APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Baru sebulan membina rumah tangga dengan Dion, Luna Valleryn justru didera kesepian akibat suaminya yang terlalu sibuk bekerja. Saat berkunjung dan menginap di kediaman tantenya, Maya, Luna merasa iri menyaksikan kehangatan hubungan sang tante dengan suaminya, Berend. Ia pun berharap bisa memiliki sosok suami seperti Berend. Tanpa diduga, Berend justru mulai mendekati dan menggoda Luna, hingga akhirnya membawa mereka terjerumus ke dalam jalinan perselingkuhan yang terlarang.
Bab
Bagikan

Bab 1

Namaku Luna Valleryn, biasa dipanggil Luna. Aku seorang gadis muda berusia dua puluh lima tahun yang baru menikah satu bulan yang lalu. Suamiku bernama Dion Wijaya, seorang arsitektur. Usia kami tidak terpaut jauh, hanya tiga tahun saja. Dahulu dia adalah kakak kelasku di SMA, dan kami tidak sengaja bertemu kembali ketika reuni. Satu minggu setelah pertemuan itu, Mas Dion langsung datang ke rumah dan melamarku.

Aku menerima lamaran Mas Dion karena kurasa aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Dia pria yang tampan dan mapan. Apa lagi yang harus aku pertimbangkan? Lagipula, usiaku pun sudah cukup matang untuk berumah tangga. Kupikir Mas Dion laki-laki yang baik, buktinya ia langsung meminangku. Bukankah itu salah satu bukti nyata bahwa dia serius dan sungguh-sungguh mencintaiku? Tapi ternyata, setelah menjadi istrinya, aku baru menyadari bahwa anggapan itu keliru.

Orang bilang, masa-masa pengantin baru adalah masa-masa yang menyenangkan. Namun yang kurasakan justru sebaliknya. Setiap hari Mas Dion sibuk dengan pekerjaannya, dan hampir setiap akhir pekan ia melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Boro-boro mau bulan madu, bahkan Mas Dion saja baru satu kali menyentuhku, itu pun pada saat malam pertama, hanya sekitar setengah jam setelah itu ia mendengkur tidur. Saat itu aku masih memaklumi, mungkin Mas Dion lelah karena resepsi yang memakan waktu seharian. Aku pun begitu. Kupikir, kami akan mengulangnya di malam berikutnya, dengan persiapan yang lebih matang dan terencana mungkin. Nyatanya, malam-malam yang kunantikan itu tidak pernah datang lagi.

“Pakaianku sudah siap, Lun?” tanya Mas Dion yang baru ke luar dari kamar mandi.

“Mas jadi berangkat ke Bali hari ini?” balasku.

“Iya. Aku sudah membuat janji dengan klien di sana,” jawabnya.

Aku memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper, sebenarnya aku juga telah mempersiapkan pakaian itu sedari tadi karena Mas Dion memang sudah memberi tahuku dari tiga hari yang lalu.

“Aku ikut ya, Mas,” pintaku penuh harap.

“Jangan dong. Aku di sana sibuk, nanti kamu malah sendirian di hotel.”

“Apa bedanya dengan di sini? Toh sepanjang hari aku juga sendiri,” balasku sarkas.

Ia membelai rambutku. “Nanti kalau aku udah nggak terlalu sibuk, kita liburan satu minggu full, okay?”

Aku mendengus, sudah begitu muak mendengar kata ‘nanti’ itu.

“Entar malam aku ke rumah Tante Maya ya, kemarin anaknya ulang tahun, aku mau ngasih kado sekalian silaturahmi. Tante Maya juga udah nyuruh aku main ke sana dari kemarin-kemarin,” ujarku beberapa menit berselang.

“Ya, sampaikan salamku pada Tante Maya dan Om Berend,” balas Mas Dion sambil mengenakan pakaian yang telah aku sediakan untuknya.

“Padahal Tante Maya juga pengen ketemu kamu lho, Mas. Mereka kan nggak sempat hadir ke pernikahan.”

“Iya, nanti, ya. Kalau aku sudah sibuk.”

Aku mendengus untuk yang kedua kalinya. Kalau aku sedang sibuk? Kamu tidak pernah tidak sibuk, Mas, batinku.

Tidak lama berselang, Mas Dion pun berangkat ke Bali. Aku tidak ikut mengantar ke Bandara karena rasanya juga akan percuma. Di sepanjang perjalanan Mas Dion hanya akan membahas agendanya bersama Galih, asistennya. Yang ada aku hanya akan semakin makan hati.

Pukul setengah tujuh malam, aku tiba di kediaman Tante Maya. Niko langsung menyambutku dengan girang, apa lagi saat tahu aku datang membawa kado untuknya.

“Bilang apa ke kakaknya, Sayang?” ujar Tante Maya yang datang menghampiri aku dan Niko.

“Terima kasih, Kakak Cantik,” ujar bocah sepuluh tahun itu.

“Iya, sama-sama, Niko Ganteng,” balasku,

Lantas aku menyalami Tante Mira dan dia langsung membalas dengan pelukan hangat, lengkap dengan ciuman di pipi kanan dan kiri. “Kok datang sendiri sih, Lun? Suami kamu mana?” tanya Tante Mira.

“Mas Dion baru berangkat ke Bali tadi sore, Tante, ada urusan kerjaan,” jawabku.

“Lho, kamu kok nggak ikut? Kan bisa sekalian bulan madu.”

Aku mengibaskan tangan. “Nggak nyaman juga bulan madu tapi suami masih sibuk dengan kerjaannya.”

Tante Mira terkekeh. “Iya, iya, mending nyari waktu yang tepat dulu, ya.”

Aku menanggapi dengan senyum tipis. Lantas Tante Maya mengajakku mengobrol di sofa. Tante Maya ini adalah sepupu jauh mamaku, tapi aku cukup dekat dengannya karena aku pernah menginap di rumahnya beberapa bulan saat kuliah dahulu. Saat tengah mengobrol, Om Berend, suaminya Tante Maya pulang bekerja.

“Eh, ada tamu rupanya,” sapa Om Berend hangat. Aku langsung menyalami suami tanteku itu.

“Kapan datang, Lun?” tanya Om Berend lagi.

“Baru banget, Om, sekitar lima menit yang lalu.”

“Ooohh.” Om Berend beralih mendekati istrinya. Ia memeluk dan memberikan kecupan hangat di dahi Tante Maya. Om Berend memang tidak pernah berubah, ia selalu memperlakukan Tante Maya dengan romantis meski usia pernikahan mereka sudah lebih sepuluh tahun.

“Kamu kok cantik banget sih hari ini, Sayang,” puji Om Berend pada Tante Maya.

“Apaan, ibu-ibu pake daster gini kok dibilang cantik?” elak Tante Maya, meski kulihat pipinya merona merah saat mendapatkan pujian itu.

“Justru karena pakai daster kamu terlihat lebih seksi,” goda Om Berend lagi.

Tante Maya langsung mencubit pinggang suaminya itu. “Malu tahu, ada Luna.”

Om Berend hanya terkekeh sendiri. “Aku mau mandi dulu ya, Sayang. Udah keringetan banget nih rasanya.”

“Iya, aku langsung nyiapin makanan, ya.”

“Okay.” Om Berend pun menaiki lantai dua, menuju kamarnya.

Jujur saja, aku iri melihat keromantisan Om Berend pada Tante Maya. Mas Dion tidak pernah memperlakukanku sehangat itu. Jangankan memeluk dan memberikan kecupan setiap berangkat dan pulang kerja, memuji aku saat aku berdandan cantik saja Mas Dion tidak pernah.

Aku membantu Tante Maya menyiapkan makan makan malam. Sekitar setengah jam kemudian, Om Berend kembali bergabung bersama kami. Rambutnya basah habis keramas, menyeruakkan aroma shampoo yang menggelitik penciuman. Ia mengenakan celana pendek dan baju kaos polos. Dengan penampilan seperti itu, Om Berend sama sekali tidak terlihat seperti bapak-bapak kepala empat. Ia justru terlihat sepuluh tahun lebih muda dari umurnya.

Om Berend memang merawat tubuhnya dengan baik. Dia rajin berolahraga, seminggu tiga kali. Ia juga selalu mewarnai rambutnya dengan warna hitam dan mencukur berewoknya secara berkala. Dahulu, ketika masih tinggal di rumahnya, aku pernah tidak sengaja melihat Om Berend bertelanjang dada. Perutnya kotak-kotak, dadanya bidang. Sepertinya juga belum berubah hingga sekarang.

“Malam ini kamu menginap di sini, Lun?”

Pertanyaan Tante Maya berhasil membuyarkan lamunanku yang sedang membayangkan keindahan tubuh Om Berend.

“Eng-enggak, Tante, lain kali saja,” jawabku dengan sedikit tergagap. Saat itu Om Berend juga melirik padaku, wajahku langsung berubah merah padam. Apa Om Berend tahu bahwa tadi aku memerhatikannya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amnesia Palsu, Tapi Melepaskannya Sungguh-sungguh
9.5
Niat awal berpura-pura amnesia setelah kecelakaan demi menggoda suami dan anaknya justru berujung pada kenyataan pahit bagi wanita ini. Saat ia melontarkan pertanyaan tentang identitas mereka, sang putra justru tampak gembira. Bocah itu segera membawa masuk seorang wanita asing yang menunggu di luar ruang perawatan, lalu memperkenalkannya sebagai bagian dari keluarga yang datang menjenguk. Sang suami hanya berdiri membisu, membiarkan kebohongan kejam itu terjadi di depan matanya.
Sampul Novel Ciuman Ular Berbisa: Balas Dendam Seorang Istri
8.6
Bramantyo lebih meratapi mobil klasiknya ketimbang nyawa Leo yang nyaris hangus terbakar. Di tengah kepedihan itu, sang istri menyadari bahwa pernikahan mereka hanyalah alat untuk membuat Saskia cemburu. Meski gugatan cerai telah diajukan, siksaan demi siksaan tetap menderanya. Puncaknya, perusahaannya dirampas dan ia hampir tewas akibat gigitan ular berbisa. Kini, ia bangkit dari kematian untuk membalas dendam pada suami dan saudara tirinya.
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Kematian tragis Danisa meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Amara. Mengetahui sang kakak mengakhiri hidup akibat dikhianati keluarga Pramudya, Amara bersumpah menuntut balas. Berbekal pesona memikat, ia menyusup ke lingkaran mereka untuk menghancurkan reputasi serta kekayaan mantan suami, mertua, hingga ipar kakaknya. Namun, saat rencana penghancuran ini berjalan, muncul perasaan tak terduga yang mengancam misi utamanya. Mampukah Amara tetap menjaga hatinya agar tetap dingin?
Sampul Novel Dicintai Adik Ketemu Gede
9.1
Vivi, gadis berusia 17 tahun, memendam rasa pada Agam Permana, pria dewasa yang sudah sepuluh tahun dikenalnya. Walau hanya dianggap adik, Vivi berani melamar Agam begitu lulus sekolah. Rumitnya, Fadlan yang merupakan sahabat Agam juga menyukai Vivi. Agam kini bimbang antara menjaga pertemanan atau mengakui perasaan sendiri yang mulai berkembang. Mampukah hubungan beda usia ini terwujud tanpa menghancurkan persahabatan mereka?
Sampul Novel Pelakor Kesayangan CEO
8.2
Menyamar sebagai Aleena, Alisya kembali demi membalas dendam. Ia berhasil memikat Arfa, sang pewaris Arhadita Company, hingga dicap sebagai orang ketiga. Target utamanya adalah menghancurkan hidup Laura, istri sah Arfa. Namun, rencana Aleena goyah saat Laura hamil dan masa lalunya kembali membayangi. Di tengah terbongkarnya rahasia kelam dan prahara rumah tangga ini, mampukah Arfa merebut kembali hati Aleena yang kini diselimuti kemarahan?
Sampul Novel Suamiku CEO Posesif
8.8
Akibat luka masa lalu, Leah enggan berkomitmen. Namun, lamaran mendadak dari Nero mengubah segalanya. Tanpa Leah kenal, orang tuanya langsung menyetujui pernikahan tersebut. Di awal, sikap dingin Nero membuat hubungan mereka canggung. Begitu mereka mulai dekat, mantan kekasih Leah hadir kembali untuk merebutnya. Kini Leah terjebak di antara obsesi sang suami yang sangat posesif dan usahanya mengatasi gangguan masa lalu.