APKDock Logo
Sampul Novel Tamu Selepas Subuh

Tamu Selepas Subuh

8.3 / 10.0
Pascasubuh, ketukan pintu dari wanita tak dikenal mengubah hidup Dewi saat ia dititipkan seorang bayi. Kejadian itu menjadi awal misteri kelam karena beberapa jam setelahnya, wanita misterius tersebut ditemukan tewas dengan mulut berbusa di kampung sebelah. Kini, Dewi harus menghadapi teka-teki mematikan yang mengaitkan bayi dalam asuhannya dengan kematian tragis sang ibu yang terjadi di pagi buta.

Tamu Selepas Subuh Bab 1

Tokk tokk tokk

Suara ketukan pintu depan, terdengar nyaring. Aku yang baru saja selesai melaksanakan salat subuh, langsung menuju ke depan, tanpa menyahut.

Tokk tokk tokk

"Mbak..."

Suara ketukan dan panggilan dari seorang wanita. Tanpa menyahut lagi, aku pun mengintip dari balik korden jendela, memastikan siapa yang mengetuk pintu rumahku di pagi buta seperti ini.

"Mbak, tolong bukakan pintunya!" ucap suara di depan lagi.

Seorang wanita muda dengan rambut dicepol, memakai hem kotak-kotak biru, dipadu dengan celana jeans hitam, tengah berdiri tepat di depan pintu rumahku.

Wanita cantik itu, menggendong seorang bayi, sambil membawa sebuah tas besar.

Tok tok tokk

"Mbak!"

Kali ini, segera kubuka pintu rumah, setelah yakin, jika yang mengetuk pintuku ini, adalah manusia tulen.

"Cari siapa ya, Mbak?" ucapku lembut, membuka obrolan, saat pintu telah kubuka.

Gerbang rumah, memang sengaja tak kukunci sejak semalam, karena suamiku bilang akan pulang. Tapi, sampai sekarang dia belum sampai juga.

"Ini Mbak Dewi, ya?!" tanyanya lirih.

Meski masing gelap, aku bisa melihat dari sorot lampu, jika gadis ini amat caantik, dengan rambut warna merah yang diponi.

Tampak bulir-bulir keringat, yang membuat poninya itu basah.

Kenapa di pagi buta yang dingin ini, dia malah berkeringat? Apa mungkin dia tadi habis berlari-lari?

"Iya, benar, saya Dewi. Mbak ini siapa ya? Kok sepertinya, saya belum pernah bertemu sebelumnya," ucapku sambil tersenyum.

"Mbak Dewi nggak perlu tahu siapa aku...aku ke sini, hanya ingin menitipkan anakku ini, Mbak. Tolong rawat dia dengan baik, sayangi dia seperti anakmu sendiri. Demi Allah, tolong jaga dia baik-baik."

Wanita itu, kemudian menyerahkan bayi mungil dalam gendongannya padaku. Kudengar dia mulai menangis terisak.

"Tapi, Mbak, ini anak siapa? Aku nggak mau nanti ada polisi yang datang, dan menuduhku mengambil bayi ini," ucapku yang akan kembali menyerahkan bayi mungil ini.

"Tolong, Mbak...ini anakku sendiri kok. Usianya masih seminggu, Mbak. Aku tak punya banyak waktu. Jadi, untuk terakhir kalinya, aku mohon, jadilah ibu selamanya untuk putraku," ucapnya sembari makin menangis.

Melihat nya seperti itu, aku jadi tak tega. Sepertinya, dia sedang tidak berbohong. Dan aku bisa melihat, jika dia meminta dengan sungguh-sungguh.

"Memangnya kamu mau kemana, Mbak?"

"Ke suatu tempat, Mbak. Terima kasih, ini ada sedikit perlengkapan dan susu," ucapnya lagi, sambil menaruh tas bayi di samping kakiku.

Dia kemudian menciumi bayi mungil yang ada di gendonganku, sambil menangis dan berucap, "maafin mama ya, Nak. Mama nggak bisa jagain kamu untuk selamanya. Mama sayang Lio."

"Mbaknya ini sebenarnya siapa? Kok tahu rumahku, dan tahu namaku?!" Aku tentunya masih sangat penasaran dengannya.

"Suatu hari, pasti Mbak Dewi akan tahu semuanya. Terima kasih, Mbak...aku pamit dulu!"

Tanpa menunggu persetujuannku, dia langsung lari secepat mungkin, tanpa menoleh lagi. Sebenarnya, aku ingin berteriak menanyakan namanya dan agar dia tidak pergi , namun aku tak ingin membuat tetangga terbangun.

Bayi mungil yang terbungkus selimut tebal itu, matanya terbuka. Tampan dan sempurna, namun raut wajahnya, mengingatkan pada seseorang, entah siapa itu.

Segera kubawa masuk, karena udara di luar amat dingin dan juga berangin. Kubawa masuk ke kamar bayi itu, dan menurunkannya di ranjang. Selimut yang melilit tubuhnya kubuka, sambil mengecek popok sekali pakainnya.

Seketika, bayi mungil itu mengeliat, dan ya ampun, dia amat lucu sekali. Matanya menatapku, dan dia menghadiahi sebuah senyum. Sungguh teramat gemas aku dibuatnya. Saat kuteliti, ada sebuah tanda lahir di punggungnya.

Sebenarnya, sudah dari dulu, aku dan Mas Hasan, suamiku, ingin seorang anak laki-laki. Namun, itu adalah hal yang mustahil, karena rahimku sudah lama diangkat, setelah adanya banyak fibroid di rahimku. Jadi, pupus sudah harapan untuk memiliki seorang anak lagi.

Sebuah chat masuk ke handphoneku, yang kuletakkan di nakas. Segera kubaca pesan di wa tersebut.

[Ma, maaf ya, papa nggak jadi pulang semalam. Soalnya di lapangan ada kendala, dan harus segera diselesaikan. Jadi mungkin aku baru bisa pulang, tiga atau empat hari ke depan.]

Sebuah chat kuterima dari Mas Hasan, suamiku.

[Memangnya nggak biaa gitu Pa, pulang sebentar? Hari ini 'kan, ulang tahunnta Fika, dia juga akan pulang, harusnya Papa juga pulang sebentar.] Balasku.

[Aduh, nggak bisa ini. Lagi genting! Lagian Fika kan uda gede, Ma. Masak mau diulang tahunin terus? Biar nanti kutransfer uang saja padanya, sebagai hadiah.]

[Ya sudah, terserah kamu saja deh, Pa.]

Sebenarnya, ingin aku menceritakan tentang bayi ini pada Mas Hasan, tapi kuurungkan. Aku takut dia nanti malah marah.

Bayi kecil yang tadi dipanggil mamanya Lio itu, kini tiba-tiba menangis. Segera kuambil botol susu dari saku tas bayi, dan dia langsung diam saat sudah minum susu.

"Jangan nangis lagi ya, Sayang. Mulai sekarang, aku mama kamu, ya, " ucapku sembari mengelus pipi halusnya.

Entah hanya perasaanku saja, atau memang benar adanya. Saat diamati, wajahnya jadi amat mirip sekali dengan Mas Hasan suamiku. Seketika pikiran buruk keluar, namun coba kutepis, karena tak mungkin suamiku itu macam-macam di luar.

***********

Jam di dinding dapur sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sambil menggendong Lio, aku memasak dari tadi dan kini sudah selesai. Masakan ini kubuat spesial untuk puteri semata wayangku, yang kini genap berusia dua puluh tahun.

Handphoneku tiba-tiba berbunyi, tanda panggilan masuk, ternyata itu dari Fika, anakku. Langsung kuangkat panggilan itu, siapa tahu ada yang penting.

"Assalamualaikum, ada apa, Fik?" ucapku membuka percakapan melalui sambungan telepon ini.

"Waalaikum salam. Ma, ada mayat ditemukan, di kampung Wonorejo. Ini aku mampir dulu untuk melihatnya," jawab Fika dari ujung sana.

"Innalillahi...Mayat? Laki-laki atau perempuan, Fik?" tanyaku penasaran.

"Perempuan, Ma. Masih muda dan cantik sekali, dari mulutnya keluar banyak busa, seperti habis keracunan gitu."

"Ya ampun kasihan sekali. Wonorejo itu 'kan, nggak jauh dari rumah kita, Fik...sudah kamu sekarang cepat pulang, Mama sudah masak kesukaanmu ini. Hati-hati. Assalamualaikum."

"Oke, baik Ma...waalaikumsalam."

Setelah mengakhiri panggilan itu, aku pun menuju ke kamar, untuk meletakkan Lio yang telah tidur. Karena, aku akan membersihkam diri, sebelum nanti sarapan berasama Fika.

Lima belas menit kemudian, Fika sudah sampai di rumah, saat aku sedang menata makanan di meja.

"Ma...iniloh foto wanita muda yang meninggal tadi, aku sempat memfotonya," ucap Fika sambil menunjukkan handphonenya padaku.

Deg!

Foto mayat yang diperlihatkan Fika itu, sama persis dengan wanita yang menyerahkan bayi Lio tadi. Memakai hem kotak-kotak warna biru, dan celana jeans hitam. Dan tentu saja, aku masih sangat mengenali wajah yang tadi menangis, saat menyerahkan anaknya itu.

Tapi, mengapa dia tiba-tiba meninggal dengan mulut berbusa? Padahal tadi kulihat dia baik-baik saja.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tamu Selepas Subuh

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan
8.2
Demi menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Mutiara Embun Pagi harus pindah ke Jakarta. Kehidupannya terusik oleh Leon Bhaskara Granada, cowok kaya nan angkuh penyandang gelar King of School yang selalu menghinanya sebagai gadis desa. Enggan direndahkan, Embun bertekad merebut gelar Queen of School demi membuktikan harga dirinya. Di tengah intimidasi Leon, sanggupkah Embun bertahan, mengalahkan rivalnya, dan justru memikat hati sang playboy?
Sampul Novel MAIN HATI
9.0
Kisah cinta Lila dan Dev kini terjebak dalam pusaran konflik batin yang semakin rumit. Hubungan mereka dihadapkan pada dilema besar karena keduanya kesulitan menyelaraskan perasaan dengan kenyataan hidup yang harus dihadapi. Di tengah keraguan yang terus menyiksa, mereka dipaksa mencari jawaban atas kelanjutan hubungan ini. Apakah perjuangan cinta mereka akan membuahkan kebahagiaan bersama, atau justru berujung pada perpisahan yang meninggalkan luka mendalam?
Sampul Novel Nyonya Tak Bucin Lagi
9.7
Kesempatan kedua hidup dipakai Grace Wijaya untuk segera menceraikan William Sanjaya. Trauma akibat mati tragis di rumah sakit jiwa setelah delapan tahun mencintainya membuat Grace enggan bertahan. Awalnya William bersikap dingin dan mengabaikan keputusan itu. Namun, ia menyesal saat melihat Grace bertransformasi menjadi wanita karier sukses yang dikelilingi banyak pria. Ketika William memohon untuk rujuk, Grace dengan tegas menolak karena telah sembuh dari kebutaan cintanya.
Sampul Novel Pacar baru untuk jutawan
9.1
Setelah dikhianati istrinya yang berselingkuh dengan pria lebih muda, David larut dalam rasa sakit yang tak berkesudahan. Ia memutuskan mengambil Hanna—perempuan yang 14 tahun lebih muda—untuk menjadi sugarbaby kontrak. Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi pacar David demi membuat mantan istrinya cemburu dan kembali bertobat dalam pelukannya. Hubungan mereka semata bisnis, terlarang, dan hanya di atas kertas. Namun seiring waktu, tembok itu runtuh. David justru jatuh cinta pada Hanna, dan rupanya perasaan itu berbalas. Romansa yang lazim pun tumbuh di tengah larangan. Tapi kebahagiaan mereka harus diuji oleh jurang perbedaan usia, ledakan kecemburuan, rentetan kebohongan, hingga kemarahan mantan istri yang bertekad merebut kembali semua yang hilang.
Sampul Novel Seandainya Waktu Bisa Kembali
8.2
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, Lolly, yang menderita gagal ginjal, seorang hakim tega mengambil keputusan sepihak untuk merebut ginjal istrinya sendiri. Sang istri mencoba menjelaskan bahwa dirinya juga mengidap penyakit yang sama dan akan mati jika kehilangan organ tersebut. Namun, sang suami justru menuduhnya cemburu dan tidak berhati nurani. Dipaksa menjalani operasi transplantasi, kondisi sang istri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal sendirian di sudut rumah sakit yang sepi.
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Dingin
8.9
Sejak remaja hingga berumur hampir kepala tiga, Kinara Larissa Putri hanya mencintai satu pria. Impiannya terwujud saat ia dinikahi Arka, duda menawan dambaannya. Sayangnya, pernikahan itu hambar. Arka yang kaku dan egois ternyata menikahinya cuma demi sang anak, tanpa rasa cinta. Di tengah dinginnya sikap sang suami, sesosok pria lain hadir menawarkan kasih sayang yang tulus. Kinara kini bimbang, sanggupkah ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta saat godaan baru mulai datang?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan