APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terlahir Kembali, Menceraikan Suami Konglomerat

Terlahir Kembali, Menceraikan Suami Konglomerat

Setelah terlahir kembali, aku memutuskan untuk tidak lagi mengejar cinta Finn Gunawan, seorang bos mafia berkuasa sekaligus pria terkaya yang mengabaikanku di kehidupan lalu. Alih-alih bertahan sebagai istri yang tak dianggap, kini aku memilih mundur. Aku menemui Madeline Bahar, cinta pertama Finn, dan memintanya membujuk Finn agar bersedia menandatangani surat perceraian kami. Langkah ini menjadi satu-satunya cara agar Finn percaya bahwa aku benar-benar ingin melepaskannya demi meraih kebebasan sejati.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku langsung kembali ke vila setelah meninggalkan kafe. Besar, dingin, dan sunyi seperti biasa.

Kadang aku bertanya-tanya, untuk apa kami memerlukan semua orang ini. Para pengawal, para pembantu, para pengurus rumah. Apa sebenarnya yang mereka lindungi, bersihkan, atau layani? Aku satu-satunya yang benar-benar tinggal di sini.

Kadang Henry, kalau dia sedang tidak di sekolah. Sedangkan Finn? Finn hanya muncul mungkin tujuh hari dalam setahun. Kalau pun sebanyak itu.

Aku berjalan menyusuri ruangan, suara tumitku bergema di atas lantai marmer. Aku melewati taman yang dulu aku rancang sendiri, setiap bunga kupilih sesuai selera Finn.

Aku mengintip ke kamarnya. Kamar tempat aku menyiapkan segalanya agar dia mau tinggal. Kamar tempat aku mencoba menjebaknya dengan seorang anak.

Kenangan menghantamku seperti pukulan di dada. Dulu, aku pasti akan bertahan pada kenangan itu. Namun, sekarang tidak lagi.

Aku sudah menandatangani surat cerai. Aku tidak punya alasan untuk tetap di sini. Sudah waktunya bersiap untuk pergi.

Aku mulai berkemas diam-diam. Sampai tiba-tiba pengurus rumah muncul di ambang pintu, seolah-olah aku ini pembantu yang sedang melanggar aturan.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya sambil mengerutkan dahi. "Kamu tahu kamu nggak boleh masuk ke kamar Tuan Finn tanpa izinnya."

Dia tahu betapa tidak berartinya aku di rumah ini. Dia selalu memanfaatkan hal itu, merendahkanku setiap kali Finn tidak ada.

Aku berbalik tajam. "Urus saja urusanmu sendiri dan jangan ganggu aku."

Saat dia tidak mundur, aku meletakkan semuanya dan berjalan menuju kamar Henry.

Masih ada aroma khasnya di sana. Masih berantakan dengan cara khas anak laki-laki. Buku, sepatu, Lego berserakan dan di atas ranjangnya ada boneka beruang yang kubelikan untuknya tahun lalu.

Aku masih ingat hari itu. Dia menatap boneka itu, lalu mengerutkan kening dan berkata, "Bukan ini yang aku mau."

Dia bahkan tidak menyentuhnya. Namun, kemudian Finn berkata, "Madeline yang memilihkan itu untukmu."

Wajah Henry langsung berubah. Dia memeluk boneka itu erat-erat dan sejak hari itu selalu tidur bersamanya.

Momen itu menghancurkanku. Aku tidak tahu harus merasa bersyukur karena Finn berhasil meyakinkannya ... atau hancur karena anakku yang hanya menerima hadiah saat dia pikir itu datang dari wanita lain.

Aku mengambil boneka itu. Hanya menggenggamnya.

Aku tidak berencana membawa banyak barang, tetapi yang ini, aku ingin membawanya. Aku butuh pengingat itu.

Tiba-tiba aku mendengar suaranya, tajam dan marah. "Letakkan itu! Itu dari Madeline!"

Aku menoleh dan melihat Henry berdiri di ambang pintu, matanya menyala. Di belakangnya, ada Finn. Tanpa Madeline. Hanya kami bertiga.

Sebuah momen yang begitu langka, kami bertiga dalam satu ruangan.

"Di mana Madeline?" tanyaku tanpa sempat menahan diri.

Finn mengerutkan kening. "Dia bilang aku harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan Henry. Jadi aku melakukannya. Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah seharusnya kamu di kamarmu?"

Henry melangkah masuk, menyilangkan tangan. "Iya! Kenapa kamu ada di kamarku, menyentuh barang-barangku?"

"Aku nggak membuang apa pun," kataku lelah. "Itu cuma boneka beruang. Aku yang membelinya untukmu."

"Aku nggak peduli!" teriaknya. "Aku nggak mau kamu di sini!"

Aku tersentak. Namun, aku tetap berdiri tegak. "Henry, aku ibumu."

"Bukan! Kamu bukan ibuku! Aku bahkan nggak mau tinggal serumah denganmu!"

Finn melangkah maju. Diam, tenang, dan dingin. "Ayo pergi," katanya pada Henry sambil menggenggam tangannya.

Dia berhenti di ambang pintu. Menatapku. "Jilly," katanya. "Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dan jangan salahkan Madeline."

Kemudian, sebelum keluar dari kamar, dia merogoh jaketnya dan melemparkan sebuah kartu. Kartu itu mendarat di kakiku.

"Kamu boleh tinggal. Rusak apa pun sesukamu. Hanya saja ... jangan ribut." Mereka pun pergi.

Aku berdiri di sana, menatap kartu itu. Limitnya 15 miliar. Jauh dari kartu yang dia berikan pada Madeline.

Namun dulu, di kehidupanku yang lama, aku pasti akan menganggap kartu itu sebagai sesuatu yang lebih. Sebuah tanda bahwa dia masih peduli. Bahwa masih ada harapan.

Sekarang? Sekarang aku sudah tahu.

Aku membiarkan air mata jatuh. Hanya sebentar. Kemudian, aku menghapusnya sambil melempar kartu itu ke seberang ruangan dan berbisik pada diri sendiri, "Tenang saja, Finn. Aku nggak akan membuat keributan lagi. Nggak akan pernah."

....

Sejak hari itu, aku mulai berubah.

Pagi itu, tubuhku secara refleks ingin memasak makanan favorit Henry, ikan goreng dengan lemon dan adas sowa. Namun, aku menghentikan diriku. Aku malah duduk di ruang tamu sambil membaca buku.

Tak lama kemudian, salah satu pembantu mengintip, ragu-ragu. "Umm, Nyonya, apakah hari ini Nyonya nggak memasak sarapan?"

Aku menutup buku itu sedikit lebih keras dari yang kumaksud. "Apa? Kita punya sepuluh orang pekerja dan nggak ada satu pun yang tahu cara membuat sarapan?"

Dia terkejut. "Maaf, saya akan segera menanganinya."

Saat Henry pulang dari sekolah, aku tidak pergi ke kamarnya untuk memeriksa PR. Tidak membantunya mengerjakan tugas seperti biasanya. Tidak menanyakan apakah dia butuh bantuan mengunduh atau menyiapkan perlengkapan.

Aku membiarkannya berjalan melewatiku tanpa sepatah kata pun.

Dia bermain gim sepanjang malam. Aku mendengarnya dari balik dinding. Namun, aku tetap diam.

Empat hari berlalu seperti itu. Aku hanya menunggu pengacaraku menyelesaikan pembagian properti. Aku tidak menangis, tidak bicara, tidak berusaha.

Di hari kelima, amarah Henry meledak. Dia menelepon Finn. Aku mendengar isak tangisnya menembus dinding yang tipis. "Ayah, aku nggak tahan lagi. Aku mau pindah! Jilly jahat padaku, dia mencoba menyakitiku!"

Finn datang ke vila keesokan harinya. Masuk dengan amarah. "Kamu tetap ibunya, Jilly," katanya tajam. "Aku nggak peduli apa pun yang Madeline bilang, kamu masih punya tanggung jawab."

Sebelum aku bisa menjawab, Henry menarik lengan bajunya sambil menangis. "Ayah, tolong tinggal beberapa hari di sini. Ayah bakal lihat sendiri. Dia mencoba menyakitiku!"

Finn menatapku, lalu kembali ke Henry. "Baiklah. Aku akan tinggal. Tapi Jilly, jangan berlebihan."

Henry menyeka air matanya, wajahnya langsung berbinar. "Boleh kita ajak Madeline tinggal juga? Madeline jauh lebih baik daripada dia!"

Finn tidak langsung menjawab. Hanya menatapku. Menunggu.

Aku menatap balik. Dingin dan tegas. "Kalau begitu undang saja dia," kataku. "Aku nggak masalah."

Mata Finn sedikit membesar. "Kamu yakin?"

"Seratus persen."

Henry sudah menariknya menuju pintu. "Ayo! Aku mau kasih tahu Madeline kabar baik ini!"

Mereka pun meninggalkan vila. Finn sempat menoleh sekali, sekilas, lalu masuk mobil bersama Henry.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Ellina
9.7
Mimpi Ellina sangat sederhana: ia ingin menikah di hari Valentine dan hidup bahagia selamanya. Namun, keceriaan perempuan ramah ini seketika sirna saat suaminya hanya memberi kebahagiaan palsu. Bayang-bayang cinta pertama sang suami terus mengusik pernikahan mereka, membuat Ellina berada di titik terrapuhnya. Kini, ia dihadapkan pada ketidakpastian. Akankah sang suami kembali ke masa lalu, ataukah impian indah Ellina akan terwujud?
Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun Aria berkorban demi kesuksesan Baskara, namun ia justru dicampakkan setelah sang suami berhasil. Demi memikat investor barunya, Aurora, Baskara tega melenyapkan identitas Aria dan menyekapnya di gudang gelap yang memicu fobianya. Puncaknya, ia membiarkan Aria disiksa penculik demi melindungi Aurora. Di tengah keputusasaan, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara hebat yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas semua pengkhianatan ini.
Sampul Novel Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku
8.3
Muak dikhianati Agung serta ditindas oleh keluarga mertuanya, Serani Gunawan mantap mengambil keputusan untuk bercerai. Penyesalan mendalam segera menghampiri sang mantan suami ketika menyadari bahwa CEO baru di kantornya adalah Serani, yang selama ini menyembunyikan status miliardernya. Demi menguasai kekayaan Serani, Agung dan selingkuhannya menyusun berbagai rencana jahat. Beruntung, Serani tidak sendirian; dua pria kaya dan tampan siap mendampinginya menghadapi setiap ancaman demi menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Kematian Anakku, Perceraianku!
9.2
Kematian tragis Louis di bilik kamar mandi dengan luka kepala parah menjadi awal kehancuran rumah tangga ibunya. Thomas, sang suami sekaligus kepala sekolah, justru mengabaikan putranya yang sekarat demi menyelamatkan anak dari cinta pertamanya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Louis hanya meminta ibunya untuk memercayainya. Di hari pemakaman, Thomas yang tidak tahu putranya telah tiada justru menelepon dan mengancam akan menghabisi Louis. Keputusan bulat pun diambil untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan Istri yang Agung
9.5
Demi Hesti, Bram tega mengkhianati ketulusan istrinya. Di tengah duka wafatnya orang tua dan vonis kanker, sang istri didepak lewat fitnah keji hingga dipaksa bercerai. Demi bebas dari siksaan itu, ia memalsukan kematiannya lalu membuang identitas lamanya yang rapuh. Tiga tahun berselang, ia terlahir kembali sebagai Aurora Morgan, sosok wanita yang sangat berkuasa. Kini, ia datang kembali untuk membalas semua penderitaan dan penghinaan yang dahulu Bram lakukan padanya.
Sampul Novel Terjebak Pernikahan Salah
8.4
Hera Altezza harus menjalani pernikahan paksa tanpa rasa cinta dengan Jayden Xavier. Sikap manis Jayden rupanya cuma kedok demi membalas dendam, sebab ia menuduh Hera merusak hubungannya dengan Elena Darwin. Di tengah siksaan batin akibat dikhianati sang suami, sosok Haidar Pratama datang menawarkan pertolongan. Akan tetapi, bantuan Haidar meminta tebusan besar yang berkaitan erat dengan masa lalu Hera. Kini, ia terjebak di antara kepedihan dan keputusan pelik demi meraih kebebasan.