APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tulisan, Basket, & Piano

Tulisan, Basket, & Piano

Aura Latisha, seorang gadis penulis yang asing dengan dunia asmara, tak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintanya. Kehadiran pemuda asal Bandung di hidupnya membawa perubahan besar. Bukannya berjuang mendekat, Aura justru meminta pemuda itu menolaknya secara langsung. Keputusan tidak biasa ini menjadi titik balik bagi Aura yang selalu menutup diri dari romansa. Inilah kisah unik tentang pilihan hati dan keberanian.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku berjalan cepat menyusuri jalanan pasar yang sepi pengunjung pada hari itu. Kedua tanganku sibuk karena mencengkeram dua kantong besar berwarna putih dengan bintik hitam yang kurasa akibat lumpur yang kulewati.

Cuaca begitu terik. Mentari menunjukkan dirinya secara terang-terangan dan seakan menantang seisi dunia kalau ada yang berani padanya. Aku terus saja berjalan cepat seraya memicingkan mata agar tidak terkena dampak percaya diri sang mentari saat ini.

“Mama.” Tangis seorang gadis kecil.

Gadis itu berdiri tepat di depanku. Ia menengadah. Menunjukkan wajahnya yang basah karena air mata. Rambutnya sedikit berantakan dengan mata memerah karena menangis. Kedua tangannya tidak berhenti untuk mengucek kedua bola mata tersebut.

Aku menurunkan kantong belanjaanku. Kemudian berjongkok untuk menyamai tinggiku dengan gadis kecil itu. Dia memiliki mata cokelat yang indah dengan alis berwarna hitam gelap yang tebal. Aku menyentuh pipinya. “Ada apa, dek?”

Ia terisak. “Mama,” ujarnya. “Aku kehilangan mamaku, kami terpisah.” Ia kembali terisak. Ia mengelap ingusnya dengan kasar, dan kembali menatapku.

Aku menelan ludahku. Ada begitu banyak bentuk kejahatan akhir-akhir ini. Mungkin ini salah satunya, tapi kurasa aku tidak cukup pandai untuk menghindari ini mengingat diriku selalu terlibat dalam masalah dan terlebih lagi ini menyangkut anak kecil. Kurasa aku akan menolong gadis ini, lagi pula di sini ada cukup banyak orang yang menyaksikan kalau ada yang ingin berbuat jahat padaku.

“Terpisahnya di mana? Di dalam?”

Gadis itu mengangguk.

“Oke, kita cari ya. Tapi kakak mau ngembaliin belanjaan ini dulu ke sana.” Aku mengarahkan pandangan ke mobil jazz berwarna putih.

Gadis itu mengikutiku dari belakang. Ia masih terisak dan sesekali terdengar ia menyedot ingusnya sembari berucap pelan. “Mama.”

Setelah itu aku menyusuri pasar sekali lagi dengan memegang tangan Shilla—gadis kecil tadi. Kami melangkah bersama-sama berusaha untuk mencari mamanya, namun tetap tidak menemukannya selama sepuluh menit yang telah kami lewati. Kemudian terdengar suara perempuan memekik.

“Shilla.”

Sontak aku dan gadis itu menoleh. Shilla segera berlari ke arah mamanya dan memeluknya dengan erat. Cukup untuk kalian ketahui, mereka melakukan adegan yang sangat mengharukan.

Aku menghampiri kedua orang tersebut yang masih menangis bahagia. “Kalau begitu, kakak pamit dulu ya dek.” Aku mengelus kepala Shilla dengan pelan.

Mamanya memberiku ucapan terima kasih yang tak terhitung banyaknya. Ia meraih tanganku dan hampir menyentuhkannya ke keningnya sampai aku menarik tanganku dengan cepat. “Tidak perlu, Bu,” balasku seraya tersenyum. Berusaha menghilangkan rasa tidak enak yang bersarang.

“Saya pamit dulu, ya Bu,” ujarku seraya menundukkan kepalaku sedikit. Kemudian melangkah pergi dari kerumunan orang dan menghampiri mobilku tersayang. Aku sudah lama berada di pasar ini.

“Tunggu,” teriak seseorang.

Aku menoleh. Kulihat seorang gadis berlari ke arahku. Sepertinya ia seusiaku atau mungkin lebih muda dariku.

“Ini.” Ia memberikan bungkusan padaku.

“Ah?”

“Aku kakak dari anak kecil yang kamu tolong tadi.” Ia tersenyum. “Ini rasa terima kasihku, terimalah. Kumohon.” Ia tersenyum sekali lagi.

Aku mengangguk dan meraih bungkusan tersebut. Sepertinya ini berisi buah, pikirku. “Oke, terima kasih kembali.”

“Siapa namamu? Sepertinya kita seumuran.”

“Aura Latisha, kamu bisa panggil aku Rara. Ya, sepertinya kita seumuran, aku baru masuk semester empat,” balasku.

“Aku Hania Putri, bisa dipanggil Hani. Wah, beneran kita seumuran nih. Kuliah di mana?”

Setelah itu kami mengobrol untuk beberapa saat. Ternyata kami satu kampus dan juga satu fakultas, tapi tidak pernah melihat satu sama lain. Aku tidak begitu heran, karena aku jarang berlama-lama di fakultas kami. Aku disibukkan dengan kegiatan organisasi umum di universitas.

Kami bertukar ID line. Dan janjian ketemu besok. Dia juga memberitahuku bahwa besok akan ada temannya dari luar kota yang pindah kampus ke kampus kami, dan dia satu jurusan denganku, Manajemen.

---

Ini hari pertamaku masuk kuliah. Rasanya benar-benar berat meninggalkan liburan. Meninggalkan kasurku di musim hujan seperti ini. Rasanya terlalu berbahaya keluar dari selimut, banyak hal yang menanti di luar sana.

Aku menyibakkan tirai jendela, dan cahaya keemasan masuk menembus kaca. Menyinari kamarku dengan cahaya keemasan yang tampak elegan sekaligus mewah. Aku meregangkan tanganku sembari melihat taman yang ada di bawah. Ada seseorang yang menarik perhatianku, ia melambaikan tangannya.

Aku menahan teriakan dan segera berlari keluar kamar, menuruni tangga secepat kilat. Dan dalam hitungan detik sudah dalam pelukan kakak perempuanku. Aku merindukannya.

“Kapan kakak sampai?” tanyaku setelah melepaskan pelukan darinya.

“Jam tiga tadi.”

“Siapa yang jemput? Kenapa gak ngabarin aku? Oya, di mana Ziva?”

“Whoa whoa, satu-satu dong.” Kak Risya tertawa. “Papa yang jemput. Gak ngabarin kamu, ya biar surprise. Ziva ada di kamar sama papanya.”

“Kalau tahu kalian bakal pulang, kan aku bisa nyiapin sesuatu. Ini aku belum masakin apa-apa. Lagi pula, hari ini aku udah masuk kuliah.”

Kak Risya menepuk pundakku. “Gak perlu siap-siapin sesuatu dek, kakak bisa bikin sendiri,” balasnya terkekeh. “Kalau kamu ada kuliah, cepetan beres-beres. Gak usah masak, kakak udah masak. Cepetan aja mandi, dandan yang cantik biar dapet pacar. Masa secantik gini gak ada yang mau, sih?” godanya.

“Aww, bodo amat!” balasku lalu pergi dari hadapannya. Setiba di dalam rumah, mama udah menggendong Ziva. Aku berlari menghampirinya. “Sini Ma, Rara mau gendong juga.”

Mama menjauhkan Ziva dari jangkauanku. “Mandi dulu sana,” usirnya.

“Bentar doang kok, ah pelit banget. Udah lama gak ketemu sama Ziva juga. Yuk, Ziva mau sama kakak?”

Ziva menggelengkan kepalanya kecil. Aku menurunkan tanganku dengan lemas, dan cemberut. Menoleh ke arah mama yang tersenyum menang.

Omong-omong, Ziva adalah anaknya Kak Risya dan Kak Andre yang baru berumur tiga tahun. Mereka tinggal di Singapura, dan jarang sekali bisa pulang. Ini kepulangan mereka yang pertama setelah hampir delapan bulan.

Aku berjalan menghampiri kak Andre dan memeluknya sebentar seraya berbisik. “Bawain oleh-oleh buatku kan?”

Ia mengangguk dengan mantap. “Ada di kamar, sesuai pesanan.”

“Memang kakak ipar terbaikkkkk.” Rara mengacungkan kedua jempolnya. Aku menitip novel Harry Potter cetakan terbaru, btw.

“Kamu kan emang punya satu kakak ipar,” balasnya.

“Kata siapa cuman punya satu kakak ipar? Ow, Kak Risya belum ngasih tahu kakak ya?”

“Raaaa.” Ia memberikan pandangan menusuknya padaku. Namun aku tahu ia hanya bercanda, karena ia berusaha menahan senyumnya.

“Bye, aku mau mandi. Nanti malem aja aku ambil pesananku ya, kak.”

Aku berlari menaiki tangga, menuju kamarku yang bernuansa biru dan putih. Menarik handuk yang tersampir di belakang pintu dan duduk di atas kasur. Ya, aku masih malas ke kampus. Jadwal hari ini jam delapan, tapi aku bahkan belum siap-siap padahal sudah jam setengah tujuh.

Sepertinya kasur sangat menarik pagi ini. Aku menghela napas panjang dan merebahkan tubuhku di atas kasur empuk seraya menutupi mukaku dengan handuk, aku menghentak-hentakkan kaki dan terus-terusan mengatakan. “Aku butuh liburan lagiiii,”

Dering ponsel memenuhi ruangan. Tanganku mencari-cari ponsel yang berada tak jauh di dekatku, tanpa melihat telepon dari siapa, aku langsung mengangkatnya.

“Halo?”

“Cepetan mandi, hari ini kita ke jurusan. Ada masalah dengan jadwal kita.”

“Masalah a—”

Terputus. Anak itu terus-terusan berbuat seenaknya. Dia salah satu dari dua teman akrabku. Oki Surya Paramita. Dia temanku sejak SMA, dan yang satunya lagi temanku sejak masuk kuliah.

Akhirnya aku menyerah. Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi dengan berat hati.

Liburan berakhir.

[]

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Pengantin yang Terlupakan
9.3
Selama lima tahun menjalin kasih, aku percaya pada cinta Ronan Leach, CEO miliarder Grup Leach. Namun, tiga tahun hidup bersama justru diwarnai pengkhianatan. Ronan menikahi janda sahabatnya, mengumumkannya sebagai istri di depan media, hingga menghamilinya. Meski terus memohon maaf atas nama cinta, luka yang ditorehkan terlalu dalam. Kini, aku memilih pergi selamanya sambil membawa rahasia kehamilan yang dinantikannya, meninggalkan sang CEO dalam penyesalan terdalam.
Sampul Novel Dua Tahun, Tapi Dia Pilih yang Polos
8.0
Dua tahun dihabiskan demi memuaskan sang kekasih, Aidan Jace, bahkan sampai berjuang lulus kuliah lebih cepat demi janji pernikahan. Namun, pengkhianatan pahit terungkap di sebuah bar saat Aidan meremehkan kesetiaan tersebut di depan teman-temannya dan memuji gadis lain yang dianggap lebih polos. Rasa sakit hati ini memicu keputusan besar untuk berbalik arah. Tanpa ragu, sebuah proyek rahasia negara diambil demi mendedikasikan sisa hidup sepenuhnya untuk bangsa, meninggalkan masa lalu yang sia-sia.
Sampul Novel Merengkuh Cinta Ilahi
8.0
Pasca kecelakaan maut yang merenggut nyawa suaminya, Prajana, akibat benturan kasta, Siti Halimah terpaksa menikahi Lukman, sang penabrak. Pernikahan tanpa landasan cinta ini justru menyingkap tabir kelam. Laura, mantan kakak ipar Siti, rupanya istri pertama Lukman yang kehilangan rahimnya. Teka-teki medis ini kian rumit karena ibu tiri Lukman mengalami kondisi serupa. Mampukah para wanita ini mengungkap misteri dan menemukan kebahagiaan sejati mereka?
Sampul Novel Rahasia Wanita Bergaun Merah
9.0
Rayden Wijaya, sang pewaris takhta Wijaya Group, berusaha menghindar dari perjodohan bisnis yang dipaksakan sang ayah. Di tengah pelariannya di gemerlap malam Jakarta, ia terpikat oleh sosok misterius bernama Vella. Setelah semalam bersama, Vella pergi begitu saja tanpa pamit. Kepergian wanita bergaun merah itu justru menyeret Rayden ke dalam misteri besar. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, konflik rumit dan rahasia masa lalu siap menguji hubungan mereka.
Sampul Novel Saat Pewaris Mafia Mematahkan Hatiku
8.1
Tepat di hari ulang tahunku yang ke-22, duniaku hancur berkeping-keping. Di balik pintu sebuah klub, aku tidak sengaja mendengar pengakuan mengejutkan dari Dante Adipradana. Logo perusahaan rancanganku, yang seharusnya menjadi lambang masa depan kami, terlepas begitu saja dari genggamanku. Ternyata, pertunangan kami hanyalah sebuah kepalsuan demi menyingkirkanku dari hidupnya. Di tengah bisingnya musik, aku harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta dan kesetiaanku dibalas pengkhianatan.
Sampul Novel SALAH KIRIM KADO
9.5
Akibat kado yang salah kirim, Sarah mengetahui pernikahan siri suaminya, Indra, dengan Siska. Kecewa dan marah, Sarah merancang rencana mempermalukan mereka sebelum mengajukan cerai. Saat menghadapi badai hidup ini, Dareen muncul dan mengungkapkan perasaan cintanya yang telah lama disimpan. Ketika Indra bangkrut, Siska yang materialistis mulai menyebar fitnah untuk memisahkan Sarah dan Dareen. Mampukah Sarah meraih kebahagiaannya, atau ia akan hancur oleh dendam Siska?