APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Pesona Putri Gelap Tuan Konglomerat

Terjerat Pesona Putri Gelap Tuan Konglomerat

Sejak kecil diasingkan ke desa, Putri tumbuh mandiri sebelum akhirnya mengadu nasib di ibu kota. Karirnya di dunia hiburan nyaris hancur oleh pelecehan, tetapi Arya Bharata, seorang pewaris takhta konglomerat, datang menyelamatkannya. Benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Sayangnya, hubungan ini terhalang restu keluarga, memaksa Putri pergi menjauh. Saat melarikan diri, rahasia ayah kandungnya terkuak. Akankah Putri berdamai dengan masa lalu demi cintanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kamu sudah pulang? Kok cepat?" sapa Sophia yang tengah duduk sambil menonton TV di ruang tengah begitu Putri membuka pintu. 

"Aku ... aku gagal Kak. Tak jadi ikut casting karena mereka keburu dapat peran yang cocok."

Sophia, yang dikira Putri bakal murka terlebih karena perdebatan mereka soal kostum yang dipakainya tadi pagi, nyatanya cuma tersenyum miring. 

"Sudah kubilang, modal akting saja tak cukup di sini. Selain cantik dan berbakat, kamu juga harus berani."

"Iya, Kak." sahut Putri lemah. Matanya yang indah mengerjap tak berdaya menatap Sophia. 

Selama tinggal bersama rekan satu unitnya dua bulan ini, Putri sedikit-banyak tahu kalau wanita yang punya nama lengkap Sofyani ini bukanlah perempuan naif. 

Tujuh tahun malang-melintang di tengah getirnya dunia hiburan ibu kota, bisa mengubah wanita lugu manapun jadi agak picik. Kalau tak begini, mana mungkin Sophia mampu membiayai hidup glamornya dengan tawaran kerja yang bisa dihitung pakai jari. 

"Nah, kalau kau berani, peran yang lepas ini masih bisa kau dapatkan. Asal jangan seperti tadi pagi, pakai baju yang agak terbuka pun tak mau."

Putri menatap Sophia penuh keheranan. Meski agak ragu, dia bertanya, "Tapi bagaimana caranya, Kak?"

"Tenang saja, aku kenal produsernya. Kamu bakal bisa mendapatkan perannya asalkan berbicara langsung dengan beliau."

Lagi-lagi Putri bimbang. Bagaimana caranya bicara dengan orang yang bahkan tak pernah dia temui. Lagipula bagaimana dengan gadis nomor dua belas tadi?

"Kenapa? Kamu takut? Ingat Putri, rasa takut tak bikin kamu kenyang. Apa bisa rasa takut membayar sewa tempat tinggal kita? Bisa bayar biaya berobat nenekmu?"

Demi mendengar neneknya disebut, batin Putri jadi bergolak. Kalau hanya bicara dengan produser apa susahnya? Kalau pun tak diterima juga, yang penting sudah berusaha. 

"Kamu tak usah khawatir, nanti kutemani." tambah Sophia waktu melihat kebimbangan Putri. 

Ada keheningan sesaat sebelum Putri membulatkan tekadnya. "Baiklah Kak, terima kasih banyak atas bantuannya."

Putri memberikan senyum terbaiknya. Sejak muda dia memang sudah belajar jadi gadis yang menyenangkan agar bisa bertahan hidup.

Waktu masih tinggal dengan ibunya, dia akan mengambilkan teh dan memijat kaki Dahlia begitu pulang kerja. Waktu tinggal bersama sang nenek, dia pun bersikap manis dan sopan agar diterima segenap keluarga pamannya yang tinggal di desa.

Sophia menatap senyum Putri yang dirasanya kekanakan itu dan berucap datar, "Baiklah. Istirahat yang cukup biar fresh pas ketemu produser nanti."

Putri masih berbasa-basi sejenak sebelum beranjak ke kamarnya yang terletak di dekat dapur. Tanpa dia ketahui, sebuah senyum sinis mengantarkan kepergiannya. 

"Untung masih cantik dan muda, kalau tidak hmph." gerutu Sophia lalu menelepon seseorang di seberang sana. 

Di tengah kegugupan Putri ingin bertemu produser, waktu terus berjalan hingga tak terasa hari sudah jelang maghrib. 

"Nah, pakai ini untuk memberi kesan yang baik. Tolong jangan membantah." Sophia berkata waktu Putri memilah-milah busana yang tepat. 

Karena tak enak hati, Putri pun memakai dress itu walau sangat jauh dari kata nyaman. Bagian roknya kelewat pendek sedangkan bagian belakang juga sangat terbuka.

Pendek kata, dress ini membuat si pemakai seperti perempuan vulgar yang sedang menjajakan tubuh. Lucunya, Sophia terlihat santai saja memakai baju serupa. 

"Kak, anu ... aku boleh pakai outer nggak dari sini. Dingin soalnya," pinta Putri memelas. 

Sophia berpikir sejenak sebelum akhirnya menuruti permintaan rekannya. Tak berapa lama, mereka berdua turun ke parkiran lalu berangkat dengan mengendarai mobil milik Sophia. 

"Next time, kamu jangan terlalu kaku, berpakaian agak terbuka itu hal biasa di dunia hiburan. Namanya juga panggung sandiwara," tutur Sophia seraya mengemudi. 

Diam adalah reaksi terbaik yang bisa diberikan Putri.

Bukannya dia tak paham industri hiburan mengharuskan seseorang tampil modis, namun berpakaian terbuka pun ada aturannya. Entah terbuka di bagian atas atau bawah, belakang atau depan, mesti dipilih salah satu. 

Terbuka di semua bagian, apa bedanya dengan pamer kulit? 

"Nah, sekarang kita sudah sampai. Rilekslah dan jangan terlalu kaku." perintah Sophia lagi saat mereka tiba di parkiran. 

Putri mengiyakan lalu membuka seatbelt-nya. Begitu turun dari mobil, sadarlah dia kalau mereka ada di Bharata tower yang didatanginya tadi pagi. Bedanya, sekarang mereka masuk lewat pintu belakang. 

'Apa dia di sini juga?' Batin Putri merenung.

Namun cepat-cepat ditepisnya pikiran aneh ini sebelum makin menjadi.

Begitu mereka berdua sudah turun dari mobil, Sophia langsung membawa Putri menuju lift. 

"Lantai delapan belas sampai dua puluh adalah hotel, sedangkan dua puluh satu sampai dua puluh empat itu lokasi periklanan dan studio film." Sophia menjelaskan dengan nada bangga sementara Putri cuma mengangguk-angguk. 

"Tiinggg!"

Begitu pintu lift terkuak, seorang pria muda segera menyambut dan membimbing mereka menuju sebuah ruangan. 

Di sana sudah menunggu seorang lelaki paruh baya yang duduk santai sambil mengisap rokoknya. 

"Hai Sophia, lama tak bertemu dan kamu tetap cantik seperti dulu." sapanya ramah seraya mengerling genit. 

Sophia membalas tak kalah hangat lalu mencium pipi kiri dan kanan pria tambun itu. 

Interaksi mereka yang berlebihan, bikin Putri jadi rikuh apalagi waktu melihat pakaian yang dikenakan produser itu cuma piyama tidur model kimono yang tak diikat dengan benar. 

"Jadi, ini gadis yang kau ceritakan itu?" Laki-laki itu menoleh pada Putri setelah basa-basi yang hambar. 

"Ya, dia gadis muda berbakat. Aku yakin kamu tak akan kecewa dengan aktingnya."

Laki-laki itu mengerling pada Putri sambil berkata, "Itu belum bisa dikatakan. Kita tunggu saja nanti bagaimana penampilannya."

Tiba-tiba Sophia dan lelaki tambun itu tertawa keras hingga bulu kuduk Putri bergidik. 

"Putri kenapa berdiri saja, ayo sapalah Soni. Dia produser top di Bharata group," ujar Sophia yang tanpa sungkan langsung menghela Putri ke depan Soni, layaknya sales yang menjajakan dagangan.

Mau tak mau Putri menyapa laki-laki yang sejak tadi tak menarik minat ini. "Hai Om, kenalkan nama saya Putri. Senang bertemu dengan Anda."

"Hahaha, aku tak setua itu cantik. Panggil saja Kakak." 

Lagi-lagi tawa membahana memenuhi ruangan itu. Putri yang ketakutan makin merapatkan outer yang dipakainya. 

"Sudah, sudah. Ajak dulu kami minum Soni. Ramah sedikitlah pada tamu." Sophia berkata di antara derai tawanya. 

"Ah, ya maafkan kelalaianku."

Tak berapa lama, pemuda yang menjemput mereka tadi langsung membawa baki yang di atasnya tersaji beberapa botol minuman beralkohol. 

"Ayo, silakan diminum, Ladies. Jangan sungkan," ujar Soni yang langsung membuka tutup botol dan menuangkan minuman berwarna kekuningan itu dalam tiga gelas tinggi. 

Melihat kedua manusia didekatnya sudah minum sambil ngobrol santai, Putri pun melakukan hal yang sama. 

"Kenapa, Putri? Tak enak minumannya?" tanya Sophia yang sudah mulai mengisap rokoknya. 

"Enak kok, Kak." sahut Putri sekenanya walaupun mulutnya hampir memuntahkan minuman yang berasa aneh itu. Agak pahit, sedikit manis, juga getir.

Beberapa kali disesapnya minuman itu hingga rasa dahaganya berangsur hilang dan tubuhnya lebih rileks. Anehnya, seiring dengan ini kepala Putri pun mulai pusing sementara tubuhnya mendadak sangat panas di dalam. Seperti ada yang bergejolak di sana.

Hingga pada suatu waktu ketika dia tak sanggup lagi menahannya, Putri memaksakan diri mengangkat kepala dan berkata lirih, "Kak Sophia, maaf, bisa kita pulang?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANAK CEO TAMPAN
8.1
Akibat jebakan keji sang mantan suami, Candice terpaksa melewati malam bersama seorang lelaki asing. Empat tahun berselang, ia pulang ke tanah air membawa putra kecilnya yang sangat cerdas dan tampan. Siapa sangka, takdir justru mendekatkannya kembali dengan ayah kandung sang anak. Di kala hasrat membalas dendam kepada perusak hidupnya berkobar, mampukah Candice meraih akhir bahagia bersama keluarga barunya?
Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Kehidupan pernikahan Embun bagai neraka karena Putra, suaminya, mencintai wanita lain yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Embun. Segala pengorbanan tulus Embun demi mendapatkan cinta suaminya selalu berujung sia-sia dan dipandang sebelah mata. Kepedihan Embun kian mendalam saat Putra justru menyebut nama wanita lain tersebut usai mereka intim. Di tengah luka batin yang begitu hebat ini, sanggupkah Embun bertahan saat kehadirannya tidak lagi dihargai?
Sampul Novel Dibuang Suami Diperistri Tuan Presdir
8.1
Lima tahun pernikahan Zara dan Harry yang semula tenang hancur seketika. Demi melunasi utang raksasanya, Harry tega menjual Zara kepada seorang pria kejam sebagai jaminan. Di tengah penderitaan akibat dijadikan pemuas nafsu, Zara tidak tinggal diam. Ia mulai menyelidiki alasan di balik utang besar suaminya hingga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Kisah rumah tangga yang penuh pengkhianatan dan konspirasi ini mengandung konten dewasa khusus pembaca cukup umur.
Sampul Novel Dua Sisi
8.1
Kegagalan asmara yang bertubi-tubi, mulai dari menyukai gurunya sendiri hingga terpikat kekasih orang, membuat CEO ADITAMA Group, Revan Aditama Perkasa, mati rasa terhadap cinta dan pernikahan. Di tengah apatismenya, sang ayah justru menuntutnya menikahi seorang wanita dari Suku Anak Dalam. Revan menentang keras rencana itu. Baginya, menikahi perempuan yang dianggap primitif tersebut sangat tidak masuk akal dan bertolak belakang dengan kehidupan modernnya yang serbaintelektual.
Sampul Novel ISTRI KEDUA TUAN KAIRO
8.0
Farah Maharani, gadis desa berumur 25 tahun, terdesak keadaan hingga bersedia menyewakan rahimnya pada pengusaha Kairo Juang. Hal ini terjadi karena Salsa, istri Kairo, kerap mendapat hinaan mandul dari sekitarnya. Agar suaminya punya keturunan, Salsa pun mengizinkan Kairo beristri lagi. Kesepakatan mereka awalnya berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Namun, sebuah petaka besar mendadak muncul dan mengancam kelangsungan hidup mereka semua.
Sampul Novel Istri Manis Tuan Jicko
9.8
Demi memenuhi keinginan sang ibu yang mendambakan cucu tanpa ikatan pernikahan, Jicko menolak dijodohkan. Ia memilih jalan pintas dengan menawarkan perjanjian khusus kepada Ameera untuk mengandung anaknya. Jicko percaya kesepakatan ini menguntungkan kedua pihak tanpa melibatkan perasaan. Namun, rencana yang ia kira sederhana itu justru menjadi sangat rumit saat kenyataan hubungan mereka ternyata jauh lebih kompleks dari perkiraan awal.