APKDock Logo
Sampul Novel TOXIC

TOXIC

8.6 / 10.0
Sifat posesifnya yang ekstrem selalu kuanggap sebagai bukti cinta yang tulus. Namun, semua ilusi itu hancur saat aku menyadari bahwa diriku hanya dimanfaatkan demi ambisi pribadinya. Dia pria egois yang hanya mengejar kepuasan sendiri tanpa pernah memikirkan kehancuran perasaanku. Hubungan tanpa ketulusan ini terasa kian mencekik, hingga akhirnya aku tersadar bahwa sikap buruknya tidak boleh lagi ditoleransi. Aku harus melepaskan diri dari jerat toksik ini.

TOXIC Bab 1

#TOXIC

"Maaf nggak bisa, Yang. Aku lagi di lokasi proyek sama klien," tolakku halus pada Rey kekasihku.

"Ini kan jam istirahat, masa nggak boleh sih? Kerja kok ada istirahatnya, kayak kerja rodi aja," sergah Reynald di seberang sana.

"Ini kami lagi makan bareng, sama saja istirahat, kan?" jelasku kemudian.

"Kamu bilang lagi di proyek, kok malah makan-makan? Jangan-jangan kamu nggak lagi sama klien, tapi sama laki-laki lain!" bentak Rey.

"Nggak Yang, aku beneran lagi ada di proyek sama klien. Kebetulan di seberang jalan ada rumah makan, meetingnya lanjut di sana, sekalian makan. Aku juga nggak sendirian kok, ada Diani dan Pak Bos juga," paparku, berharap agar Rey mengerti posisiku saat ini.

Hhh... aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. Reynald selalu saja begitu, suka memaksakan kehendak, kalau tidak dituruti, dia menuduhku yang macam-macam.

Hari ini dia ngajak makan siang, tapi aku sedang ada meeting dengan klien. Jelas aku menolak ajakannya, tapi dia marah-marah tidak terima. Padahal setiap hari kami juga makan bareng.

"Sudah ya, Yang. Aku nggak enak sama Pak Bos. Lagi meeting sama klien malah asik telfonan sama kamu," pungkasku, tanpa menunggu jawaban darinya, ku akhiri panggilan.

"Siapa? Rey lagi?" sinis Diani, dia yang baru keluar dari toilet menatapku tak bersahabat.

"Iya Di," jawabku singkat. Aku buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas.

"Sebenarnya pacarmu itu kerjaannya apa sih? Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nelfooon aja kerjanya!" lanjut Diani.

"Namanya juga sayang, wajarlah kalau ingin tahu pacarnya lagi apa," sahutku. Meski sebenarnya aku juga merasa tertampar dengan ucapan temanku itu.

"Sayang sih, sayang. Tapi nggak segitunya keles! Masa apa-apa harus laporan, sampai urusan kerja aja, diatur-atur sama dia," sinis Diani.

Bener juga kata Diani, Rey terlalu posesif, semua kegiatanku dipantaunya. Di mana, sedang apa, dengan siapa, semua harus se-pengetahuan-nya. Kadang aku merasa terkekang juga, tapi itu kuanggap sebagai bentuk perhatiannya padaku, meski sedikit berlebihan.

"Lah, malah bengong? Buruan! Tuh, bos sudah ngeliatin kamu dari tadi," sentak Diani, seraya melangkah meninggalkan aku.

Aku pun mengikuti langkah Diani, menuju meja di mana bos dan klien sudah menunggu.

"Maaf Pak, tadi ada telfon penting," bohongku, Pak Bos hanya merespon dengan anggukan dan senyum tipis. Sementara klien hanya menatapku sekilas.

"Jadi begini, klien kita ini minta furniture diganti. Diani, kamu bawa katalognya kan?" tanya Pak Bos, Diani menyerahkan buku tebal pada Pak Bos.

"Luk, coba perlihatkan gambar furniture yang kamu rekomendasikan, biar Pak Maher bisa memilih furniture yang beliau inginkan," ucap Pak Bos padaku.

Tapi tiba-tiba ponselku kembali berbunyi, buru-buru kutekan tombol merah, begitu melihat nama yang tertera dalam layar, Rey lagi.

Pak Bos melirikku tidak suka, Diani memutar bola mata malas, sementara klien menatapku dengan tatapan dingin. Aku jadi merasa tidak enak.

Rey benar-benar keterlaluan, tidak bisakah dia menunggu nanti? Toh tidak ada hal mendesak, keluhku dalam hati.

"Ini Pak, silahkan," ucapku mengatasi kegugupanku.

Aku mereview furniture yang aku pilihkan untuk Pak Maher, dari bahan, kualitas, harga, hingga usia pemakaian. Pak Maher terlihat puas dengan penjelasanku.

Selama aku memberi penjelasan, ponselku terus saja berdering. Hingga membuat Pak Bos dan Pak Maher menatapku jengah.

Tak ingin mendapat masalah, buru-buru aku menonaktifkan benda pintar itu, agar tak menganggu meeting kali ini.

"Saya mau yang ini." Pak Maher menunjukkan gambar yang dia pilih, "tapi saya mau bahannya dari jati kualitas P, lepas mata, dan lepas alur minyak, bisa?" ucap Pak Maher, dia menatapku seolah meragukan kemampuanku.

"Bisa Pak, saya akan menghubungi pengrajin, agar membuat sesuai pesanan Bapak," jawabku yakin.

"Tolong dipastikan semua furniturenya selesai tepat waktu, dan sama persis seperti yang saya sebutkan tadi. Saya tidak mau dikecewakan," pungkas Pak Maher

"Bapak tidak usah khawatir, saya jamin semua sesuai keinginan anda," tegasku.

"Ok, terima kasih kerja samanya. Pak Tema, saya pamit undur diri, permisi," ucap Pak Maher.

"Oh ya, silahkan. Terima kasih Pak Maher, senang bekerja sama dengan anda," balas Pak Bos. Pria awal empat puluhan itu mengangguk hormat, setelah selesai berjabat tangan.

"Luluk, lain kali matikan telefon ketika sedang meeting." Ucap Pak Bos setelah Pak Maher menjauh. Belian menatapku tajam.

"Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi, paham?" lanjut Pak Bos. Laki-laki itu kemudian berjalan meninggalkan aku dan Diani.

"Kayaknya kamu perlu ngomong sama pacarmu, itu deh! Bilang sama dia, jangan terlalu posesif jadi orang," ketus Diani, dia pun meninggalkan aku sendiri.

Tak ingin tertinggal, aku menyusul Diani.

"Di, Tunggu!" Aku menjajari langkah gadis itu.

"Kamu marah ya, Di?" tanyaku setelah berada disamping Diani.

"Nggak, buat apa marah? Aku nggak ada hak untuk itu," jawab Diani datar.

"Nggak marah tapi kok ketus gitu?"

Diani menghentikan langkah, lalu menatapku tajam. "Aku hanya kasihan sama kamu, kalian baru pacaran, tapi dia sudah ngatur-ngatur gitu. Gimana kalau kalian menikah? Bisa tersiksa hidup kamu. Kalau aku punya pacar kek gitu, sudah kuputusin dari dulu-dulu.

Ucapan Diani ada benernya juga, Reynald memang berlebihan. Aku sendiri kadang merasa tidak nyaman, dengan sikap posesifnya itu. Tapi pernah sedikit pun. terlintas dalam fikiranku untuk berpisah. Gimana lagi? Aku sudah terlanjur sayang.

Next?

Lanjut Membaca

Daftar Isi TOXIC

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Hasrat Tak Henti-Hentinya Sang Taipan Manipulatif
8.1
Irene terpaksa mendekati taipan berkuasa, Braydon, demi menyelamatkan bisnis sang ayah. Di balik ketangguhannya, Braydon menyimpan obsesi mendalam yang hanya ditunjukkan pada Irene. Meski terjebak manipulasi, Irene telanjur jatuh cinta, hingga hatinya hancur saat tahu Braydon bertunangan. Irene pun memilih pergi dan bertemu Dr. Mitchell, musuh bebuyutan Braydon. Kini, kedua pria berpengaruh itu bersaing sengit demi merebut hati Irene.
Sampul Novel Keperkasaan Sang Mertua
9.3
Hubungan terlarang yang menegangkan tersaji dalam novel modern Keperkasaan Sang Mertua. Di hadapan jendela kaca besar yang memperlihatkan keramaian orang di bawah, seorang menantu perempuan tidak berdaya menghadapi tindakan intim dan dominasi fisik dari ayah mertuanya sendiri. Meski sang menantu merasa sangat malu dan memohon untuk dihentikan, sang mertua justru mengabaikan rasa bersalah tersebut. Ia menganggap situasi berisiko ini sebagai hal yang mengasyikkan untuk dinikmati.
Sampul Novel Menikah dengan Cinta Pertama
8.0
Saat menghadiri reuni bersama James, pertanyaan tentang pernikahan mengungkap keretakan hubungan delapan tahun kami. Di hadapan teman-teman, James mengaku belum memikirkannya, sementara aku dengan tegas menyebutkan tanggal sebelas sebagai hari pernikahanku. Sikapku membuat James marah karena selama ini dia selalu menunda komitmen demi menyembunyikan perselingkuhannya dengan wanita yang lebih muda. Namun, kemarahannya sia-sia karena pria yang akan kunikahi nanti bukanlah dirinya.
Sampul Novel Pernah Membenci dan Mencintaimu
8.7
Saat gempa mengguncang, seorang kapten penyelamat memilih menyelamatkan cinta pertamanya, Cloe, dan meninggalkan istrinya yang hamil. Sang istri tidak mencegahnya karena ia mengingat kehidupan sebelumnya. Kala itu, sang suami menyelamatkannya hingga Cloe tewas, lalu menyiksa sang istri di makam Cloe saat hendak melahirkan hingga tewas pendarahan. Terlahir kembali di hari gempa yang sama, ia kini bertekad melindungi bayinya tanpa mengharapkan pria itu lagi.
Sampul Novel SEKRETARIS PENGGODA BOSS
7.9
Kinan bertekad mengejar karier impian sebagai sekretaris CEO di Accor Group, sekalipun Febian menentangnya. Sang kekasih menaruh curiga bahwa pekerjaan itu sarat godaan dan skandal. Demi membuktikan dedikasinya, Kinan tetap bekerja keras mendampingi atasannya, Erlan. Hubungan mereka diuji saat Kinan harus pergi dinas ke New York berdua saja dengan Erlan. Meski Febian murka, Kinan memilih mengabaikan amarah tersebut demi masa depan pekerjaannya.
Sampul Novel Sumpah Hening Balas Dendam Sang Luna Berparut
9.7
Kehadiran seorang wanita dengan anak bergenetik Alpha Damian di klinikku mengungkap kebenaran pahit. Melalui ikatan batin, aku merasakan cinta tulus Damian untuk wanita itu. Puncaknya, di pesta kawanan, Damian melindunginya hingga membuatku keguguran. Ia bahkan mengabaikanku yang sekarat demi luka kecil putranya. Setelah dibuang ke jurang oleh kekasihnya dan ditolak atas namanya, aku berhasil selamat. Kini, aku melangkah ke Swiss untuk bangkit dari segala kehancuran.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan