
Ternyata Aku Orang Ketiga di Pernikahan Suamiku
Ternyata Aku Orang Ketiga di Pernikahan Suamiku Bab 1
Aku Tidak Melihatnya
“Ah ...”
Sebuah suara aneh tiba-tiba terdengar oleh Widuri yang saat itu sedang turun ke lantai satu untuk mengambil minum. Suara siapa? Bukannya biasanya Emran, suaminya, sudah tertidur pulas di jam-jam larut seperti ini?
Widuri mengedarkan matanya ke depan, sembari menegakkan telinga untuk melihat ke arah ruang tengah yang temaram.
“Nggh …”
Suara yang Widuri yakini sebagai erangan seorang wanita itu justru semakin terdengar di telinganya.
Tak hanya sekali, namun berkali-kali, suara desahan dan juga deruan napas itu terus mengganggunya. Yang membuat Widuri terheran, adalah suara itu bukan terdengar dari kamar tidur, namun ruang tamu.
Seketika, Widuri tersadar, siapa pemilik suara rintihan tersebut. Suara siapa lagi kalau bukan suara Mawar Rosdiana. Detik itu juga, Widuri semakin sadar akan posisinya di rumah milik sang suami. Dia lupa, bahwa sang suami kini sudah memiliki istri lain yang lebih dicintai olehnya.
Mawar adalah istri kedua Emran yang ia nikahi satu bulan setelah ia menikah dengan Widuri. Ya, Widuri kini terjebak dalam kehidupan pernikahan poligami yang tidak dia inginkan. Andai saja dia tahu akan berakhir seperti ini, pasti Widuri tidak akan mau menerima perjodohan yang diajukan kedua orang tuanya saat itu.
Kedua orang tua Emran dan Widuri yang membuat perjanjian aneh sehingga menyebabkan putra putri mereka diikat dalam pernikahan. Widuri yang polos saat itu mengiyakan saja permintaan orang tuanya sebagai bukti baktinya. Dia tidak tahu jika Emran dan Mawar sudah berpacaran lama serta merancang pernikahan. Dia yang menjadi orang ketiga di hubungan mereka, dia yang seharusnya tidak berada di sini dan Widuri sangat menyesal. Widuri menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala mencoba menghalau beberapa ingatan di benaknya.
“Untuk apa juga aku di sini. Aku balik kamar saja,” lirih Widuri, mencoba tak peduli. Namun, wanita itu jelas tahu, bahwa dia hanya mencoba membohongi dirinya sendiri.
Siapa yang tak merasakan perih di hatinya ketika melihat sang suami bergumul dengan wanita lain di depan matanya? Terlebih ketika Widuri sendiri bahkan tak pernah terlelap di ruangan yang sama dengan Emran.
Baru saja ia hendak membalikkan badan kembali ke kamarnya di lantai dua. Tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala dan Widuri sontak menyembunyikan tubuhnya di belakang lemari es.
“Mas Emran memang hebat. Aku sampai kewalahan,” ujar Mawar dengan suara manjanya. Mawar memang seorang wanita cantik, berambut panjang dengan paras ayu dan suara lembut nan manja.
Siapa saja yang melihat Mawar pasti akan terpesona dengan visualnya. Mungkin itu juga yang membuat Emran begitu mencintainya. Beda dengan Widuri. Dia bahkan tidak pandai merawat diri. Kulitnya sawo matang tidak seputih Mawar, belum lagi banyak jerawat tumbuh menghiasi wajahnya. Widuri sendiri juga tidak tahu mengapa wajahnya selalu berjerawat. Padahal dia sudah sering menghabiskan waktu ke salon kecantikan.
“Hmm ... kamu juga hebat, Sayang. Jadi besok mau gaya apa lagi?” Kini terdengar suara Emran menyahut.
Widuri hanya diam sambil mencoba menutup telinganya. Dia tidak mau iri, tapi kalau mau jujur dia merasa dianaktirikan oleh Emran. Bahkan hingga sekarang, Emran tidak pernah menyentuhnya. Saat malam pertama dulu, mereka langsung tidur saling memunggungi dan tanpa berkata sepatah kata pun.
“Kamu tuh, Mas. Gak capek apa minta tiap hari.”
Terdengar tawa renyah Emran. Tanpa disadari Widuri sangat suka tawanya. Sayangnya Emran tidak pernah memperlihatkan tawa itu saat bersama dengan Widuri. Emran selalu menjadi pendiam dan bersikap dingin pada Widuri berbanding terbalik saat bersama Mawar.
“Yang pasti kalau mau begituan jangan di sini, Mas. Di kamar saja, kalau Widuri lihat, gimana?”
“Alah ... dia sudah tidur gak bakal bangun. Kalau lagi sama aku, kamu gak perlu memikirkan tentang Widuri. Fokus saja ke aku, Mawar.”
Terdengar decakan keluar dari bibir Mawar.
“Mas ... kamu gak boleh gitu. Bagaimanapun Widuri juga istrimu. Bukankah kamu sudah janji padaku akan berlaku adil pada kami berdua. Kenapa sekarang kamu seakan tidak memenuhi janjimu itu?”
Widuri terdiam, tanpa disadari tubuhnya sudah merosot dan duduk di lantai. Sepertinya Emran dan Mawar sedang membicarakan dirinya. Widuri pikir Mawar selama ini yang memonopoli Emran, ternyata tebakannya salah.
“Iya, Sayang. Aku minta maaf.”
“Janji besok kamu juga akan berlaku manis ke Widuri?” Emran tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.
Sayangnya gestur tubuh Emran tidak bisa dilihat Widuri. Gadis berwajah manis itu tampak terpekur sambil memeluk lutut melihat pantulan wajahnya di lantai. Kenapa juga mereka terus membahas tentang dirinya? Apa mereka tahu yang sedang dirasakan Widuri saat ini?
Tak lama Widuri mendengar suara langkah menjauh bersamaan bunyi suara pintu kamar terbuka kemudian tertutup. Widuri menghela napas lega sambil perlahan mengangkat kepala
“Sepertinya mereka sudah masuk kamar. Ya Tuhan ... kenapa juga tadi aku turun? Kenapa juga aku haus? Kalau harus mendengar semua ini.”
Widuri bersiap bangkit dan hendak kembali ke kamar saja. Cukup sakit hatinya melihat sekaligus mendengar interaksi mesra suaminya. Ia tidak mau membuat hatinya semakin terluka. Widuri perlahan bangkit dan membalikkan badan hendak ke kamar.
Namun, langkahnya segera terhenti dan mematung di tempatnya saat melihat Emran sedang berdiri bertelanjang dada di depannya. Widuri pikir Emran sudah masuk kamar, ternyata dia masih di sana dan kini hendak mengambil minum di kulkas.
Widuri bergeming di tempatnya sambil menatap Emran. Dia tidak pernah melihat suaminya bertelanjang dada di depannya. Widuri juga baru tahu jika tubuh suaminya sangat indah. Dada bidang, bahu lebar dengan jajaran roti sobek menghias perutnya. Tanpa sadar, Widuri menelan ludah mencoba menahan sebuah rasa aneh yang tiba-tiba merasuki tubuhnya.
Emran malah menatapnya dengan tatapan setajam pisau dan wajah yang tegang. Widuri merasa kalau suaminya saat ini sedang marah. Dia menyesali kebodohannya kali ini. Lalu tanpa diminta suara tanya yang menyakitkan telinga terlontar dari mulut Emran.
“Ngapain kamu di sini? Ngintip aku?”
Perubahan Emran
“Ngapain kamu di sini? Ngintip aku?” sentak Emran penuh amarah.
Widuri terjingkat saking kagetnya mendengar suara Emran. Nada suaranya benar-benar beda saat ia mendengar Emran berbicara dengan Mawar tadi. Widuri gegas menggelengkan kepala. Dia tidak mau Emran menuduhnya yang tidak-tidak.
“Eng ... enggak. Aku gak lihat apa-apa. Aku hanya ambil minum.”
Emran terdiam kemudian melirik Widuri dengan sudut matanya yang tajam. Mata Emran sangat indah bahkan Widuri jatuh cinta padanya ketika melihat mata elang nan tajam itu. Sayangnya mata itu tak pernah menatapnya teduh dan penuh cinta. Hanya kebencian yang ditunjukkan padanya.
“Ya udah, buruan balik. Ngapain kamu masih di sini?” Emran kembali bersuara
Tanpa menunggu Emran mengulang perkataannya, Widuri sudah bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan mencoba memejamkan mata. Namun, yang ada hanya bayangan samar interaksi mesra Mawar dan Emran yang terekam di benaknya. Andai saja dia yang menggantikan peran Mawar di sana. Meski dalam mimpi pasti Widuri akan senang.
Sementara itu, Emran sudah masuk kamar sambil membawakan segelas susu untuk Mawar. Mawar hanya diam melihat pria tampan pujaan hatinya masuk dengan wajah semringah.
“Diminum dulu susunya, Sayang. Biar nyenyak tidurnya.”
Mawar menerima gelas susu dari Emran dan langsung meneguknya habis. Emran langsung tersenyum melihatnya kemudian sudah naik ke atas kasur bersiap tidur.
“Kamu tadi bicara sama siapa? Apa Widuri turun?” Mawar malah menanyakan mengenai ucapannya dengan Widuri tadi.
Mungkin Emran bersuara sangat keras sehingga Mawar bisa mendengarnya sampai kamar.
“Iya. Dia ngambil minum tadi.”
“Jadi dia ngelihat kita, Mas?” tebak Mawar.
Emran tidak menjawab malah menarik Mawar masuk dalam pelukannya.
“Mas ... kubilang juga apa. Aku jadi gak enak, kan. Kamu sih pakai minta begituan di ruang tengah.”
Emran berdecak, tidak menjawab ucapan Mawar malah membenamkan wajahnya ke ceruk leher Mawar.
“Mas .. aku mohon jangan diulang lagi, ya. Aku kasihan ama Widuri. Kesannya kamu pilih kasih, padahal dia ‘kan juga istrimu.”
Emran menarik napas panjang dan kini tidur telentang sambil menatap langit-langit kamar.
“Besok kamu tidur sama dia, ya? Masa kamu tidur sama aku terus. Aku gak mau memonopoli kamu, Mas.”
Emran menoleh ke arah Mawar kemudian tersenyum “Iya, iya, Sayang. Besok Mas akan tidur ama Widuri.”
“Ya udah, janji, ya?” Mawar kembali bersuara manja dan tentu saja suara manja serta menggodanya itu membuat Emran tersenyum lagi.
“Iya, tapi kita main satu ronde lagi, ya. Sekarang!!!”
Mawar sontak membelalakkan matanya melihat ke arah Emran. Namun, tak ayal kembali terdengar desahan menggoda keluar dari bibir Mawar nan seksi.
**
Pukul tujuh lewat empat puluh menit, sengaja Widuri turun mendekati waktu berangkat kerjanya. Ia tahu kalau setiap hari Mawar dan Emran selalu makan pagi jam tujuh kemudian berangkat pukul tujuh tiga puluh menit.
Emran selalu mengantar Mawar ke kantornya dulu baru setelah itu ia berangkat ke kantornya sendiri. Sementara Widuri lebih suka berangkat kantor dengan motor maticnya. Dia tidak pernah sekalipun diantar Emran dan Widuri tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Gara-gara kejadian semalam, Widuri sengaja bangun lebih siang. Dia malas bertemu Emran dan Mawar. Dia juga bingung harus mengobrol tentang apa nantinya. Widuri turun dengan berjingkat seperti biasa dan langsung menuju lemari es. Dia jarang makan setiap pagi dan memilih minum susu serta makan buah saja.
“Kamu kesiangan?” Sebuah suara bariton yang sangat dikenal Widuri tiba-tiba terdengar di belakangnya.
Widuri menoleh dan melihat Emran sedang berdiri di sana menatap tajam ke arahnya. Widuri terdiam, menghentikan kunyahan apelnya.
“Kamu tanya aku?” Widuri malah balik bertanya sambil menuding dadanya.
“Emang ada orang lagi di sini?” Widuri dengan bodohnya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada siapa pun, hanya ada dia dan Emran. Lalu ke mana Mawar? Apa mungkin dia sudah berangkat kerja?
“Buruan makannya, aku antar hari ini!!” Sekali lagi Emran bersuara dan membuat Widuri terkejut.
Bahkan Widuri sontak merapikan hijab untuk memastikan telinganya tidak salah dengar dan sepertinya Emran memperhatikan ulahnya.
“Aku serius. Aku anter kamu hari ini!!!” Emran mengulang ucapannya.
Seketika Widuri menggeleng sambil menggerakkan tangannya seakan menolak.
“Eng ... gak usah. Aku naik motor saja, nanti kamu telat.”
Emran hanya diam sambil menatap Widuri dengan tajam. Kalau sudah seperti itu, seluruh tubuh Widuri serasa luluh lantak. Tatapan pria tampan ini memang selalu membuat hatinya kebat kebit tak karuan. Widuri buru-buru menundukkan kepala menghindar tatapan Emran.
“Sepuluh menit lagi kita berangkat. Aku ke kamar dulu!!”
Widuri menghela napas panjang kemudian memilih duduk di kursi makan. Sepertinya dia harus menenangkan jiwanya kali ini. Kenapa juga tanpa ada angin dan hujan suaminya tiba-tiba mengantarnya kerja hari ini? Bukankah biasanya dia selalu mengantar Mawar dan tak pernah menghiraukannya. Apa mungkin Emran sudah sadar dan mau berlaku adil pada dirinya juga?
“ Sudah selesai?” Emran keluar kamar, sudah mengenakan jas sambil menenteng tas kerjanya. Widuri mengangguk dengan cepat.
“Ayo, berangkat!!”
Emran berjalan lebih dulu dan Widuri mengekor di belakangnya. Widuri melirik ke arah garasi dan dia tidak melihat motor maticnya di sana. Widuri sontak melihat ke arah Emran. Belum sempat Widuri bertanya, Emran sudah berkata lebih dulu.
“Motormu dibawa Mawar. Dia ada keperluan mendesak tadi,” ujar Emran.
Widuri hanya manggut-manggut mendengarkan. Entah Emran berkata jujur atau tidak tentang motornya dan Mawar yang pasti Widuri sangat senang hari ini. Sepanjang perjalanan mereka saling diam, hanya suara radio mobil yang menjadi pemeran utama kali ini.
Widuri juga bingung hendak memulai pembicaraan tentang apa. Kejadian semalam saja sudah membuat Widuri kebingungan ditambah lagi dengan kejadian pagi ini. Widuri melirik sekilas pria tampan yang tampak fokus mengemudi di sampingnya.
Kenapa juga dia seganteng ini? Apalagi dengan kacamata hitam yang nangkring di hidungnya. Kulitnya yang bersih terawat dengan postur tubuh ideal ditambah pahatan wajah yang sempurna memang membuat setiap wanita yang melihat mabuk kepayang. Andai saja Widuri bisa memilikinya sendiri tanpa harus berbagi. Ya ... andai saja.
“He-em.” Tiba-tiba Emran berdehem dengan keras dan sontak menginterupsi lamunan Widuri. Emran pasti tahu kalau sedari tadi sedang ia perhatikan. Itu sebabnya ia berdehem. Widuri buru-buru memalingkan wajah melihat keluar mobil.
Ada yang tidak normal sedang melanda dadanya. Emran memang bukan pria pertama di hatinya. Namun, kenapa juga dia selalu merasa tidak baik-baik saja jika bersamanya. Andai saja Emran juga memiliki rasa yang sama dengan punyanya.
“Kamu pulang jam berapa?” Tiba-tiba Emran bertanya lagi.
Widuri sontak menoleh dan melihat ke arah Emran. Sayangnya mata indah suaminya sudah tertutup oleh kacamata hitam membuat Widuri sulit mengartikan tatapannya.
“Jam lima sore.”
Emran tampak manggut-manggut kemudian bibir tipisnya sudah terbuka dan bersuara yang membuat Widuri semakin terkejut.
“Aku jemput jam lima sore nanti.”
Suami Sehari
“Aku jemput jam lima sore nanti,” ucap Emran kemudian.
Widuri terkejut dan menoleh dengan cepat ke arah Emran. Sayangnya Emran tidak memperhatikan dan terus menatap lalu lintas di depannya.
“Eng ... gak usah. Aku ... aku nanti ada keperluan. Aku mau nengokin temanku yang sakit,” jawab Widuri.
Dia memang sudah berjanji bersama teman-temannya kalau akan menjenguk atasannya yang baru saja melahirkan. Emran menoleh sekilas sambil mengernyitkan alis.
“Kamu tidak bermaksud untuk menghindar dariku, ‘kan?”
Ganti Widuri yang kini terkejut. Mengapa juga suaminya malah bertanya seperti itu? Bukankah biasanya Emran suka jika dia menjauh dan menghindar darinya. Dia hanya duri dalam hubungannya dengan Mawar. Dia hanya orang ketiga yang tidak seharusnya ada. Kenapa sekarang Emran malah mengharapkan dia ada?
Widuri gegas menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Enggak. Aku gak menghindar darimu. Aku beneran mau menjenguk bosku sama teman-teman. Nanti sore kami mau ke rumah sakit. Kalau kamu gak percaya, ya sudah.”
Emran hanya diam, tidak menjawab dan kembali fokus melihat lalu lintas di depannya. Suasana kembali hening dan musik di radio mobil kembali yang mendominasi. Selang beberapa saat mobil Emran sudah tiba di kantor Widuri. Widuri gegas membuka seat beltnya lalu bersiap turun, tapi tiba-tiba Emran mengulurkan tangan ke arahnya.
Widuri tertegun sejenak, menatap Emran sambil mengerjapkan mata. Lalu secepat kilat Widuri menyambut tangan Emran dan mengecup punggungnya seperti orang salim pada umumnya. Ini adalah hal yang paling jarang dilakukan Widuri. Mana mungkin dia melakukannya jika Emran yang selalu menjauh dan baru hari ini dia berubah.
“Ya udah kalau gak mau dijemput. Nanti kalau sudah sampai rumah, telepon aku.”
Kembali Widuri terperangah kaget mendengar ucapan Emran. Ada apa lagi, nih? Kenapa juga suaminya seakan ingin tahu schedulenya hari ini? Apa dia memang ingin memberi perhatian ke Widuri atau hanya sekedar basa basi? Namun, sepertinya Widuri tidak mau ambil pusing dan menjawab dengan anggukkan kepala saja. Dia tidak mau menghabiskan waktu Emran lebih lama.
Emran sudah melajukan mobilnya meninggalkan kantor Widuri. Sementara Widuri gegas masuk ke dalam kantor.
“Tumben kamu gak naik motor, Duri!!” sahut Rani salah satu rekannya.
Widuri hanya tersenyum meringis. Jangankan temannya, dia saja masih bingung dengan sikap aneh suaminya pagi ini. Padahal semalam sikap Emran sangat dingin dan menyebalkan mengapa pagi ini dia sangat manis.
Pukul lima sore, usai jam pulang kantor. Widuri bersama rekan kantornya bertandang ke rumah sakit untuk menjenguk atasannya. Atasannya baru saja melahirkan putra kedua. Widuri sangat suka melihatnya. Dari dulu dia memang suka anak kecil, bahkan dia sangat merindukan kehadiran seorang adik. Sayangnya dia hanya menjadi anak tunggal di keluarganya.
“Kamu gak pengen, Duri?” Sang Atasan bertanya. Widuri hanya tersenyum malu-malu.
Kalau mau jujur, dia juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam kehidupan pernikahannya. Namun, bagaimana mungkin dia mendapatkannya. Bahkan hingga di bulan ketiga pernikahan, Emran belum menyentuhnya sama sekali.
“Buruan bikin ama suami. Punya suami ganteng gitu, masa gak bikin tiap malam.” Malah rekan kerja Duri yang lain mengoloknya.
Lagi-lagi Widuri hanya bisa mengulum senyum. Andai saja mereka tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga Widuri pasti akan terkejut. Hingga kini, tidak ada yang tahu jika Widuri menjalani pernikahan poligami yang diciptakan Emran. Dia juga termasuk orang introvert yang tidak mau menceritakan semua keluh kesahnya kepada sembarang orang.
“Kamu pulang naik apa, Duri?” tanya Rani. Sudah hampir satu jam mereka berada di rumah sakit dan sekarang waktunya mereka pulang.
“Aku naik taxi online. Aku gak bawa motor,” jawab Widuri.
“Kenapa gak minta jemput suami saja? Bukannya tadi pagi aku melihat dia mengantarmu?”
“Enggak. Dia gak bisa.” Rani hanya manggut-manggut. Kemudian mereka berdua sudah berjalan beriringan keluar dari rumah sakit.
Namun, Widuri sempat menghentikan langkahnya saat melihat Emran sedang berjalan bersama Mawar menuju parkiran mobil di rumah sakit ini. Apa yang sedang mereka lakukan di sini? Apa Mawar sudah hamil dan Emran sengaja mengantar untuk memeriksa kandungannya? Benak Widuri sudah traveling membayangkan yang tidak-tidak. Lalu tanpa diminta kejadian mesra mereka semalam melintas di benak Widuri.
“Akh ... kenapa aku malah mikirin begituan,” gumam Widuri dalam hati.
Pukul sembilan malam, Widuri baru tiba di rumah. Dia memang sengaja mampir untuk makan malam di luar. Widuri juga berharap tidak akan bertemu Emran dan Mawar saat tiba di rumah. Akan sangat menyakitkan jika melihat orang yang kita suka berinteraksi mesra dengan wanita lain. Widuri kadang berpikir ingin segera mengakhiri semua ini. Namun, dia juga takut jika keputusannya akan membuat orang tua dan mertuanya sedih.
Widuri turun dari taxi online dan melihat mobil serta motor matic miliknya sudah berada di garasi. Itu tandanya kalau Emran dan Mawar sudah berada di rumah. Pelan Widuri membuka pintu rumah. Ia sudah mengucap salam dan tidak terdengar balasan dari dalam. Widuri juga melihat sebagian lampu sudah dipadamkan, bisa jadi kalau Emran dan Mawar sudah berada di kamar. Apalagi yang akan mereka lakukan jika tidak ada Widuri. Bukankah itu kesempatan emas untuk mereka berduaan.
“Akh ... .” Widuri menghela napas panjang sambil meredam rasa sesak di dadanya. Kenapa juga dia tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas.
Widuri berjalan gontai menuju lantai dua kamarnya. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya saja kali ini. Dia tidak ingin membayangkan yang tidak-tidak dan membuat hatinya semakin sakit.
Pelan Widuri membuka pintu kamarnya. Tangannya sudah bersiap melepas hijabnya, tapi urung dilakukan saat melihat ada sosok tampan yang sangat dikenalnya sedang duduk menunggu di tepi kasur.
“Kamu baru datang?” serunya bertanya.
Widuri terdiam, tertegun menatap Emran yang duduk di tepi kasur.
“Kok kamu di sini?” Widuri spontan bertanya. Memang hal yang sangat tidak masuk akal melihat Emran berada di kamarnya. Bukankah biasanya Emran selalu tidur di kamar Mawar.
Emran tampak terkejut dan menatap tajam ke arah Widuri. Entah apa arti tatapannya kali ini yang pasti Widuri ketakutan membalas tatapannya. Emran menarik napas panjang lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Widuri.
Langkahnya terhenti dan berdiri sejajar di depan Widuri. Lalu pelan kedua tangan Emran menyentuh bahunya. Seketika ada banyak rasa aneh yang tiba-tiba merasuk merambat ke seluruh tubuh Widuri membuat wanita berwajah manis itu mendongakkan kepala. Ada mata elang nan tajam sedang menatapnya seakan siap menyantap mangsanya. Ini pertama kali Widuri berada sedekat ini dengan Emran.
“Malam ini Mawar ada acara keluarga dan tidak pulang. Jadi aku tidur di sini.”
Bukan yang Kuminta
“Malam ini Mawar ada acara keluarga dan tidak pulang. Jadi aku tidur di sini,” ujar Emran.
Widuri terdiam tertegun menatap suami gantengnya ini. Kemudian perlahan dia menundukkan kepala menghindar dari tatapan tajam Emran. Bagaimanapun jantungnya terus berdebar hebat saat berinteraksi sedekat ini.
“Eng ... a—aku mau mandi dulu.”
Widuri menghilangkan ketegangan mereka dengan gegas berlari ke kamar mandi. Emran hanya mengangguk dan membiarkan Widuri berlalu pergi.
Di kamar mandi, Widuri tampak bengong hanya diam melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Dia masih belum percaya dengan semua ucapan dan sikap Emran hari ini. Kenapa juga dia berubah secepat ini? Apa Emran sudah menyadari kesalahannya dan mau berbuat adil pada Widuri?
Widuri menarik napas panjang sambil membasuh wajahnya dengan air. Sepertinya banyak yang akan dia lakukan di kamar mandi kali ini. Biarlah Emran menunggu lebih lama. Widuri ingin menghilangkan ketegangannya lebih dulu. Ini kedua kali dia tidur satu kamar dengan Emran dan itu membuat dia sangat gugup.
Lima menit, sepuluh menit hingga akhirnya setengah jam baru Widuri keluar dari kamar mandi. Ia melihat Emran sudah naik ke atas kasur duduk bersandar di puncak ranjang sambil menjulurkan kakinya. Sesekali senyuman manis terukir di wajah tampannya. Sepertinya ada yang sangat menarik di ponselnya sehingga dia berperilaku seperti itu.
Widuri berjalan perlahan dan duduk dengan hati-hati di tepi kasur. Emran meliriknya kemudian tersenyum.
“Mandimu lama juga, lebih lama dari aku,” celetuknya kemudian.
Widuri tidak menjawab hanya mengangguk sambil tersenyum meringis.
“Kamu sudah makan? Kalau belum, biar aku pesankan makanan.” Kembali Emran bersuara memberi perhatian. Lagi-lagi ini hal yang sangat jarang ia dengar keluar dari bibir suaminya.
“Aku sudah makan tadi di luar.”
Emran hanya diam kemudian manggut-manggut. Ia menggeser tubuhnya dan menepuk kasur di sampingnya. Widuri melirik sekilas dengan sudut matanya.
“Kamu gak mau tidur?” pinta Emran.
Widuri menoleh kemudian mengangguk dengan canggung. Perlahan dia naik ke atas kasur, masuk ke dalam selimut dan duduk bersisian dengan Emran. Ada yang sedang berdebar hebat di dadanya dan Widuri berusaha menekan sedalam mungkin. Ia tidak ingin Emran tahu apa yang sedang dirasakannya kali ini.
Emran hanya diam sambil mengawasi Widuri. Entah mengapa Widuri semakin risih. Apa memang seperti ini yang dilakukan Emran dan Mawar di kamar. Duduk bersisian di kasur saling pandang satu sama lain dan membiarkan dadanya bertalu tak karuan. Indah dan Widuri tanpa sadar menikmatinya. Hanya saja, mengapa ada sesuatu yang mengganjal perasaannya kali ini.
Emran menggeser duduknya mendekat ke arah Widuri bahkan meletakkan satu tangannya ke punggung Widuri seakan hendak memeluknya. Sontak Widuri terjingkat dan menoleh ke arah Emran.
“Kenapa? Aku suamimu, apa tidak boleh memelukmu?” ujar Emran.
Widuri kembali membisu dan menganggukkan kepalanya dengan kaku. Kenapa juga dia tidak bisa seluwes Mawar saat berinteraksi dengan Emran. Suaranya juga tidak terdengar manja dan menggoda, malah lebih banyak membisu bagai patung. Apa ini juga yang membuat Emran lebih menyukai saat bersama Mawar?
“Kamu tidak melepas hijabmu?” Emran kembali bertanya.
Memang selama menikah, belum pernah sekalipun Emran melihat Widuri tanpa hijab. Wanita berparas manis itu tidak mau memperlihatkan wajah serta semua miliknya kepada Emran. Dia beranggapan Emran belum mencintainya seratus persen dan dia tidak mau sia-sia menunjukkan semuanya.
“Eng .. iya.” Widuri sudah bersiap membuka hijabnya, tapi tiba-tiba dia duduk tegak dan menurunkan kakinya dari kasur.
Emran melihatnya dengan bingung dan kening yang berkerut.
“Aku ke bawah dulu. Aku belum ambil minum.” Widuri gegas bangkit dan turun dari kasur lalu sudah berjalan cepat keluar kamar meninggalkan Emran.
Ia tidak peduli dengan tatapan aneh Emran. Yang pasti Widuri ingin mengatur detak jantungnya dulu. Dia benar-benar merasa sesak napas gara-gara interaksi intim ini.
“Akh ... gila. Aku kenapa, sih? Dia ‘kan suamiku. Kenapa juga harus setegang ini?” umpat Widuri kesal.
Berulang Widuri meneguk habis air putih di gelasnya. Ia sangat gugup dan tak tahu harus berbuat apa. Yang pasti sikap Emran hari ini benar-benar membuat hatinya tak karuan.
“Sudah. Aku harus kembali. Aku tidak mau membuatnya menunggu. Bukankah ini saat yang aku inginkan dari dulu.”
Lagi helaan napas berat keluar spontan dari bibir Widuri. Ia sudah berjalan berjingkat menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Mungkin karena terbiasa berjalan mengendap-endap, jadi Widuri selalu melakukan hal itu dengan santai.
Dia berhenti sejenak di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Memang tadi Widuri tidak menutup kamarnya dengan rapat. Baru saja Widuri hendak masuk, tiba-tiba dia urung lakukan saat mendengar suara Emran.
“Hallo, Sayang. Kamu belum tidur?” Rupanya Emran sedang melakukan panggilan dengan Mawar. Widuri menghormati privasinya dan memilih tidak masuk ke dalam kamar. Inginnya dia kembali ke bawah dan pura-pura sibuk di sana. Namun, lagi-lagi kakinya terasa membeku di posisinya dan membuat Widuri mendengar kata yang seharusnya tidak dia dengar.
“Aku sudah melakukan apa yang kamu minta, Sayang. Aku sudah mengantar Widuri ke kantor tadi pagi dan malam ini aku juga sudah tidur di kamarnya. Aku menepati janjiku, bukan.” Suara Emran terdengar dengan jelas di telinga Widuri.
Wanita manis itu langsung terdiam dan memilih berdiri bersandar di samping pintu kamarnya yang terbuka. Ternyata pertanyaan Widuri tentang perubahan sikap Emran hari ini terjawab. Emran berubah karena permintaan Mawar, bukan karena keinginannya.
“Jadi kamu akan pulang besok, kan? Aku sudah tidak sabar ketemu kamu. Aku kangen, Sayang.”
Widuri masih bergeming di posisinya sambil memegang dada. Entah mengapa ada sakit yang tanpa diminta tiba-tiba datang dan menusuk di dalam sana. Helaan napas panjang pendek keluar bergantian dari bibirnya.
“Aku pengennya tidur sama kamu saja daripada sama Widuri. Lain kali jangan paksa aku lagi, ya. Pokoknya cukup hari ini saja aku melakukannya.” Kembali terdengar suara Emran dan kini semakin menyayat hati Widuri
Tanpa diminta buliran bening sudah luruh perlahan membasahi pipinya. Widuri pikir Emran akan berubah dan mau memperlakukannya dengan adil. Namun, nyatanya dia salah. Tidak pernah ada cinta di hati Emran untuknya. Lagi-lagi kehadirannya di sini hanya seperti duri di bunga mawar. Dia hanya penghalang bagi Emran dan Mawar untuk bersatu.
Widuri tidak tahu apa lagi yang dikatakan Emran di teleponnya. Yang pasti dia sudah berurai air mata di depan kamarnya. Hatinya terluka dan pria di dalam sana penyebabnya. Salah dia juga mengapa mencinta orang yang tidak mencintainya. Andai saja dia tidak pernah menerima perjodohan ini.
BRAK!!!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, tampak Emran berdiri di depan pintu sambil menatap Widuri dengan tatapan dingin nan tajam. Sudah hilang tatapan yang ramah penuh perhatian. Widuri buru-buru menyeka air matanya. Ia tidak mau Emran tahu kalau dia baru saja menangis. Alih-alih bertanya tentang tangisan Widuri, Emran malah berkata yang menyakitkan hati.
“Jadi kamu sudah mendengar semuanya?”
Aku Pergi
“Jadi kamu sudah mendengar semuanya?” tanya Emran.
Pelan Widuri menarik napas sambil menganggukkan kepala. Entah mengapa juga dia sangat jujur kali ini. Melihat reaksi Widuri, Emran hanya tersenyum miring sambil melipat tangannya di depan dada.
“Syukurlah kalau kamu tahu. Apa yang aku lakukan hari ini karena permintaan Mawar. Dia memintaku berlaku adil padamu, meski sesungguhnya aku tidak ingin.”
Widuri menarik napas panjang sambil mengangkat kepala dan melihat Emran penuh kebencian.
“Aku juga tidak meminta. Jadi aku rasa kamu tidak perlu repot-repot melakukannya.”
Emran berdecak sambil menggelengkan kepala.
“Aku mau tidur, ngantuk. Kamu tidur di kamarmu sendiri saja!!” Widuri langsung nyelonong masuk kamar dan menutup pintu kamarnya dengan bunyi bedebam.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Emran, kemudian tak lama terdengar langkah kaki berlari turun ke lantai satu.
“Harusnya aku tidak menerima perjodohan ini jika akhirnya begini. Aku hanya menjadi orang ketiga di hubungan mereka.”
Widuri langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur dan berurai air mata di sana. Ia tidak tahu berapa lama ia menangis yang pasti dia langsung tertidur setelah itu.
Keesokan paginya, Widuri tidak melihat Emran. Mobilnya juga sudah tidak ada di garasi. Widuri lebih lega seperti itu sehingga dia tidak perlu bingung bersikap saat bertemu dengannya. Widuri berangkat ke kantor mengendarai motor maticnya. Ia ingin melupakan kejadian kemarin.
Sore harinya saat pulang ke rumah, Widuri tidak mendapati mobil Emran. Bahkan sampai larut malam, mobilnya tidak datang. Kemudian tak lama ada pesan masuk datang dari Mawar yang mengatakan kalau mereka berdua pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Widuri tidak peduli dan tidak menjawab pesan Mawar. Bukankah hal seperti itu sering mereka lakukan berdua tanpa sepengetahuannya. Itu hal yang biasa. Mengapa juga Mawar kini mengirim pesan padanya? Apa dia ingin pamer kalau berhasil menguasai suami mereka sepenuhnya?
“Akh ... aku tidak mau seperti ini terus. Aku harus pergi dari sini. Mungkin lebih baik jika aku tidak ada di sini,” gumam Widuri.
Widuri ingat saat di kantor tadi ada rekan kerjanya yang membicarakan tempat kost dekat kantor. Rekan kerjanya itu dimutasi keluar kota sementara ia baru saja membayar uang kost selama satu tahun ke depan. Rekan kerjanya berencana mencari orang yang mau mengganti uang kost dan menempati tempat kostnya.
Dengan mantap, Widuri melakukan panggilan ke rekan kerjanya itu.
“Selvi, aku rasa aku tahu siapa yang berminat mengganti tempat kostmu. Apa bisa kalau mulai besok ditempati?” tanya Widuri begitu panggilan terhubung.
Dia tampak terdiam sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. Sepertinya dia sudah menemukan jalan keluar untuk permasalahannya. Widuri tidak peduli dengan tanggapan kedua orang tua dan mertuanya. Mungkin sudah saatnya Emran berterus terang tentang pernikahan keduanya itu. Widuri tidak sanggup menutupinya lagi.
Esok harinya, Widuri membawa semua barang-barangnya meninggalkan rumah Emran. Dia bahkan meletakkan kunci pintu rumah di bawah keset. Dia tidak mau kembali ke sini. Dia ingin mengakhiri semuanya dan sendiri itu saja.
Lima hari berselang, Widuri sudah tinggal di tempat yang baru, yaitu kost dekat tempat kerjanya. Dia bahkan tidak memberi kabar berita ke Emran dan Mawar. Widuri sengaja mengganti nomor ponselnya. Anggap saja ini bukti sikap tegasnya atas perlakuan mereka selama ini. Memangnya hanya Emran yang bisa berkuasa, Widuri juga bisa melakukannya.
Sore itu, Emran dan Mawar tiba di rumah. Mereka tersenyum ceria, turun dari mobil sambil membawa masuk barang-barang. Selain ada urusan kerja di luar kota, Emran juga sengaja memanfaatkan waktunya untuk berbulan madu dengan Mawar. Setiap saat bersama istri keduanya itu selalu membuat Emran bahagia.
“Mas, Widuri belum pulang, ya? Aku kasih oleh-olehnya nanti saja, ya,” ujar Mawar.
Mereka sudah berada di dalam rumah dan membongkar barang bawaan.
“Iya. Palingan bentar lagi. Kalau kamu lelah, istirahat saja. Biar aku yang memberikannya nanti.”
Mawar mengangguk sambil tersenyum. Hampir lima hari mereka keluar kota, mungkin Emran juga merindukan istri pertamanya itu. Siapa tahu dia juga ingin menghabiskan waktu dengan Widuri.
“Ya udah, aku istirahat dulu ya, Mas.” Mawar sudah beranjak ke kamar dan dijawab dengan anggukan Emran.
Kali ini Emran sengaja menunggu kedatangan Widuri di ruang tengah sambil menonton tv. Jam masih menunjukkan pukul empat sore, masih satu jam lagi Widuri pulang. Bisa jadi dia sampai di rumah pukul enam. Biasanya Widuri tidak pernah makan di rumah dan selalu menghabiskan waktu makan malam di luar.
Karena lelah, Emran menunggu kedatangan Widuri sambil tiduran di sofa. Ternyata tak sengaja dia malah terlelap. Emran terbangun saat mendengar ponselnya berdering kencang. Emran melihat ada nama ibunya di layar ponsel.
“Ada apa, Bu?” tanya Emran dengan suara serak. Ia baru saja terjaga dari tidurnya.
[“Emran, apa Widuri baik-baik saja? Sudah lima hari ini ponselnya tidak aktif. Dia tidak sakit, kan?”]
Emran terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Nyonya Sari, ibunya memang sangat menyayangi Widuri bahkan menganggap Widuri lebih dari sekedar anak mantu.
“Iya, dia baik-baik saja kok, Bu. Memang dia sedikit sibuk beberapa hari ini. Nanti deh aku kasih tahu suruh nelepon Ibu,” bohong Emran. Sesungguhnya dia juga tidak tahu apa yang sedang dialami Widuri kali ini. Dia juga tidak bertemu dengannya selama lima hari ini.
[“Gak usah. Gak usah disuruh telepon. Akhir pekan Bapak dan Ibu mau ke sana. Kamu libur, ‘kan?”]
Sontak Emran terjingkat kaget dan langsung duduk di sofa. Ia terlihat bingung, berulang meraup wajahnya degan kasar.
“Iya, aku libur, Bu. Widuri juga.”
[“Ya sudah. Sampai ketemu di sana saja.”] Emran hanya mengangguk dan belum sempat menjawab saat Nyonya Sari sudah mengakhiri panggilannya.
Emran menarik napas panjang sambil melihat jam di dinding. Sudah pukul setengah sepuluh malam
“Astaga!! Aku ketiduran. Pasti Widuri sudah datang.”
Emran segera bangkit, meraih paper bag berisi buah tangan yang sudah disiapkan Mawar kemudian berjalan menuju lantai dua ke kamar Widuri. Emran menghentikan langkahnya di depan kamar Widuri kemudian perlahan dia mengetuk pintu.
Sekali, dua kali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Emran menarik napas panjang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Masa sudah tidur, sih,” gumamnya.
Maunya Emran turun kembali ke lantai satu dan berniat memberi buah tangannya besok pagi saja. Namun, entah kenapa tangan Emran tiba-tiba menyentuh handle pintu dan membukanya. Emran mengerjapkan mata saat melihat keadaan kamar yang gelap dan terlihat sunyi tak berpenghuni.
“Widuri!! Kamu sudah tidur?” Emran melangkah masuk begitu saja. Bukankah ini juga kamar istrinya pasti tidak masalah jika dia masuk begitu saja.
Emran meraba saklar lampu di belakang pintu dan tak lama seluruh ruangan kamar terlihat jelas. Emran terperangah kaget saat melihat tidak ada Widuri di sana. Bahkan kamarnya terlihat rapi. Emran panik, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi. Di sana tidak ada Widuri.
Matanya sudah beredar melihat meja rias yang kosong tanpa ada alat make up Widuri berjajar di sana. Kemudian dia melangkah menuju lemari dan kembali terperanjat saat melihat tidak ada satu pun baju istrinya di sana.
Setengah berlari, Emran turun ke lantai satu berjalan cepat keluar rumah memeriksa garasi. Wajahnya langsung gusar saat melihat tidak ada motor matic istrinya di sana. Tangan Emran sudah merogoh ponsel di kantong celananya dan langsung menghubungi nomor Widuri.
Namun, dia kembali kecewa saat tahu nomor ponsel Widuri tidak dapat dihubungi. Emran menarik napas panjang sambil mengacak rambutnya. Matanya masih beredar ke sana ke mari seakan mencari sosok Widuri di luar sana. Kemudian sebuah tanya lirih keluar dari bibirnya nan seksi.
“Kamu di mana, Widuri?”
Kamu Datang
“Mas, kamu mau ke mana?” tanya Mawar.
Mawar terjaga saat mendengar suara gaduh di kamar. Ia melihat Emran sibuk membuka lemari dan kini tampak mengenakan jaket.
“Aku keluar sebentar. Aku mau cari Widuri.”
Seketika Mawar terkejut dan bangun dari tidurnya. Wanita cantik berambut panjang itu gegas menggelung rambutnya asal sambil bangkit menghampiri Emran.
“Memangnya Widuri ke mana?” Mawar penasaran. Emran terdiam, menghentikan aktivitasnya dan melihat Mawar dengan sendu.
“Dia gak ada di kamarnya, Mawar. Semua baju dan barang-barangnya tidak ada. Termasuk juga motor maticnya.”
Mawar tercengang, bola matanya yang indah sudah menunjukkan keterkejutan. Ia melihat ke arah Emran dengan cemas, kemudian pelan bibirnya terbuka.
“Apa ... apa gara-gara aku, Mas? Apa gara-gara aku Widuri pergi?”
Emran berdecak dan menggelengkan kepala. Kemudian helaan napas panjang keluar dari bibirnya yang tipis.
“Bukan. Bukan karena kamu, tapi karena aku. Aku yang salah, Mawar.”
Mawar mengerjapkan matanya dan melihat ke arah Emran dengan penuh tanya. Emran menarik napas panjang sambil melihat ke arah Mawar. Sepertinya dia memang harus jujur menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Widuri di malam sebelumnya.
“Malam itu ... Widuri mendengar pembicaraan kita di telepon. Lalu aku malah berkata sinis padanya dan dia mengusirku dari kamarnya.”
Mawar kembali terkejut, bibirnya sudah terbuka dan sontak ditutup oleh kedua tangannya.
“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak mencintainya. Bagaimana mungkin aku bisa berinteraksi intim seperti saat denganmu. Aku tidak bisa.”
Mawar hanya diam dan menundukkan kepala. Semua yang telah mereka lakukan memang salah. Harusnya sejak awal, Emran menolak perjodohan itu dan tidak membiarkan Widuri terjebak dalam pernikahan poligami yang tidak dia inginkan. Mawar juga salah mengiyakan permintaan Emran untuk menjadi istri keduanya. Kalau tahu, Emran tidak bisa berlaku adil tentu Mawar tidak akan menerima permintaannya kala itu.
“Lalu kamu akan mencarinya ke mana? Ini sudah malam, Mas. Apa kamu akan ke rumah orang tua Widuri?”
Emran menggeleng dengan cepat. Tidak mungkin Widuri pulang ke sana. Mereka merahasiakan pernikahan kedua Emran ini. Kalau Widuri pulang ke sana pasti banyak pertanyaan yang harus Widuri siapkan jawabannya. Kemudian kedua orang tua Emran juga pasti tahu lebih dulu daripada dirinya.
“Aku rasa dia tidak akan ke sana. Entahlah ... aku juga tidak tahu harus mencari di mana. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Bisa jadi dia mengganti nomor ponselnya. Dia sengaja melakukan semua ini, Mawar.”
Mawar terdiam lagi dan tampak menghela napas panjang sambil menunduk.
“Aku yang salah, Mas. Harusnya aku tidak berada di antara kalian. Harusnya aku yang pergi, bukan Widuri.”
Seketika Emran menoleh dan melihat ke arah Mawar. Ia berjalan mendekat kemudian merengkuh tubuh Mawar masuk dalam pelukannya.
“Bukan kamu, Sayang. Bukan kamu yang salah. Kamu itu belahan jiwaku, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Memang seharusnya tidak ada Widuri di antara kita, mungkin dia menyadarinya dan memilih pergi dengan sendirinya.”
Sontak Mawar mengangkat kepala dan menatap Emran dengan tatapan kesal. Bahkan wanita cantik di depannya ini terlihat marah saat Emran malah menyalahkan Widuri.
“Mas ... kok kamu malah ngomong begitu? Kamu senang dengan kepergiannya?”
Emran diam, hanya jakunnya yang naik turun. Kalau mau jujur, dia sedikit lega. Namun, ada satu hal yang dia takutkan dan belum siap untuk ia hadapi secepat ini.
“Enggak, Sayang. Aku hanya mengandaikan diriku menjadi Widuri. Aku juga tidak ingin dia pergi. Apalagi tadi Ibu menelepon dan bilang akhir pekan ini akan ke sini. Bagaimana jadinya kalau Ibu dan Ayah tidak bertemu Widuri di sini?”
Mawar kini yang membisu dan melihat Emran dengan sudut matanya. Emran memang tidak pernah memberitahu mengenai pernikahannya dengan Mawar. Wajar jika suaminya ketakutan saat mendapat telepon seperti itu.
“Aku harus pergi dulu. Kamu tidur saja, tidak perlu menunggu aku.” Emran bersiap keluar, tapi tangan Mawar sudah menahan lengannya membuat Emran menghentikan langkah.
“Mungkin lebih baik kamu mencarinya besok pagi saja, Mas. Kamu tunggu di kantornya. Aku yakin Widuri pasti masuk kerja. Tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja.”
Emran terdiam, keningnya berkerut-kerut sambil menggerakkan kepala mengiyakan ucapan Mawar. Emran sendiri bingung harus mencari Widuri ke mana malam ini. Mungkin sebaiknya dia tunda pencariannya besok pagi saja.
Emran melihat ke arah Mawar sambil tersenyum kemudian menganggukkan kepala lagi.
“Iya, kamu benar. Mungkin sebaiknya aku mencari dia besok pagi saja. Aku akan tunggu di kantornya. Kalau sekarang juga aku tidak tahu harus ke mana.”
Mawar ikut tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ya sudah. Kita tidur saja sekarang, kamu pasti juga lelah.” Emran tersenyum kemudian sudah menurut ajakan Mawar. Tak lama mereka sudah terlelap masuk dalam buaian mimpi indah masing-masing.
Pukul enam pagi, Emran sudah bangun dan bersiap. Bahkan dia sengaja mengantar Mawar ke rumah orang tuanya dulu. Emran tidak mau mengambil resiko mendapat amukan kedua orang tuanya saat tahu ada wanita lain di rumahnya. Apalagi tanpa ada Widuri di sana.
“Kamu sementara di sini dulu, ya? Nanti kalau Ayah dan Ibu sudah pulang, aku akan menjemputmu lagi,” ujar Emran.
Mawar hanya mengangguk. Meski dia juga sedikit tidak terima dengan perlakuan Emran kali ini, tapi sekali lagi dia sudah memutuskan menjadi istri kedua dan harus mengambil semua resikonya.
“Iya, Mas. Jangan lupa beritahu aku kalau Widuri sudah ketemu.”
Emran mengangguk kemudian mengecup kening Mawar dan berpamitan undur diri. Ia gegas menjalankan mobilnya menuju kantor Widuri. Emran berharap bisa menemui Widuri sebelum jam masuk kantor. Namun, sayangnya dia terjebak macet dan tiba di sana saat jam masuk kantor.
Maunya Emran masuk dan menemui Widuri di dalam kantor, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Ada seorang klien yang menginginkan bertemu. Terpaksa Emran meninggalkan kantor Widuri dan menunda kesempatannya bertemu Widuri.
Sementara di kantor, Widuri tampak sibuk mengerjakan tugasnya. Hampir seminggu dia tidak mendengar kabar Emran dan Mawar. Dia juga tidak melihat tampang suaminya dengan istri keduanya itu. Widuri benar-benar menikmati hidup dan merasa sangat bebas. Meskipun kadang dia merindukan tampang jutek suaminya. Namun, Widuri menepisnya berulang. Ternyata keputusannya untuk keluar dan pergi dari kehidupan suaminya memang tepat. Mungkin bulan depan, Widuri akan melayangkan surat gugatan cerai ke Emran. Dengan begitu hidupnya akan semakin tenang setelah ini.
Pukul lima sore, saat jam pulang kantor. Namun, sayangnya Widuri belum pulang.
“Kamu lembur lagi hari ini, Duri?” tanya Rani.
“Iya, kamu pulang duluan saja. Habis ini selesai, kok.” Rani mengangguk kemudian sudah berpamitan untuk berlalu lebih dulu.
Widuri melanjutkan pekerjaannya, baru pukul enam petang dia keluar kantor. Widuri berjalan riang sambil berdendang menuju parkiran. Dia tidak tahu kalau ada sosok yang menunggunya di dalam mobil sedari tadi. Begitu tahu Widuri keluar kantor, sosok itu yang tak lain Emran langsung keluar dari mobil dan berjalan menghampiri.
“WIDURI!!!”
Widuri menghentikan langkahnya, ia mengangkat kepala dan langsung terkejut. Ia melihat sosok tampan berbalut jas lengkap dengan dasinya sedang berdiri menatapnya. Mata indahnya yang laksana mata elang sedang melihat ke arahnya dengan penuh binar di sana. Widuri terdiam, tertegun menatap sosok dengan visual indah yang selalu menghipnotisnya itu berjalan mendekat.
Tanpa disangka dada Widuri berdebar hebat saat sosok itu sudah berdiri sejajar di depannya. Ternyata pria satu ini memang selalu membuatnya tak karuan. Widuri bergeming di tempatnya dan menengadahkan kepala menatap pria di depannya.
Sebuah lengkungan indah terukir sempurna dari bibir tipisnya yang mempesona membuat Widuri seketika terpana melihatnya. Lalu lirih dari bibir tipis itu terucap sebuah kalimat nan memukau.
“Ayo, kita pulang!!”
Aku Menemukanmu
“Ayo, kita pulang!!” ujar Emran.
Widuri terbelalak kaget mendengar ucapan Emran. Setelah hampir satu minggu, suaminya tidak peduli dan tidak tahu tentang kepergiannya. Mengapa kini malah tiba-tiba datang dan mengajaknya pulang.
“Ayo!!!” Emran sudah mengulurkan tangan dan menarik tangan Widuri begitu saja. Seketika Widuri kaget dan gegas menepis tangan Emran.
Emran terkejut melihatnya bahkan alisnya kini berkerut menatap tajam ke arah Widuri.
“Aku bawa motor. Aku bisa pulang sendiri,” jawab Widuri.
“Oke, baik. Aku akan mengikuti dari belakang.” Emran malah bicara seperti itu dan sekali lagi membuat Widuri terkejut. Sejak kapan suaminya jadi peduli padanya. Apa jangan-jangan Mawar yang menyuruhnya lagi seperti tempo hari.
“Gak usah. Aku bisa pulang sendiri. Kamu pulang duluan saja. Bukankah biasanya seperti itu.”
Emran berdecak dan menggelengkan kepala, kemudian menatap tajam ke arah Widuri. Kalau ditatap seperti itu, Widuri langsung gugup dan buru-buru memalingkan wajah.
“Kalau kamu tidak aku ikuti pasti kamu tidak akan pulang ke rumah. Ke mana saja kamu lima hari ini?”
Seketika Widuri terkejut mendengar pertanyaan Emran. Mengapa juga suaminya malah menghitung berapa lama dia tidak pulang? Apa benar dia sangat peduli padanya?
“Aku ... aku ke rumah teman.” Widuri terpaksa bohong. Dia tidak mau Emran tahu tempatnya tinggal. Pasti Emran akan melarang dan menyuruhnya pulang.
“Kamu marah kepadaku? Pada kami? Hingga akhirnya kabur dari rumah, begitu?” Emran kembali mencercah pertanyaan ke Widuri.
“Tidak. Untuk apa aku marah padamu dan Mawar?”
Emran berdecak lagi, kini sambil melipat tangannya ke depan dada melihat ke arah Widuri. Widuri hanya diam dan memalingkan wajah. Dia paling malas kalau sudah ditatap dengan tajam seperti itu. Ini seperti mengingatkan seorang ayah yang sedang memarahi putrinya karena telah melakukan kesalahan.
“Ya udah kalau gak marah. Sekarang ikut aku pulang ke rumah!!!”
“Aku gak mau dan kamu tidak bisa memaksaku.” Widuri bersikeras. Dia sudah membulatkan tekadnya kalau tidak akan terayu oleh ucapan Emran. Pria itu berkata manis hanya karena disuruh Mawar saja bukan dari hatinya yang terdalam.
“Aku masih suamimu dan kamu istriku. Kata siapa aku gak bisa memaksamu? Apa perlu kamu aku seret pulang sekarang!!!” Emran malah mengancam. Mata elangnya yang tajam kini ikut mengintimidasi Widuri dan membuat wanita berwajah manis itu bergidik ngeri. Mimpi apa dia punya suami searogan ini.
“Aku akan teriak kalau kamu memaksaku!!” Widuri malah balik mengancam.
Emran tampak kesal kini dan terlihat putus asa. Sebenarnya dia bisa saja berlaku kasar dan langsung menarik Widuri masuk ke dalam mobilnya. Namun, ada banyak mata yang sedang mengawasi mereka. Apalagi situasinya saat ini sedang berada di depan kantor istrinya. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan untuk tidak bertindak bodoh.
“Oke, terserah kamu.” Emran menyerah dan sudah membalikkan badan berlalu pergi meninggalkan Widuri.
Widuri tersenyum lega sambil meneruskan langkahnya menuju parkiran. Ia langsung mengenakan helm dan menstater motornya. Namun, Widuri sempat menoleh sekilas ke arah Emran. Ia melihat suaminya masih menunggu di dalam mobil dan tidak menyalakan mesinnya.
“Sialan!!! Kenapa dia gak pulang duluan, sih?” umpat Widuri sebal.
Karena tidak mau menunggu lebih lama lagi, akhirnya Widuri melajukan motornya lebih dulu meninggalkan kantor. Ia sengaja menekan gasnya lebih kencang agar Emran tidak bisa mengejar. Namun, ternyata Emran langsung menjalankan mobilnya mengikuti Widuri. Emran sangat terkejut saat Widuri melaju melalui jalan yang tidak biasa mereka lalui.
“Dia mau ke mana? Apa mau cari makan dulu?” gumam Emran.
Sepertinya Widuri tahu kalau Emran mengikutinya. Widuri tidak kehabisan akal, dia sengaja melintas di jalan yang tidak bisa dilewati mobil. Terang saja ulah Widuri kali ini membuat Emran kesal. Pria tampan itu sudah uring-uringan di dalam mobil dan berulang kali memukul kemudinya.
“Sialan!! Dia ngerjain aku. Memangnya mau ke mana lagi, sih? Ini sudah malam juga.”
Emran kesal, apalagi dia sudah kehilangan jejak Widuri. Emran menarik napas panjang sambil mengacak rambutnya.
“Duh ... nyari di mana lagi ini? Kenapa juga aku gak tanya nomor teleponnya yang baru tadi? SIALAN!!!”
Emran masih kebingungan sambil celingukan mencoba mencari jejak Widuri. Hingga akhirnya dia melihat sebuah motor matic yang terparkir dengan manis di halaman sebuah rumah kosan. Emran langsung tersenyum penuh kemenangan apalagi saat memastikan nomor polisi motor itu sama dengan milik istrinya.
“Gotcha!!! Akhirnya ketemu juga.” Emran gegas memarkir mobilnya dan berjalan menuju rumah kost tersebut.
Rumah kost itu terdiri dari tiga lantai dengan beberapa kamar berjejer membentuk huruf U mulai dari lantai satu sampai lantai tiga. Bangunannya lumayan bersih dan rapi, di bagian tengah bangunan ada lahan parkir tempat penghuni kost meletakkan kendaraannya.
Baru saja Emran melangkahkan kakinya mendekat ke arah pagar bangunan kost tersebut, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang keluar. Wanita paruh baya itu melihat Emran, mengamatinya dari atas sampai bawah seperti sedang memindai. Emran merasa perlakuan wanita paruh baya itu wajar apalagi di sini ada tulisan kost putri, tamu wajib lapor.
“Cari siapa, Mas?” tanya wanita itu.
“Eng ... saya cari Widuri Yasmin, Bu. Di kamar berapa ya tinggalnya?”
Wanita paruh baya itu mengernyitkan alis dan menatap Emran dengan tatapan curiga. Emran tahu apa maksud tatapan wanita paruh baya itu.
“Saya suaminya. Saya baru saja datang dari luar kota.”
Wanita paruh baya itu langsung tersenyum dan menganggukkan kepala. Sebelumnya Widuri juga sudah mengatakan tentang statusnya dan dia juga bilang kalau suaminya kerja di luar kota. Jadi saat Emran datang berkata seperti itu, ibu penjaga langsung percaya.
“Oh, dia di lantai dua. Kamarnya nomor tujuh. Itu kelihatan dari sini.” Wanita paruh baya itu sudah menunjuk kamar dengan pintu berwarna merah dan ada hiasan stiker hello kitty di bagian atasnya.
Emran mengangguk sambil tersenyum. Baru saja dia hendak melangkah, wanita paruh baya itu mencekal lengannya. Emran menoleh dan mengernyitkan alis hendak bertanya.
“Masnya bawa KTP? Soalnya tamu yang datang dan bermalam di sini harus meninggalkan KTP,” ujar wanita paruh baya itu.
“Oh iya, sebentar.” Emran mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu identitas dirinya kemudian gegas berjalan menuju kamar Widuri berada.
Wanita paruh baya itu hanya melihat Emran dari tempatnya berdiri. Emran menitih tangga menuju lantai dua. Lalu berjalan memutar untuk menuju kamar istrinya. Banyak penghuni kost yang sudah datang dan sedang menikmati waktu istirahat mereka di kamar. Tentu saja kehadiran sosok Emran nan rupawan sempat menginterupsi keasyikan mereka. Bahkan tidak jarang penghuni kost keluar kamar untuk melihat ke kamar mana Emran berhenti.
Kamar nomor tujuh, Emran menghentikan langkahnya. Tangannya langsung mengetuk cukup lama. Hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Terlihat sosok Widuri sudah mengenakan piyama dan masih dengan hijabnya tertegun menatap Emran sedang berdiri di depan pintu. Emran langsung tersenyum penuh kemenangan, memamerkan gigi putihnya kemudian bersuara dengan menggoda.
“Kaget aku bisa menemukanmu di sini?”
Daftar Isi Ternyata Aku Orang Ketiga di Pernikahan Suamiku
Novel Rilisan Baru











