APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Dua tahun membina rumah tangga dengan Gibran, aku belum juga dikaruniai anak. Kondisi ini membuat ibu mertua membenciku dan terus menuntut perceraian atau poligami, walau usahanya selalu kuhalangi. Suatu pagi, kedamaian kami terusik oleh suara tangisan bayi yang misterius, padahal tidak ada tetangga sekitar yang memiliki bayi. Begitu pintu dibuka, aku terkejut mendapati bayi merah di dalam kardus dengan tali pusar yang belum lepas. Siapa orang tua bayi ini dan mengapa ditaruh di sini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sebenarnya aku juga kepikiran hal yang sama dengan mas Gibran untuk merawat bayi ini. Namun, kalau tidak melaporkannya terlebih dahulu pada pak Rt, takutnya ke depan nanti akan mendapat masalah yang tak terduga.

Kutatap balik mata mas Gibran yang memandangku dengan binar mata cerah, "apa tidak apa-apa, Mas? Soalnya kita belum laporan lada pak Rt." Tanyaku sedikit khawatir.

Mas Gibran menatapku geli, "ya, kita laporan dulu sayang. Setelah laporan kita ajukan pengadopsiannya, baru setelah itu kita menjadi orang tua angkatnya yang sah."

Aku tersenyum dan mengangguk mengerti.

"Bayi ini laki-laki, mau kamu namain siapa?" tanya mas Gibran kepadaku.

Aku tersenyum dan ikut memandang bayi putih menggemaskan dalam gendongan suamiku. Setelah melihatnya lamat-lamta, satu nama melintas dipikiranku. "Bagaimana kalau 'Aydan Atthallah. Aydan memiliki arti pemuda yang penuh semangat, sedangkan Atthallah berati hadiah atau karunia Allah. Bagaimana, Mas?"

Mas Gibran memandangku lembut, "itu nama yang bagus. Berarti nama itu menjadi bukti rasa syukur kita atas kehadiran putra kecil ini sekaligus harapan agar anak ini selalu memiliki semangat untuk menjalankan hidupnya."

Kedua sudut bibirku makin tertarik lebar, "benar, Mas."

"Ayo, kita bersihkan bayi ini karena sepertinya belum dibersihkan!"

Aku mengikuti mas Gibran dari belakang sekaligus membawa kardus bekas tempat menampung bayi tak berdosa itu, lalu membuangnya pada tong sampah. Setelah itu baru kususul mas Gibran ke kamr mandi.

Diam-diam aku tersenyum bangga pada suamiku. Walaupun dia baru pertama kali menggendong bayi. Namun, usahanya begitu gigih dalam memandikan baby Aydan dengan cara menonton turorial dari youtube. Karena kasihan, aku ikut berjongkok di depan mas Gibran untuk membantu membersihkan bayi rapuh ini.

Setelah baby Aydan selesai dimandikan, aku mendapat bagian menggendongnya sekarang. Namun, masalah datang lagi, kami tidak punya baju bayi yang bisa dipakaikan pada baby Aydan.

"Kita potong selimut yang agak tipis ini saja ya, sayang?" Mas Gibran menatapku meminta persetujuan.

"Iya, Mas. Potong saja, lagipula baby Aydan lebih butuh."

Kini baby Aydan sudah rapi dengan bedong dari selimut tipis sehingga tidak akan membuatnya kepanasan atau kedinginan. Ku alihkan pandangan mata dari bayi menggemaskan ini pada mas Gibran yang terlihat menelpon seseorang.

"Mas sudah izin cuti hari ini, jadi kita bisa beli kebutuhan baby Aydan setelah laporan nanti pada pak Rt." Mas Gibran datang menghampiriku.

"Kayaknya ini sudah siang, apa tidak lebih baik kita ke rumah pak Rt-nya sekarang saja, Mas?" Ucapku mengemukakan pendapat saat kulihat cuaca di luar yang sudah terang dengan sinar matahari pagi menyorot hangat.

"Kalau begitu ayo kita siap-siap!"

Kami berangkat ke rumah pak Rt dan menceritakan tentang penemuan baby Aydan di depan pintu rumah serta niat kami untuk mengadopsinya. Setelah itu barulah kami pergi ke toko yang khusus menjual perlengkapan bayi serta susu formulanya.

Saat kami melewati rumah Bu Yulis, tetangga sebelah rumah, kami bertemu dengan Devina anak bu Yulis yang pendiam. Namun, kali ini aku melihat tatapan tak biasa Devina saat melihat baby Aydan dalam gendonganku.

Cara memandang Devina pada baby Aydan nampak terlihat mencurigakan di mataku. Namun, aku berusaha cuek untuk mengusir buruk sangka dalam hatiku karena aku tahu itu tidak baik.

"Eh, vina. Tidak sekolah?" tanyaku berusaha seramah mungkin dan menepis jauh pikuran konyol dalam otaku.

Terlihat Devina tersentak saat aku menyapanya. Dengan senyuman tipis Devina mengangguk, "iya, Mbak Las. Vina sakit, jadi gak masuk dulu."

Kulihat wajahnya memang pucat dan badannya kurusan banget, padahal dua hari ke belakang aku masih melihat Devina ini gendut. Apa mungkin ada ya orang yang sakit dua hari bisa langsung kurus begini? Ah, entahlah.

"Semoga cepat sembuh Vina, Mbak masuk dulu." ucapku sambil mengangguk sebagai tanda permisi yang langsung dibalas sama oleh Devina.

Kulihat mas Gibran yang jalan di sampingku mengernyitkan dahi. Entah apa yang dipikirkannya, karena mas Gibran memang sering terlihat begitu.

"Sudah kamu beri susu baby Aydannya?"

Mas Gibran menanyaiku yang baru duduk di sampingnya. Barusan memang aku baru memberi baby Aydan susu formula. Berhubung baby Aydan langsung tidur setelah menyusu, jadi aku tinggal untuk menemani mas Gibran yang sedang santai menontin TV ditemani keripik di atas meja.

"Sudah, Mas. Sekarang baby Aydan nya lagi tidur." Jawabku atas pertanyaan mas Gobran barusan. Lalu kuhempaskan tubuhku di samping mas Gibaran.

Mengingat sesuatu, aku memandang mas Gibran dengan raut bertanya. "Apa Mas sudah mengabari mamah dan papa tentang kita yang mengadopsi baby Aydan?"

Mas Gibean yang tengah memasukan keripik ke dalam mulutnya sontak berhenti sebentar sebelum kemudian melanjutkannya lagi. Setelah keripik dalam mulutnya habis, mas Gibran memandangku. "Sudah."

"Apa katanya?" ucapku penasaran.

Terlihat mas Gibran menghela napas berat sebelum kemudian pandangan matanya meredup, "mamah tidak mengizinkan."

Aku pun sama meredupkan pandangan mata saat menatap mas Gibran. Namun, saat ku pandang lagi lamat-lamat wajah mas Gibran, saat itu aku tahu ada yang disembunyikannya dariku. " wajah Ms terlihat gelisah, ada apa? Apa mamah mengatakan sesuatu lagi?"

"Tidak ada," mas Gibran menjawab cepat. Malah terlalu cepat membuatku makin menyipitkan mata tak percaya.

Mas Gibran memghembuskan napas pasarah, "baiklah, mamah juga mengatakan supaya Mas menikah lagi kalau benar-benar tidak mau menceraikanmu."

Aku menatap mas Gibrab tak percaya. Terlihat mas Gibran juga menatap aku dengan pandangan rasa bersalah. "Apa Mas menyetujuinya?"

"Tentu saja tidak! Bagi Mas, kamu hanya satu-satunya wanita yang akan menjadi istri, Mas. Tidak peduli kamu mandul atau tidak, yang terpenting bagi Mas hanya kamu, dirimu, dan bukan orang lain. Paham!" mas Gibran menatapku lekat. Ada pancaran kesungguhan dalam bola matanya.

"Iya, Mas." Aku menjawab pelan.

Mas Gibaran membawaku ke dalam pelukannya, lalu menyandarkan kepalaku di dada bidangnya.

"Oh, ya sayang. Kenapa Mas merasa ada yang aneh dengan vina? Setahu Mas, gaada penyakit yang dapat membuat tubuh orang kurus dalam beberapa hari. Secanggih-canggihnya alat atau semanjur-manjurnya obat, tidak ada yang dapat menurunkan berat badan hanya dalam itungan hari. Tapi kenapa Vina bisa kurus begitu, ya?"

Aku tertawa pelan dalam dekapan hangat mas Gibran, "ada-ada aja mas ini. Emang gak ada yang gitu, kok. Mungkin selama ini kita saja yang salah lihat. Nyangkanya vina itu gendut, padahal selama ini kurus karena memang badannya tidak terlihat. Vina selalu memakai jaket tebal ke mana-mana, jadi mana bisa kita menyimpulkan dengan sendirinya." ucapku berusaha senatural mungkin. Padahal aku juga sepemikiran dengan mas Gibran. Namun, aku tidak mau berprasangka buruk dulu sebelum menemukan bukti kuat.

Mas Gibran ikut tertawa, "padahal tadi Mas nyangkanya Vina sebelum dua hari ini hamil."

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berbagi suami
8.7
Atas dasar kemanusiaan, Sofia Marwah merelakan Nizam, suaminya, untuk beristri lagi dengan menikahi Nurmala. Sahabatnya itu kini hidup sebatang kara dan mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Di sisi lain, Nizam juga harus menepati janji pada mendiang temannya untuk menjaga Nurmala. Lewat keputusan berat ini, Sofia kini harus tegar mengarungi kehidupan poligami. Akankah keikhlasannya ini berujung pada kebahagiaan, atau justru luka pengkhianatan yang akan didapatkannya?
Sampul Novel Hari Pamermu, Hari Kematianku
8.9
Demi menyelamatkan diri dari kemiskinan dan kejaran musuh saat Andre bangkrut, tokoh utama memilih memutuskan hubungan dan berpaling ke pria kaya lain. Meski Andre memohon dan menyatakan tidak bisa hidup tanpanya, penolakan kejam dengan siraman wiski akhirnya mengusir pria itu pergi. Enam tahun berlalu, Andre kembali ke Jalan Wandara sebagai taipan keuangan sukses Kota Yorin. Berniat memamerkan tunangan barunya sebagai pembalasan dendam, Andre justru harus menghadapi kenyataan pahit bahwa wanita yang dicarinya telah meninggal dunia tepat di hari kepulangannya.
Sampul Novel Malam Panas Dengan Mantan Suami
8.6
Satu malam intim bersama Calvin memutarbalikkan hidupku. Niat awal menjebaknya agar bersama Nona Agnes demi menyudahi pernikahan kami justru berbalik menjerat diriku sendiri. Walau menyadari kekeliruan fatal ini, bayang masa lalu dan kenangan indah bersamanya begitu sulit kulupakan. Kini, aku sepenuhnya terjebak dalam dilema besar akibat konsekuensi dari rencana yang kubuat sendiri.
Sampul Novel Pengasuh Duda Jutawan
7.9
Pasca dicampakkan suami saat bersalin, Johanne Warrent harus menghidupi bayinya dengan menjadi pengasuh Jhin, anak lelaki Eduard Collen. Sang majikan adalah duda kaya raya yang berwatak dingin dan angkuh. Di bawah tekanan keluarga besar Eduard, Johanne berupaya keras mendekati Jhin yang menutup diri akibat trauma. Di tengah perjuangan itu, muncul perasaan cinta yang menguji profesionalismenya. Ia pun harus bertahan demi masa depan anaknya.
Sampul Novel Ranjang Kakak Ipar.
8.1
Pernikahan menjadi mimpi buruk bagi Ayudia saat ia dipaksa bersanding dengan Aidan, kakak iparnya. Aidan yang didera duka mendalam atas kematian istrinya—kakak kandung Ayudia—meluapkan dendam dan rasa sakit itu melalui siksaan kejam kepada Ayudia. Terperangkap dalam rumah tangga yang menyerupai neraka, Ayudia harus menghadapi trauma psikologis yang sangat berat akibat kebrutalan suaminya. Sanggupkah ia bertahan melewati penderitaan ini, ataukah ada kebahagiaan tersisa untuknya?
Sampul Novel Terjerat Cinta Mafia Kakak Beradik
9.5
Savana terpaksa diserahkan sang ibu kepada Luca Zeno demi melunasi utang. Bukannya takut, ia justru terpikat kebaikan Luca yang mengajaknya menikah kontrak dua tahun untuk donor sel telur. Namun, keadaan berantakan saat Savana mengandung. Terungkap bahwa ayah biologis bayi itu adalah adik kandung Luca, Ziv Zeno. Kini, dua bersaudara dari klan mafia tersebut saling bersaing ketat dan ekstrem demi merebut hati serta menguasai Savana sepenuhnya.