APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tumbal lukisan

Tumbal lukisan

Kota gempar oleh hilangnya gadis-gadis muda secara misterius. Kini, Hani dalam bahaya besar setelah diincar menjadi tumbal berikutnya oleh sebuah keluarga misterius. Ternyata, keluarga penuh rahasia itu memiliki hubungan kelam dengan masa lalu Hani yang lama terkubur. Demi menyelamatkan nyawanya agar tidak lenyap selamanya, Hani harus melawan teror mengerikan dan membongkar alasan sebenarnya di balik pemilihan dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejak dulu Hani selalu menakut-nakuti adik perempuan satu-satunya dengan cerita seram menjelang tidur, Hani akan menyelinap masuk ke kamar adiknya saat tengah malam. hani menggulung dirinya dengan selimut putih dengan kedua tangan ditangkupkan di atas kepalanya lalu membuat suaranya memberat sedikit,

aku hantu ... aku hantu yang suka anak gadis yang cantik,ikutlah ke duniaku ...Hi Hi Hi Hi

dan sang adik akan menangis jerit-jerit ketakutan

" Aku benci kakak. kakak jahat"

"Mega,kakak cuma bercanda,lihat ini selimut yang biasanya kakak pakai kan?"

Mega menatap tajam Kakaknya diujung pintu. ini sudah kesekian kalinya kakaknya menakuti dirinya seperti ini. Meski ia sudah mendapatkan haid pertamanya seminggu yang lalu bukan berarti ia menjadi seorang yang pemberani

"Aku sumpahin suatu hari nanti, kakak akan didatangin hantu beneran sampai kakak mati ketakutan" Mega tidak bercanda, ia mengucapkannya keras-keras seperti doa  sambil membanting pintu kamarnya. lalu berlari ke arah kamar ibunya, mengadukan perbuatan kakaknya

🌕🌕🌕🌕

dan karma dari adiknya  itu mungkin telah datang menghampirinya sekarang

selama beberapa detik Dion menatap Hani dengan tatapan mata seperti ingin menerkam mangsanya. Mulut Hani sedikit terbuka, sekujur otot dan tulangnya menegang, jantungnya berdetak cepat seakan mau copot ia berkeringat ketakutan.

mungkinkah sosok Dion adalah hantu? pikir  Hani takut

"Kamu takut?" Dion bertanya, laki-laki itu menyentuh kening Hani

"............" tak ada kata-kata yang sanggup Hani ucapkan saat ini

"Aku bercanda, ini baksonya sudah selesai aku siapkan" tiba-tiba semangkuk bakso sudah ada di atas meja . Hani masih membeku , ia sekilas melihat uap-uap udara yang keluar dari bakso di hadapannya lalu beralih ke wajah Dion yang kini memasang senyuman lebar

aku harus apa .. aku harus apa sekarang... aku bahkan tak punya tenaga untuk segera pergi dari sini ... .

"hei,kamu menganggap tadi itu serius ya? ya ampun coba lihat kedua kakiku kalau tidak percaya. mana ada hantu yang bisa menapak tanah kan?"

Hani ingin percaya tapi sungguh ia merasa masih ada yang janggal

Dion membuka tutup tempat sendok dan garpu,mengambil sebuah sendok dan sebuah garpu , ia mengelapnya dengan tisu kering lalu  menaruhnya masing masing di telapak tangan Hani

" Ayo cepat dimakan, nanti baksonya keburu dingin"

dion duduk di depannya , menunggu Hani yang sejak tadi tidak bereaksi

"......nggghhh serius kan cuman bercanda?"

"Apa aku kelihatan tidak seperti manusia hmmmhh???? lagipula mana ada hantu jualan bakso ? "

hani mengambil nafas dan membuangnya panjang

" Syukurlah....." ucap Hani

kini ia sudah tak mau pusing entah manusia entah hantu, ia sudah sangat lelah dan mengantuk setelah seharian ini

Hani mulai memakan baksonya. pertama ia mencicipi kuah beningnya,

rasanya gurih... seperti....

"Gimana? enak kan?"

"Lumayanlah"

"Ayo dicoba baksonya, aku jamin kamu pasti jadi pelanggan setelah malam ini"

hani sedikit tertawa

"Kamu ini pede banget, gimana kalau rasa baksonya biasa aja, atau malah gak enak "

hani menggigit bakso kecil lalu mengunyahnya. ia berhenti sebentar. kedua matanya ia pejamkan untuk lebih menikmati rasa dari bakso buatan Dion.

ini...luar biasa... belum pernah aku makajn bakso seenak ini. serat dagingnya terasa kasar , tidak lembut tapi membuat gigiku ingin menguyah,menguyah dan tak mau berhenti

hani membuka matanya,

"Ini enak banget, bakso paling enak yang pernah aku makan, kamu yang buat ini sendiri? atau beli dari penggilingan daging?"

"iya aku buat sendiri, aku punya alatnya di rumah"

tapi bakso seenak ini kenapa sepi pembeli?" hani mengajukan pertanyaan sambil melanjutkan makannya

"Kamu orangnya jujur sekali. yah entahlah kenapa tak mau ada yang makan disini"

hani terbatuk-batuk mendengar penuturan dion. apa pertanyaanku tadi kelewatan ya?

"Bukan gitu, maksud aku, sayang bakso seenak ini harusnya bisa laku keras"

"Gitu ya! mungkin karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita mau"

ahh benar sekali, kenapa aku harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti tadi? lihat aku saja lulusan terbaik dari universitas di kotaku tapi sampai hari ini melamar kerja kemanapun, tak pernah ada yang mau menerima... Dion dengan bakso yang sangat enak mustahil kedai baksonya sepi pembeli. tapi lihatlah,,,, kenyataan tak seperti yang kita harapkan

"Nasib kita sama, terima kasih baksonya enak. berapa harganya?" hani sudah menghabiskan baksonya sampai kuah terakhir, ia membuka tasnya, tangannya mencari-cari sesuatu yang hilang

"Kenapa? kamu ga bawa uang?"

"Enak aja kalau ngomong. nih dompetku, aku kehilangan surat lamaran kerja, kenapa bisa hilang sih? apa jatuh pas lari-lari tadi ya? "

"Oh, kamu lagi cari kerja?"

"Iya tapi semua pada menolak, entah apa kurangnya, nilaiku bagus, aku juga tidak menego gaji, apa mungkin aku kurang cantik?"

"Kamu cantik ko" Dion menatapnya, ia melihat lebih dalam jauh ke dalam bola mata Hani

membuat Hani jadi kikuk sendiri

Hani berusaha mengalihkan pandanganya ke seluruh ruangan di kedai. di pojokan ada sebuah lemari pendingin dengan pintu kaca

yang nampak berembun. ada bekas coretan lingkarang lingkaran kecil. seperti kegiatan rutin yang dibuat seseorang yang bosan menunggu waktu.

Hani melihat ke atas dinding sebelahnya dimana ia duduk, ada sebuah lukisan yang tak bergambar, lukisan itu hanya nampak berwarna putih

"itu, kenapa lukisannya kosong?" Hani bertanya

"itu ya... aku juga bingung mau melukis apa"

Hani tertawa ,, ia berpikir Dion tak semisterius yang ia kira.

"Bagaimana kalau aku melukis kamu, kamu mau kan?"

".....ngghhh aku??"

"iya kamu, kamu cantik seperti temanku"

pipi Hani memerah. ia sudah sering dibilang cantik oleh banyak laki-laki lain sebelum Dion, anehnya kali ini  Hani merasa tersanjung. ia merasa kata-kata Dion tulus meski kecantikannya mengingatkannya akan teman Dion.

seperti apakah teman perempuannya Dion? kenapa aku justru penasaran ...?

"Apa kamu punya harapan

? " hani bertanya

" apa itu hal yang penting?" jawab dion

"yah penting dong. aku meskipun ditolak kerja berkali-kali tapi aku masih menaruh harapan kalau suatu hari nanti aku bisa jadi manager di sebuah perusahaan besar he he he"

"Anggap saja itu sebagai penyemangat hidup, kamu punya kan Dion?"

"Harapanku ya..? hmmhhh harapanku mungkin...."

hani sedikit mencondongkan tubuhnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Dion. lama sekali keduanya terdiam

laki-laki itu melihat ke dalam wajah Hani, ada jawaban yang tak bisa ia ungkapkan saat ini , belum saatnya, keraguan itu nampak membentuk di sudut-sudut wajahnya sendiri

"Aku ga punya harapan" Dion mengatakannya dengan tertawa lemah

Hani mengangkat kedua alisnya,,

"Kenapa?"

"Bukan apa-apa. oh tadi kamu bilang kamu lagi butuh kerja kan? aku punya kenalan, kamu coba saja melamar kerja disini?"  dion bangkit berdiri lalu mengambil sebuah kartu nama dari laci penyimpanannya

hani jadi merasa menyesal dengan pertanyaan tadi,

aku punya kenalan yang berkerja disana, bilang pada mereka bahwa kamu adalah temanku"

Hani tersenyum senang. ia mencermati nama seseorang dan alamat yang tertera pada kartu yang diberikan Dion.

"dari sini hanya setengah jam perjalanan menggunakan bus, nanti kamu turun di alun-alun kota ambil jalan memutar nanti sudah kelihatan ko gedung perkantorannya"  Dion menjelaskan

"Dengan apa aku harus berterima kasih Dion?"

"jadilah temanku"

"Diterima dengan senang hati" jawab Hani tersenyum

🌕🌕🌕🌕

pov Dion

sudah waktunya berhenti berduka,,,

kami tidak boleh merasa bersalah

gadis-gadis itu memang dirancang untuk ditumbalkan...

darah-darah mereka aku butuhkan untuk mengisi hidup dalam duniaku

seperti gadis yang baru saja aku temui

ibuku sudah menandainya dalam mimpi buruknya di kereta

dan aku menghampirinya memakai topeng pahlawan

tiket sudah dilampirkan

gema kematian akan menghantuinya secepatnya

ia memiliki rambut bergelombang di atas bahu

sepasang bola mata yang hitam dan bibir yang merona

kecantikannya seperti muncul dari rimba fantasiku yang terdalam

ia gadis cantik yang membuat adrenalinku bergejolak

mengingatkanku akan gadis yang pernah aku sukai dulu

aku bertanya-tanya dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada

apakah ia gadis yang sama?

apakah ia gadisku yang pergi saat aku hampir meregang nyawa....

lalu bertanya padaku apa harapanku?

tidakkah ia tahu bahwa harapan hanyalah emosi terpendam yang menyedihkan

meskipun begitu bertahun-tahun yang lalu mungkin aku sempat meyakininya dan aku ingin mengatakannya kencang-kencang saat ini di depan wajahnya bahwa aku ingin hidup sampai usia seratus tahun

🌕🌕🌕🌕

Hani berangkat pagi-pagi sekali menggunakan bus , ia tak mau melewatkan kesempatan yang sudah diberikan Dion semalam. Rasa letihnya menguap begitu saja. 

Setengah jam perjalanan ia turun di depan alun-alun. Fajar masih menahan setengah cahaya malamnya.  Hani berusaha mengingat percakapannya semalam dengan Dion

"Harusnya semalam aku minta nomer ponselnya" ia menggerutui dirinya. Tangan kananya mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya. Ujung jemarinya mengelus huruf-huruf yang timbul berwarna perak

Rian Hariwijaya, manager HRD

hebat juga si Dion bisa punya kenalan manager Hrd lagi, kenapa bukan dia saja yang melamar ke sana ya? pikir Hani

ah sudahlah kenapa juga dipikirkan*

" Semangat, ini pasti jadi rezeki aku " Hani menyemangati  dirinya sendiri , ia melihat sekitar. Alun-alun masih nampak sepi. 

Ia memutuskan berjalan melihat keadaan di sekitarnya, mungkin akan ada orang yang bisa ditanyainya. Sejauh matanya memandang ia hanya merasakan kengerian. Pagar-pagar runcing berkarat mengelilingi bangunan ruko-ruko tua yang berwarna kusam termakan usia, sebagian dinding luarnya berlumut basah.  Angin pagi menerbangkan aroma samar-samar , membuat penciumannya menghirup sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.

  Tiga meter di depannya terdapat sebuah kolam ikan yang terbuat dari pecahan batu-batu alam dengan patung gadis kecil bermata bolong di tengahnya. Hani mendekat ke arahnya. Sedikit melongokkan kepalanya . Tak ada apa-apa disana. Tak ada air dan tak ada ikan disana .

Seseorang dengan kedua kaki telanjang tanpa alas sedang mengamati Hani sejak tadi

Lalu bahunya dicengkram bukan dari depan melainkan dari samping. Ia menoleh.

Seorang gadis muda dengan gaun hitam transparan menatapnya dengan pandangan penuh dendam. Meski terlihat pucat wajah gadis muda itu penuh riasan.

"Cari siapa di sini?" Gadis itu bertanya,menghakimi Hani

" Ah,maaf bisa lepaskan tanganmu, ini terasa sakit"

" Cari siapa di sini?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya tanpa melepaskan cengkramannya di bahu Hani

" Aku cari alamat, aku mau melamar kerja "

Gadis muda itu menurunkan tangannya. Lalu berjalan menghadapi Hani dari depan.

Dengan satu tangan saja sudah membuat bahuku sakit,siapa gadis ini sebenarnya, kenapa berkeliaran dengan gaun transparan yang memperlihatkan pakaian dalamnya sendiri, Hani gemetar bertanya pada dirinya sendiri

Semakin gadis itu mendekat ke arahnya, ia semakin jelas menghirup sesuatu. Seperti sesuatu yang terbakar ,aroma daging yang hangus.

Hani bergidik. Ia ingin lari tapi kedua kakinya membeku tak bisa digerakkan. Gadis muda itu menatap lurus padanya, seakan ingin beradu pandang dengannya. Mau tak mau Hani melihat lebih jauh ke dalam mata gadis itu. Menyeramkan dan penuh dendam

Nafas Hani terhenti . Hening

Hani melangkah mundur dan meremas ujung kemejanya dengan tangan yang gemetaran lalu mengucapkan permohonan

"Kumohon,bisakah aku pergi sekarang "? Suara Hani berubah serak menahan ketakutan

Dan untuk pertama kalinya gadis misterius itu hampir terlihat tersenyum

" Namaku Zara , aku akan mengantarmu , tunjukkan alamatnya padaku"

Dengan nafas yang tercekat Hani menyodorkan kartu nama yang dipegangnya sejak tadi

"Ikuti aku, aku tahu tempat ini"  Zara membalik badannya dan mulai berjalan beberapa langkah  di depan Hani yang tak berkutik

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicintai Iblis Betina
8.2
Sebelum lenyap diiringi bau busuk menyengat, sebuah sumpah reinkarnasi terucap. Dalam keputusasaan, Jacob menemui dukun sakti demi menghidupkan arwah kekasihnya. Malangnya, ia justru terjebak tipu muslihat ratu iblis yang licik. Hubungan mereka berkembang sangat jauh hingga terjerumus dalam gairah terlarang di ranjang. Kini, Jacob harus menanggung konsekuensi mengerikan akibat cinta gelap yang menjeratnya.
Sampul Novel Ibu Angkat Psikopat
8.8
Mengusung genre cerita misteri yang mencekam, novel horor Ibu Angkat Psikopat mengisahkan kekejaman seorang wanita yang terobsesi mengonsumsi plasenta demi kesehatan. Demi memenuhi hasrat gilanya, ia mengadopsi sepasang anak kembar untuk dijadikan korban nafsu putranya, Donny. Sang adik awalnya mengira kehidupan mereka akan normal, hingga ia menyaksikan sendiri penderitaan kakaknya di malam hari. Setelah dipaksa melahirkan tiga kali untuk diambil plasentanya, sebuah petaka terjadi pada persalinan keempat yang membuat sang ibu angkat kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Karma Masalalu
9.0
Hidupku runtuh saat Barikli ingkar janji dan mencampakkanku yang sedang mengandung demi mengejar mimpi menjadi TNI. Enam tahun kemudian, wasiat mendiang ayah memaksaku bersuami Yusuf. Di balik penampilannya, Yusuf rupanya psikopat berkepribadian ganda yang kerap menyiksaku. Kala aku berusaha menata hidup bersama Adza yang tulus menunggu, rahasia besar yang kurahasiakan selama lima tahun terancam terkuak. Kebenaran tersebut bisa menjadi akhir dari segalanya.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Sejak kecil, Alicia Lucero telah dijual oleh pamannya yang tamak kepada seorang pria bermata merah bernama Lucius Denovan. Setelah sekian lama diasingkan, Lucius kembali untuk mengambil Alicia yang kini telah dewasa. Kehidupan Alicia seketika berubah menjadi neraka penuh siksaan, karena Lucius sangat senang melihatnya menderita sebagai mainan. Namun, di balik segala kekejaman yang harus ia lalui, Alicia memilih bertahan demi menjaga sebuah rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dengan tragis setelah tubuhnya dipinjam oleh Elizabeth, hantu istri dosennya, Daniel Danuarja. Elizabeth ternyata memanfaatkan raga Jelita untuk bercinta dengan Daniel hingga merenggut kesuciannya. Saat sadar, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir musnah. Di tengah amarah besar akibat dikhianati, kini Jelita harus terjebak dalam pusaran skandal yang rumit bersama dosennya tersebut.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Mata air kembar di Kampung Serigi tak pernah kering dan menjadi penyelamat warga saat kemarau. Namun, di balik keajaiban pancuran bambu tersebut, tersimpan misteri kelam dan pantangan yang sangat ketat. Siapa pun yang berani melanggar aturan akan didatangi oleh entitas gaib penjaga tempat sakral itu. Kini, teror mistis terus membayangi penduduk lokal dan pendatang, mengubah ketenangan sumber air legendaris ini menjadi ancaman nyata yang mencekam.