
Terlahir Kembali: Suamiku Merasakan Sakitnya Melahirkan
Bab 3
Wajah Derrick menjadi sangat masam. "Leah, kita suami istri. Untuk apa kamu perhitungan sekali pada suami sendiri?"
Aku tersenyum sambil menimpali, "Bukannya kamu yang bilang semua harus dihitung dengan baik supaya nggak ada pertengkaran?"
Karena Derrick yang mengusulkan hal seperti ini, dia pun tidak bisa membantah dan hanya bisa mentransfer uang kepadaku.
Sesudah membereskan pekerjaan rumah, aku pergi mandi. Sekarang usia kandunganku sudah 18 minggu, jadi perutku belum terlalu besar.
Karena aku akan melahirkan pada minggu ke-38, aku akan memindahkan kandunganku ke perut Derrick minggu depan. Aku harus segera menanam kantung janin di tubuh Derrick secepatnya. Ini bukan hal yang sulit.
Aku memakai baju tidur seksi dan menyemprot parfum wangi. Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat Derrick sedang menyusun jadwal.
Setelah memeluknya dari belakang dan melihat dengan cermat, aku baru menyadari bahwa pria ini sedang menulis jadwal pekerjaan rumah.
Seketika, suasana hatiku memburuk. Namun, ini adalah satu-satunya cara untuk menanam kantung janin. Aku pun merangkul lehernya dan memanggil dengan manja, "Sayang ...."
Begitu Derrick menoleh dan melihatku, mataku pun berbinar-binar. Harus diakui, Derrick memang tampan. Dulu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama karena ketampanannya. Tanpa peduli pada larangan orang tua, aku ngotot menikah dengannya.
Aku langsung mencium Derrick. Derrick menolak, "Kamu masih hamil."
"Sudah empat bulan, nggak masalah."
Begitu mendengarnya, Derrick langsung bersemangat. Setelah memuaskan hasratnya, dia pun tidur dengan lelap.
Keesokan pagi, terlihat tanda merah di perut Derrick. Itu adalah tanda bahwa kantung janin telah ditanam. Aku merasa sangat puas.
Hanya saja, masih ada risiko kegagalan. Untuk menjamin semuanya berjalan lancar, aku menanam kantung janin selama empat hari.
Derrick yang kelelahan pun berkata, "Kalau terus begini, aku bakal minta bayaran darimu. Soalnya kamu enak-enakan, aku yang gerak terus."
Aku tidak bisa berkata-kata. Namun, ketika melihat tanda itu berubah menjadi warna ungu, aku tersenyum puas.
Derrick juga memperhatikan tanda itu, tetapi dia mengira itu karena aku menciumnya terlalu kuat sehingga tidak terlalu memikirkannya.
Seminggu kemudian, aku mengajak Derrick menemui orang tuaku. Derrick bertanya, "Kenapa mendadak sekali? Bukannya kita sudah sepakat bakal mengurus orang tua masing-masing?"
Aku menimpali, "Orang tuaku lagi senggang, jadi ingin menemuimu. Kalau kamu nggak ikut, nanti dibilang nggak sopan."
Derrick masih ingin menolak, tetapi aku bilang aku sudah menyiapkan hadiah. Dia pun tersenyum.
Setibanya di rumahku, Derrick terbelalak. Dia bertanya dengan tidak percaya, "Leah, ternyata kamu sekaya ini?"
Aku terus memberi tahu Derrick bahwa orang tuaku punya banyak anak dan tidak peduli pada kami. Makanya, selama ini dia mengira rumahku di pegunungan dan orang tuaku bekerja di luar. Dia pun tidak berpakaian rapi.
Rumahku memang berada di pegunungan, tetapi seluruh pegunungan. Untuk masuk ke dalam rumahku, kami bahkan harus naik mobil.
Derrick terus mengeluh, "Kenapa kamu nggak bilang sejak awal? Lihat pakaianku, nggak sopan sekali."
Ternyata pria ini tahu bertemu orang tua pasangan harus berpakaian sopan?
"Nggak apa-apa, orang tuaku nggak peduli," sahutku.
Aku punya ratusan saudara. Orang tuaku tidak peduli pada karakter pasangan anaknya, melainkan kemampuan bereproduksi.
Derrick bertanya, "Seharusnya aset orang tuamu sangat banyak, 'kan?"
"Banyak." Aku tersenyum. "Tapi, saudaraku juga banyak. Masing-masing dapat aset sekitar puluhan miliar."
Ini jelas adalah nominal besar untuk keluarga biasa. Derrick pun tampak gusar. Sepertinya, dia menyesal karena mengusulkan split bill denganku.
Begitu bertemu, ayahku langsung ingin memeriksa denyut nadi Derrick. Derrick tidak memahami apa yang terjadi.
Aku berucap, "Ayahku dokter pengobatan tradisional yang sangat terkemuka. Biasanya, dia cuma mengobati tokoh besar."
Begitu mendengarnya, Derrick langsung menjulurkan tangannya. Ayahku merasa sangat puas dengan kemampuan bereproduksi Derrick. Dia mengangguk. "Bagus, bagus sekali."
Derrick mengira ayahku memuji kesehatannya. Ekspresinya dipenuhi kebanggaan.
Malam hari, kami menginap di vila. Setelah Derrick tidur, orang tuaku menemuiku.
Ibuku merasa senang. Dia bertanya, "Pria yang kamu cari ini lumayan juga. Berapa banyak kantung janin yang kamu tanam untuknya?"
"Empat."
"Sayang sekali, seharusnya lebih banyak. Tapi, nggak usah terburu-buru. Santai saja. Kamu sudah termasuk yang paling hebat di generasi ini."
Di generasiku ini, tidak banyak kuda laut jantan yang bersedia melahirkan lagi. Aku adalah anak ke-33. Kakak-kakakku belum punya keturunan sampai sekarang.
Ayahku bertanya, "Dia benaran mau melahirkan anak untukmu?"
Aku mengeluarkan surat perjanjian.
Ayahku mengangguk. "Ya sudah, kamu pindahkan janinmu kepadanya."
Sebulan kemudian, perut Derrick membesar dan berat badannya naik 5 kilogram. Dia mengira dia makan terlalu banyak sehingga mulai olahraga mati-matian.
Namun, tidak ada hasil apa pun. Bahkan, dia tiba-tiba merasakan sesuatu di perutnya.
Anda Mungkin Juga Suka





