
Tunanganku Menikah dengan Adikku
Bab 4
Aku memutuskan teleponnya.
Mungkin kata-kata barang bekas telah melukai Junanto, dia meneleponku berkali-kali.
Aku tidak mengangkatnya, dia mulai mengirim pesan-pesan panjang.
Namun, aku tetap tidak menggubrisnya.
Sepuluh hari lagi, aku akan menikah dengan Richie.
Pada akhirnya, semua orang ini hanyalah bagian dari masa laluku.
Di sisa waktu ini, aku hanya ingin menjalani hari-hari dengan tenang tanpa drama apapun. Namun, siapa sangka Ratna melakukan sesuatu yang menghancurkan batas kesabaranku. Dia menjatuhkan kotak abu jenazah ayahku ke lantai.
Abu itu berserakan.
Alih-alih merasa bersalah, dia membiarkan kucing peliharaannya kencing di atas abu itu.
Kemudian, dia menatapku dengan wajah penuh kepuasan.
"Kak, lihat, abu ini bisa jadi pasir untuk kuncingku!"
Seketika, kesedihan dan kemarahanku yang selama ini kupendam meledak.
Aku langsung mengambil tongkat baseball yang ada di belakang pintu dan mengayunkannya ke arah Ratna.
Aku memukulnya sekali, wajahnya pucat dan dia berteriak ketakutan, sambil lari menjauh.
"Yenny! Kamu benar-benar sudah gila! Berani-beraninya memukul adikmu sendiri?!"
Kemunculan ibuku menjadi penyelamat bagi Ratna.
Dengan wajah ketakutan, dia bersembunyi di belakang ibuku.
Dia terisak berkata, "Aku takut, bu, kakak mau membunuhku!"
Ibu berdiri melindunginya seperti seekor induk ayam yang melindungi anaknya. Dengan suara keras, dia memarahiku, "Kamu sudah cukup keterlaluan membuli adikmu biasanya, aku selalu menganggapnya masalah sepele dan tak memedulikannya. Tapi, kamu sudah kelewat batas kali ini!"
Dia adalah ibuku, tapi selalu berada di pihak yang berseberangan denganku, membela seorang anak angkat yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengannya.
Tidak ada yang lebih menyakitan daripada itu.
Dengan air mata membasahi wajahku, aku menatap ibu dan berkata dengan suara gemetar, "Dia menjatuhkan kotak abu ayah!"
"Itu ayah! Ayahku! Kenaapa?! Kenapa dia melakukan itu?"
“Padahal aku sudah cukup sabar selama ini, tapi kenapa masih menghancurkan kenangan terakhir ayahku?"
Kenapa ibu nggak pernah mencintaiku?
Anda Mungkin Juga Suka





