APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Those Smiling Eyes

Those Smiling Eyes

Fara, mahasiswi manja dengan ayah yang sangat protektif, tak pernah memikirkan pernikahan hingga Dominic datang melamarnya. Namun, sebuah kesalahan fatal membuat Dominic pergi sebulan sebelum hari H. Di tengah kesedihannya, muncul pria misterius yang mengajukan lamaran dengan syarat unik: dilarang bertemu hingga akad nikah. Demi kesempatan terakhir, Fara pun setuju. Sanggupkah ia menjalani peran baru sebagai istri sembari tetap fokus kuliah?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hands up!

Bang! Bang!

*Suara sirine*

Aku meloncat dari tempat tidur karena kaget.

Dan kakiku menginjak sesuatu yang lembek di lantai, tepat di samping tempat tidur.

"AAAAAAAAAAAAAHHHH!" teriakku.

Brakk!

Pintu kamarku copot karena didobrak Papa. Padahal gak dikunci.

Melihat pintu yang terbuka, Lilo lari keluar dari kamarku.

Setengah jam kemudian...

Aku dan Papa duduk di sofa ruang tamu, sedang diomelin Mama. Terdengar suara pak tukang sedang memperbaiki pintu kamarku.

Jadi ...

Aku memang sering bawa Lilo ke kamar, hanya saja semalam, aku lupa balikin dia ke toko. Dia poop di samping tempat tidurku.

Paginya, aku kaget dengar ringtone keras banget. Kakakku telepon pagi-pagi sekali, aku kaget dengar ringtone yang kupasang sendiri itu, lompat dari tempat tidur, dan menginjak poop-nya Lilo. Lalu teriak karena frustrasi.

Papa yang masih tidur, kaget dengar anak gadisnya teriak. Saking panik dan  khawatirnya, Papa langsung lari ke lantai atas dan dobrak pintu kamarku, tanpa coba buka dengan normal.

Pagiku epic.

"Pintunya sudah dipasang, Bu ...," kata Pak Tukang yang tiba-tiba sudah ada di ruang tamu.

"Iya Pak Munir, makasih banyak Pak, mau direpotin pagi-pagi," Mama menjawab dengan sopan sebelum si Bapak berpamitan.

Saat Mama lengah, aku kabur masuk kamar.

Kucari hapeku, semoga gak kena poop juga.

Alhamdulillah engga.

12 missed calls

Fabian Armand

| Sis, what you doing?? Pick up my call!

05.48 am

Faranica Armand

| :'(

07.25 am

Hands up!

Bang! Bang!

*Suara sirine*

Kakakku meneleponku lagi. Kuterima panggilannya dan kuceritakan pagiku yang apes. Dia tertawa, kencang banget, dasar kakak jahanam, gak ada simpati-simpatinya.

"Fabby ngapain telepon?" kutanya dia saat tertawanya sudah berhenti.

Meskipun Mama selalu mengomel tiap kali tahu aku memanggil dia yang hampir lima tahun lebih tua dariku tanpa sebutan kakak, aku tetap sering keceplosan, maklum, dari saat aku baru bisa bicara, aku memanggilnya begitu.

"Gakpapa, kangen sama adek bloon satu-satunya," katanya santai, kalau dia di sini, sudah kujambak rambutnya.

"Idih, kangen ngebully," sungutku.

"Iya!" sahutnya dan tertawa lagi.

Kutunggu tawanya berhenti.

"Kak, aku ketemu cowok," curhatku.

"Fara suka?" tanyanya.

"Mm-hmm," gumamku sambil memikirkan wajah ganteng Dominic.

"Jangan suka dulu, paling gak sampai dia ketemu Papa. Kalau dia kabur, wassalam," katanya, lalu tertawa lagi.

Tapi benar juga. Setelah pertama kali, kedua kali, dan ketiga kali ada cowok yang terang-terangan bilang naksir aku dan kuajak ketemu Papa, mereka langsung kayak alergi sama aku, membuatku hopeless. Sekarang kalau ada cowok yang mulai deketin aku, pertama-tama, kudu aku temuin sama Papa dulu, kalau ngacir juga, ya udah. Kenyataannya, sampai sekarang belum juga ada yang bisa sampai pacarin aku.

Padahal, banyak yang bilang aku cantik.

"Iya, sih. Tapi Mama suka sama dia," kataku.

"Eh, dia berani main ke rumah?" tanyanya heran.

"Engga sengaja. Dia ke toko, belanja buat anjingnya. Eh, Mama kenal. Kakak inget Tante Nadia gak?"

"Temen Mama yang kawin sama ilmuwan bule itu, kan?" tanyanya.

"Mm-hmm. Dom itu, anaknya Tante Nadia," jawabku.

"Bule, dong?"

"Iya. Tampangnya gak ada Indonesia-Indonesianya. Tapi bahasa Indonesianya bagus, dan dia Islam juga."

"Katanya dulu, Fara sukanya yang Oppa-oppa? Sejak kapan doyan bule?" godanya.

"Sejak Papa bikin semua cowok ngacir kayak Fara kudisan, Fara udah gak peduli lagi sama tampang, tapi yang ini beda, guanteng," kataku, yang lagi-lagi, disambut tawa.

"Lebih ganteng dari aku? Ada?" godanya. Narsis ternyata genetik.

"Idih, jelas," sungutku.

Tapi kakakku memang ganteng, dia miriiiip banget sama Papa, hanya saja, matanya biru seperti Oma. Sampai sekarang, banyak banget cewek-cewek yang naksir dia, suka baik-baikin aku cuma buat deketin Fabian, padahal orangnya di London sudah dari tiga tahun lalu.

"Sapa namanya? Kakak penasaran."

"Dominic. Dominic Vonwood," jawabku.

"Kayak pernah dengar namanya. Nanti Kakak cek."

Percakapan dengan kakakku gak pernah berhenti kurang dari satu jam, dan dia menelpon lumayan sering. Ini yang bikin aku jarang sampai kangen banget sama dia, walaupun dia cuma pulang setahun sekali.

Sudah empat hari sejak Dom tanya nomor hapeku, tapi gak ada satupun pesan dari dia. Ya udah lah ya, mungkin dia minta nomorku cuma buat disimpan, karena aku anak teman ibunya. Lagian yang mau sama dia juga, pasti ngantri.

Aku ngapain bucin, ya? Baru kenal juga, astaga, ini pasti karena aku kelamaan jomblo.

***

Dari sore aku sibuk menunggu kepastian apa aku diterima di Universitas Airlangga atau engga, eh diterima, Alhamdulillah.

Girang? Gak segitunya. Aslinya, aku pengen kuliah di luar negeri juga, kayak Fabian. Tapi , gak kayak kakakku yang mau berusaha dapetin beasiswa, aku terlalu malas. Daftar ke Unair dulu lah, toh aku gak bodoh-bodoh amat, dan kampus B Unair jaraknya cuma 100m dari rumah, sambil guling-guling juga, 10 menit bisa nyampe kampus.

Pas aku masuk ke kamar Mama-Papa buat kasih kabar yang tidak terlalu menarik ini, respon Mama: "Alhamdulillah."

Respon Papa: "Yeeeeey," dengan muka datar.

Respon Lilo: gak ada.

Lalu aku pun tersadar, bahwa aku tengah mengganggu aktivitas rutin mereka setiap malam: nonton serial drama korea pakai projector.

Ya udah lah ya. Astaga, mereka lebih sayang sama Lilo daripada sama anaknya.

Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamarku.

Hapeku bergetar (ciyeee kayak hatimu).

Saat ku-cek, nomor tak dikenal.

Ku-reject, paling penipu malam-malam yang bilang: "Nak, ibu kecelakaan, tolong kirim uang—"

Eh dia telepon lagi. Ya ku-reject lagi.

Telepon lagi, dong. Istiqomah juga, aku angkat deh, biar happy.

"Halo," kusapa si penelepon.

"Fara, kenapa di-reject?" kata suara laki-laki di seberang.

"Ini siapa?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

"Dominic," jawabnya.

Maaaak, aku pengen loncat-loncaaaat.

"Maaf, aku kira orang nipu malem-malem yang bilang mamaku kecelakaan," gumamku.

"Kamu bilang apa? Gak denger."

"Nggakpapa, maaf gak tau kalau Dom yang telepon," kataku.

"Nomorku disimpan, ya?"

"Iya."

"Ya udah, aku cuma pengen denger suara kamu. Aku tutup dulu, sudah malem, selamat tidur Faranica. Assalamualaikum."

Aduh, jantungku.

"Wa'alaikum salam."

Sambungan sudah terputus, tapi aku masih lihatin layar hape sambil cengo.

Satu pesan masuk ke WA.

Unknown Number

| Tommrw morning, let's walk Tofu together.

00.09 am

Translate: besok pagi, ayo ajak jalan-jalan Tofu, berdua.

Aku lompat dari dudukku. Mimpi ini pasti.

Eh, aku balas dulu aja, sapa tau meskipun mimpi, akan jadi kenyataan. Aku save nomornya.

Faranica Armand

| Love to.

00.10 am

Translate: Dengan senang hati

Dominic Vonwood

| :)   I'll pick you up.

00.10 am

Translate: Besok aku jemput.

Astaga, jantungku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sedalam Doa
9.2
Penyesalan merayap setelah aku meninggalkan Naira demi Qirani, yang akhirnya malah mengkhianatiku setelah lulus. Demi menyembuhkan luka, aku memilih membangun karier di Pekanbaru, meski bayang Naira tak pernah hilang. Begitu tahu rencana pernikahan Naira batal, aku bertekad membenahi diri dan terus berdoa agar dimaafkan. Setahun berjuang dengan sabar, ketulusanku akhirnya melunakkan hati Naira. Kini, kami telah bersatu dalam pernikahan dan hidup bahagia bersama putri kecil kami.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
CEO muda sukses, Rio Darmawan, merasa jenuh dengan tekanan perjodohan dari keluarganya yang terus-menerus. Ia selalu menolak calon pilihan orang tuanya karena tidak ada yang cocok. Namun, segalanya berubah saat ia terpikat oleh Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang mandiri. Walau hubungan mereka ditentang keras oleh keluarga besar, Rio bertekad kuat memperjuangkan cintanya. Kini ia menghadapi pilihan sulit antara mengikuti kata hati atau tunduk pada tuntutan keluarga.
Sampul Novel GAIRAH ISTRI SATU MILIAR
8.6
Demi melunasi utang sang ayah dan biaya pengobatan ibunya, Sinta Maheswari terpaksa dijual. Ia dinikahkan dengan putra konglomerat kejam yang memperlakukannya tanpa belas kasih layaknya budak. Di tengah siksaan pernikahan tanpa cinta ini, Sinta dinyatakan hamil. Kabar tersebut membawa kebahagiaan bagi keluarga besar, namun tidak bagi suaminya yang berhati dingin. Sinta pun harus berjuang keras meluluhkan hati sang suami agar pria iblis itu bisa benar-benar mencintainya.
Sampul Novel Godaan Desah Majikan
8.1
Mengusung romansa modern yang provokatif, kisah dewasa ini sangat cocok bagi mereka yang pernah dikhianati dalam cinta. Alur emosionalnya menyoroti hubungan gelap antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi konflik utama. Cerita ini mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit diredam di tengah komitmen yang seharusnya dijaga erat.
Sampul Novel Hubungan Gelap Sekretaris dan Suami Pembawa Petaka
8.4
Sebuah foto viral menyeret Charlie ke dalam rumor perselingkuhan dengan sekretarisnya. Alih-alih menjelaskan, Charlie malah memarahi istrinya lalu memblokir kontaknya. Tragedi terjadi saat sang istri menemukan putra mereka tewas dengan jasad mendingin, menggenggam kartu identitas sekretaris itu. Di tengah duka, Charlie justru menuntut sang anak datang demi bisnis mereka. Sang istri pun bertekad menghancurkan karier dan masa depan suaminya sebagai pembalasan atas kematian tragis sang putra.
Sampul Novel Mendadak Dinikahi Om-Om
9.6
Demi membiayai pengobatan sang ibu setelah kecelakaan tragis, Nala terpaksa menyetujui pernikahan darurat dengan Bastian Wilantara, pria asing yang menyelamatkannya. Seiring waktu, pernikahan yang semula dingin mulai diwarnai perasaan cinta. Namun, kedamaian itu terusik ketika Nala menemukan rahasia mencurigakan yang disembunyikan Bastian. Begitu motif asli di balik pernikahan mereka terungkap, Nala kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk bertahan atau pergi.