APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Cinta CEO (Stuck In Love CEO)

Terjebak Cinta CEO (Stuck In Love CEO)

Rachel Anastasya memilih kabur di hari pertunangannya demi menghindari perjodohan yang tidak diinginkan. Terbiasa hidup serba ada, kini ia harus mandiri dan berjuang bertahan hidup sendirian. Tanpa diduga, takdir mempertemukannya dengan Satria Angkasa. Pria dingin yang menjadi bos di tempat kerja barunya itu ternyata adalah sosok calon tunangan yang ia hindari. Akankah kenyataan ini mengubah keputusan Rachel untuk menaruh hati padanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Anak manja! Jika tak mempunyai uang, jangan jajan di sini!" Satria yang pergi meninggalkan Rachel begitu saja. Rachel hanya mendesah dan tak habis pikir, dengan perkataan Satria kepadanya.

"Sialan, bisa-bisanya dia mengatai diriku anak manja. Siapa dia?"gumam batin Rachel greget melihat Satria yang menghilang dari hadapannya.

Intan Prameswari, sahabat Rachel yang berbadan besar. Ia telah tiba di tempat di mana mereka janjikan.

Kedua matanya berputar mencari keberadaan sahabatnya itu. Tubuhnya yang besar, membuat dirinya tak berhenti mengipas-ngipaskan kertas ke arah wajahnya.

"Aduh, kemana dia? Katanya sudah ada di sini, tapi kok nggak ada?" ujar Intan terkejut saat ada orang yang secara tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Eh, copot!" ucap Intan dengan latah. Rachelpun tertawa begitu renyahnya melihat kelucuan sahabatnya itu.

Hampir setahun ia tak bertemu langsung dengan Intan. Komunikasi jarak jauh adalah alat yang mempererat hubungan mereka.

"Rachel, kamu tuh, ya!" gerutu Intan menepuk Rachel balik.

"Auw, sakit! Aduh ... duh!" ucap Rachel kesakitan. Intan terkekeh seraya menopangkan kedua tangan di pinggang.

"Heh, masih saja seperti dulu. Nggak berubah!" gumam Intan yang mengetahui akting sahabatnya itu.

Rachel mengibaskan tangannya. Bibirnya mulai manyun saat Intan mengomelinya tiada henti.

Secara perlahan, Rachel menghampiri Intan. Jari jemari tangannya mulai melingkar di tangan sahabatnya itu. Kepalanya mulai menyandar di bahu Intan yang padat seperti bantal.

"Aku rindu sama kamu," ucap Rachel dengan manja.

"Ya," jawab Intan datar.

Sesaat, kedua mata Intan mengerling melihat ke arah koper milik Rachel. Jari jemarinya tak berhenti menjentikkan ke arah dagunya seraya berpikir. Ada apa dan kenapa pada sahabatnya itu.

"Kenapa kamu bawa koper segala? Kayak orang minggat saja!" tebak Intan penasaran.

Rachel mendongak seraya tersenyum tipis dengan pertanyaan Intan barusan.

"Kenapa malah senyum-senyum?" tanya Intan bingung dengan tingkah sahabatnya itu. Kenapa?" cecar Intan menepuk pundak sahabatnya itu.

"Auw ... sakit!" rengek Rachel memegang bahu seraya memanyunkan bibirnya.

"Makanya jawab!" Intan yang begitu penasaran.

"Ke tempat kamu dulu, ya! Nanti aku ceritain semuanya," ajak Rachel memeluk tubuh Intan yang besarnya dua kali lipat darinya.

***

Suasana tegang dan sepi, kini menyelimuti dua keluarga yang sedang melakukan pertemuan yang begitu serius.

"Kenapa semuanya pada diam?" tanya mama Rita yang tak lain adalah mamanya Satria.

"Apa yang terjadi?" sahut Pak Dhaniel penasaran. Kedua matanya berputar menatap ke arah mereka semua yang terdiam dan tertunduk di hadapannya.

"Pak Dirga, apa yang terjadi?" ulang pak Dhaniel.

Perlahan, pak Dirga mulai menegakkan kepalanya dan mencoba untuk tersenyum manis ke arah calon besannya itu.

Dengan hati-hati, Ia memberikan surat dari putrinya yang menyatakan belum siap dengan perjodohan tersebut.

"Maafkan kami, Pak. Kami telah mengecawakan Bapak dan Ibu," kata pak Dirga seraya menundukkan kepalanya kembali. Dengan seksama, pak Dhaniel mulai membaca isi dari kertas tersebut.

Mama Rita yang penasaran dengan isinya, dengan cepat meraih selembar kertas itu dan mulai membacanya.

Sejenak, dan dengan gayanya yang wibawa, Pak Dhaniel menghela nafas seraya menyilangkan kedua kakinya. Tatapannya yang tajam, membuat mereka semua seakan tak berani menatapnya.

"Aduh, habis kita!" lirih Sera pada Nia.

"Iya. Gara-gara Rachel, kita jadi kena imbasnya," jawab Nia dengan nada yang rendah.

Kedua orangtua Rachel hanya pasrah akan kemarahan yang akan diluapkan oleh keluarga Angkasa tersebut. Mama Gina selalu menggenggam erat tangan suaminya. Tangannya gemetar dan tak mampu menatap wajah calon besannya tersebut.

"Apa sebelumnya kalian tak memberitahu tentang perjodohan ini?" tanya Pak Dhaniel yang melihat mereka mengangguk secara bersamaan.

"I-ya, Pak."

Mereka terlihat begitu tunduk dan takut pada keluarga Angkasa. Mereka sangat tau diri dengan posisi mereka selama ini. Sejak perjodohan itu diketahui oleh kedua belah pihak, keluarga Angkasa memberikan kehidupan yang layak pada keluarganya Rachel. Terutama semua kebutuhan hidup Rachel.

"Wajar saja, jika putri kamu belum siap dengan perjodohan ini. Dulu waktu saya memberitahu putra saya tentang ini, dia juga menolaknya mentah-mentah. Dan seiring berjalannya waktu, entah kenapa dia menerimanya dengan lapang dada," tutur Pak Dhaniel mengembangkan senyumnya. Merekapun secara bersamaan juga membalas senyum itu.

"Syukurlah, akhirnya mereka tidak marah pada kita," bisik Sera lega.

"Tapi, jika putri kamu menolak menikah dengan putra saya. Saya minta maaf, dan dengan sangat terpaksa kalian harus meninggalkan rumah ini." Ucapan pak Dhaniel membuat semua orang yang ada di rumah itu terkejut mendengarnya.

Kedua tante Rachel hanya bisa menelan salivanya dengan paksa. Hal yang mereka takutkan, ternyata memang akan terjadi, jika Rachel menolak pernikahan tersebut.

"Kalo boleh tau, apa kami bisa melihat foto putri kalian?" pinta mama Rita yang ingin mengetahui seperti apa gadis yang akan menjadi menantunya itu.

"I-ya!" gegas mama Gina mengambil foto Rachel. Beberapa menit kemudian, dengan langkah tergopoh-gopoh, mama Gina mulai menyerahkan foto Rachel pada calon besannya itu. Jantungnya berdetak kencang, tangannya juga gemetar ketika berada di depan mama Rita yang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dirinya.

***

"Ah, akhirnya aku bisa rebahan juga," kata Rachel memejamkan mata seraya melentangkan kedua tangannya. Sejenak, ia melirik sahabatnya yang begitu menikmati camilan yang ia berikan padanya.

"Untung saja, aku memiliki sahabat di sini," desah Rachel tersenyum tipis memandang wajah imut Intan.

"Aku nggak bisa bayangin, jika aku hidup seorang diri di kota ini tanpa orang yang aku kenal. Bisa-bisa, aku jadi gelandangan," gumam batin Rachel meraih ponselnya yang bergetar.

Drt ... Drt ...

Tante Sera calling..

Rachelpun mendesah dan memilih untuk mematikan ponselnya.

"Kamu ngapain kemari?" tanya Intan yang mulai menjadi seorang detektif pada sahabatnya itu.

"Aku kabur dari rumah," jawab Rachel beralih duduk seraya menopangkan kedua tangan di dagunya.

"What? Kabur? Kenapa kamu kabur?" tanya Intan yang begitu syok mendengarnya.

"Aku dijodohkan dengan orang pilihan Oma." Intan hanya terperangah mendengar penuturan Rachel.

"Di jodohkan?"

"Heem, entah itu tua, muda, kaya ataupun orang biasa. Mereka sangat ngotot, untuk menikahkanku dengan orang itu," tutur Rachel melepas jaketnya.

"Tunggu! Kenapa oma tak menjodohkannya sama kedua tante kamu saja? Mereka kan, belum menikah?" tanya Intan mengernyitkan dahinya.

"Masalahnya oma ini, ibunya papa. Kalo, tante Sera dan tante Nia kan, adik dari mama," kata Rachel membenarkan.

"O ... begitu. Trus, kamu di sini sampai kapan?" tanya Intan yang membuat Rachel bingung untuk menjawabnya.

"Eh-m, sampai mereka tidak memaksaku lagi," katanya datar.

"Tapi, nggak gini juga caranya, Chel. Ya, seharusnya kamu bilang sama keluarga kamu, jika kamu nggak mau menikah. Kalo begini, kamu itu sama saja kabur dari masalah. Dan masalahnya nggak akan kelar-kelar."

"Biarin!"

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu mengagetkan mereka berdua. Dengan cepat, Intan berjalan membuka pintu dengan langkah yang seperti bebek.

Kedua matanya mengerling melihat ibu kontrakan datang di tempatnya.

"Siang, Bu," jawab Intan dengan senyum manisnya.

"Alah, nggak usah basa-basi. Cepet!" ketus ibu kontrakan itu seraya menengadahkan tangannya dan berharap ada uang yang keluar dari dompet Intan.

"Untung ada si Rachel. Dia kan, orang kaya. Jadi, bisalah! Dia bayarin kontrakan ini," gumam batin Intan tersenyum senang.

"Heh, kenapa malah senyum-senyum? Kamu kira, dengan senyum manis kamu itu, uang akan jatuh dengan sendirinya?" Lagi dan lagi, Intan terkena semprot untuk kesekian kalinya.

"Tenang! Ibu tunggu di sini! Intan akan mengambil uangnya dulu," gegas Intan menutup pintunya kembali. Sesaat, ia melirik ke arah bu kontrakan dari balik jendela. Ia hanya menghela nafas seraya memegang dadanya.

"Dasar, nenek lampir! Bisa-bisanya dia marah lagi padaku. Jadi tak sabar, bagaimana reaksinya jika aku menaruh tumpukan uang berwarna merah tepat di tangannya," gegas Intan berjalan menghampiri sahabatnya.

Rachel terkejut saat sahabatnya bersikap begitu manis kepadanya.

"Ehm, aku tau, nih! Pasti ada maunya," tunjuk Rachel memicingkan matanya.

"Chel, aku pinjam uang, dong! Buat bayar kontrakan," kata Intan meringis.

Senyum Rachel mulai memudar akan permintaan sahabatnya itu. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak bisa membantu Intan.

"Chel, kok kamu malah diam? Buruan! Lagian, kamu kan juga akan tinggal di sini. Nggak apa dong, jika kamu yang bayarin," kata Intan.

"Maaf, bukannya aku nggak mau bantu. Cuma masalahnya, aku nggak ada uang sama sekali," kata Rachel dengan hati-hati seraya menggigit bibir bawahnya.

"Chel, jangan becanda, deh!" kata Intan tersenyum tipis melihat Rachel mulai mengeprank dirinya.

Rachel menghela nafas dan mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya.

"Tan, aku nggak bercanda. Untuk kali ini, aku benar-benar nggak punya uang. Aku kecopetan!" tutur Rachel.

"What?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bercerai dengan Suami Miskin
8.2
Selama tiga tahun membina rumah tangga, aku memikul seluruh beban finansial karena mengira suamiku tidak berpenghasilan. Dia bahkan melarangku membeli tas murah seharga 400 ribu rupiah dengan alasan terlalu boros. Namun, kedoknya terbongkar saat aku mengetahui dia mempersembahkan kalung berlian senilai 8 miliar rupiah sebagai kado ulang tahun untuk cinta pertamanya. Lelaki yang kukira terlilit utang itu rupanya adalah pewaris tunggal dinasti konglomerat yang memiliki kekayaan triliunan rupiah.
Sampul Novel Anak Milik CEO
8.8
Pertemuan tak terduga di lift kantor membuat seorang wanita membeku saat berhadapan lagi dengan Davero. Suasana seketika mencekam ketika sang CEO tampan mengurungnya di dinding dengan tatapan tajam mendominasi. Meski wanita itu didera rasa takut dan gugup, Davero dengan suara serak menegaskan tak akan melepaskannya lagi. Sebuah klaim penuh ancaman pun terucap, menegaskan bahwa kini ia telah menjadi milik sang CEO sepenuhnya tanpa bisa menghindar.
Sampul Novel Cinta Sang Lady Killer
9.8
Daniel Millard, CEO berkuasa dari Millard Corporation, dikenal sebagai penakluk wanita ulung. Namun, takdirnya berubah drastis setelah ia bertemu dengan Anya. Sosok Anya membangkitkan sisi lain diri Daniel yang selama ini tersembunyi, terutama saat ia menyadari bahwa perempuan itu terikat dengan masa lalunya yang kelam. Daniel pun bertekad untuk terus menggenggam Anya, sosok istimewa yang sangat berbeda dari wanita mana pun di hidupnya.
Sampul Novel Dibuang Suami Saat Hamil
8.5
Azura Paramitha, yatim piatu yang ceria, mengira hidupnya sempurna setelah dinikahi pengusaha dingin, Revan Aksara. Revan sempat berubah menjadi penyayang, memberikan kehangatan keluarga yang dinantikan Azura. Namun, kebahagiaan itu hancur saat Azura mengandung. Secara mendadak, Revan berubah kejam, menuduhnya tidak bermoral, dan mengusirnya dalam kondisi hamil. Kini, Azura harus berjuang sendirian demi calon bayinya setelah dibuang tanpa belas kasihan.
Sampul Novel Istri Bayaran Untuk Bos Galak
8.9
Kontrak pernikahan telah usai, namun Devan menolak melepaskan Cecil. Terobsesi untuk terus memiliki wanita itu, sang bos yang angkuh melontarkan ancaman ekstrem. Ia bersumpah akan menghamili Cecil agar sang mantan istri bayaran tidak bisa pergi dari sisinya. Meski Cecil memohon dengan ketakutan dalam tekanan tersebut, Devan justru kian bertekad mengikatnya lewat kehadiran seorang anak demi mempertahankan hubungan mereka.
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya
8.7
Tujuh tahun mendampingi Navish sebagai sekretaris sekaligus kekasih rupanya tidak menjamin kebahagiaan Cassia. Pengkhianatan Navish yang bertunangan dengan wanita lain membuat Cassia hancur dan berniat mundur. Meski Navish tiba-tiba membatalkan pertunangan itu secara publik, kejutan pahit menanti Cassia di sebuah acara lelang. Alih-alih dilamar, Cassia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok cinta sejati Navish muncul dengan wajah yang sangat mirip dengannya. Cassia pun tersadar bahwa selama ini dirinya hanyalah pengganti.