APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TULPA (Permainan Cinta)

TULPA (Permainan Cinta)

Sering dicap tidak waras oleh teman sekolah tak menghentikan imajinasi seorang siswi kesepian. Bagi dirinya, khayalan adalah penyelamat hidup. Keajaiban pun terjadi ketika salah satu karakter ciptaannya mendadak mewujud ke dunia nyata. Sosok pangeran bernama Kelabu hadir secara fisik untuk menemani sang gadis yang selalu terkucilkan. Kisah cinta fantasi penuh obsesi ini siap membawa Anda melampaui batas nalar manusia.
Bab
Bagikan

Bab 1

TULPA

1. Lilin 

Aku tersenyum tipis, terharu akan kejutan dari sang mama yang kini berdiri di depanku seraya membawa sebuah roti ulang tahun. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-lima belas tahun. 

"Ayo tiup lilinnya, sebelum itu mintalah permohonan," ujar mamaku. 

Kupejamkan kedua mataku. Menyatukan kedua tangan, terkepal kuat di depan dada. Hanya satu yang kuinginkan. Aku hanya ingin sosok pangeran untuk hadir di kehidupanku. Setelahnya, membuka mata dan meniup lilin berbentuk angka itu. Aku tersenyum, melihat mama yang bertepuk tangan senang. Bukan seperti ulang tahun pada anak-anak lainnya yang ramai akan kehadiran sosok teman, kado, lalu perhiasan di mana-mana. Ulang tahunku sederhana, hanya satu buah roti ulang tahun dan lilin. Selebihnya tidak ada. Teman? Ya, aku memang tidak memiliki seorang teman. Ditambah lagi dengan sifatku yang tidak peduli sekaligus pendiam, membuatku susah mendapatkan seorang teman. Dan malam ini, aku meminta seseorang datang dalam kehidupanku. Seperti pada ulang tahun yang sebelum-sebelumnya. 

***

"Kejora, sepertinya nanti malam mama akan pulang terlambat. Kamu di rumah, jaga diri baik-baik." 

Aku menghela napas. Lagi-lagi, mamaku harus bekerja lembur untuk menafkahi hidup kami. Setelah lima tahun ditinggal pergi almarhum ayah, mama begitu sibuk mengurusi perusahaan mendiang sang ayah. Pagi hari sudah berangkat, pulang malam hari. Jujur saja, aku mencemaskan kesehatan mama. 

"Jangan lupa istirahat, Ma," ucapku. Mama hanya tersenyum. Lalu, kembali sibuk mengolesi roti lapis dengan selai kacang untukku. 

Setelahnya keheningan melanda. Kami sama-sama sibuk menikmati menu sarapan kami. Beberapa menit kemudian, mama bangkit dari tempat duduknya disusul olehku. 

"Ayo, mama antar ke sekolah." Aku hanya mengangguk dan mulai memakai tas sekolahku. 

Sembari menunggu mama yang tengah memanggil Bi Sum–pembantu rumah kami, aku memilih masuk terlebih dahulu ke dalam mobil seraya mendengarkan musik menggunakan earphones. Suara pintu mobil yang ditutup, menyadarkanku dari larutan melodi indah yang tengah kudengarkan. Menoleh, mendapati mama yang mulai menyalakan mesin mobil. Tidak ada obrolan yang kami lakukan. Aku sendiiri, tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Sehingga akhirnya, aku memilih menatap keluar jendela, masih dengan mendengarkan musik dari earphones. Mobil kami mulai memelan, hingga akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolahku. Menghela napas pelan, sebelum akhirnya melepaskan tali pengaman. Mencium punggung tangan mama. 

"Hati-hati di jalan, Ma." 

Setelahnya, mobil mama melenggang pergi. Menyisakan diriku yang masih berdiri di depan gerbang sekolah dengan wajah kusut. Bukan tanpa alasan, jika diberi pilihan antara sekolah dan rumah, lebih baik aku berada di rumah. Membaca novel atau bahkan menonton film. Daripada harus meladeni beribu tatapan yang selalu dia dapatkan. Dan yah, semua itu kini mulai terjadi. Saat langkahku baru saja menginjak di halaman sekolah, semua mata menatapku takut, mengejek, kasihan, dan masih banyak lagi. Menghela napas kasar. Ini belum apa-apa, karena .... 

"Hei lihat! Gadis gila itu masih saja berani menginjakkan kaki di sini. Kenapa pihak sekolah tidak membawanya ke rumah sakit jiwa saja sih?" 

Hah, baru saja akan dibicarakan, gunjingan itu meluncur bebas dari mulut Diana yang notabenenya adalah teman sekelasku. Aku hanya memasang wajah datar, mencengkeram erat tali tasku, mencoba untuk bersabar. 

Duk! 

Memejamkan kedua mata, lalu menghela napas lagi. Dahiku berdenyut hebat. Bahkan, bisa kupastikan benjolan besar akan bertengger di sana. Suara tawa seketika menggema ketika melihat tubuhku terjerembab mencium lantai koridor kelas. Rendy–kekasih Diana baru saja menjulurkan kakinya saat diriku akan melewatinya. Oh bagus, sepasang kekasih itu sepertinya senang membullyku. 

"Sorry sengaja," ucapnya tanpa merasa bersalah.

Aku bangkit dalam diam. Melirik ke arah Diana yang kini mulai bergelayut manja di lengan kekar Rendy. Mendesis pelan. Ingin sekali aku membalas perbuatan kalian, tetapi mengingat bahwa catatanku di dalam buku BK sudah banyak, aku memilih melenggang pergi tanpa memperdulikan ejekan mereka. Jangan sampai, mama yang merasakan dampaknya lagi hanya gara-gara perbuatanku. 

Sesampainya di dalam kelas pun, sama. Kelas yang semula ramai, kini hening saat aku berdiri di ambang pintu. Mereka menatapku sinis. Memutar bola mata jengah, melangkah menuju ke bangku. Terdiam sejenak, mencoba menelisik bangkuku. Aku tidak mau kejadian beberapa hari yang lalu, di mana aku terjatuh dengan mengenaskah karena ulah teman-teman sekelasku yang dengan biadabnya membuat bangkuku rusak. Setelah dirasa aman, aku mulai mendudukinya dengan tenang. Berpuluh mata tajam di kelasku, masih bisa kurasakan menghunus ke arahku. 

"Mata kalian mau gue colok?" tanyaku dengan nada pelan tetapi tegas. Membuat mereka mendengus lalu kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Aku tidak peduli, kupilih mengambil buku bersampul hitam lalu mulai menuangkan tinta hitam berupa kalimat ke dalamnya. 

Imajinasiku mulai berkeliaran liar. Dengan semangat aku menuliskan sebuah kisah berisikan bajak laut dengan monster gurita. Terdengar mengerikan, tetapi itu memang cukup seru bagiku. Ketenanganku hilang, saat salah satu teman sekelasku menyerobot paksa bukuku. Dia memicingkan matanya, sebelum akhirnya berteriak. 

"Hei kawan! Lihat, gadis gila ini mulai berhalusinasi lagi!" Sambil mengangkat tinggi-tinggi bukuku. Selanjutnya, dia berlari menuju ke gerombolan anak-anak. Disusul dengan tawa mengejek. 

"Memangnya ada monster laut heh?"

"Apa-apaan ini, masa bajak laut memiliki kekuatan? Pengendali air lagi? Hahaha!"

"Wah makin hari, makin menjadi aja tuh!"

Dan ejekan lainnya. Hei! Itu kan imajinasiku, kenapa mereka harus repot-repot menilainya? Dengan kesal, aku merebut kembali bukuku lalu duduk dengan kasar. Tidak memperdulikan tawa dan ejekan teman-temanku. Aku memilih memasang earphones kembali dan menyetel musik sekeras yang kubisa agar suara ejekan dan tawa menyebalkan itu tidak lagi terdengar di gendang telingaku. 

Hei, aku tidak salah bukan? Aku bebas berimajinasi yang kumau. Memangnya salah? Awas saja jika suatu hari nanti aku menjadi penulis terkenal, kubungkam bibir kalian. Tunggu saja nanti! 

Bersambung .... 

"Aku tidak peduli dengan omongan mereka. Ini tentang aku, bukan mereka. Ini tentang takdir yang ingin kupijak."

_Kejora Amara_

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Altair Onder de
9.4
Akibat campur tangan dewa yang menukar tubuh mereka tanpa izin, Altair dan Claretta terjebak dalam situasi ganjil. Rasa murka Altair meredam saat melihat Claretta menangis merindukan kehangatan seorang ibu. Di tengah embusan angin dan guguran kelopak bunga, mereka saling memahami luka masing-masing. Keduanya pun sepakat menerima takdir baru ini. Altair melepas identitas lamanya, sementara Claretta berjanji merawat ibu Altair dengan tulus sebelum cahaya memisahkan mereka selamanya.
Sampul Novel Fantasi Gilaku
8.0
Alice, istri yang selama tujuh tahun pernikahannya belum pernah merasakan kepuasan dari David, suaminya yang diam-diam ternyata gay dan berselingkuh dengan mantan pacarnya. Alih-alih marah, Alice justru menikmati melihat suaminya bersama pria lain. Pertemuannya dengan Jane, wanita yang trauma karena pernah dilecehkan dan diperkosa oleh pria, membuat keduanya menemukan kecocokan yang tak terduga. Mereka menjalin hubungan terlarang yang menggetarkan, hingga Alice memutuskan menceraikan David demi Jane. Namun, hadirnya Steve membuat Alice jatuh cinta lagi, memicu kecemburuan Jane. Bisakah tiga hati menemukan bahagia? Sebuah kisah tentang tabu, hasrat, dan cinta yang tak biasa.
Sampul Novel Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang
8.9
Shanon mengambil keputusan mengejutkan untuk mengaktifkan proses pelepasan program sistem demi bisa pulang dalam waktu setengah bulan. Meskipun sistem mempertanyakan alasannya pergi meninggalkan suami yang menyayanginya serta putra yang selalu membelanya, Shanon tetap bergeming. Kisah fantasi modern ini menyoroti keraguan Shanon saat menatap televisi ketika kata keluarga diucapkan, mengungkap konflik batin mendalam di balik kehidupan domestik yang terlihat sempurna.
Sampul Novel Persembahan Untuk Sang Kirin
9.3
Kehidupan bahagia seorang putri kaya dan pemilik gym hancur dalam sekejap. Setelah dua bulan diabaikan suaminya, ia dikepung lima pria di gym miliknya sendiri. Tiga hari kemudian, ia disiksa, dirantai, dan dipaksa merangkak untuk dipersembahkan kepada kirin. Sepuluh bulan pasca-persembahan tersebut, para penculiknya mengincar pil keabadian yang mampu memberikan kemudaan serta hidup abadi bagi pria.
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+
7.9
Buku ini merangkum deretan kisah cinta penuh gairah dari berbagai karakter unik, khusus untuk pembaca dewasa. Setiap bab menyajikan fantasi romantis yang berani dan menggoda, dirancang khusus menjadi teman membaca yang intens di malam hari. Rasakan dinamika hubungan yang mendalam lewat narasi yang memicu imajinasi di setiap lembarnya. Segera temukan dan nikmati kepuasan cerita yang menghibur ini.
Sampul Novel Ratu Kerajaan Niskala
8.4
Candra Utari, pewaris takhta Niskala, harus menghadapi ancaman dari saudara tirinya: Sekar Buana, Lintang Alit, dan Pupus Cantika. Setelah mendalami ilmu kanuragan dari Ratu Arum di Perguruan Langit Ageng, ia berhasil mendirikan Kerajaan Wulan Katigo yang sejahtera. Ketika Niskala terancam runtuh akibat pemberontakan, Candra menyamar sebagai Pangeran Layang Jembar demi menolong ayahnya. Namun di medan perang, muncul pasukan bertopeng misterius yang menjadi teka-teki baru baginya.