APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Sky of Asia

The Sky of Asia

Takdir seolah terus mempermainkan hubungan Langit dan Asia lewat perpisahan serta pertemuan yang tak terduga. Namun kini, semesta kembali mendekatkan mereka dalam sebuah perjumpaan yang selama ini dinantikan. Di bawah naungan cakrawala, keduanya perlahan merajut kembali kisah cinta mereka yang sempat terputus, menikmati kebersamaan yang sederhana namun sarat kebahagiaan. Perjalanan mereka membuktikan kekuatan cinta sejati yang dipersatukan kembali oleh waktu.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Pokoknya ayah tidak mau tau! Kamu harus melanjutkan S2 di Singapura!" suara bentak seorang ayah kepada anaknya terdengar sampai keseluruh ruangan rumah yang besar itu.

"Ayah, aku bukan tidak mau melanjutkan S2. Tapi kurasa S1 saja sudah cukup bagiku lagian aku gak mau ngejar pangkat yang tinggi. Intinya aku bahagia, Yah.." suara lelaki itu membalas bentakan ayahnya.

"Kamu harus melanjutkan S2 di Singapura agar perusahaan ayah bisa kamu lanjutin dan bisa bikin kita bahagia. Dimana-dimana tamatan S2 akan sukses dan bahagia!" bentakkan mulai menggelegar di seluruh ruangan rumah.

"Ingat Yah..! Aku gak gila pangkat dan harta seperti ayah!" balas lelaki tersebut yang membuat ayahnya marah besar dan 'praakk'. Seorang Ayah menampar anaknya hingga pipi anaknya berwarna merah.

"Sudah... Berhenti Andi apa yang kau lakukan itu membuat anak kita akan merasa kesakitan!" suara seorang wanita masuk dalam percakapan yang panas itu.

"Sudah bu, biarkan saja ayah memukulku aku sudah dewasa dan berhak menentukan kebahagiaanku sendiri." ujar lelaki itu lembut dan masih memegang pipinya yang merah.

"Apa?!" bentakan ayahnya kembali memuncak.

"Sudah.. ku mohon berhenti..." kata wanita tua itu hingga air matanya terjatuh.

"Aku mau pergi sama teman dulu bu. Aku tidak mau melanjutkan percakapan yang tidak penting ini!" ujar lelaki itu meninggalkan kedua orang tuanya dan beranjak keluar rumah dan melajukan motornya.

***

Xavier, ia adalah lelaki yang tadi membuat amarah ayahnya, namanya adalah Mohammad Xavier Andiyunus yang sekarang duduk di bangku S1 perkuliahan dengan jurusan Ekonomi dam Bisnis di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Ia adalah tipikal pria yang baik, pintar, dan dia suka membaca buku karya Boy Candra bahkan dia suka menulis cerita. Xavier tidak suka bergaul dengan para perokok dan pecandu napza serta peminum miras dan sebagainya. Xavier adalah anak tunggal dalam keluarganya, sebab itulah ia menjadi prioritas sebagai penerus perusahaan ayahnya.

Cuaca sore ini sangatlah sejuk, hembusan bayu merasuk hingga ke tubuh membuat pikulan beban pikiran yang berat menjadi ringan walaupun puncak merapi merada ketubuh Xavier sore ini, ia keluar rumah menenangkan sedikit pikirannya. Ia memiliki janji untuk menemui temannya di taman kota sore ini.

"Xavier, kau baik-baik saja?" tanya seorang wanita saat Xavier duduk disampingnya.

"Aku baik-baik saja Fidyah, hanya ada sedikit masalah," jawab Xavier tersenyum.

"Masalah apa?" tanya Fidyah.

"Adalah... gak perlu diceritain." jawab Xavier.

"Ceritain aja, gak apa-apa kok!" ujar Fidyah.

"Nanti kamu tau sendiri," ujar Xavier.

"Hmm.." gumam Fidyah. "Eh tunggu itu bibirmu berdarah, dan kau bilang kau baik-baik saja!" Fidyah mengambil tissu dari sakunya dan menghapus aliran darah di ujung bibir Xavier.

"Ahh.." rintih Xavier sedikit kesakitan.

"Tahan aja dulu" ujar Fidyah.

"Makasih Fid, selama ini kamu banyak menolongku"

"Ah santai aja, biasa juga kamu yang tolong aku kalau lagi gak bawa duit, heheh" tawa Fidyah yang membuat percakapan ini lebih hangat dari percakapan sebelumnya yang dirasakan Xavier.

"Aku senang bertemu denganmu" ujar Xavier.

"Apaan sih, sering juga ketemu di kampus" ujar Fidyah.

"Heheh iya juga ya" tawa kecil Xavier.

"Besok kamu masuk kampus?" tanya Fidyah.

"Iya" jawab Xavier.

"Kamu tau kan, aku besok masuk kampus juga," tawa kecil Fidyah seperti membuat kode untuk Xavier.

"Iya aku tau kok, nanti aku yang jemput" ujar Xavier paham dengan maksud kode Fidyah.

"Hahaha kamu tau aja!" tawa Fidyah. "Eh aku boleh pinjam novel Boy Candra kamu gak?"

"Ada apa? Tiba-tiba mau minjem novel biasanya kamu baca buku mata kuliah kamu yang pendidikan itu," tawa Xavier membuat Fidyah sedikit kesal.

Fidyah memang satu kampus dengan Xavier hanya saja mereka beda jurusan, Fidyah mengambil fakultas pendidikan karena ia bercita-cita menjadi seorang pengajar. Sedangkan Xavier memilih fakultas Ekonomi pembangunan karena ingin bertujuan merubah ekonomi bangsa Indonesia dan ingin menjadi pebisnis sukses.

"Tiba-tiba saja aku suka membaca novel" ujar Fidyah.

"Novel Boy Candra?" tanya Xavier.

"Awalnya aku baca novel dari Tere Liye dan aku senang membacanya dan tiba-tiba aku mau baca novel Boy Candra, punyamu kan banyak!" ujar Fidyah.

"Oh gitu, besok aku bawain deh!" kata Xavier tersenyum.

"Kenapa senyum?" tanya Fidyah heran.

"Ya gak apa-apa emang kenapa? Salah ya? Bukannya semua orang berhak untuk mengekspresikan perasaannya? 'Kan?" ujar Xavier.

"Iya boleh kok, raut wajah kamu kayak bahagia gitu," pertanyaan Fidyah sontak membuat Xavier menelan ludah.

"Kita itu wajib bahagia Fidyah. Walaupun dunia kita sedang hancur dan berantakan. Kan tadi aku udah bilang kalau aku senang bertemu denganmu yang berarti aku bahagia bukan?" ujar Xavier.

"Iya aku mengerti. Aku juga bahagia bertemu dengan mu" ujar Fidyah.

"Hah beneran?" tanya Xavier dan wajahnya sudah dekat dengan wajah Fidyah. Tiba-tiba warna kemerahan muncul dari pipi Fidyah.

"Ih apaan sih, munduran dikit!" ujar Fidyah nampak malu.

"Ih kok malu hahah" tawa Xavier.

"Lagian aku gak suka!" ujar Fidyah memalingkan wajah.

"Pipinya merah nih, hahah malu ya haha" tawa Xavier semakin menjadi. Fidyah tidak menjawab.

"Ooh udah pintar ngambekan," ujar Xavier mulai menghangatkan suasana yang sebelumnya terasa canggung.

"Emang aku gak pintar ngambek!" ujar Fidyah dengan nada suara naik.

"Hahah kamu cantik kalau lagi ngambek gitu" ujar Xavier.

"Berarti kalau aku gak ngambek, aku gak cantik gitu, dasar cowok!". ujar Fidyah.

"Kamu cantik kok, tapi kalau lagi ngambek cantiknya nambah" ujar Xavier yang membuat pipi Fidyah merah kembali.

"Ih apaan sih!". ujar Fidyah malu.

"Hahah gak usah malu-malu gitu, senyum dong, senyummu ka bisa menimbulkan penyakit eak!" ujar Xavier.

"Penyakit apaan? emang senyumku bakteri? Virus?!"

"Penyakit Diabetes. Karena senyummu itu terlau manis bahkan lebih manis dari gula ataupun pemanis lainnya!" perkataan Xavier tersebut menambah merah di wajah Fidyah.

"Ih wajahnya merah hahah" tawa Xavier.

"Kamu tuh nyebelin!" ujar Fidyah menutup kedua mukanya dengan kedua telapak tangannya.

"Maafin aku deh" ujar Xavier berhenti tertawa dan membentuk senyum di bibirnya.

"Aku gak mau maafin!" ujar Fidyah.

"Jangan gitu dong. Tunggu sini deh aku beliin es krim dulu" ujar Xavier.

"Cepetan sana!" ujar Fidyah.

"Giliran es krim cepet banget responnya!"

"Udah cepetan sana gue ngambek lagi nih!"

"Iyaiya tungguin!" Xavier pergi ke salah satu toko yang menjual es krim di samping jalan raya dekat taman. Ia membeli 2 es krim cokelat kesukaan Fidyah.

Xavier menyebarang jalan yang ramai dan padat dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sore ini para pejalan kaki terlihat ramai dari sebelumnya. Xavier membawa 2 es krim cokelat dan duduk kembali ke bangku taman di sebelah Fidyah.

"Nih es krimnya!" ujar Xavier memberikan es krim.

"Makasih" kata Fidyah tersenyum.

Mereka bersantai sore ini dan menggenggam es krim di taman kota dengan percakapakan yang hangat membuat Xavier tersenyum dan sedikig melupakan konflik keluarganya. Ia senang bertemu dengan Fidyah, temansejak SMP nya itu. Mereka menatap langit yang sedikit demi sedikit merubah warna dari kebiruan menjadi jingga. Suara pengajian di masjid mulai terdengar. Mereka berdua menuju masjid yang dekat dari taman, untuk sholat maghrib secara berjamaah.

***

Setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagia seorang muslim. Mereka kembali pulang kerumah mereka masing-masing. Xavier mengantar Fidyah dengan motornya.

Perjalanan mulai terasa dingin, Xavier telah sampai di depan gang rumah Fidyah.

"Makasih" ujar Fidyah turun dari kendaraan dan tersenyum.

"Aku yang berterima kasih," ujar Xavier.

"Terserah deh, aku tau kamu bahagia sore tadi bersamaku!" ujar Fidyah.

"Itu kamu tau," tawa kecil Xavier.

"Aku mau masuk dulu, hati-hati yah! Ingat besok ya!" ujar Fidyah.

"Iya aku ingat. Kamu harus bangun cepat besok jangan kesiangan terus!"

"Ih siapa bilang aku sering kesiangan?"

"Emang biasanya gitu"

"Itu saat libur aja. Kamu mungkin yang sering kesiangan!"

"Siapa bilang? Aku bangun cepat terus!"

"Waktu itu kamu di hukum karena terlambat!"

"Baru sekali juga!"

"Ngomong ama kamu nih gak ada habisnya!"

"Ya udah habisin"

"Ih kamu nih nyebelin, aku mau masuk dulu"

"Ya udah masuk sana"

"Kamu belum mau pulang?"

"Belum"

"Kenapa?"

"Yah gak apa-apa"

"Gak jelas nih anak, beneran kamu belum mau pulang?"

"Khawatir ya? Hahha"

"Gak kok, biasa aja, aku masuk dulu"

"Ya udah masuk aja, dari tadi gak masuk-masuk.!" ujar Xavier dan Fidyah masuk kedalam rumahnya melambaikan tangan kepada Xavier.

Xavier tersenyum, ia menyalakan kendaraannya dan melajukannya. 'Semoga besok perasaanya sama seperti sore dan malam ini' pikirnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
8.4
Kehancuran bisnis dan pernikahan sang mantan membuat hidup Shiloh Jung terpuruk. Demi memulihkan diri, ayahnya mengirim Shiloh berlibur ke luar negeri. Di sanalah ia bertemu Edward Leung yang penuh misteri. Keduanya lalu sepakat menjelajahi Rusia sebagai sepasang kekasih tanpa membongkar identitas asli, dengan janji akan bersatu jika takdir mempertemukan mereka kembali. Namun, setahun berlalu, Edward justru berpura-pura tidak mengenalnya. Rahasia besar apa yang disembunyikan pria itu?
Sampul Novel Hakikat Cinta
9.5
Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia, terpikat oleh pesona Latifah Nur Aisyah, gadis muslimah sederhana dari desa. Walau awalnya tidak mendapat respons, kegigihan Alan berhasil memikat hati Latifah. Mereka pun hanyut dalam asmara remaja yang menggebu, hingga mengabaikan perbedaan keyakinan di antara mereka. Kini, jurang perbedaan agama itu menjadi penghalang besar yang nyata. Sanggupkah mereka bertahan ketika cinta telah membutakan segalanya?
Sampul Novel ISTRI YANG KUCAMPAKAN TERNYATA WANITA SUKSES
9.6
Kehidupan Dira hancur seketika saat mengetahui suaminya telah berselingkuh. Luka itu terasa kian mendalam karena perempuan selingkuhan sang suami adalah adik kandungnya sendiri. Di tengah puing-puing pengkhianatan dan rumah tangga yang runtuh, Dira dipaksa menghadapi kenyataan pahit setelah dicampakkan. Kini, ia harus berjuang sendirian untuk bangkit, menata kembali hidupnya yang penuh rintangan, dan membuktikan kekuatannya demi meraih kesuksesan baru.
Sampul Novel Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi
9.4
Niat awal untuk sekadar belajar mengemudi berubah menjadi situasi menegangkan bagi seorang istri. Di dalam mobil latihan, ia terus kesulitan menginjak pedal kopling dengan benar. Pak Peter, sang instruktur mengemudi yang juga merupakan teman dekat suaminya, mengambil tindakan ekstrem dengan menyuruhnya duduk di pangkuannya. Situasi kian tak terkendali karena ia mengenakan rok pendek tanpa celana pengaman, sementara sang instruktur justru sengaja melakukan kontak fisik yang sangat intim dan terlarang di sana.
Sampul Novel Mencintai ayah angkat ku
8.6
Adam memendam obsesi kelam pada Hana, anak angkat yang dirawatnya sejak kecil. Ketika Hana berniat menyudahi hubungan tabu ini agar Adam bisa bahagia bersama perempuan lain, kemarahan Adam memuncak hingga berujung kekerasan. Ia berjanji tak akan membiarkan lelaki lain memiliki Hana. Di tengah konflik batin dan penolakan moral, Adam tetap memaksakan perasaan egoisnya. Sanggupkah ikatan penuh derita ini bertahan dari tentangan dunia?
Sampul Novel Suami Mokondoku Membawa Madu
9.7
Rumah tangga Mira hancur setelah Puri, suaminya yang selama ini hidup dari nafkahnya, nekat membawa selingkuhan ke rumah. Kepedihan Mira kian mendalam karena putra mereka menyaksikan sendiri kemesraan sang ayah dengan wanita lain di kamar. Menghadapi pengkhianatan besar ini, Mira berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus memilih antara bertahan demi pernikahan, atau pergi demi menyelamatkan kesehatan mental serta harga dirinya.