APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Rich Sugar Baby

The Rich Sugar Baby

Dunia Alenia runtuh sejak ibunya tiada, diperparah oleh sang ayah yang abai setelah menikah lagi. Luka hatinya kian menganga saat tunangan yang sangat ia percayai justru tega berkhianat. Enggan terus terjebak dalam hubungan beracun yang merusak mentalnya, Alenia nekat mengambil langkah ekstrem demi keluar dari penderitaan tersebut. Ia memutuskan untuk menjalin asmara dengan seorang pria dewasa yang memiliki perbedaan usia hingga tiga belas tahun lebih tua darinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiba di rumah, Sang Ayah langsung menderanya dengan pertanyaan tajam. "Ale, apa maksud dari foto yang kau kirimkan itu?"

Alenia menoleh sekilas. Disisi ayahnya berdiri ibu tiri yang sangat ia benci.

"Kenapa tidak bertanya pada anak istri ayah saja?" Ujar Alenia sinis dan kembali melangkahkan kakinya.

"Ale, Amora tidak mungkin melakukan semua itu. Tolong jangan buat nama adikmu jelek dihadapan ayahmu." Ibu tiri Alenia menyela dengan wajah melasnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang biasa ia lihat setelah orang yang dianggap teman oleh ibunya itu tinggal bersama mereka di rumah mendiang ibu kandungnya.

"Maaf, Nona Julia." Alenia berbalik, berjalan beberapa langkah mendekati ayah dan ibu tirinya dengan bersedekap tangan.

"Sepertinya Amora tak memiliki cela di mata kalian, namun jangan lupa bahwa dia juga manusia!" Tegas Alenia.

"Jangan bertele-tele, Ale. Katakan yang sebenarnya!" Desak Ayah Alenia.

"Mereka berselingkuh! Amora dan Mark!" Tegas Alenia setenang mungkin. "Mereka berselingkuh di belakangku!"

"Tidak mungkin!" Julia kembali menyela, menentang tuduhan Alenia pada putrinya dengan nada tinggi.

"Ya, memang tidak!" Kata Alenia kemudian. Kini ayahnya dan Julia menatap bingung padanya.

"Menurut pengakuan Amora, mereka sudah berkencan lebih dari dua tahun ini. Itu berarti akulah orang ketiga dalam hubungan mereka. Namun yang menjadi pertanyaan besar dalam benakku adalah, kenapa Amora bisa menerima begitu saja saat kekasihnya menyatakan cinta kepada wanita lain, bahkan melamarnya. Dan itu terjadi di depan semua orang, saat acara penting dengan semua kolega ayah. Dia bodoh atau memang wanita murahan?!" Tukas Alenia tajam.

"Ale, jaga bicaramu! Bagaimanapun Amora adalah adikmu!" Teriak Julia tak terima ketika Alenia menyematkan kata tak pantas pada Amora.

"Kau yang harus menjaga putrimu dan dirimu disini!" Sergah Alenia dengan sorot mata tajam. "Satu hal lagi, keturunan Lorca hanya aku seorang! Jadi, berhenti menyebut dia sebagai adikku karena aku tidak memiliki adik!"

"Ini adalah rumah ibuku yang telah diwariskan kepadaku. Jika aku mau, aku bisa mengusir kalian bertiga disini. Jadi, jangan berlagak bahwa kau adalah Nyonya di rumah ini, kau hanya istri ayahku dan hanya itu peranmu disini!" Tegas Alenia.

"Ale, kau sudah melewati batasmu." Ayah Alenia menyela, mendekati putrinya itu dengan wajah lemah.

"Lalu bagaimana dengan Ayah? Ayah bahkan hanya sebuah panggilan tanpa tanggung jawab dan tugasnya sebagai seorang ayah yang sebenarnya," lirih Alenia.

Keduanya saling memandang tajam, Alenia tidak ingin diam lagi. Ia sudah bosan menghadapi tingkah manusia-manusia dengan topeng mereka masing-masing.

"Jika Ayah tidak senang, maka Ayah bisa pergi dari rumah ini. Bawa serta istri dan anak Ayah yang munafik ini menjauh dariku," tukas Alenia.

"Nak, jangan hanya karena patah hati kau berubah menjadi anak durhaka!" Kata Sang Ayah menasihati.

Alenia tersenyum kecil, "Aku patah hati? Yang benar saja, Ayah?" Sinis Alenia.

"Untuk apa aku patah hati pada pria seperti Mark yang mengkhianatiku dengan wanita murahan seperti Amora."

Julia maju hendak menampar Alenia namun dengan cepat Ayah Alenia menghalangi.

"Kau tidak terima anakmu disebut sebagai wanita pramuria?" Tanya Alenia tajam. "Lalu sebutan apa yang pantas untuknya? Wanita jalang?!"

"Suamiku, dia sudah benar-benar keterlaluan!" Kata Julia mendesak Ayah Alenia untuk melakukan sesuatu pada Alenia.

Alenia tertawa keras mendengarnya.

"Jika kalian masih ingin berada di rumah ini, maka jaga sikap kalian. Jangan memancing kegilaanku keluar yang akan membuat kalian bertiga berakhir sengsara!" Ancam Alenia. Setelah mengatakan semua itu, Alenia berlalu meninggalkan keduanya.

***

Udara sejuk masih terasa menyentuh kulit. Embun pagi masih menghiasi dedaunan. Sayup-sayup terasa belaian sinar matahari pagi. Alenia membuka perlahan matanya setelah tidur lelapnya terganggu oleh suara ketukan pintu yang cukup keras. Ia beringsut dengan malas, beranjak dan menjalan mendekati pintu.

Alenia membuka pintu dengan wajahnya yang masih mengantuk.

"Nona, Tuan Javer sudah menunggu di ruang sarapan bersama. Ada Tuan Mark juga," kata Pelayan memberitahu dengan menyebut dua nama pria yang sedikit menurunkan semangatnya hari ini.

"Katakan pada mereka agar tidak menungguku, aku akan sarapan di kantor!"

Alenia menutup pintu dengan cepat, menarik nafas panjang sebelum akhirnya berlalu menuju kamar mandi.

Tiga puluh menit berlalu, Alenia sudah selesai dengan rutinitas paginya. Kini ia bersiap untuk pergi ke kantor, namun siapa sangka dirinya langsung disuguhi dengan pemandangan yang tak mengenakan.

Di ruang tamu, Mark masih duduk dengan setia menunggunya. Di sana juga ada Javer, adik dan ibu tirinya. Alenia sudah tahu apa yang akan mereka bahas kali ini dan itu membuat Alenia jengah.

Alenia berjalan menuruni anak tangga, mengabaikan wajah-wajah manusia munafik yang ada di sudut matanya. Melihat keberadaan Alenia, Mark segera berdiri dan mendekatinya.

"Ale, ayo bicara." Mark menahan tangan Alenia di depan Amora dan Amora hanya diam saja melihat semua itu. Benar-benar tidak masuk akal.

Alenia tak menggubris kata-kata Mark, ia menepiskan tangan Mark dan  berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun ketika hendak keluar dari ruang tamu, Alenia berbalik.

"Ayah tidak bekerja? Perusahaan tidak membayar Ayah untuk ongkang kaki saja," ujar Alenia. Setelah mengatakan itu Alenia benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.

Javer berdiri, menghampiri Mark dan langsung menyerangnya dengan sebuah tatapan tajam.

"Pertunangan kalian sudah tersiar kemana-mana. Waktunya hanya tinggal beberapa minggu lagi dan kini Ale tidak ingin melanjutkannya. Akan ditaruh dimana wajahku ini?!" Teriak Javer dengan keras.

Mark hanya diam, sama seperti Javer Lorca ia pun mulai kebingungan dengan keputusan yang Alenia buat.

"Jika sampai hal ini tersiar ke media dan merugikan saham perusahaan, maka kau dan Amora akan menanggung akibatnya!" Ancam Javer.

Javer berlalu, berniat menyusul Alenia namun sayangnya Alenia sudah lebih dulu pergi. Alhasil, ia hanya bisa melangkah gontai menuju mobil mewahnya.

Tiba di kantor, Alenia sudah disambut dengan sekretarisnya, Rebecca.

"Nona, sample undangan pertunangan anda sudah di kirim ke surel anda. Mereka ingin anda memeriksanya." Kata Rebecca pada Alenia.

Alenia memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang nyeri menyerang ulu hatinya. Perasaan itu tidak mudah diakhiri begitu saja seperti ia mengakhiri hubungannya dan Mark. Terlebih kini masih ada sisa-sisa masalah yang harus diselesaikan olehnya.

"Buatkan aku kopi, bawakan sarapan juga. Aku akan memeriksanya sekarang," ujar Alenia.

Rebecca mengangguk cepat, lalu pergi untuk melakukan apa yang Alenia minta. Sepeninggal Rebecca, Alenia segera membuka email yang dimaksud. Senyum getir berada dibibirnya kini ketika ia melihat namanya bersanding dengan Mark di dalam sample undangan itu.

Lama Alenia memandangi sample undangan tersebut, tiba-tiba otaknya bekerja sedikit jahil. Ia mengubah namanya di dalam undangan tersebut, menggantinya dengan nama Amora berikut dengan foto yang ia dapatkan tadi malam.

"Ya, foto ini sangat cocok untuk mereka berdua yang haus belaian." Alenia tersenyum kecil sebelum mengirimkan hasil koreksinya pada pihak Event Organizer. Alenia menutup percakapan di surelnya tersebut.

***

Siang hari, sesuatu mengejutkan terjadi. Pintu ruangan Alenia dibuka dengan keras. Tak lama Mark datang dari belakang pintu yang membuat Alenia mengerutkan dahinya cukup dalam.

"Ale, apa maksudnya ini?!" Teriak Mark seraya melemparkan sesuatu kepada Alenia.

Alenia masih bingung, ia meraih benda yang dilemparkan Mark tersebut yang ternyata itu adalah undangan pernikahan mereka yang telah diubah olehnya tadi pagi.

"Apa? Kenapa? Apa ada yang salah?" Ujar Alenia tenang sambil meletakkan undangan tersebut di atas meja kerjanya.

"Aku tidak akan pernah menikah dengan Amora, yang aku cintai hanya kau, Ale!" Kata Mark menekankan setiap kata-katanya.

Alenia berdiri dari tempatnya, kini semua rasa kagum, cinta serta rasa hormatnya pada Mark benar-benar hilang seketika setelah melihat bagaimana sikap Mark yang sebenarnya.

Langkah kaki Alenia berhenti tepat di depan Mark. Matanya menatap penuh jijik pada sosok yang pernah menggetarkan hatinya itu.

"Aku tidak peduli siapa yang kau cintai, namun jika ingin baik-baik saja maka kau harus menikah dengan Amora seperti yang aku sarankan ini." Kata Alenia dengan mudahnya. Seolah pernikahan hanyalah sebuah permainan yang bisa diikuti atas perintah siapapun.

"Tidak penting apakah pernikahan kalian itu terjadi atas dasar suka sama suka, karena kini yang harus kau selamatkan adalah nama baikmu!" Tambah Alenia.

"Tapi tidak dengan menikahi Amora, Ale. Aku tidak bisa, aku hanya ingin menikah denganmu." Tangan Mark ingin meraih tangan Alenia, namun Alenia menolak dengan melangkah mundur.

"Dan aku tidak akan pernah menikah pada seseorang yang telah menyia-nyiakan aku," jawab Alenia lugas.

"Berikan satu hukuman untukku," kata Mark kemudian. Wajahnya menatap penuh harap pada Alenia. "Kau boleh memukulku, menendangku atau menamparku. Tapi jangan batalkan pernikahan kita."

Alenia tersenyum kecut, "Aku tidak pernah menyangka jika kau bukan pria sejati, Mark!"

"Bagaimana bisa seorang pria mengubah perasaannya dengan begitu cepat? Tadi malam kau dengan liarnya memagut bibir Amora, namun siang ini kau mengatakan tidak mencintainya. Harus dengan apa aku menyebutmu, hah?" Sarkas Alenia.

"Terserah! Kau boleh memanggilku pecundang atau apapun itu, aku tidak peduli! Tapi jangan batalkan pernikahan kita," pinta Mark.

Alenia menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak tahu lagi harus bicara apa pada Mark setelah semua penuturannya tersebut.

"Apa kau pikir aku akan menikah dengan seorang pecundang yang sudah mempermainkan perasaanku? Apa kau pikir aku sebodoh Amora yang akan menerima kau lagi setelah pengkhianatan ini? Naif sekali dirimu!" Kata Alenia tajam.

Tangan Alenia bergerak meraih gagang telepon yang ada di atas meja kerjanya. Matanya masih menatap lekat nan sinis pada Mark yang masih berdiri dihadapannya itu.

"Panggil penjaga keamanan kemari, bawa tamu tak diundang ini keluar dari ruanganku!" Kata Alenia bicara pada Rebecca melalui panggilan telepon.

"Ale, tolonglah. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi." Mark terus mengiba pada Alenia, namun Alenia mengabaikannya. Ia bahkan sudah kembali ke kursi kebesarannya kini hingga dua orang penjaga keamanan beserta Rebecca datang.

"Lain kali jangan terima dia untuk masuk ke ruanganku. Apapun alasannya!" Tangan Alenia mengayun pelan, memberikan gerakan isyarat untuk membawa Mark keluar dari ruangannya dengan cepat. Dan tak perlu menunggu lama, Mark pun keluar dengan sendirinya dari ruangan Alenia.

Alenia menarik nafas panjang setelah Mark keluar dari ruangannya. Dadanya sedikit sesak, ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya akan baik-baik saja dengan kandasnya hubungannya dan Mark. Ia sangat mencintai Mark, mempercayai Mark dengan sepenuh jiwa. Baginya Mark adalah separuh jiwa dan raganya. Namun kini Mark mengkhianatinya. Hatinya remuk.

"Sebesar apapun rasa cintaku padamu, aku akan membunuhnya!" Lirih Alenia.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjebak kontrak rumit yang memaksanya memata-matai seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tak terduga mengubah segalanya. Kini, nasib Alexa terjepit di antara dominasi dua CEO berkuasa sekaligus. Terperangkap dalam situasi berisiko tinggi ini, ia harus menghadapi kendali kedua pria tersebut sambil menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya serta tekanan emosional yang intens.
Sampul Novel Cinta Sang Majikan
9.7
Saat Amber Aileen nyaris menyerah pada hidup akibat luka masa lalu, Gavin Austin datang menyelamatkannya. Di balik reputasinya yang kejam, pria itu justru memperlakukan Amber dengan penuh kehangatan. Hubungan mereka memicu murka dari ibu serta tunangan Gavin. Keadaan kian rumit setelah sebuah malam intim menyatukan mereka hingga Amber berbadan dua. Namun, di tengah harapan baru itu, sebuah kabar mengejutkan dari Gavin mengancam janji manis yang pernah ia ucapkan.
Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Pasca kecelakaan maut merenggut Elzien Kagendra, Shifra yang sebatang kara malah diperlakukan layaknya pembantu oleh mertuanya. Nasib membawanya pada peristiwa satu malam yang berujung pernikahan dengan adik iparnya sendiri. Namun, saat Shifra telah melahirkan anak mereka, Elzien yang dikira sudah tewas mendadak kembali. Shifra kini didera dilema hebat antara cinta pertamanya atau suami kedua sekaligus ayah dari bayinya.
Sampul Novel Kembalinya Marsha yang Tercinta
9.5
Pasca didepak dan direndahkan karena terbukti bukan putri kandung, Marsha difitnah sebagai anak petani oleh pewaris asli yang culas. Padahal, ayah kandungnya adalah miliarder nomor satu, lengkap dengan saudara-saudara hebat yang siap memanjakannya. Marsha sendiri sebenarnya pengusaha mandiri yang sukses. Begitu mantan kekasih yang angkuh mendepaknya, sesosok pria misterius yang sangat berpengaruh hadir melindunginya sekaligus membungkam semua orang yang pernah menghinanya.
Sampul Novel Keputusasaan Di Balik Pernikahan
7.9
CEO dingin Jerald Lucas sangat mencintai Clara Rernald, istrinya. Namun, citra suami idaman itu runtuh seketika saat skandal perselingkuhan akibat pengaruh racun menjebak Jerald tepat di hari jadi pernikahan ketujuh mereka. Walau Jerald bersujud memohon maaf dan berjanji setia, hati Clara terlanjur hancur melihat bukti pengkhianatan di kamar mereka. Upaya penebusan dosa sang CEO pun sia-sia karena sebuah foto misterius akhirnya memicu Clara untuk pergi selamanya.
Sampul Novel Kesetiaan Yang Dikhianati
8.6
Sembilan tahun pernikahan Lily hancur saat ayah David wafat dan meninggalkan wasiat mutlak: David harus memiliki anak dengan Elvy demi mencairkan warisan keluarga miliarder tersebut. Lily terpaksa menyaksikan pengkhianatan suaminya yang membawa Elvy ke rumah mereka sendiri. Dengan janji manis pernikahan kembali setelah harta cair, David terus menemui Elvy, menandai setiap pertemuan mereka dengan bunyi lonceng di pintu yang kini telah berdentang sembilan puluh sembilan kali.