APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Unforgettable CEO

Unforgettable CEO

Akibat salah minum obat perangsang, Elina melewati malam panas bersama Kevin. Kevin yang mengira Elina adalah teman kencannya langsung membawanya masuk. Kejadian itu rupanya begitu membekas di hati Kevin. Meski Elina berusaha kabur demi menghindari konsekuensi dari malam tersebut, takdir berkata lain. Mereka justru dipertemukan kembali, dan kini Kevin bertekad untuk memburu wanita yang sempat mengelabui dirinya dalam situasi yang sepenuhnya baru.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Aduh, kok kepalaku pusing banget ya. Aduh ... ini kenapa ya,” keluh Elina ketika dia merasa kepalanya kini terasa semakin berat.

“Kamu tadi minum apaan sih, Ell?” tanya Dinda yang melihat tubuh sahabatnya sedikit berkeringat saat ini.

“Gak ada kok. Aku cuma minum yang ada di sini doang ... tapi kenapa kepalaku rasanya berat banget ya. Nggak biasanya banget kayak ini,” jawab Elina sambil mulai memijat pelipisnya sendiri.

“Kok bisa gitu sih. Kayaknya ini bukan pertama kalinya deh kamu minum minuman ini kan. Dan biasanya nggak pernah sampai ngeluh tuh,” ucap Dinda yang kemudian memberikan tisu pada Elina untuk sedikit menyeka keringat yang ada di keningnya.

“Ell, kayaknya kamu perlu istirahat deh. Kamu mau ke kamar duluan atau tetap mau di sini aja? Mending ke kamar deh, Ell,” tanya Mega yang duduk bersama Elina dan Dinda sekaligus memberikan saran pada sahabat kekasihnya itu.

“Iya bener, Ell. Kondisi kamu kayaknya makin ga bener nih,” timpal Dinda yang mendukung ucapan Mega.

“Di sini aja deh dulu bentaran. Bisa makin bete aku ntar kalau sendirian di kamar,” jawab Elina yang kemudian segera menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mencoba untuk memejamkan matanya.

Elina yang baru saja putus dari kekasihnya membutuhkan hiburan untuk melupakan rasa sedihnya karena ditinggal pergi tanpa alasan oleh kekasihnya. Elina mengajak 2 orang sahabat baiknya itu untuk menikmati malam di sebuah klub malam dan pergi menginap di hotel yang ada di atas klub tersebut.

Dentuman suara musik yang semakin kencang kian membuat darah Elina mendidih saat ini. Badannya terasa semakin panas dan kepalanya juga semakin berat.

Padahal ini bukan pertama kalinya dia minum minuman yang sama seperti yang dia tenggak malam ini, tapi entah mengapa malam ini tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda dari yang biasanya.

“Aduh kepalaku ini kenapa sih,” keluh Elina pelan sambil memegang kepalanya erat-erat.

“Ell, mendingan kamu istirahat deh. Kamu makin keliatan kayak orang teler tau ga,” saran Dinda.

“Nggak mau ah. Ntar aku ke inget lagi sama si brengsek itu,” tolak Elina.

“Tapi kamu kayaknya nggak sehat, Ell. Entar yang ada kamu makin sakit.”

“Iya Ell, bener apa yang dibilang sama Dinda itu. Mendingan kamu naik dulu deh, besok kita ke sini lagi kalau emang kamu masih pengen kita ke sini. Tapi beneran deh ... kondisi kamu nggak baik banget hari ini. Kalo perlu kita naik aja lah barengan kalo emang kamu gak mau sendirian di kamar,” sahut Mega yang mendukung saran dari Dinda.

Elina tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Dinda. Dia melihat ke arah Dinda dan Mega secara bergantian.

Sepertinya apa yang dikatakan oleh Dinda tentang kondisi tubuhnya malam ini semua benar. Kondisi tubuhnya sangat tidak bersahabat sehingga membuat dia merasa sedikit sakit, padahal baru sebentar saja dia minum.

“Kayaknya aku emang harus istirahat deh. Badanku beneran gak enak. Panas banget,” ucap Elina sambil meraih tas miliknya.

“Perlu aku temenin gak?” Dinda menawarkan diri.

“Gak usah. Kamu di sini aja ama Mega. Aku mau langsung tidur.”

“Beneran gak mau dianterin ke kamar?” Mega juga ingin memastikan.

“Gak usah, aku masih bisa jalan kok. Din, ntar kalo aku gak bukain pintu ... kamu tidur di kamar Mega ya?” pesan Elina sebelum dia meninggalkan teman-temannya itu.

“Beres. Kamu istirahat aja Ell. Baik-baik ya, Ell,” pesan Dinda sambil membantu Elina merapikan barangnya.

“Ell, kalo butuh kita ... telepon aja ya, gak usah ragu,” ucap Mega juga ikut berpesan pada sahabat baiknya itu.

Elina membalas ucapan teman-temannya itu hanya dengan senyuman. Dia ingin segera meninggalkan tempat itu karena dia merasa kepalanya serasa ingin meledak setiap dia mendengar suara musik yang sangat keras di klub malam itu.

Elina tidak ingin cuti kerja hari Senin nanti, oleh karena itu dia memilih untuk mengikuti saran dari teman-temannya. Dia segera berpamitan lalu berjalan perlahan menuju ke pintu keluar klub malam.

Dengan sedikit susah payah, Elina berjalan di antara kerumunan orang yang sedang menikmati malam sambil bergoyang mengikuti dentuman musik yang seperti membakar tubuh mereka. Elina berjalan perlahan mencoba menghindari orang-orang yang berlalu lalang di sana.

“Ah gila! Sakit banget sih kepalaku. Salah makan kali aku tadi ya,” gumam Elina sendirian saat dia sudah berada di dalam lift.

“Moga besok pagi sembuh lah. Mau minum obat sakit kepala tapi kok abis minum, ntar kalo bereaksi ... bisa modar aku. Gak lah, tidur dulu aja,” lanjut Elina lagi yang ingin segera sampai ke kamar hotelnya.

***

“Halo Bos, saya antar jam berapa?” tanya Bima pada atasannya.

“Bentar lagi. Aku baru aja beres meeting,” jawab Kevin sambil menggerakkan lehernya yang sejak tadi terasa tegang.

“Baik, Bos. Nanti saya siapkan seperti biasanya.”

“Ok! Kirimkan 10 menit lagi,” perintah Kevin pada asisten pribadinya itu sebelum dia menutup sambungan telepon.

Kevin meletakkan kembali ponselnya lalu segera menutup layar laptopnya. Dia baru saja melakukan rapat penting dengan cabang perusahaan keluarganya di Amerika, yang baru saja dia tinggalkan.

Saat lelah, pria muda berusia di awal 30 tahun itu selalu menyuruh asisten pribadinya untuk menyewa wanita malam dengan kriteria yang dia inginkan. Kevin yang masih belum berniat menikah itu memang masih belum berniat mengikat dirinya dengan satu wanita saja.

Pandangan Elina kini kian kabur setelah dia sampai di koridor kamar yang dia sewa. Sambil berjalan perlahan dan berpegangan pada tembok, Elina mencoba untuk secepatnya sampai di kamarnya. Koridor Itu tampak sangat sepi, tidak ada satu orang pun yang melintas di sana.

“Aduh badanku kok makin panas banget ya. Nyebelin banget deh! Ah ... ini kamarku,” gumam Elina pelan sambil berapa kali mengerjapkan matanya untuk melihat nomor kamar yang ada di pintu coklat itu.

Elina segera mengambil kunci kamar dari dalam tas agar dia bisa segera masuk. Kesadarannya yang mulai hilang membuat Elina sedikit kesulitan untuk mencari kunci kamarnya itu.

“Duh ... di mana sih kuncinya,” gerutu Elina sambil terus merogoh tasnya.

“Ah ... ini dia.”

“Eh ... keren banget nih kamar. Baru juga mau ditempelin kuncinya, pintunya udah ngebuka sendiri,” ucap Elina pelan ketika dia melihat pintu kamar itu sedikit terbuka.

Tiba-tiba pintu itu terbuka sedikit lebih besar lalu muncul tangan yang langsung mencengkeram pergelangan tangan Elina dan menariknya dengan paksa untuk masuk ke dalam. Badan Elina yang sedikit oleng, segera terbawa masuk ke dalam kamar tanpa bisa dia cegah lagi.

“Eh apa-apaan ini!” tolak Elina ketika dia merasa ada seseorang yang membawanya masuk ke dalam kamar tersebut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu, Reina Valeria masih berupaya melupakan luka masa lalu. Namun, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjadi manajer barunya di kantor. Pertemuan tak terduga ini membangkitkan kembali memori masa sekolah mereka. Rahasia apa yang sebenarnya tersimpan di antara si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Kini, Reina terpaksa menghadapi kembali perasaan lama yang sempat tertunda.
Sampul Novel Dibunuh Demi Cinta Pertamanya
8.3
Mendapat kesempatan hidup kedua setelah dibunuh oleh suaminya sendiri, Arthur, protagonis bertekad menjauh sejauh mungkin. Di masa lalu, pernikahan yang ia paksakan memicu bunuh diri Aiko, cinta pertama Arthur. Sebagai balas dendam, Arthur memotong tali pengaman terjun lenting istri dan anaknya hingga tewas. Kini, setelah terbangun tepat di malam ia menjebak Arthur dengan kehamilan, ia segera mengundurkan diri dari kantor, pindah rumah, hingga meminta mutasi ke luar negeri untuk lolos dari maut.
Sampul Novel Ena-Ena 21+
8.4
Antologi kisah romansa dewasa ini menghadirkan kumpulan cerita pendek yang menyoroti lika-liku hubungan penuh gairah. Pembaca akan diajak menyelami dinamika cinta penuh kuasa dari para CEO dan pengusaha, hingga polemik emosional yang dihadapi janda, duda, serta konflik mertua-menantu. Menampilkan latar profesi beragam mulai dari dokter, tentara, hingga satpam, setiap narasi dikemas memikat untuk memenuhi fantasi Anda akan kisah cinta yang mendalam dan unik.
Sampul Novel Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu
9.4
Kehamilan Sarah terasa hampa saat suaminya, Dimas, justru sibuk memedulikan Citra. Luka hatinya kian dalam ketika sahabatnya sendiri mulai meluncurkan rencana licik untuk menggeser posisinya sebagai istri. Di tengah situasi pelik ini, Sarah dihadapkan pada dilema besar. Apakah ia harus mempertahankan rumah tangga yang hancur demi anak dalam kandungannya, atau melangkah pergi demi harga diri? Kisah perjuangan batin seorang wanita demi kedamaian hidupnya.
Sampul Novel Occidens
9.7
Akibat ketamakan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran hidup dalam kebencian dan kutukan. Perlahan, hatinya yang dingin mencair berkat Selena, gadis pencari kayu yang selalu ceria. Namun, takdir kejam menguji cinta mereka saat Edgar dinobatkan sebagai pemimpin kaum immortal sekaligus penguasa klan demon. Aturan mutlak melarang sang raja memiliki ratu. Bisakah hubungan mereka bertahan menghadapi hukum dunia immortal yang sangat mengikat?
Sampul Novel WARUNG KOPI JENNY
8.8
Demi sang ibu, Jennyta memilih menetap di Rusunawa Depok setelah pulang menjadi TKW Malaysia. Sisa modalnya ia pakai untuk mendirikan sebuah warung kopi kecil. Sayang, ketenangannya kerap terusik oleh ulah Jimmy Waluyo, mantan preman yang selalu mengganggunya. Namun, dari pertengkaran harian itu, tumbuh perasaan cinta yang tak terduga. Kini Jennyta bimbang, mampukah ia melupakan sosok sang kekasih, Januar Arifin, demi menerima Jimmy di hatinya?