
Takkan Kembali Lagi
Bab 4
Entah berapa lama waktu berlalu. Yang jelas, aku perlahan tersadar karena mendengar suara pertengkaran sengit antara Vincent dan ayahnya.
Saat membuka mata, aku mendapati diriku berbaring di ranjang rumah sakit yang dingin.
Begitu melihatku siuman, Vincent pun menghela napas lega. Dia menatap ayahnya dengan ekspresi kesal.
"Inikah istri sempurna yang Ayah pilihkan untukku? Dia bahkan nggak pulang di saat hari sudah malam gara-gara sibuk berkencan sama pria lain di luar sana!"
"Kencan apa!" tegur Reyhan dengan tubuh yang gemetar karena marah. "Kamu tahu nggak kemarin Abella pergi ke mana untuk melakukan apa!"
"Ayah, semuanya sudah berlalu," selaku dengan nada bicara yang tegas.
Reyhan menatapku. Amarahnya mereda setelah melihat sorot lelah dan penuh tekad dalam pandanganku.
Dia pun mengibaskan tangannya dengan acuh tak acuh.
"Karena dia sudah siuman, berarti urusanku di sini selesai. Syafana masih menungguku, jadi aku pergi dulu."
"Berhenti kamu!" bentak Reyhan.
"Ayah nggak peduli kamu mau ke mana hari ini, tapi besok kamu harus pulang ke rumah Ayah bersama Abella!"
Belum sempat Reyhan selesai bicara, sosok Vincent telah keluar dari pintu dan menghilang.
Reyhan pun menghela napas dan menyodorkan surat cerai kepadaku.
"Ayah sudah mengurus surat ceraimu dengan Vincent. Begitu kamu tanda tangan, pernikahan kalian akan benar-benar berakhir."
"Abella, besok adalah hari pemakaman putra kalian. Ayah harap kamu bisa datang untuk mengantarnya."
Aku menatap pria tua yang rambutnya sudah beruban itu dan akhirnya hatiku melunak.
Keesokan paginya, aku datang ke rumah lama Keluarga Gredi dengan mengenakan pakaian hitam.
Sejak lahir, akulah yang mengurus anakku.
Sayangnya, takdir berkata lain. Bayi yang baru berusia satu bulan itu harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
Aku menghapus air mataku, hatiku terasa hampa seolah-olah semua yang mengikatku ke dunia ini telah hilang.
Vincent sama sekali tidak muncul, bahkan hingga anak kami dikuburkan.
Beberapa jam kemudian, dunia maya pun menjadi heboh.
Foto Vincent dan Syafana yang sedang mencoba gaun pengantin di studio pengantin kelas atas tersebar.
Syafana pun mengirim pesan dengan angkuh.
[Terus kenapa kalau kamu punya anak? Pada akhirnya, yang Vincent pilih itu aku.]
[Oh ya, apa kamu pikir Vincent yang merawatmu saat kamu pingsan? Waktu itu dia terus bersama denganku.]
[Kami ada di kamar rawat VIP di sebelahmu. Kami mencoba banyak posisi baru, kasurnya empuk juga.]
Aku tidak memberikan tanggapan. Aku hanya meneruskan semua pesan dan foto itu ke Reyhan.
Setelah itu, aku mengambil sebuah kotak hadiah berbahan kulit.
Pihak rumah sakit memberiku cap telapak kaki dan foto kaki bayiku di hari dia dilahirkan.
"Nak, Ibu akan selalu menyayangimu," bisikku.
Aku pun melepas cincin berlian yang melingkari jari manisku dan mengucapkan selamat tinggal kepada Reyhan.
Malam itu, Vincent kembali ke rumah lama Keluarga Gredi dengan tubuh yang berbau alkohol.
Suasana di ruang tamu terasa suram dan dingin, hanya ada satu lampu gantung yang menyala.
Meja panjang yang berada di tengah dilapisi kain beludru hitam dan diterangi lilin.
Sebotol mawar putih berdiri dengan tenang di bagian depan.
Vincent sontak tertegun dan refleks mengambil setengah langkah mundur.
"Siapa ... yang meninggal? Apa ... ibunya Abella?"
Vincent langsung menjadi panik, dia bergegas menemui para pelayan untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini? Mana Abella? Bagaimana kondisi ibunya? Dia pasti sedih sekali, 'kan? Aku harus menemaninya."
Reyhan pun bangkit berdiri dari balik kegelapan, lalu melemparkan surat cerai ke dada Vincent dengan kasar.
"Ibu Abella sudah meninggal dunia! Lalu, hari ini adalah hari ketujuh setelah kematian putramu yang usianya bahkan belum ada satu bulan itu!"
"Abella juga sudah pergi!"
Anda Mungkin Juga Suka





