
Tersadar dari Mimpi, Aku Memutuskan untuk Meninggalkannya
Bab 2
“Levin! Kamu pasti akan nyesal suatu hari nanti!”
Saat mendengar tangisanku yang histeris, Levin tertegun sejenak. Namun, langkahnya hanya terhenti sejenak. Setelahnya, dia langsung melangkah pergi tanpa menoleh.
Aku menarik napas dalam-dalam. Sebelum sempat bereaksi, pengawal Levin sudah menarikku berdiri dari lantai.
“Pak Levin bilang kamu masih harus diperiksa sekali. Setelah operasi berakhir, kamu baru boleh pergi.”
Aku pun berseru, “Tindakan kalian ini melanggar hukum! Lepaskan aku!”
Namun, aku sendiri tidak mungkin dapat melawan mereka. Setelah diseret ke ruang operasi, seorang dokter berjalan menghampiriku sambil memegang jarum suntik. Aku sontak merasa gugup. Dia memperingatiku, “Pikirkanlah ibumu. Jangan lakukan perlawanan yang sia-sia lagi.”
Aku pun tersenyum getir. Begitu jarum itu disuntikkan ke tubuhku, hatiku juga terasa sangat sakit. Seiring dengan energiku yang seolah-olah terkuras habis, aku juga langsung pingsan.
Saat tersadar kembali, hanya ada aku sendiri yang sedang berbaring di atas ranjang pasien. Entah berapa lama waktu telah berlalu, seorang perawat baru datang memeriksaku. Dia berkata, “Sudah siuman? Istirahatlah yang baik setelah pulang.”
Aku menarik tangannya tanpa peduli pada rasa sakit tubuhku dan bertanya, “Di mana Levin? Di mana jasad ibuku?”
Perawat itu menjawab dengan serbasalah, “Aku juga kurang tahu. Kamu hanya bisa tanya langsung pada Pak Levin.”
Aku pun turun dari tempat tidur, tetapi malah langsung jatuh. Pada saat ini, ada seseorang yang berjalan masuk. Orang itu tidak lain adalah Levin. Dia buru-buru menggendongku dan meletakkan aku kembali ke tempat tidur.
Aku meraih kerah bajunya dan berseru, “Levin, di mana ibuku!”
“Jangan khawatir. Aku sudah antarkan dia ke rumah duka. Kamu boleh pergi ke sana kapan saja.”
Aku hendak langsung pergi, tetapi dia malah menghentikanku dan berkata, “Dokter bilang kamu harus istirahat karena baru lakukan transplantasi.”
“Nggak perlu!” Aku menepis tangan Levin, lalu lanjut lanjut berbicara dengan ekspresi dingin, “Ingat, ini terakhir kalinya aku jadi donor kalian! Mulai sekarang, kita nggak saling berutang!”
Seusai berbicara, aku langsung mendorongnya. Namun, dia menahan pergelangan tanganku dan berseru, “Bisa nggak kamu jangan buat onar lagi! Tanpa tulang sumsummu, dia bisa mati!”
Aku merasa sangat lucu.
“Benarkah? Tapi, waktu kamu tinggalkan aku di resepsi pernikahan kita, apa kamu kepikiran ibuku juga mungkin meninggalkanku gara-gara hal ini? Dia itu satu-satunya keluargaku yang tersisa!”
Melihat mataku yang merah, Levin mengerutkan keningnya dan menjawab, “Maaf. Aku akan adakan resepsi pernikahan lagi untukmu, juga berikan posisi menantu Keluarga Yuardi padamu.”
“Siapa yang sudi?” Menantu Keluarga Yuardi? Ini sungguh kehormatan besar!
“Levin, kamu kira dengan berbuat begini, aku akan maafkan kamu?” lanjutku. Aku berharap bisa menemukan sedikit perasaan bersalah dari dalam matanya. Sayangnya, tidak ada.
Levin menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Aku akan tebus kesalahanku padamu.”
“Tebus kesalahanmu? Sekarang, kamu berutang nyawa padaku! Mau tebus kesalahan? Berikan saja nyawamu padaku.”
Levin menjawab dengan agak tidak sabar, “Sienna, cukup! Kadang-kadang, kematian juga mungkin bisa mengakhiri penderitaan.”
Aku langsung menamparnya!
Wajah Levin masih menoleh ke samping. Pada saat ini, tiba-tiba terdengar seruan dari luar, “Vin! Vin, ada apa ini?”
Lestari yang mengenakan gaun rumah sakit dan terlihat pucat buru-buru berlari masuk sambil berseru, “Kenapa kamu tampar orang!”
Aku pun mencibir, “Sudah mending aku cuma menamparnya! Kenapa? Nggak terima aku tampar dia? Mau tampar balik? Silakan!”
Kemudian, aku menatap Levin. Levin menghela napas, lalu hendak mengatakan sesuatu. Namun, aku langsung berbalik dan pergi.
“Kamu mau ke mana?”
“Kamu nggak usah peduli! Sudah kubilang, kita nggak saling berutang!”
Aku menepis tangan Levin. Pada saat dia hendak mengejarku, Lestari tiba-tiba merasa lemas dan jatuh ke pelukannya. Langkahnya pun terhenti.
Anda Mungkin Juga Suka





