APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ULANG TAHUN IBU MERTUA

ULANG TAHUN IBU MERTUA

Madina kerap direndahkan Tuti, mertuanya, karena berasal dari keluarga biasa. Saat Tuti berulang tahun, Madina bahkan diperlakukan bak pelayan. Situasi kian pelik akibat rencana keluarga Alka yang berniat menjodohkannya dengan Ratna demi harta. Setelah difitnah dengan kejam, Madina dan Alka akhirnya berpisah. Di tengah kesendiriannya, Madina bangkit dan sukses menjadi penulis novel ternama. Akankah kesuksesan ini menyatukan mereka kembali, atau jalan berbeda yang akan mereka pilih?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Aku tidak mengirim istriku untuk menjadi pembantu di sini, Ma. Kenapa dia sibuk mengambil piring dan gelas kotor sementara kalian enak-enakan makan?” Kudengar suara itu. Aku menoleh dan tertegun. Mas Alka menatap ke arah ibu mertua dan para iparku yang tampak sedang asyik makan.

“Bukan begitu, Alka. Dia yang mau dan menawarkan diri sendiri, kok. Mama ajak gabung aja dia malah nolak.” Pintar sekali dia memutar balikan fakta. Mas Alka menatapku tajam dan melemparkan pertanyaan.

“Apakah benar semua itu, Dek?” Netra Mas Alka menatap padaku. Semua sorot mata tamu pun tertuju padaku akhirnya.

“Iy-iya.” Aku mengiyakan, tapi disertai dengan anggukan ragu.

Aku hanya tidak ingin terjadi keributan di acara ini. Tidak enak dilihat orang.

Mas Alka menghampiriku setelah melirik sinis pada meja yang ditempati ibu mertua dengan ipar-iparku. Sepertinya dia tidak sepenuhnya percaya, tapi bagaimanapun juga aku sudah mematahkan tuduhannya. Maafkan aku, Mas.

“Tuh kan, kamu dengar sendiri jawaban Madina. Dia memang menawarkan diri, bosan katanya. Mama udah larang juga tadi, tapi dia berkeras,” ujarnya dengan penuh percaya diri.

Aku menghela napas. Sudahlah tidak perlu lagi diperpanjang dan diperdebatkan. Aku menantu baru di keluarga ini, sudah sepantasnya aku mengalah dulu dan menghargai semuanya.

“Dek, beneran apa yang dikatakan mama? Kamu memang inisiatif menawarkan diri?” tanyanya menatapku.

Sekali lagi aku mengangguk. Aku tidak mungkin memperkeruh keadaan. Tidak ingin suamiku berbuat kekacauan di hadapan banyak orang. Kalau pun kubantah, yang ada ibu mertuaku pasti akan semakin meradang, dan aku yakin dia tidak akan mengakui semuanya di depan banyak orang.

“Iya, Mas. Aku bosen tadi … lagian kasihan Bi Romsih sibuk sendirian.” Akhirnya, kalimat itu yang keluar dari mulutku meski bertentangan dengan hati yang sebenarnya geram.

Mas Alka tersenyum miring. Dia mengusap pucuk kepalaku yang terbalut kerudung.

“Mas tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Dek,” ucapnya. Lalu Mas Alka memintaku meletakkan gelas dan piring kotor itu kembali ke atas meja. Dia menggamit jemariku dan mengajakku berjalan menghampiri mereka.

“Ma, sekarang sudah ada aku. Madina biar duduk saja di sini menemani aku makan. Dia pastinya gak akan bosan lagi,” ucapnya datar.

“Ma, selamat ulang tahun, ya. Maafkan aku kalau belum bisa menjadi anak yang mama banggakan. Namun, bagiku, mama tetap mendapat kedudukan yang tinggi di hati ini.”

Mas Alka memeluk wanita itu. Tampak sangat tulus ucapan itu terlontar dari mulutnya.

Kutatap sekilas wajah ibu mertuaku, tampak datar saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Namun, tidak baik berburuk sangka, meski aku tahu jika Mas Alka bukan anak kesayangannya.

“Ehmmm. Ngasih ucapan doang, kadonya mana?” Kudengar Mas Hamdan yang sudah berdiri di belakang suamiku menyapa.

Mas Alka melepas pelukan pada ibunya. Suamiku menoleh dan mengulas senyum pada lelaki yang berdiri tidak jauh darinya itu.

“Aku memang belum bisa ngasih kado mahal, tapi setiap malam aku selalu panjatkan doa. Sesuatu yang pastinya lebih berharga daripada sekadar harta,” ucap Mas Alka. Ya, kami hanya membeli satu kado dengan uang tabungan yang sudah kami kumpulkan.

Mas Alka selalu bilang ingin memberikan hadiah yang berkesan untuk ibu tercinta. Aku pun setuju, sebagai menantu sudah selayaknya mendukung suami untuk berbakti pada ibunya.

Mas Hamdan berjalan dan menghampiri ibu mertuaku. Padahal sejak tadi mereka diam saja, ketika Mas Alka datang seolah sengaja ingin menunjukkan kekayaan di depan kami.

“Ma, selamat ulang tahun, ya. Ini kukasih sesuatu buat mama agar bisa gesek belanja di mana saja,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kartu kredit. Maklum Mas Hamdan bekerja di bank. Jadi, baginya mudah untuk mendapatkan fasilitas kartu kredit seperti itu.

Tampak wajah ibu mertuaku berbinar. Wanita lima puluh lima tahun itu tersenyum lebar. Ditepuk-tepuknya pundak Mas Hamdan setelah melepas pelukan.

“Kamu itu memang anak mama yang selalu paling ngerti keadaan mama. Makasih, Ndan,” ucapnya dengan semringah. Dia segera memasukan kartu kredit itu pada tas kecil yang disimpannya di atas meja.

Sementara Mas Hadi dan Mas Hamish masih belum beranjak dari meja tempat duduk mereka. Selama ini yang tampak paling tidak ingin tersaingi keberadaannya di depan ibu mertuaku memang hanya Mas Hamdan.

“Hadi. Hamish. Ayo sini … mama mau potong kue,” ucap ibu mertuaku sambil menoleh ke arah Mas Hadi dan Mas Hamish. Keduanya berdiri dengan enggan dan berjalan menghampiri meja. Kemudian menjatuhkan bobot mereka di sisi yang berlawanan dengan kami.

Aku duduk bersisian dengan para iparku dan Mas Alka. Ibu mertua dan Mas Hamdan duduk di meja seberang. Sementara Ajeng, entah ke mana dia menghilang.

Kue akhirnya dia potong-potong. Setelah MC memandu membacakan doa. Potongan-potongan itu disimpannya dalam piring kecil.

Ibu mertuaku memberikan potongan kue pertamanya pada Mas Hamdan—anak tertua sekaligus anak yang paling disayanginya. Kemudian potongan kedua diberikan pada Mas Hadi, menyusul potongan-potongan berikutnya dibagikan untuk pada anak dan menantunya yang lain. Potongan kue lainnya diberikan pada Ajeng dan calon suaminya yang baru saja datang. Baru setelah semua selesai dia memberikan potongan terakhir pada Mas Alka dan menyimpan dua sendok di atasnya.

“Bu, kok cuma satu?” tanya Mas Alka tidak terima, karena menantu yang lain masing-masing diberikan satu porsi juga.

“Ini buat ponakan-ponakan kamu nanti, sebentar lagi Hamzah, Elena sama Miranti sampai. Tadi lagi dianter supirnya Hamdan pergi ke supermarket sebentar,” ucapnya sambil melirik ke arah Bi Romsih yang kebetulan sedang lewat setelah mengambil piring-piring kotor.

“Bi, ini nanti bawa ke dalam. Buat cucu-cucuku nanti,” ucapnya sambil mengulangkan tangan.

“Iya, Bu.” Bi Romsih gegas menghampiri tempat duduk kami.

“Ini sekalian juga simpan saja, Bi. Buat ponakan saya saja.” Mas Alka menaruh kembali kue dalam piring kecil itu dan mendorongnya ke arah Bi Romsih.

“Iya gak cocoklah kue mahal kayak gini di lidah kamu, Ka. Lagian gak sebanding sama kadomu juga. Kado saja kamu cuma ngasih satu, ‘kan? Itu juga gak tahu harganya berapaan?” celetuk Mbak Mirna sambil menyuap kue ulang tahun ke mulutnya.

“Makanya jadi orang itu jangan suka membangkang, Ka. Kebanyakan gak nurut sih sama orang tua. Coba kamu dulu nikah sama Ratna, sudah pasti kamu hidup senang juga. Bisa beli kado mahal buat Mama.” tambah Mbak Melda sama pedasnya.

Tanpa kusangka Mas Alka menggebrak meja hingga membuat semuanya terkejut dan menarik perhatian para tamu yang sedang menikmati hidangan.

“Istriku memang tidak berpendidikan tinggi dan kaya raya seperti kalian. Namun, istriku kudidik untuk bisa bersikap santun dan menjaga ucapan. Apakah kalian tidak pernah belajar tata krama di sekolah, bagaimana caranya menjaga lidah? Buat apa cantik dan kaya kalau tidak berbudi pekerti dan hanya memelihara kedengkian?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Days
9.4
Mengetahui suaminya berkhianat, April menolak menyerah pada perceraian. Ia justru memilih jalan sulit untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang berada di ambang kehancuran. Sebuah target ambisius ia tetapkan: merebut kembali cinta sang suami dalam waktu 180 hari. Di tengah rasa sakit yang mendalam, April harus berkejaran dengan waktu demi memulihkan keharmonisan rumah tangganya. Akankah ia berhasil memikat kembali hati suaminya sebelum batas waktu tersebut habis?
Sampul Novel Benci Membawa Cinta
8.2
Eleonore Duvall, pewaris angkuh Duvall Enterprises, menjalani pernikahan dua tahun dengan Kaelan Ravenswood, pria yang dicurigai sebagai pembunuh keluarganya. Walau dipandang sebelah mata, Kaelan menyimpan obsesi mendalam sejak malam rahasia masa lalu mereka. Ia pun bertekad mempertahankan pernikahan demi melindungi rahasia besarnya. Saat Eleonore menyelidiki kematian tragis keluarganya, kebenciannya goyah oleh cinta tak terduga dan identitas asli sang suami.
Sampul Novel Dilarang Hamil Oleh Mertua
9.0
Pernikahan Claudia dan Rayhan terus diuji oleh penolakan Ibu Eva. Sang mertua yang mendambakan menantu dari kelas sosial tinggi tega melarang Claudia mengandung. Begitu kehamilan Claudia benar-benar terjadi, Eva bahkan menuntutnya untuk menggugurkan kandungan tersebut. Di bawah tekanan batin dan kebencian yang mendalam dari sang mertua, sanggupkah suami istri ini mempertahankan rumah tangga sekaligus menyelamatkan calon anak mereka?
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Kehidupan malang Luna sebagai anak yatim piatu memuncak saat bibinya yang kejam menjualnya ke pasar gelap. Di tempat pelelangan, nasib mempertemukannya dengan Draco Riordan, sosok misterius penuh dendam yang membelinya. Pertemuan dua dunia berbeda ini menyatukan kepolosan Luna dengan masa lalu kelam Draco. Akankah ketulusan Luna sanggup mencairkan hati Draco yang beku, ataukah rahasia besar serta takdir yang rumit justru akan memisahkan mereka selamanya?
Sampul Novel Setelah Mengetahui Rahasia Bos Wanitaku, Aku Terkena Masalah Besar
8.0
Setelah memutuskan kembali ke ibu kota, seorang mantan raja gangster memilih menjalani kehidupan sederhana sebagai karyawan biasa. Namun, kedamaiannya hancur saat ia tidak sengaja membongkar rahasia tersembunyi milik bos wanitanya yang berparas cantik. Penemuan tak terduga ini menyeretnya kembali ke dalam pusaran bahaya dunia bawah yang penuh intrik, aksi, dan misteri besar. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi fatal demi melindungi dirinya dan sang atasan dari ancaman masa lalu yang mengintai.
Sampul Novel Jodoh Wasiat Nenek
9.4
Wasiat sang nenek memaksa dua sahabat kecil, Jingga dan Davin, terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Davin memilih pergi ke luar negeri demi karier, lalu pulang membawa wanita lain serta tuntutan cerai. Dengan hati hancur, Jingga merelakan perpisahan mereka. Bertahun-tahun berlalu, takdir kembali mempertemukan keduanya. Namun kini, Jingga tidak lagi sendiri; ia bersama seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Davin. Siapakah sebenarnya bocah misterius itu?