APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tulisan, Basket, & Piano

Tulisan, Basket, & Piano

Aura Latisha, seorang gadis penulis yang asing dengan dunia asmara, tak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintanya. Kehadiran pemuda asal Bandung di hidupnya membawa perubahan besar. Bukannya berjuang mendekat, Aura justru meminta pemuda itu menolaknya secara langsung. Keputusan tidak biasa ini menjadi titik balik bagi Aura yang selalu menutup diri dari romansa. Inilah kisah unik tentang pilihan hati dan keberanian.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Woi, hari ini kita kuis.”

Satu kalimat yang membuat semua orang di kelas terdiam sejenak, sesaat kemudian ricuh. Mengeluh, mengumpat, dan melakukan serangan mulut lainnya. Ada beberapa yang mengutarakannya dengan suara yang nyaring.

“Yang benar aja? Baru pertemuan pertama lho.” Ia menekankan suaranya pada kata pertama. Ungkapan itu langsung saja disetujui oleh semua pihak.

“Katanya sih pre-test. Hehh.” Ia menghela napas dengan berat. “Kita sebaiknya siap-siap.”

Aku yang baru sepuluh menit membaca novel Beyonders segera menutupnya kembali dan menghela napas panjang dan berat sama seperti Yadi barusan—sang pembawa pesan. Yang paling tidak aku mengerti, kami tidak punya buku. Jadi kami harus belajar dari mana? Oh aku lupa, ada Google. Tapi di gedung ini jarang sekali ada sinyal. Wirelessnya juga lambat setengah mati.

Seseorang mencolekku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Deka dengan pena di tangannya. “Baca novel apa?” Ia menunjuk novel yang ada di mejaku dengan pena hitam yang ia pegang.

Aku mengikuti arah penanya, meskipun aku tahu ia menunjuk novel Beyonders-ku yang tergeletak dengan rapi. Aku meraihnya dan memberikannya pada pemuda itu. Ia mengernyitkan dahinya dan membaca sinopsis yang ada di bagian belakang sampul.

“Waw, kamu suka baca genre fantasi terjemahan?” komentarnya.

Aku mengangguk.

“Keren. Kamu tahu kan seberapa sulitnya mencerna kalimatnya? Dan itu semua bisa dicerna oleh otakmu?” Ia menunjukkan kekaguman yang luar biasa dilihat dari ekspresi di wajahnya.

Aku tertawa. “Kamu mengatakannya seolah-olah aku sangat pintar,” balasku. “Sejujurnya tidak begitu sulit untuk memahami dan membayangkan apa yang dijelaskannya, namun memang ada beberapa bagian yang sulit untuk dicerna atau butuh dibaca berulang-ulang kali untuk memahami maknanya. Tapi gak sesulit yang terlintas di pikiranmu,” lanjutku seraya tersenyum.

“Oh benarkah?” Ia menggaruk lehernya dengan canggung, kemudian menatapku dan melayangkan senyumnya.

Jika kalian pernah melihat senyum seorang pemuda yang begitu menawan, kurasa kalian tahu apa yang terjadi padaku sekarang. Aku tidak pernah tahu kalau senyum seseorang bisa membahagiakanku seperti ini, terlebih lagi orang itu adalah orang yang baru kita kenal dalam seminggu.

Aku memperhatikannya yang masih membolak-balik novel di tangannya, seakan novel itu adalah foto wanita cantik yang tidak bisa ia lepas dari pandangannya. Dia sungguh mirip orang Timur Tengah. Aku menghela napas pelan.

“Kenapa?” ia mendongak.

“Eh?” Aku terhenyak untuk sesaat. “Tidak ada,” balasku, lalu memalingkan tubuhku.

“Novelmu ketinggalan,” bisiknya di telingaku.

Oh Tuhan!

Aku mengangguk. Tanpa menoleh ke arahnya, aku menjulurkan tangan dan dia meletakkan novel itu di telapak tanganku. Sesaat kemudian, Bu Opik datang dengan membawa beberapa berkas. Aku duduk di barisan tengah, jadi masih bisa mendengar kalau di barisan belakang ada yang mendecakkan lidahnya dengan kuat.

Setelah itu, beberapa menit yang menyebalkan datang.

---

Tidak ada yang lebih menggoda dari es jeruk dan satu mangkok bakso di saat seperti ini. Perpaduan di atas sungguh tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Terlebih lagi ketika dirimu sedang mendengarkan ocehan dari seorang teman yang tidak bisa berhenti dalam waktu singkat. Kalian sangat membutuhkannya agar tidak emosi.

“Jadi, aku tadi udah bilang sama dia untuk gak deketin aku lagi karena aku punya seseorang yang aku suka. Tapi dia masih aja. Gila ya, jadi cowok tu ya peka dikit kalo cewek gak mau ya udah jangan maksa, ngedeketin mulu. Dibilangnya aku gak risih apa.” Via menusuk-nusuk es batu dengan sedotan yang ada di tangannya. Wajahnya cemberut sejak bergabung dengan kami berdua—Hani dan aku.

Aku tidak mengatakan apapun dan hanya berfokus pada makananku. Dan Hani terlihat sedang berusaha untuk mencari kata-kata yang pas untuk memberi nasihat atau semacamnya.

“Cowok kayak gitu jangan didiemin, Vi. Bilang aja kalau kamu gak suka, jangan rasa-rasa gak enak ngomongnya. Bilang aja dengan tegas, atau ketus. Biar tahu rasa. Jahat sih ya, tapi kita kan juga risih kalau kayak gitu terus.”

Via mengangguk mantap. “Benar, Han. Kurasa aku akan mengatakannya jika dia menggangguku sekali lagi.” Kemudian ia melanjutkan. “Btw, di mana Oki?”

“Dia punya kelas lain,” jawabku disela-sela gigitan bakso yang super lezat dan kenyal.

Tidak ada yang bicara lagi setelah itu. Kami bertiga menghadapi makanan masing-masing, memperhatikan mereka seakan hanya mereka yang menarik di dunia ini. Namun, sesuatu membuyarkan acara penghormatan terhadap satu buah pentol kecil yang terakhir. Suara mic dan juga gitar.

Kami bertiga menoleh serempak. Melihat ada seseorang di atas panggung kecil yang ada di kantin. Memang disediakan panggung kecil untuk bernyanyi, dan menghibur orang-orang yang ada di sini. Entah itu ide siapa awalnya, tapi ini sangat bagus.

Panggung itu berdiri di antara warung bakso yang kami tempati dan juga warung nasi uduk beserta lauk pauknya. Kantin Ekonomi tidak terlalu besar, namun besar dibandingkan kantin fakultas lainnya. Kantin ini juga bisa disebut sebuah kafe karena interior di dalamnya cukup bagus, walaupun tidak sebagus kafe asli.

Deka duduk di kursi dan menyilangkan kakinya. Pemuda yang satunya lagi menjauhkan microphone dari jangkauan Deka, pada awalnya kupikir dia yang akan bernyanyi tapi ternyata tidak. Deka hanya ingin bermain gitar.

“Selamat siang. Aku ingin mempersembahkan sebuah instrumen. Semoga suka.”

Ia mulai memetik senar gitarnya. Alunan musik yang merdu berhasil menenangkan jiwa. Instrumen itu terdengar sedikit menyakitkan untukku. Atau mungkin karena Deka terlalu menggunakan seluruh perasaannya untuk menyampaikan sesuatu dari petikan gitarnya.

Rambutnya berterbangan karena ditiup angin. Menambah kesan bahwa ia benar-benar profesional yang sedang menunjukkan kebolehan.

Aku tertegun. Mungkin karena aku makan bakso terlalu cepat tanpa mengunyahnya dengan benar, hingga membuat hatiku sedikit sakit dan nyeri. Juga detakannya sedikit tidak beraturan. Atau karena aku sedang menyaksikan seorang pemuda yang memetik gitar dengan penuh perasaan, dengan keren, dan sungguh mempesona.

Atau mungkin bisa jadi karena aku tahu instrumen ini ditujukan untuk siapa.

Aku menoleh ke arah Hani yang sedang terdiam dan tersenyum tipis.

Dan aku merasakan sedikit nyeri saat itu.

---

“Aku sudah mengenalnya sejak aku berumur empat tahun. Saat itu ia pindah ke rumah yang ada di depan rumah kami. Dan saat itulah persahabatan kami dimulai.” Hani menceritakan asal mulanya ia kenal dengan Deka. “Dan dia dulu sungguh menggemaskan, Ra. Sungguh.” Ia berhenti sebentar hanya untuk meyakinkan Rara.

Kami berdua sedang dalam perjalanan menuju ke kelas masing-masing. Aku berhenti juga dan meyakinkan kalau aku memercayai Hani sepenuhnya. Aku memeluk tiga buku yang kubawa. “Kelasmu di mana?” tanyaku.

Hani melihat sekeliling. “Oh, di sana.” Ia menunjuk ruangan yang di ujung. “Kamu di lantai tiga, ya?”

Aku mengangguk. “Sana, ke kelasmu.” Aku mengusirnya menggunakan daguku karena kedua tanganku sibuk memegang buku Via dan aku. Ah, anak itu!

“Btw, kamu gak butuh bantuanku untuk membawakan bukumu ke kelas?” tawarnya karena melihatku sedikit kesusahan.

“Ah enggak, udah biasa kok.”

“Ya udah, aku ke kelas ya.” Ia melambaikan tangan dan hanya kubalas dengan anggukan kecil.

Aku mengalihkan pandanganku, dan menghela napas berat karena tangga yang manis sudah menungguku. Baru saja aku akan melangkahkan kakiku, tapi Deka sudah menghadang jalanku.

“Bagaimana penampilanku tadi?”

Aku berpura-pura untuk berpikir sejenak dan meliriknya beberapa kali. “Kurasa lumayan,” jawabku.

“Ah, masih lumayan ya? Kukira udah ada di tingkat keren.” Ia terlihat kecewa. Matanya terfokus dengan buku yang ku peluk. “Sini.”

Aku menunduk, mengikuti arah pandangnya. “Ah, gak usah,” tolakku.

“Biarkan cowok melakukan tugasnya. Sini.”

Aku menurut dan memberikan satu buku ke padanya. Ia mengerutkan dahinya dan tertawa. “Dua buku, Ra. Kalau perlu ketiganya.” Ia masih mempertahankan tawanya.

Aku tersenyum canggung dan memberinya satu buku lagi. Ia mengangguk dan mempersilakanku berjalan duluan. Dia sungguh memperlakukanku seperti cewek dalam film disney dan semacamnya.

“Em.” Aku berdeham. “Sebenarnya penampilanmu sudah berada di tingkat keren, kok.” Aku berkomentar dan meliriknya yang sedang berjalan di belakangku.

Dia mendongak dan tersenyum tipis. “Jadi, pernyataanmu sebelumnya itu? Maksudmu apa?”

“Yah, aku hanya baru menyadarinya,” balasku sekenanya. Padahal aku sudah menyadari kalau ia akan menampilkan sesuatu yang keren sejak ia memetik gitarnya pertama kali.

Ia berjalan di sampingku dan menepuk kepalaku sekali. “Terima kasih.” Ia berhenti sesaat hanya untuk melihatku.

Yang pastinya saat itu, ia pasti sedang melihatku merona.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dark Love
8.0
Demi membalas kematian tragis sang ibu, Albert Kenzi Erdinata menargetkan Akira, anak dari perempuan yang ia benci. Setelah merenggut kehormatan Akira melalui penculikan, Albert menjadikannya asisten pribadi untuk melanjutkan siksaan fisik dan batinnya. Namun, interaksi intensif mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Di tengah terbukanya misteri masa lalu, Albert kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menuntaskan dendamnya atau memilih cinta.
Sampul Novel Ibu cantik, Ayah licik
8.7
Rencana pernikahan yang matang hancur seketika akibat konspirasi jahat ibu tiri dan saudara tirinya, memaksanya batal menikah demi alasan yang tidak masuk akal. Setelah bertahun-tahun pergi, ia akhirnya pulang ke kota asal. Berbekal keyakinan kokoh, ia siap melewati rintangan berat untuk merebut kembali segala hak dan harta miliknya yang telah dirampas secara tidak adil. Kini, saatnya ia menghadapi masa lalu demi menuntut keadilan.
Sampul Novel IMPERFECT BOSS
8.1
Elgar dikenal sebagai bos yang sempurna, namun semua itu hanyalah kedok belaka. Hidupnya yang tenang seketika terusik saat Lea, salah satu pegawainya, berhasil mengungkap rahasia gelap yang selama ini ia simpan rapat. Demi melindungi reputasinya, Elgar mencoba menekan Lea agar bungkam. Namun, tindakan itu malah memicu rasa bersalah dalam dirinya. Perlahan, kebencian Elgar terkikis dan berubah menjadi benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya yang dingin.
Sampul Novel IPAR ADALAH BIRAHI
9.4
Kisah romansa modern khusus dewasa ini menyajikan dinamika hubungan yang rumit dan provokatif. Dirancang bagi pembaca bermental kuat, alurnya mengeksplorasi tema-tema sensitif yang penuh gejolak emosional yang intens sekaligus menantang. Pastikan kesiapan psikologis dan kedewasaan Anda sebelum menyelami lika-liku kehidupan yang penuh konflik batin dalam narasi ini.
Sampul Novel Kembali Bangkit Hancurkan Para Pengkhianat
9.1
Demi Gunawan, aku rela lumpuh sepuluh tahun. Namun, tunanganku itu malah berselingkuh dengan Vivian, dan Keenan, adikku sendiri, menyembunyikannya demi uang. Mereka mengira aku tidak tahu apa-apa, padahal aku telah sembuh dan melihat semua kebusukan itu. Setelah menghilang selama tujuh tahun, kini aku kembali sebagai Alena Kusuma. Menjelma menjadi seorang investor kaya raya, aku siap membalas dendam dan menghancurkan hidup mereka yang dahulu telah mengkhianatiku.
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Insiden ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri membuat polisi dan militer gempar. Kehilangan putri mereka menjadi pertanda bangkitnya Red Everlasting Dragon, sang penguasa legendaris yang ditakuti dunia. Ia memutuskan turun gunung untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya sekaligus menyelamatkan adiknya yang diculik. Dengan kemurkaan yang membara, ia bersumpah melibas semua pelaku dan siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga barat.