
Tunanganku Menikah dengan Adikku
Bab 2
Setelah menutup telepon, ibuku membuka pintu kamarku.
"Kalung safir yang ayahmu tinggalkan sebelum meninggal, di mana sekarang?"
Aku diam saja, tidak menjawab.
Ibu langsung mengernyit, tampak tak senang, "Sikap seperti apa ini? Adikmu hanya merasa kalung itu cantik, dia hanya memakainya sebentar. Cepatkan serahkan, jangan pelit begitu!"
Adik angkatku, Ratna merangkul lengan ibu dengan ekspresi kecewa, dia berkata, "Nggak apa-apa kalau kakak nggak mau, aku nggak akan memaksa."
"Dia berani nggak menganggapmu adik? Kalung itu milik suamiku yang juga ayahmu. Hari ini kalung itu akan menjadi milikmu."
Ibu merangkul Ratna sambil menatapku dengan tatapan tajam, "Kalau kamu nggak menyerahkannya, jangan salahkan aku kalau menyuruh orang menggeledah kamarmu!"
Aku memandangnya dengan tatapan kosong, mencona tersenyum, tapi rasanya lebih menyakitkan daripada menangis.
Ibu yang dulu lembut dan penuh kasih sayang,
kini berubah menjadi orang yang asing bagiku, dengan sikap keras seperti ini.
Namun aku sadar, sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini untuk selamanya.
Aku sudah tidak peduli untuk berdebat atau melawan.
Dengan diam, aku mengambil kalung safir itu dari kotak beludru dan menyerahkannya padanya.
Ibu tersenyum puas, "Begitu dong, baru benar! Ratna itu adikmu. Sebagai kakak, kamu harus memberikan yang terbaik untuknya!"
Setelah ibu pergi, Ratna langsung mengenakan kalung itu di depan mataku.
"Kak, jangan salahkan ibu pilih kasih. Jujur saja, kalung ini memang lebih cocok dipakai aku."
"Sama seperti Kak Jun, dia memang lebih cocok jadi pacarku."
"Hal yang jadi milikku, nggak akan pernah bisa diambil orang lain."
Melihat ekspresinya yang puas, aku tidak mengatakan apa-apa.
Orang seperti dia, semakin kamu pedulikan, semakin dia akan memanfaatkan situasi.
Aku mengambil tas dan melewatinya begitu saja, menganggapnya transparan, lalu berjalan ke arah tangga.
"Aduh! Kak, kenapa kamu mendorongkuu ... "
Tiba-tiba Ratna melompat ke depanku, berpura-pura didorong dan terjatuh ke arah tangga.
Meski aku membencinya, aku tetap reflek mengulurkan tangga untuk menangkapnya.
Ada lebih dari dua puluh anak tangga, kalau benar-benar jatuh, akibatnya bisa fatal.
"Yenny, dasar kamu wanita jahat!"
Tiba-tiba Junanto datang dan langsung menepis tanganku yang memegang lengan Ratna.
Tanganku terhempas keras ke pegangan tangga, hingga terdengar suara duk yang kencang.
Rasa sakit yang menyengat langsung membuatku keringat dingin.
"Kak Jun, untuk kamu datang tepat waktu. Kalau nggak, aku ... "
Ratna bersembuny di pelukan Junanto sambil menangis dengan wajah ketakutan.
"Nggak apa-apa, jangan takut, ada aku di sini," ujar Junanto sambil mengelus kepala Ratna dengan lembut dan melanjutkan, "Aku nggak akan biarkan siapa pun menyakitimu."
Aku melihat tanganku yang sudah lebam dan bengkak karena benturan tadi.
Lalu aku melihat Ratna yang hanya sedikit terkejut, tapi langsung dipeluk dan dilindungi oleh Junanto dengan penuh perhatian.
Rasanya begitu ironis.
Pria yang dulu mencintaiku sepenuh hati, yag pernah berjanji akan selalu menjagaku.
Pria yang akan menikah denganku tiga bulan lagi.
Bagaimana bisa dia berubah hati secepat ini?
Anda Mungkin Juga Suka





