APKDock Logo
Sampul Novel Tetangga Manisku

Tetangga Manisku

9.3 / 10.0
Erick menjalani pernikahan yang dingin sampai ia merasakan kebahagiaan lewat kekasih virtualnya. Ternyata, sosok di balik dunia maya itu adalah Nana, tetangga barunya sendiri. Nana memiliki trauma mendalam untuk menikah lagi akibat dicap pembawa sial setelah kehilangan dua suaminya. Meski awalnya hubungan digital mereka hanya untuk kesenangan instan, pertemuan nyata ini mengubah segalanya. Dua jiwa yang penuh luka ini pun mulai saling menyembuhkan dan mengubah takdir hidup mereka.

Tetangga Manisku Bab 1

"Alvin!" Erick memanggil putranya yang baru berusia sepuluh tahun.

Dia sudah bersiap hendak berangkat ke kantor sekalian mengantarkan sang putra pergi ke sekolahnya. Erick memindai carport dan sekitarnya mencari keberadaan putra tunggalnya itu. Namun cukup lama bocah laki-laki itu tak menampakkan batang hidungnya.

"Hadew Alvin! Itu kucing siapa? Turunin, nanti baju seragam kamu kotor lho!" Teriakan Tania, istrinya, dari halaman samping rumahnya mengejutkan Erick.

Setengah berlari Erick mendatangi keduanya. Tampak Alvin tengah menggendong seekor kucing berbulu putih dan bermata biru dengan senang. Sementara Tania membujuknya untuk melepaskan kucing itu.

"Nggak kotor kok Mi. Kucing Tante Nana bersih semua kok." Protes Alvin dengan polosnya.

Mendengar jawaban putranya, Tania hampir saja meledak dalam kemarahan. Ditariknya kucing itu dari gendongan Alvin. Seketika kucing itu mengeong keras.

"Meow meow!" Kucing itu meronta hendak melepaskan diri dari dekapan Alvin, namun Alvin memegangnya erat-erat.

"Tania! Biarkan saja dulu!" Erick menegur istrinya, saat melihat Tania hendak menarik kucing itu lagi.

"Ih Papi! Lihat tuh, bulu-bulunya bikin kotor seragam Alvin." Sungut Tania kesal, namun tidak berani membantah ucapan Erick barusan.

Erick melirik Tania, dan seketika wanita itu terdiam. Lirikan tajam Erick mengisyaratkannya untuk tidak lagi berbicara.

"Alvin sudah siang lho! Nanti terlambat ke sekolah. Lepasin kucingnya ya." Erick berjongkok di depan putranya dan membujuknya dengan lembut.

"Kasihan Omil Pi." Alvin membelai kucing putih berjenis himalayan itu dengan hati-hati.

Erick dapat melihat keakraban putranya dengan kucing lucu itu. Selama beberapa hari ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga kurang memperhatikan perkembangan putra tunggalnya. Bahkan tidak tahu sejak kapan putranya menyukai hewan berbulu itu.

"Omil namanya? Alvin tahu siapa dan di mana rumah yang punya Omil?" Erick kembali menanyai putranya dengan lembut.

"Tahu Pi!" Sahutnya dengan mantap.

"Oke, karena sudah siang, kita antar Omil ke rumah yang punya sekalian berangkat sekolah." Erick menyentuh puncak kepala Alvin dengan lembut.

"Oke Papi!" Serunya dengan riang.

"Salam Mami dulu." Bisik Erick pelan.

"Mami, Alvin berangkat sekolah dulu ya." Dengan ragu Alvin mengulurkan tangannya.

Tania hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya yang segera di sambut tangan gemuk Alvin dan kemudian diciumnya dengan takzim. Namun Tania bersikap acuh tak acuh seakan tidak peduli.

"Berangkat dulu ya!" Erick mengecup kening Tania sebelum menggandeng Alvin ke carport.

Tania hanya mengangguk kaku dan melambaikan tangan dengan enggan. Kemudian dia segera masuk ke dalam rumah tanpa mengantarkan suami dan putranya setidaknya hingga pintu gerbang.

Erick menghela napas kasar dan menyugar rambutnya yang sudah tersisir rapi hingga berantakan lagi. Situasi seperti ini sudah menjadi santapan kesehariannya semenjak Erick memutuskan untuk menyekolahkan Alvin di sekolah umum tiga tahun lalu. Tania selalu bersikap acuh tak acuh kepadanya juga pada putra mereka, Alvin.

"Di mana rumah pemilik Omil Vin?" Erick membuka pintu mobil dan membiarkan Alvin duduk di kursi depan.

"Itu di sebelah rumah kita. Tante Nana yang punya Omil." Alvin menunjuk rumah di sebelah rumah mereka.

"Oke nanti kita mampir." Erick duduk di belakang kemudi siap untuk segera meluncur.

"Nana?" Gumamnya dalam hati.

Nama yang baru saja disebutkan putranya, menghadirkan debaran di hatinya. Sebuah nama yang sederhana dan pasaran namun pernah membuatnya begitu memuja. Bahkan hingga kini nama itu kerap membuat hatinya berbunga-bunga.

"Ah mungkin hanya kebetulan saja. Nggak mungkin dia." Masih gumamnya dalam hati.

Dengan hati-hati Erick mengemudikan mobilnya, keluar dari halaman rumah mereka. Perlahan-lahan mobil melaju dan berhenti di depan rumah di sebelah mereka.

"Ini rumahnya?" Erick menatap putranya memastikan mereka tidak salah alamat mengantarkan kucing Himalaya itu.

Alvin mengangguk mantap. Erick tersenyum membelai kepala putranya dengan sayang.

"Alvin berani kan mengantarkan Omil sendiri? Papi tunggu di sini."

"Oke Pi!" Alvin mengangguk dan segera turun dari mobil dan berlari menuju rumah mungil yang nampak asri.

Erick mengawasi putranya tanpa lengah sedikit pun. Nampak Alvin membuka pintu gerbang dan berbicara dengan seseorang. Kemudian putranya itu segera berlari kembali ke mobil.

"Sudah?" Erick tersenyum melihat putranya nampak bergembira.

"Iya Pi. Tapi bukan Tante Nana tadi, pembantunya." Sahut Alvin.

"Oh, nggak apa-apa. Yang penting Omil sudah pulang ke rumahnya." Erick bersiap kembali mengemudikan mobilnya.

Saat bersiap hendak berputar arah, nampak seorang wanita dari rumah pemilik Omil melambaikan tangan ke arah mereka. Erick menghentikan mobilnya, membiarkan wanita itu mendekat.

Wanita itu mengetuk kaca jendela mobil dan Alvin segera membukakan jendela untuknya. Erick seketika membeku saat melihat dengan jelas wanita berambut panjang itu. Sesosok yang sangat familiar baginya namun rasanya mustahil jika dia ada di hadapannya sekarang.

Begitu pun dengan wanita itu yang menatap Erick tak berkedip. Namun hanya sejenak, wanita cantik itu tersenyum dan beralih menatap Alvin. Namun Erick dapat menangkap kilatan keterkejutan dalam tatapannya barusan.

"Alvin terimakasih ya sudah anterin Omil. Ini ada kue untuk Alvin." Wanita itu mengulurkan sebuah kotak padanya.

Alvin menatap Erick seakan-akan bertanya apakah boleh menerima kue dari wanita itu. Erick menganggukkan kepalanya pertanda mengijinkannya.

"Terimakasih Tante!" Alvin menerima kotak kue itu dengan riang.

Bocah itu tersenyum dengan polos memamerkan gigi putihnya tanpa menyadari kedua orang dewasa di dekatnya tengah saling menatap dengan canggung.

"Kami berangkat dulu. Terimakasih!" Erick berpamitan dengan canggung setelah cukup lama bersitatap dengan wanita itu.

"Hati-hati!" Wanita itu bergumam lirih dan melambaikan tangannya saat Alvin menutup jendela mobil.

Erick melirik spion dan melihat wanita itu masih berdiri di tepi jalan menatap mobilnya yang semakin menjauh.

"Ya Lord, caramu bercanda sungguh di luar dugaan!" Kembali Erick bergumam dalam hati.

Dipertemukan dengan seseorang yang tak pernah diduganya. Bahkan bermimpi pun tidak pernah. Namun Erick yakin, yang barusan bukanlah halusinasinya saja. Itu benar-benar nyata.

Sementara Alvin memandangi kotak kue di pangkuannya dengan takjub. Perhatian Erick kembali teralihkan pada putranya itu. Alvin hampir tidak pernah membawa bekal dari rumah.

Tania hanya beberapa kali membuatkan bekal dan tidak lagi membuatkan bekal untuknya saat dokter keluarga memberikan daftar menu dan bahan-bahan makanan yang aman dikonsumsi Alvin.

"Ribet banget sih Pi!" Keluh Tania waktu itu.

Sebelumnya Alvin sekolah di sekolah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tania tidak pernah repot dengan urusan bekal karena semua sudah difasilitasi pihak sekolah.

Erick memutuskan untuk memindahkan pendidikan putranya ke sekolah umum setelah Alvin memasuki usia pendidikan dasar. Tania sangat menentang keputusan Erick dengan alasan yang tidak jelas.

"Alvin mau bawa bekal ke sekolah?" Erick bertanya pada putranya yang masih terpaku menatap kotak kue di pangkuannya.

"Mau Pi. Semua teman Alvin membawa bekal." Alvin mendongak menatap Erick penuh harap.

Erick menghela napas pelan. Sungguh dia tidak mengerti dengan Tania, bagaimana dia bisa tidak menyiapkan bekal untuk putra mereka.

"Oke, mulai besok papi siapkan bekal untuk Alvin." Erick membelai kepala putranya dengan lembut.

"Are you serious Pi?" Alvin membulatkan mata menatap Erick tak percaya.

"Sure!" Erick tergelak melihat reaksi putranya.

Alvin tersenyum dan mengangkat tangannya mengajak sang ayah untuk ber-high five. Erick tertawa dan mengacungkan tinjunya di sambut kepalan tangan Alvin.

Erick kembali fokus mengemudikan mobilnya hingga sampai di sekolah Alvin. Bocah itu segera membuka pintu mobil dan setelah berpamitan padanya, berlari membaur dengan teman-teman sebayanya.

Erick memperhatikannya hingga putranya masuk ke halaman sekolah bersama teman-temannya. Setelah itu, Erick memutar mobilnya dan melanjutkan perjalanannya menuju tempatnya bekerja.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tetangga Manisku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali berturut-turut di arena justru berujung pengkhianatan dari Roderick. Sang tunangan tega bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick sirna seketika demi menyatakan cinta pada wanita lain di depanku. Kecewa, aku langsung menghubungi ayahku, sang bos mafia besar. Kupastikan pernikahan kami batal karena aku akan mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Neva terpaksa bertahan hidup di tengah tekanan batin yang begitu menyiksa. Hubungan yang penuh ketimpangan ini menuntut pengorbanan luar biasa dari Neva, yang rela melakukan apa saja demi keselamatan buah hatinya tercinta.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia memeluk Evelyn dan membisikkan janji manis yang dulu sering ia katakan padaku. Melalui tatapan matanya yang sangat dingin, Brama menegaskan bahwa pernikahan kami hanyalah sebuah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram setelah lamaran perjodohannya ditolak mentah-mentah. Alasan pria itu sungguh klasik, yaitu karena mereka belum saling mengenal. Sambil menggerutu dan mencap calon suaminya sebagai lelaki tua yang menjengkelkan, sebuah ide licik tiba-tiba muncul di benak Yuki. Senyum penuh arti pun tersungging di bibirnya. Ia kini menyusun sebuah rencana cerdik untuk memberi pelajaran berharga bagi pria sombong tersebut.
Sampul Novel Rahasia Gelap Sang Kekasih
9.5
Kehidupan tenang sang protagonis terusik di tengah malam saat sebuah notifikasi pesan membangunkannya dari tidur. Kiriman video dari sahabatnya memperlihatkan seorang wanita bergaun tipis ketat yang menari dengan anggun. Namun, perhatiannya teralihkan ketika ia melihat sekilas warna ungu di balik gaun tersebut. Keingintahuan berubah menjadi keterkejutan yang mendalam saat ia menyadari bahwa pakaian dalam yang dikenakan wanita dalam video itu sangat identik dengan milik kekasihnya sendiri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan