APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tangisan Pilu Sang Istri

Tangisan Pilu Sang Istri

Demi mewujudkan pernikahan impian, Manda memilih pensiun dari pekerjaan yang cemerlang. Namun, kenyataan pahit harus ia telan setelah menikah. Meski Dimas adalah sosok yang mengajaknya membina rumah tangga, pihak keluarga suaminya justru terus memberikan tekanan psikologis yang berat bagi Manda. Di tengah penderitaan ini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam ikatan yang menyiksa atau melangkah pergi demi menyembuhkan luka batinnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kenapa, Sayang? Aku bicara sesuai dengan apa yang seharusnya, bukan?"

"Sudah dong! Tidak usah lagi membicarakan tentang nyawa atau kematian, Mas! Aku tidak suka!" rajuk Manda merasa kesal pada suaminya, wajahnya memerah menunjukkan bahwa memang wanita lembut itu saat ini tengah merasa marah.

"Kenapa sih, Sayang? Semua orang juga pasti akan bertemu dengan masa kematian, bukan?"

"Iya, aku tau, Mas! Aku tahu!" tegasnya. "Tapi, aku tak suka jika kamu bicara terus-menerus tentang kematian! Aku tidak suka, Mas!" Suaranya terdengar bergetar, sorot matanya kembali sendu, benar-benar tak suka jika orang yang disayang dan dicintai olehnya itu, selalu membicarakan hal yang penuh dengan omong kosong, meskipun dia tahu kematian itu bisa datang kapan saja.

"Aku takut, Mas ...," isaknya terdengar begitu sangat memiliki. "Aku hidup sebatang kara. Semuanya sudah cukup, Mas! Jangan lagi ...."

Air mata kembali mengalir deras, Manda benar-benar tak sanggup untuk menahan diri lagi. Pertahanan yang sejak tadi berusaha untuk ditahan pun akhirnya bobok juga. Air mata yang terus mendesak di balik pelupuk mata, kini, kembali mengalir deras di pipinya, bahkan begitu sangat terdengar memilukan.

Melihat sang istrinya yang kembali menangis sampai tergugu seperti ini, membuat Dimas semakin dilanda rasa bersalah. Seharusnya, dia tak membahas tentang sesuatu yang memang begitu sangat tidak ingin dibahas oleh istrinya. Manda memang selalu takut untuk membahas tentang kematian. Pria itu merengkuh kembali tubuh yang semakin terguncang itu, mengecup puncak kepalanya berkali-kali agar bisa membuat waMandanya tenang.

"Aku merasa sudah cukup hidup menderita selama ini, karena kehilangan kedua orang tuaku, Mas. Dan kau tahu sendiri, aku sebatang kara, dari dulu hingga sekarang tidak memiliki sanak saudara."

Tangisannya kembali pecah dan semakin terdengar sangat memilukan sekali. "Aku tidak ingin, jika kau pergi meninggalkan aku juga ...," ujarnya sesegukan.

"Aku takut, Mas. Di dunia ini, aku hanya memiliki kamu seorang. Dan aku, takut jika harus kembali hidup dalam kesendirian di dunia ini dan kamu. Kamu pergi meninggalkanku, selamanya. Aku tidak mau, Mas ...."

Manda semakin tenggelam dalam tangisan dan Dimas semakin merasa sangat bersalah sekali. Di rengkuhnya tubuh sang istri dengan begitu sangat erat, sambil terus mengecup puncak kepalanya. "Maaf, Sayang. Maaf, Mas tidak bermaksud untuk membuatmu terluka kembali."

"Mas, minta maaf ya, Sayang. Tolong jangan seperti ini. Mas tidak sanggup kalau harus melihatmu menangis tergugu seperti ini, Sayang."

Manda menganggukkan kepalanya sambil terus menangis di dalam dekapan suaminya, tapi waManda itu sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya, setelah menumpahkan semua tangisnya. "Mas, tolong jangan pernah berbicara seperti ingin itu lagi. Aku mohon."

"Iya, Sayang. Tidak, tolong maafkan aku ya, Sayang. Mas janji, apapun yang terjadi tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang."

Keduanya sama-sama kembali saling berpelukan dengan begitu sangat erat, mereka sama-sama saling memberikan ketenangan dan kenyamanan satu sama lainnya. Mereka percaya, bahwa keduanya tak akan pernah bisa dipisahkan oleh manusia, terkecuali oleh maut.

Manda sudah mulai merasa tenang, tubuhnya tak lagi terguncang seperti sebelumnya dan juga dia sudah tak lagi menangis sesegukan. Dimas mendengar jelas, tarikan nafas berat yah dilakukan oleh istrinya dengan hembusan nafas yang sesekali masih terdengar sesegukan. Sungguh, tak menyangka jika keadaan istrinya akan begitu sangat kacau, jika ia membicarakan tentang kematian.

Tapi, Manda itu memang wanita lembut yang pandai mengatur perasaan. Tak peduli hatinya yang sedang kacau seperti apa, waManda itu tetap bersikap seperti biasa saja tanpa terjadi sesuatu, setelah puas melampiaskan semuanya dengan tangisan. Seperti sekarang ini, dia kembali tersenyum lembut sambil mengurai lembut pelukan suaminya.

"Mas ...."

"Iya, Sayang? Kamu butuh sesuatu?"

"Tidak," jawab Manda tersenyum manis. "Bagaimana tadi di pasar, Mas? Dapat semua yang kita butuhkan dan perlukan?"

"Alhamdulillah dapat, Sayang," jawab Dimas begitu sangat antusias sekali. Pria itu pun langsung bercerita. "Kamu tahu, Mas juga dapat langsung harga murah dan bisa kita jual lagi dengan harga yang sedikit tinggi nantinya, Sayang."

"Alhamdulillah ... Alhamdulillah .... Berarti kita bisa bisa mulai usaha dalam waktu dekat, Mas?" Manda menatap suaminya dengan sorot mata berbinar, banyak sekali harapan-harapan baik setelah ini.

"Insya Allah, Sayang. Bismilah, secepatnya, kita akan mulai usaha ini, Sayang."

"Mas janji padamu, kita akan selalu berjuang bersama-sama untuk kehidupan yang lebih baik, Sayang."

"Iya, Mas. Pasti!" seru Manda begitu sangat antusias sekali. "Nanti, aku juga akan ikut membantu ya, Mas."

"Loh, tidak usah, Sayang. Kamu itu tidak boleh terlalu lelah, istriku."

"Loh, tidak bisa seperti itu dong, Mas .... Masa aku hanya diam saja, tidak melakukan apapun dan tidak melewati proses apapun itu. Aku tetap akan membantu," protes Manda merasa sangat tidak trima sekali dengan permintaan suaminya itu.

"Hei, dengarkan dulu, Mas belum bisa sampai selesai, Sayang," tuturnya lembut, membingkai wajah cantik istrinya lalu mengecup lembut bibirnya sekilas.

"Iya, maaf. Memangnya, Mas mau bicara hal apa lagi?"

"Kamu boleh bantu, Mas. Bahkan, memang Mas sangat membutuhkan bantuan darimu, Sayang," ungkapnya.

"Nah, itu butuh bantuan, kan?"

"Tapi, kenapa Mas justru memintaku untuk tidak melakukan apapun?"

Dimas tersenyum manis, melihat kebingungan dari wajah istrinya yang cantik itu, membuatnya merasa semakin gemas. Ia menggenggam tangan istrinya lalu mengecup punggung tangannya penuh kelembutan. Menatap lekat manik matanya yang indah itu dan menyelam lebih dalam bahkan begitu dalam. Menyusuri samudera indah di dalam matanya yang selalu memberikan ketenangan dan kenyamanan.

Pria itu merasa tak memiliki siapapun lagi, selain istrinya. Meskipun masih memiliki seorang ibu dan juga adik, tapi ... nyatanya mereka tidak menganggap keberadaannya. Dan, hanya menganggap di sana mereka sedang memiliki banyak rezeki secara finansial saja. Mama Hilda memang seperti itu, ada uang maka anak akan begitu sangat di sayang, jika tidak ada uang diperlakukan semena-mena.

"Mas hanya minta bantuan doa darimu, Sayang. Kita mulai lagi semuanya dari awal dengan jalur langit, boleh?"

Manda tersenyum manis saat mendengar permintaan dari suaminya yang cukup sangat sederhana, tapi membuat hatinya menghangat. Sejak pertama kali menikah dan tinggal bersama, pria itu selalu paling percaya dan yakin dengan doa yang istrinya panjatkan. Menurutnya, doa istri adalah doa yang paling mujarab dan bisa menembus hingga langit ketujuh. Bukan berarti pria itu tidak percaya dan yakin pada doa orang tuanya, tetaplah ... merasa yakin kalau ketika sudah menikah, maka doa yang paling mujarab dan langsung di dengar adalah doa sang istri. Terlebih saat berada di masa-masa yang tersulit, ketika diremehkan dan diinjak-injak oleh ibunya sendiri, hanya istrinya yang mampu menenangkan dan selalu mengadukan semuanya dengan jalur langit.

Setiap malam, Dimas selalu mendengar istrinya itu tengah berdoa sambil tersedu-sedu, mendoakannya untuk bisa lebih ikhlas lagi menjalani kehidupan yang terkadang tidak sesuai dengan harapan. Dan, meminta agar hati istrinya itu dikuatkan dari segala macam luka yang menghampiri.

Bahkan, sering sekali pria itu mendengar bahwasannya, lebih baik Manda saja yang disakiti oleh mertua dan iparnya, jangan sampai suaminya ... karena jika sampai suaminya yang disakiti dan terluka, maka, dia adalah orang pertama yang merasakan lukanya dua kali lipat dan tak akan pernah terima jika suaminya terluka kembali untuk yang kesekian kalinya.

Dimas menyadari bahwa cinta yang diberikan oleh istrinya begitu sangat tulus. Maka dari itu, pria itu selalu merasa setelah menikah keluarga yang dimiliki olehnya, hanya Manda seorang. Karena, waManda itu yang tak pernah menyakiti hatinya dalam segi hal apapun itu.

"Mas ... masa minta bantuan yang seperti itu," kekehnya membalas genggaman tangan kekar suaminya, membuat Dimas kembali dari lamunannya.

"Mas, kalau doa itu sudah tidak usah diminta pun, aku akan tetap melakukannya. Disetiap sujudku, aku akan selalu menyelipkan namamu dan semua orang yang ada di rumah ini, agar selalu mendapatkan keberkahan dan bisa hidup damai."

"Aku akan selalu mendoakan hal-hal yang terbaik, di setiap langkah kaki Mas Dimas. Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku ini, tidak pernah mendoakan hal yang baik-baik loh ...."

Dimas merasa begitu sangat terharu sekali dengan ketulusan hati sang istri. Mereka saling melemparkan senyuman dan memeluk kembali begitu erat. Terlihat sekali, kebahagiaan mereka berdua yang terpancar dari wajahnya. Walaupun, sekarang hidup Manda terasa sangat jauh berbeda dari sebelumnya, tapi, merasa tetap nyaman menjalani semuanya.

"Mas, janji padaku, jangan pernah meninggalkan aku ... sampai kapanpun, ya." Sorot matanya berkaca-kaca, Dimas kembali menyelam ke dalam samudera mata indah itu. Ada banyak sekali ketakutan yang dirasakan dan terpancar jelas dari sorot matanya.

"Sekarang dan sampai entah kapan ... aku hanya punya kamu sekarang, Mas. Tidak ada yang lain ...," lirihnya dengan tatapan sendu.

"Iya, Sayang. Mas benar-benar janji, tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun. Kamu, jangan pernah khawatir akan hal itu, ya ...."

Manda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. "Mas ... boleh aku minta sesuatu?"

"Boleh, Sayang. Katakan saja, apa yang kau inginkan?"

"Mas ... maaf, tapi jika nanti ekonomi kita sudah mulai bisa stabil. Bolehkah jika kita, pindah dan memiliki rumah sendiri?"

Manda berkata dengan senang hati-hati sekali, ia hanya tidak ingin jika menyakiti hati suaminya atas sebuah permintaan yang seakan-akan menunjukkan bahwa dirinya memang begitu merasa sangat tidak nyaman di rumah tersebut. Sebenarnya, waManda itu merasa nyaman saja, selama sikap mertua dan iparnya baik ... tapi ketika keduanya sudah mulai berubah sikap, ia mulai merasa tidak nyaman, karena perlakuan mereka yang sangat terang-terangan menyakiti hatinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Setelah delapan tahun membina rumah tangga, Alya dikhianati dan dibuang oleh suaminya dengan tuduhan mandul. Ia bahkan dijual kepada seorang penguasa kota yang sangat berpengaruh. Tak disangka, malam itu justru membuatnya hamil. Kini, Alya harus memilih antara bayang-bayang masa lalunya yang kelam atau melangkah maju bersama pria asing yang merupakan ayah dari anak di kandungannya. Sanggupkah Alya bangkit dan memperjuangkan keadilan atas segala rasa sakit yang telah ia lalui?
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Logika kerap kali buta karena asmara, menyisakan luka mendalam di dalam dada. Walau diwarnai kepedihan dan obsesi, perasaan ini rupanya menyimpan kekuatan misterius. Siapa sangka, kasih sayang justru hadir sebagai obat paling mujarab untuk memulihkan duka? Kisah ini mengulas bagaimana keajaiban sebuah rasa mampu menyentuh relung jiwa terdalam, sekaligus mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan yang nyata bagi mereka yang merasakannya.
Sampul Novel Rahasia yang Tak Kau Ketahui
8.3
Elena menghilang secara misterius tepat saat kekasihnya mengalami kecelakaan hingga buta. Begitu penglihatannya pulih, pria itu terobsesi mencari dan mengurung Elena di sisinya, meski semua orang mengira Elena adalah cinta sejati yang tega meninggalkannya. Konflik memuncak ketika sang mantan membawa calon istrinya demi membalas dendam dan menyakiti hati Elena. Namun, Elena hanya tersenyum tenang menghadapi pengkhianatan itu, menyembunyikan rahasia besar bahwa memorinya akan segera memudar.
Sampul Novel Saat Aku Mati, Pacarku Sibuk Menolong Wanita Lain
7.9
Bencana melanda saat hujan deras memicu banjir di area parkir bawah tanah, mengurung Yuni dalam situasi kritis karena pintu darurat yang terkunci rapat. Di tengah kepanikan, ia segera menghubungi kekasihnya, Wibi, untuk meminta bantuan darurat. Namun, panggilan darurat Yuni justru ditanggapi dengan kemarahan. Wibi memilih mengabaikan nyawa kekasihnya demi membantu Maya mengevakuasi seekor kucing yang terjebak di atas pohon. Tanpa rasa iba, Wibi memutuskan kontak dan membiarkan Yuni berjuang sendirian.
Sampul Novel Tergoda Pesona Mafia Tampan
9.1
Lima tahun dihina Berti karena miskin dan mandul, Wulan akhirnya pergi. Saat mandiri, ia didekati Jefri, mafia pengincar PT WIPA. Rahasia besar terkuak: Wulan rupanya pewaris sah perusahaan itu. Kini ia bimbang di antara mantan suaminya, Haris, yang mengemis maaf agar bisa rujuk, dan daya pikat Jefri yang penuh risiko. Wulan pun harus menentukan takdirnya di tengah pusaran harta dan asmara.
Sampul Novel Terpisah Antara Dua Dunia
8.6
Semua orang mengira John adalah suami idaman yang sangat memuja istrinya, Talita. Namun, kebenaran pahit terungkap saat Talita mengetahui perselingkuhan John. Kecewa, Talita menghubungi sistem khusus untuk keluar dari dunia tersebut. Sistem memberinya waktu lima belas hari untuk mempersiapkan kematian palsu dengan melompat ke laut. Setelah rencana matang berhasil dieksekusi, Talita pun lenyap tanpa jejak. Kehilangan ini seketika menghancurkan dunia John, menyisakan penyesalan hebat dan pencarian tanpa arah yang membuatnya hampir gila.