvaro Prayudha. Demi menyangkal cinta pandangan pertama yang hadir, sang miliarder memutuskan menawan Niela. Hubungan rumit ini justru perlahan mengungkap rahasia jati diri Niela yang misterius. Mampukah Darren akhirnya mengakui perasaan aslinya?
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal telah menegaskan keengganannya memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan penolakan keras sang suami, Aurora bertekad bulat untuk tidak menggugurkan kandungannya. Demi menyelamatkan sang buah hati, ia pun mulai menyusun sebuah rencana rahasia untuk pergi dan menyembunyikan kehamilannya dari Julian.