
Tersadar dari Mimpi, Aku Memutuskan untuk Meninggalkannya
Bab 4
“Sienna, aku cuma mau tebus kesalahanku.” Levin berkata dengan suara berat, “Aku yang salah atas apa yang terjadi di pernikahan kita. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendiri. Yang dikatakan Lestari benar. Biar bagaimana pun, kamu itu istri yang kuakui kepada publik. Aku harus kasih tanggapan. Kalau nggak, hidupmu ke depannya akan sangat sulit.”
“Jadi, ini juga ide Lestari?” tanyaku sambil mendongak untuk menatapnya.
Levin mengangguk dan menjawab, “Lestari juga memikirkanku. Kamu harus tahu ....”
“Cukup!” Aku menyela, “Tak disangka, seorang presdir seperti Pak Levin bisa berpikir begitu menyeluruh karena mendengar arahan seorang gadis. Levin, kalau kamu benar-benar merasa bersalah padaku, jangan ikut campur dalam hal ini lagi, oke?”
Levin mengerutkan keningnya dan menjawab, “Kenapa kamu punya prasangka seburuk itu terhadapnya? Di hari pernikahan ....”
“Jangan ungkit soal pernikahan kita lagi! Ibuku meninggal di hari itu dan itu akan tinggalkan rasa sakit di hatiku selamanya! Aku nggak ingin memaafkanmu! Aku hanya harap kamu bisa jaga jarak denganku. Kita pisah baik-baik, ya? Kamu nggak usah peduli sama urusanku. Kita akhiri saja pernikahan ini. Untung juga kita belum buat akta nikah. Kalau nggak, kita masih harus urus perceraian lagi.”
Aku sangat bersyukur aku dan Levin tidak langsung membuat akta nikah. Ini juga karena bantahan kuat Lestari. Aku tahu dia berbuat begitu karena takut aku benar-benar menjadi istri Levin dan dia tidak bisa membalikkan situasinya kelak. Jadi, dia baru membujuk Levin untuk menunda membuat akta nikah.
Sekarang, aku merasa gembira, tetapi Levin malah merasa tidak senang. Aku tidak peduli pada perasaannya dan langsung mengambil kotak abu itu dari tangannya. Namun, dia malah menahannya dengan kuat.
“Kita putuskan begini saja. Setelah upacara pemakaman ini, aku akan kembalikan kebebasanmu.”
Aku tidak bisa berdebat dengannya. Jadi, aku langsung berlutut di depannya. Melihat aku berbuat begitu, dia langsung tercengang.
“Pak Levin, aku mohon kembalikan kebebasanku. Ibuku seharusnya nggak mau diperalat kamu seperti ini, juga nggak ingin mengadakan upacara pemakaman mewah seperti instruksimu. Dia itu cuma ibuku seorang! Levin, aku mohon padamu. Tolong kabulkan permintaanku demi aku yang sudah pernah donorkan sumsum tulang belakangku 2 kali!”
Kepalaku terasa pusing. Sejak mendonorkan sumsum tulang belakang, aku masih belum sempat beristirahat dan langsung datang ke tempat ini. Sekarang, seluruh tenagaku sudah terkuras habis.
Levin menatapku dengan ekspresi yang lebih santai. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Aku melirik ponselnya dan melihat nama Lestari. Firasat buruk seketika merayapi hatiku.
Seusai menerima telepon itu, Levin berubah menjadi seperti semula dan berkata dengan tegas, “Kita putuskan begini saja. Jangan dilanjutkan lagi. Sienna, istirahatlah dengan baik. Serahkan sisanya padaku.”
Levin menyerahkan kotak abu itu kepada orang di sisinya, lalu menyeretku masuk ke mobil. Dia tidak peduli pada reaksiku dan membawaku kembali ke vila.
Baru saja aku turun dari mobil, Lestari buru-buru menghampiriku dan berkata, “Sienna, akhirnya kamu pulang juga. Aku bilang ke Levin kami harus tebus kesalahan kami terhadap Bibi. Jadi, biarkan aku yang urus upacara pemakaman kali ini, ya?”
Dia benar-benar membuatku marah hingga kepalaku terasa sangat pusing. Aku pun melangkah mundur dengan terhuyung-huyung dan seluruh tubuhku juga mulai berkeringat dingin.
“Levin, kenapa kamu harus menghinaku seperti ini? Apa salahku padamu hingga kamu harus berbuat begitu?” ucapku. Kemudian, aku memeluk diriku sendiri dan berjongkok. Keringat dingin masih tidak berhenti membasahi tubuhku.
Di sisi lain, Lestari langsung menangis dan bertanya, “Kamu menyalahkanku? Aku juga nggak mau begini!”
Levin berkata dengan tidak senang, “Sienna, cukup! Meski sakit, Lestari tetap berpikir untuk menghiburmu. Bisa nggak kamu jangan ribut lagi!”
Untuk sesaat, aku bahkan berpikiran untuk langsung mati saja.
“Apa dengan aku mati, kalian baru mau melepaskanku? Begitu, Levin?” tanyaku sambil menatapnya dengan tatapan kosong.
Levin pun tertegun. Selanjutnya, dia langsung membelalak dan terlihat panik.
Anda Mungkin Juga Suka





