APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel UNDER PINK MOONLIGHT

UNDER PINK MOONLIGHT

Sofia, gadis kota kecil, terpaksa tinggal bersama tiga sepupunya: Max, Kaileen, dan Sean. Sambutan hangat mereka menyembunyikan kutukan keluarga yang memaksa ketiganya mencintai wanita yang sama. Demi memutus kutukan, Lariette meminta Sofia menikahi mereka untuk melahirkan anak perempuan. Namun, usai Sofia berkorban dan memenuhi janji, Lariette justru berkhianat serta berniat mencelakakannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tubuh Sofia terasa ringan dan hangat. Perasaannya terasa tenang dan damai. Wanita itu mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Sofia mencium aroma yang enak, bukan makanan, tetapi seperti wangi yang memabukkan. Ia sulit menjelaskan aroma apa yang sedang menusuk ke hidungnya. Sofia mengerjap, lalu ia melihat ada dua orang pria tengah menatapnya di sisi ranjang.

Sofia langsung tersentak.”Kalian siapa?”

“Halo, cantik, kau sudah bangun, ya?” Pria berambut gelap dengan mata cokelat menatap Sofia takjub,”kau cantik sekali.”

Sofia menatap kedua pria itu dengan bingung.”Ka-kalian mengenalku?”

“Namaku, Kaileen.”

“Namaku Sean.” Sean adalah pria berambut lurus dan gelap dengan mata cokelat. Wajahnya terlihat sangat muda dan terlihat sangat manis dan tampan. Sementara Kaileen memiliki mata tajam dengan rambut sedikit bergelombang berwarna cokelat tua dan bermata cokelat.

“Kalian masih di sini?” Max muncul sembari bersandar di pintu.

“Max~” Sofia lega karena Max ada di antara mereka. Sofia pasti akan canggung menghadapi Sean dan Kaileen. Sofia memandang ketiga pria itu, mereka sangat mirip. Namun, di antara ketiganya Max yang sangat menonjol. Segala hal yang ada pada lelaki itu semuanya mendapat nilai sempurna.

“Ini Sean dan Kaileen. Mereka langsung pulang begitu mendengar kau ada di sini. Maaf kalau mereka mengagetkanmu,”kata Max. Pria itu sudah mengganti pakaiannya.

Sean memegang tangan Sofia.”Mulai sekarang kau adalah milik kami.”

“Jangan bicara sembarangan,”kata Kaileen menggeram,”kau bisa membuatnya takut.”

Sean tersenyum manis pada Sofia.”Ayo kita makan, kau pasti kelaparan.”

“Tapi, sebelum itu kau harus melihat ini dulu.” Kaileen menunjukkan beberapa kantong belanja. Ia mengeluarkan sebuah gaun cantik. Ini pertama kalinya Sofia melihat gaun secantik itu.”Kau harus memakainya.”

“Aku sudah ada gaun.” Sofia menunjukkan gaun yang sedang ia pakai.

“Itu gaun Ibu, tidak cocok denganmu. Ini semua kubelikan untukmu.”Kaileen menyodorkan semua yang ia beli di perjalanan pulang.

“Kalian membuatnya takut.” Max menyela di antara Kaileen dan Sean. Ia menghampiri Sofia dan membantunya bangun,”ayo, kita makan malam.”

Sofia menelan ludahnya. Karena Max orang pertama yang ia temui, maka ia langsung menurut pada lelaki tersebut.

Sean dan Kaileen mengikuti hingga ke ruang makan. Makanan enak sudah tersaji di atas meja berbentuk bundar. Sean dan Kaileen terus memandangi Sofia hingga wanita itu menjadi canggung.

“Jika kalian terus begitu, Sofia tidak akan bisa makan,”protes Max.

“Ah, baiklah aku akan makan juga,”jawab Sean.

“Bagaimana makanannya, Sofia?” Max bertanya karena Sofia terlihat diam saat menikmati makan malamnya.

“Sangat enak.” Sofia melirik ke arah Kaileen dan Sean.

Max memegang tangan kiri Sofia.”Sofia, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan aku, Kai, dan juga Sean. Kau akan tinggal bersama kami mulai sekarang.”

“Aku tidak menyangka akan mendapatkan kehidupan yang luar biasa. Aku akan membersihkan rumah dan melakukan apa pun yang aku bisa. Kalian bisa mengatakan padaku makanan apa yang kalian suka. Aku akan memasakkannya setiap hari.”

“Tidak. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun di sini!”kata Sean dengan suara tegas.

Sofia tersentak.”Aku~hanya ingin membantu. Anggap saja aku bekerja pada kalian. Kalian tidak perlu memberiku gaji. Aku hanya butuh tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, aku juga akan mencari pekerjaan baru.”

“Tidak begitu, sayang~”Suara Kai terdengar begitu lembut. Namun, Sofia kaget karena mendapat panggilan seperti itu.”Kau tidak boleh melakukan apa pun di rumah ini, itu akan membuatmu kelelahan. Kami yang akan melakukannya sendiri.”

“Tap-tapi, aku ini perempuan, harus melakukan pekerjaan rumah. Lagi pula tidak ada yang bisa kulakukan di sini selain membantu kalian.” Sofia semakin bingung dengan situasi ini. Mana mungkin ia tidak melakukan apa pun. Ia kan sedang menumpang.

“Nanti kami akan meminta sesuatu padamu ketika kami membutuhkan. Kau cukup tinggal di rumah ini dan menemani kami. Menjadi bagian dari hidup keluarga ini,”kata Kaileen lagi.

Sofia menatap Max yang tidak banyak bicara dalam hal ini. Max membalas tatapan Sofia, ia tersenyum dan mengangguk. Kemudian wajahnya menunduk mengecup bibir Sofia. Tubuh Sofia membatu. Wajah gadis itu merona seketika dan segera mengalihkannya dengan menghabiskan makan malam.

Setelah selesai makan malam, Sofia mengganti pakaiannya dengan piyama yang dibelikan oleh Sean. Mereka duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Sofia duduk di sofa. Sean memeluk pundak Sofia dan merapatkan tubuhnya. Kaileen tidak mau kalah, ia duduk di sisi yang kosong dan menggenggam tangan wanita itu. Sementara Max hanya menyaksikan kelakuan keduanya dengan tenang.

“Malam ini kau tidur denganku saja,”kata Sean yang menatap Sofia dengan sangat dekat.

Sofia menelan ludahnya.”Ah, itu~aku sudah ada kamar sendiri.”

“Kalian membuatnya takut saja. Dia sulit bergerak jika kalian terus menghimpitnya,”kata Max mengingatkan. Kaileen dan Sean pun menggeser posisi duduk mereka agar Sofia lebih leluasa.

“Sofia, apa kau pernah berkencan dengan seorang pria?”tanya Sean yang selalu blak-blakan.

Sofia menggeleng.”Tidak pernah.”

“Wah, ada apa dengan pria di sana. Mereka tidak melihat wanita secantik kamu, ya?” Sean memainkan rambut Sofia yang panjang dan bergelombang. Rambutnya sangat indah. Sangat selaras dengan wajah cantiknya yang bagaikan boneka.

“Bukankah itu bagus? Kita akan menjadi pria pertama bagi Sofia,”sahut Kaileen.

“Aku jarang bergaul dengan banyak orang karena aku harus melakukan banyak pekerjaan rumah.” Sofia memberikan sedikit penjelasan. Hidupnya memang tidak menarik karena ia hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Banyak orang yang tidak menyadari keberadaannya.

Kaileen meraih tangan Sofia dan mengusapnya lembut. “Kau melakukan banyak pekerjaan rumah? Pantas saja tanganmu banyak luka.”

Sean meraih tangan Sofia yang lainnya. Ia menatap tangan itu dengan sedih kemudian mengecupnya.”Tanganmu tidak akan terluka lagi.”

Sofia tersenyum kikuk dan menyembunyikan tangannya secara perlahan.”Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan. Tapi, ini bukan luka yang serius. Ini biasa terjadi pada orang yang mengerjakan urusan rumah tangga.”

“Begitu, ya, yang terpenting kau tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun,”kata Kaileen menegaskan.

“Ah,itu~baiklah.” Sofia tidak ingin memperdebatkannya lebih panjang.

“Sofia, kamar tamu sangat kecil. Bagaimana kalau kau pindah ke kamarku saja?” Sean masih berusaha membujuk Sofia.

“Kamarku tidak sempit.”

“Tapi, tetap saja aku ingin terus bersamamu.”

Sofia merasa sifat dan sikap ketiga pria di rumah ini sangat aneh. Meskipun masih ada hubungan saudara, ia tetaplah wanita asing yang datang. Namun, sikap ketiganya justru sangat manis dan baik. Mereka terus menempel pada dirinya.

“Maaf, tapi, aku di kamar itu saja.” Sofia bangkit. Ia ingin kembali ke kamarnya daripada harus berada dalam situasi seperti ini.

“Kau mau ke mana, sayang?”tanya Kaileen heran.

“Ke kamar.” Sofia menunjuk ke kamarnya sembari berjalan pelan.

Max yang berada dekat dari wanita itu, menarik Sofia dalam pelukannya. Wanita itu terduduk dalam pangkuan Max. Max memeluknya erat dari belakang. Wajahnya ditenggelamkan pada lekukan leher Sofia. Tubuh Sofia menegang. Ia tidak berani berkutik. Kaileen dan Sean pun langsung terdiam.

Sean dan Kaileen kembali ke kamar mereka untuk istirahat. Sementara Max masih saja duduk dengan Sofia di pangkuannya. Malam semakin larut, Sofia semakin tidak nyaman berlama-lama dalam posisi tersebut.

“Ayo kita istirahat.” Max mematikan televisi.

Sofia mengembuskan napas lega. Ia berpikir bisa kembali ke kamarnya. Namun, Max membawa Sofia menaiki anak tangga. “Ayo ke kamarku.”

Sofia terperanjat.”Ke kamarmu? Apa yang harus kulakukan di sana?”

“Tidak ada.” Max tersenyum sembari terus menuntun Sofia ke kamarnya.

Kamar Max sangat besar, rapi, dan wangi. Sofia mematung di tempat sembari menatap Max yang tengah menutup tirai.

“Ayo ke sini!”

Sofia berjalan perlahan. Tubuhnya yang ringan seketika sudah dalam rengkuhan lelaki itu. Max membaringkan Sofia di atas ranjang empuknya. Lalu, Max berbaring di sebelah Sofia. Ia memeluknya dengan begitu hangat.

Max mengusap-usap wajah Sofia dan menatapnya intens. Sofia tidak membalas tatapan Max. Max merapatkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Sofia menatap Max. Napas Max menderu mengenai wajah Sofia. Lalu ia merasakan sesuatu yang hangat menyapu bibirnya. Sofia terbelalak, Max tengah melumat bibirya dengan lembut.

Max kembali menatap Sofia, kemudian memeluk dan berbisik.”Selamat tidur, Honey.”

Sofia sangat sulit menyadarkan dirinya. Ciuman Max masih terngiang-ngiang dan terasa berkedut di bibirnya. Ini seperti tindakan yang tidak dibenarkan. Namun, ia diperlakukan sangat lembut dan penuh cinta. Ia tidak akan pernah bisa menolaknya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BAHAGIA SETELAH DUKA
8.3
Cinta Gabriel dan Nadya terbentur restu keluarga karena keyakinan mereka berbeda. Demi menikahi Nadya yang taat beragama, Gabriel memilih berpindah keyakinan dan bertekad menjadi imam yang baik. Namun, keputusan besar ini menuntut pengorbanan yang sangat berat. Gabriel seketika kehilangan hak sebagai ahli waris Indofarma Grup, bahkan namanya dihapus sepenuhnya dari silsilah keluarga besarnya.
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Kepergian Sari dua tahun lalu menyisakan sepi mendalam bagi seorang guru SD berusia 35 tahun. Di tengah kesederhanaan hidupnya, pria duda ini terus didesak oleh keluarga serta sahabat karib untuk segera mencari istri baru. Meski merasa hampa dan kesepian, ia masih didera keraguan besar. Hatinya belum sepenuhnya siap melepaskan masa lalu dan menyambut kehadiran sosok pendamping lain dalam lembaran hidupnya yang baru.
Sampul Novel Permainan Cinta Hartawan Misterius
9.1
Sejak kecil dibuang, Celia Kane dipaksa keluarga sang ayah menjadi pengantin pengganti untuk Tyson Shaw. Menolak takdir ini, Celia kabur dan melewati cinta satu malam dengan pria asing, meski akhirnya ia tetap tertangkap lalu dipaksa menikah. Siapa sangka, Tyson justru memperlakukannya dengan sangat manis. Namun, di balik kehangatan itu, ada rahasia besar yang tersembunyi: Tyson adalah miliarder misterius sekaligus pria asing di malam pelariannya.
Sampul Novel Terjebak Bayang-bayang Orang Kejam
9.2
Cinta Fianne Gatha ditolak kasar oleh Arthur Damarion. Penolakan itu berubah jadi teror saat ia tahu Arthur berniat menghancurkan keluarganya. Demi menyelamatkan diri, Fianne memalsukan kematiannya lalu kabur. Namun, Arthur yang kini berkuasa justru menggila hingga nekat membongkar kuburan Fianne demi mencarinya. Saat Fianne mencoba melarikan diri lagi, Arthur rupanya sudah menanti di depan pintu. Kini, ia harus memutar otak demi bisa bertahan hidup.
Sampul Novel The Deadly Love
9.6
Kehidupan damai Betty hancur seketika akibat insiden berdarah yang menyeretnya ke dunia Aldric, seorang pembunuh bayaran berdarah dingin. Pertemuan itu memicu obsesi mendalam pada diri Aldric untuk menguasai Betty sepenuhnya. Di tengah hubungan mereka, muncul ancaman dari masa lalu yang bertekad merebut Betty. Aldric pun bersumpah menjaga miliknya dengan segala cara. Bersama para sekutu, sanggupkah mereka melenyapkan pengganggu yang mengancam kebahagiaan mereka?