APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tuan Arogan dan Pelayan Hati

Tuan Arogan dan Pelayan Hati

Demi menebus kesalahan masa lalu, Nara menyamar menjadi pelayan untuk Jaden Luther, seorang CEO angkuh yang kini lumpuh dan mengasingkan diri. Sikap dingin Jaden perlahan melunak berkat kehadiran Nara yang tulus. Namun, saat cinta mulai bersemi di antara mereka, rahasia kelam masa lalu terbongkar dan mengancam hubungan tersebut. Akankah ketulusan Nara bertahan, atau justru berubah menjadi dendam yang menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Nara sudah berada di depan pintu kamar lelaki yang tadi mengusirnya dengan kasar. Dia sekali lagi menarik napasnya dalam sebelum akhirnya tangannya mengetuk pintu itu.

Satu ketukan, Nara tidak mendapat jawaban. Nara kembali mengetuk pintu kamar itu hingga tiga kali ketukan.

"Aku tidak mau diganggu!" seru suara Jaden terdengar begitu jelas di telinga Nara.

"Tuan Muda Jaden, waktunya makan siang dan minum obatmu," Nara akhirnya memberanikan diri mengatakan sesuatu.

"Sudah aku bilang, aku tidak mau diganggu. Kamu pergi dari sini!" bentaknya marah.

Nenek dan Reno yang melihat hal itu tampak cemas. "Ren, Jaden kenapa hari ini terlihat begitu marah?"

"Sebenarnya tadi Tuan Jaden melihat berita di sosial media jika Nona Kalista akan pergi ke Barcelona untuk pemotretan dan di sana nona Kalista juga mengatakan akan sekalian liburan. Barcelona, kan tempat yang sangat ingin didatangi oleh nona Kalista jika nanti menikah dengan Tuan Jaden. Jadi, Tuan Jaden mungkin merasa kecewa karena dia tidak bisa mewujudkan hal itu." Wajah Reno pun tampak menunjukan kesedihannya.

"Kasihan sekali cucuku, dia sangat mencintai Kalista, tapi ternyata wanita itu tidak bisa menerima hal yang sudah terjadi pada cucuku."

Reno melihat pada nenek. "Nenek tau tidak jika aku tidak suka sama Nona Kalista."

Nenek melihat heran mendengar ucapan Reno. "Kenapa kamu tidak suka?"

"Aku pernah melihat Nona Kalista bersama dengan seorang pria, dan mereka bergandengan sangat mesra saat Tuan Jaden belum mengalami kecelakaan itu."

"Kamu serius, Reno?" tanya Nenek tidak percaya.

"Aku tidak mungkin berbohong sama Nenek. Sebenarnya aku mau mengatakan hal ini pada tuan Jaden, walaupun aku tau jika tuan Jaden tidak akan percaya, tapi saat ingin memberitahunya, kecelakaan itu menimpa tuan Jaden. Kalau begini aku kadang bersyukur tuan Jaden tidak jadi menikah dengan nona Kalista, tapi juga tidak menginginkan tuan Jaden seperti ini."

Nenek tidak bisa berkata apa-apa saat ini. "Tapi cucuku sangat mencintai Kalista, Ren."

Reno menganggukkan kepalanya pelan. "Eh, Nek, lihat!" Reno tiba-tiba terkejut melihat Nara yang malah membuka pintu kamar Jaden dan masuk ke dalam.

Nenek Miranti pun terkejut melihat hal itu. "Ren, bagaimana ini?"

"Tidak tau, Nek."

"Kita lihat saja kalau begitu. Entah kenapa aku merasa Nara orang yang tepat untuk menangani cucuku itu." Reno hanya bisa mengangguk.

Nara melangkah masuk perlahan, dia berdoa dalam hatinya semoga Jaden tidak mencekiknya kali ini.

"Tuan Muda Jaden, saya membawakan makan siang untuk Tuan Muda."

Jaden yang mendengar suara Nara seketika membalikkan kursi rodanya dan menatap Nara dengan tajam.

"Siapa yang memberimu izin untuk masuk ke dalam kamarku?" tanya Jaden dengan suara marah.

Nara meletakkan nampan berisi makanan di atas meja dan dia berjalan lebih dekat ke arah Jaden.

"Saya minta maaf jika sudah lancang berani masuk ke dalam kamar Tuan Muda, tapi saya harus melakukan tugasku. Ini sudah saatnya Tuan Muda makan dan minum obatnya."

"Aku bilang tidak mau makan dan kamu tidak perlu memperdulikan hal itu. Sekarang kamu keluar dari kamarku, aku tidak membutuhkan pelayan sepertimu!" sekali lagi Nara mendapat bentakan kasar dari Jaden.

Namun, Nara bukan wanita yang akan mundur hanya dengan mendapat bentakan kasar dari Jaden.

"Nara mengambil piring berisi makanan dan dia menempatkan kursi tepat di depan Jaden. "Saya akan menyuapi Tuan Muda Jaden. Tuan Muda harus makan jika ingin sembuh."

"Jangan coba sok berani di depanku, pelayan bodoh!"

Nara malah mengambil satu suapan sendok dan menyodorkan pada mulut Jaden. "Tuan Jaden pasti tidak ingin terus duduk di kursi roda, kan?"

"Apa kamu tau jika aku selamanya akan duduk di kursi roda karena semua dokter tidak ada yang bisa menyembuhkan kaki brengsekku ini!"

Nara menarik napasnya pelan. "Jika dokter mengatakan kesempatan sembuh kaki Tuan hanya satu persen, kenapa Tuan tidak mencoba agar satu persen itu bisa menjadi seratus persen dengan berusaha dan tidak putus asa untuk sembuh."

Jaden malah tersenyum miring mendengar apa yang Nara katakan. "Jangan bicara sok bijak. Memangnya siapa kamu? Kamu hanya pelayan bodoh yang sok berani melamar menjadi pelayan di sini. Aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk pergi dari sini, tapi sepertinya kamu memaksa ingin menjadi pelayanku. Baiklah, kalau begitu kamu bisa menjadi pelayanku, dan aku akan dengan senang hati memberimu kesempatan merasakan menjadi pelayanku." Jaden sekali lagi tersenyum miring.

"Terima kasih kalau begitu. Sekarang Tuan Muda Jaden makan dulu."

"Aku tidak lapar. Bawa saja itu pergi."

"Tuan harus makan." Nara terlihat memaksa Jaden.

Jaden pun akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan sendok dari Nara. Nara pun terlihat senang, tapi sedetik kemudian Nara seolah menahan napasnya saat sebuah ludahan mengenai wajah Nara.

Iya! Jaden meludahkan makanan yang tadi disuapkan oleh Nara dan tepat mengenai wajah Nara.

"Aku sudah bilang tidak mau makan, tapi kamu tetap memaksanya," Jaden menekankan kata-katanya.

Nara mengusap wajahnya dengan tisu dan dia kembali mengambil satu sendok suapan dan sekali lagi menyodorkan pada mulut Jaden. "Obat harus segera Tuan minum," ucap Nara santai seolah tidak terjadi apa-apa padanya.

Jaden yang melihat hal itu seketika emosinya meledak, dia mengambil piring Nara dan melemparkannya sehingga terdengar suara pecahan piring yang membuat nenek dan Reno kaget.

Nenek dan Reno sengaja berdiri di dekat kamar Jaden untuk berjaga-jaga jika Jaden berbuat hal buruk pada Nara.

"Nek, aku akan masuk ke dalam kamar Tuan Jaden."

Nenek dengan cepat menahan tangan Reno. "Biarkan dulu, Ren. Kita tunggu saja." Sebenarnya dalam hati nenek juga cemas, tapi dia ingat apa yang tadi Nara katakan sebelum Nara membawakan makanan ke kamar Jaden.

Nara berpesan agar nenek atau yang lainnya tidak masuk ke dalam kamar Jaden saat Nara berada di dalam kamar apapun yang mereka dengar nantinya.

Wajah Nara tampak memerah saat ini karena lelaki tempramen itu sedang mencengkeram kedua rahang Nara dengan kuat.

Wajah Jaden pun melihat Nara dengan tatapan seolah ingin membunuh wanita di depannya itu.

"Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi untuk memilih, tetap menjadi pelayanku atau keluar dari rumahku."

"A-aku akan tetap menjadi pelayanmu, Tuan Jaden Luther," ucap Nara terbata.

Jaden semakin mengeratkan cengkeramannya, tapi Nara berusaha menahan rasa sakit dari cengkeraman tangan Jaden.

"Benar-benar sok berani." Jaden segera melepaskan tangannya dan Nara dengan segera mengambil napasnya. Dia sebenarnya merasakan takut karena melihat kedua mata Jaden yang penuh amarah.

"Kamu yang memilih untuk menjadi pelayanku, dan aku akan membuat kamu merasakan neraka atas pilihanmu."

"Saya hanya ingin Tuan Jaden bisa kembali menjadi Tuan Jaden yang dulu seperti apa yang nenek Miranti rindukan." Nara berjalan keluar dari dalam kamar Jaden.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta dan Benci
8.2
Demi wasiat sang ayah, Hera terpaksa menikah dengan Gama Dirgantara. Namun, pria berstatus duda itu bersikap sangat dingin karena belum bisa melupakan Karin, masa lalunya. Gama bahkan berjanji tidak akan pernah memberikan hatinya kepada Hera. Keadaan berubah total sejak peristiwa tak terduga terjadi saat Gama mabuk. Di tengah penolakan dan rasa benci, sanggupkah Hera bertahan demi menyelamatkan pernikahan penuh luka ini dan meluluhkan hati Gama?
Sampul Novel Bercinta Denganku Lagi, Dokter Jacob?!
8.1
Jacob Carson Indrajaya, dokter forensik blasteran Australia-Indonesia, menghadapi kejadian aneh di RS Dr. Sarjito saat sesosok jasad korban pembunuhan tiba-tiba bangkit tanpa memori. Jacob pun menamainya Jane dan merawatnya di rumah hingga mereka berdua saling jatuh cinta. Siapa sebenarnya Jane? Mengapa dia diincar untuk dibunuh? Ikuti perjuangan Jacob mengungkap misteri kelam dan memecahkan teka-teki besar di balik identitas asli wanita yang dicintainya.
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Kehidupan rumah tangga Cantika Putri dan Ardi Permana berjalan sangat harmonis. Pernikahan mereka dipenuhi kasih sayang tulus, dengan Ardi yang begitu memuja kecantikan serta kesempurnaan fisik istrinya. Di sisi lain, kisah ini juga menyoroti kehidupan seorang miliarder sukses bernama Reza Dirgantara. Sang pengusaha kaya raya tersebut diketahui sedang menjalin kasih dengan Luna Amara, sosok gadis desa yang berparas menawan namun tetap hidup dalam kesederhanaan.
Sampul Novel KUBALAS KAU DENGAN ELEGAN
8.2
Kehidupan tenang Sahira seketika hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh dengan sahabat dekatnya sendiri. Di tengah kepedihan mendalam akibat pengkhianatan ganda tersebut, secercah harapan tiba-tiba datang dari masa lalunya. Kehadiran kembali seorang miliarder menawarkan perlindungan sekaligus mengajak Sahira menyembuhkan luka hati bersama. Akankah ini menjadi awal dari babak baru yang bahagia bagi Sahira setelah melewati pengkhianatan yang begitu menyakitkan?
Sampul Novel Scarred Hearts
9.7
Aryadi dan Alyasha terjebak dalam kepalsuan rumah tangga yang harmonis. Kebohongan mereka runtuh ketika perselingkuhan masing-masing terbongkar secara senyap. Walau saling mengkhianati, keduanya tetap bersandiwara demi mempertahankan status sosial. Namun, kepura-puraan ini mulai menemui batasnya. Saat ego menguasai diri, kehancuran hubungan mereka tak lagi bisa dicegah. Di tengah badai konflik ini, Arion dan Annanda menjadi korban tidak bersalah atas ego orang tua mereka.
Sampul Novel Seandainya Waktu Bisa Kembali
8.2
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, Lolly, yang menderita gagal ginjal, seorang hakim tega mengambil keputusan sepihak untuk merebut ginjal istrinya sendiri. Sang istri mencoba menjelaskan bahwa dirinya juga mengidap penyakit yang sama dan akan mati jika kehilangan organ tersebut. Namun, sang suami justru menuduhnya cemburu dan tidak berhati nurani. Dipaksa menjalani operasi transplantasi, kondisi sang istri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal sendirian di sudut rumah sakit yang sepi.