APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Sangka Dokter Itu Begitu

Tak Sangka Dokter Itu Begitu

Kecanduan berat yang dialami seorang mahasiswi mulai merusak urusan akademis, kehidupan pribadi, hingga hubungan asmaranya. Atas saran sang kekasih, ia akhirnya mendatangi klinik kampus untuk menjalani pengobatan. Namun, sesi terapi tersebut berubah menjadi mimpi buruk saat ia ditangani oleh dokter pria berbadan kekar. Metode sang dokter yang mengintimidasi membuatnya ketakutan setengah mati. Terikat di ranjang periksa tanpa daya, tangisan dan permohonannya diabaikan begitu saja ketika sang dokter mulai bertindak kasar.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah itu, Dokter Arlo bangkit berdiri dan mengambil sehelai tisu yang terletak di atas meja.

Aku sontak merasa malu sekaligus marah saat melihat Dokter Arlo menyeka tangan dan wajahnya yang berlumuran noda-noda yang sudah tidak asing lagi itu.

Aku ini benar-benar wanita jalang. Aku sama sekali tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya mengotori wajah tampan dokter itu.

"Ma ... maaf, aku nggak bermaksud begitu," ujarku meminta maaf dengan suara pelan.

"Reaksi seperti itu normal kok. Buatku, kamu nggak lebih dari sekadar pasien," jawab Dokter Arlo dengan lembut. Aku pun merasa lebih tenang.

Aku menurunkan kakiku, tetapi Dokter Arlo berkata, "Tetap angkat kakimu. Aku belum selesai memeriksa."

Aku akhirnya terpaksa mengangkat kakiku yang satu lagi.

Setelah mengelap tangan dan wajahnya, Dokter Arlo mengeluarkan ponselnya dan memfoto bagian sana.

Saat melihat ekspresiku yang kebingungan, Dokter Arlo pun menjelaskan, "Punyamu terlalu lebat, aku nggak bisa melihat dengan jelas."

Ya ampun, memalukan sekali! Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam tanah saja! Kupikir penyakit seperti ini cukup diberikan obat, tidak kusangka tahapan pemeriksaannya saja sudah begini. Seandainya saja aku tahu, aku pasti sudah mencukurnya dulu sampai bersih sewaktu masih di asrama.

Dokter Arlo menatap foto itu sejenak, lalu akhirnya menemukan penyebabnya. "Kamu menderita infeksi jamur akibat ketidakseimbangan flora alamiah yang ada di sana. Kamu agak terlambat baru ke dokter sekarang. Intinya, ini sudah nggak bisa sembuh dengan obat-obatan lagi."

Sebenarnya aku tidak begitu paham apa maksudnya, tetapi penjelasan itu terdengar serius. Aku pun langsung panik. "Kalau begitu, aku harus bagaimana?"

"Sekarang kita hanya bisa mengandalkan alat untuk membantu mengurangi sensitivitasmu. Coba berbaring dulu, kita lihat apa ada banyak titik yang sensitif atau nggak. Kalau ada banyak, berarti aku harus menambah dosis obatnya."

Aku ragu-ragu sebentar, tetapi tetap menuruti perintah Dokter Arlo.

"Buka sedikit kakimu," kata Dokter Arlo sambil setengah berlutut di pinggir kasur dan mulai mengulurkan tangannya untu memeriksa.

Tangannya terasa begitu dingin. Tubuhku sontak bergidik saat tangannya menyentuh kulitku.

"Rileks sedikit, kalau nggak nanti hasil pemeriksaannya nggak akurat."

Aku segera memejamkan mataku sambil mencoba untuk rileks.

Setelah itu, aku bisa merasakan adanya sepasang tangan besar yang dingin bergerak maju mundur di tubuhku. Gesekan yang terjadi dengan kapalan tipis pada ujung jemari itu membuatku merasa mati rasa.

"Gawat," batinku. Jika terus seperti ini, bisa-bisa aku kehilangan kendali lagi.

Otakku menyuruhku untuk meminta Dokter Arlo berhenti, tetapi tubuhku malah menyuruhku untuk meminta ditekan lebih kencang.

"Di sini terasa sensitif nggak?"

"Kalau di sini?"

Dokter Arlo terus menekan sambil bertanya.

Tidak lama kemudian, sekujur tubuhku jadi terasa lemas. Rasanya seperti ada bara api yang membara di dalam tubuhku, kepalaku jadi pusing dan otakku terasa kacau.

Aku takut makin tidak bisa mengendalikan diri, jadi aku hendak mencengkeram tangan Dokter Arlo.

Namun, belum sempat kucengkeram, tiba-tiba Dokter Arlo menekan salah satu titik.

Hanya satu tekanan dan aku langsung kalah.

Sekujur tubuh dan pikiranku seakan menjerit dengan gila.

Tubuhku juga mulai bereaksi dengan hebat.

Bibirku terbuka sedikit dan aku refleks membuka kakiku lebih lebar.

Di saat aku menginginkan lebih, Dokter Arlo justru mendadak menarik tangannya kembali.

Gerakan yang tiba-tiba usai itu membuatku merasa begitu kehilangan.

Dokter Arlo menyeka tangannya sambil berkata, "Aku sudah selesai memeriksa. Ternyata kamu punya banyak titik sensitif."

Ekspresinya terlihat biasa saja, tetapi aku menyadari ada bagian tubuhnya yang menonjol.

Apa mungkin Dokter Arlo yang terlihat berwibawa dan tenang ini sebenarnya adalah seorang pria yang ganas di atas kasur?

Siapa pun yang melihat tubuh yang jangkung, kekar dan berotot itu pasti langsung tahu bahwa dokter satu ini sangat ahli dalam urusan ranjang.

Ya ampun, apa sih yang kupikirkan!

Aku jadi takut dengan pikiranku sendiri. Untung saja Dokter Arlo tidak bisa membaca pikiranku, jika tidak dia pasti akan menganggapku kurang ajar.

"Apa sudah selesai, Dokter Arlo?"

"Sudah. Nah, sini kujelaskan soal cetakan yang akan kamu pakai.."

Dokter Arlo pun mengeluarkan sebuah kotak dari bawah dan membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa cetakan dengan panjang dan ketebalan yang berbeda.

Pembuluh darahnya juga tampak menonjol sehingga cetakan itu terlihat sangat realistis.

Wajahku sontak merona.

Meskipun begitu, Dokter Arlo tetap menjelaskan dengan serius dan sepenuh hati.

"Ini cetakan yang bisa kamu gunakan untuk membantu meredakan sensitivitasmu. Oleskan obat di atasnya, lalu gosok-gosok beberapa kali supaya efektif. Kamu harus menggunakan cetakan ini soalnya ada banyak sekali titik sensitif yang letaknya jauh di dalam."

"Kalau begitu, Dokter Arlo yang putuskan saja mana yang cocok buatku," ujarku agak malu.

"Aku cek dulu ukuran mana yang paling pas buatmu."

"Tapi, ini pemeriksaan bagian dalam, apa kamu perlu kehadiran pacarmu di sini?"

Kenapa juga pacarku harus di sini? Jika dia melihat pria lain melakukan hal semacam itu kepadaku, dia pasti akan langsung mencampakkanku detik itu juga.

Lagi pula, rasanya agak lebih seru jika dia tidak ada. Pada akhirnya, aku mengatakan tidak usah tanpa mengutarakan apa alasannya.

"Oke, kalau begitu kamu berbaringlah," kata Dokter Arlo sambil memasang tirai di tengah-tengah kami.

Aku menggigit bibirku dengan gugup, kedua tanganku mencengkeram seprai tempat tidur dengan erat. Aku merasa takut sekaligus penuh harap.

Tangan Dokter Arlo yang besar dan kasar itu kembali melingkupiku, sensasi mati rasa yang familier itu pun muncul lagi.

Berulang kali aku nyaris menjerit keenakan, jemari kakiku sampai mengerut di atas lantai.

"Punyamu ini dalam sekali, jadi susah ketemu. Aku harus ganti cetakannya."

Saat Dokter Arlo menarik tangannya, aku merasa seperti habis terjatuh dari puncak gunung ke dasar lembah.

Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara ritsleting dibuka.

Sesaat kemudian, sesuatu yang terasa panas dan keras pun memasukiku. Aku sontak merasa ada yang tidak beres.

Aku refleks menarik tirai ke atas. Astaga ....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B72727" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B72727
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku bukan wanita penggoda
9.1
Setelah sekian lama berpisah pasca-perdamaian orang tua mereka, takdir mempertemukan kembali Anindya dengan sahabat kecilnya, Yeja. Namun, pertemuan ini terjadi di saat yang salah. Yeja kini berstatus sebagai tunangan Anindira, saudara kembar Anindya. Kebenaran pahit terungkap bahwa Yeja bersedia menikahi Dira hanya karena mengira dia adalah Anindya. Kini, Anindya menghadapi pilihan sulit: tetap diam atau membongkar kenyataan dengan risiko dibenci kembarannya sendiri.
Sampul Novel Godaan Sang Mantan
8.2
Tujuh tahun setelah ditinggalkan Willem Roberto, Marina masih dirundung luka mendalam. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali hingga ia kembali terjerat pesona sang mantan. Meski dibayangi trauma masa lalu, kenangan indah menyeret keduanya dalam momen intim yang tak terhindarkan di hotel. Kini Marina didera kebimbangan besar: haruskah ia menyerah pada kerinduan hatinya, atau bangkit demi kebahagiaan mandiri di tengah ketidakpastian hubungan mereka?
Sampul Novel Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu
9.4
Kehamilan Sarah terasa hampa saat suaminya, Dimas, justru sibuk memedulikan Citra. Luka hatinya kian dalam ketika sahabatnya sendiri mulai meluncurkan rencana licik untuk menggeser posisinya sebagai istri. Di tengah situasi pelik ini, Sarah dihadapkan pada dilema besar. Apakah ia harus mempertahankan rumah tangga yang hancur demi anak dalam kandungannya, atau melangkah pergi demi harga diri? Kisah perjuangan batin seorang wanita demi kedamaian hidupnya.
Sampul Novel Obsession In Love
9.5
Arinika, mahasiswi yang tengah bersusah payah merampungkan skripsinya, kerap berhadapan dengan masalah akibat dosen pembimbingnya. Samuel Xalvandor, sang dosen yang terkenal amat kejam, tiba-tiba memaksanya untuk menikah. Walau sempat berusaha menolak, Arin tidak berkutik menghadapi dominasi sang dosen hingga pernikahan mereka benar-benar terjadi. Simak kelanjutan kisah penuh lika-liku mereka dalam drama romansa modern ini.
Sampul Novel Si Cantik Dengan Berbagai Topeng
7.9
Demi membalas budi setelah diselamatkan dari kecelakaan maut, seorang pria berkuasa memutuskan untuk menikahi sang penyelamat. Pernikahan ini memicu kehebohan publik yang menilai wanita tersebut berwajah buruk dan tidak sepadan. Padahal, di balik penyamarannya, ia adalah sosok jelita yang sedang mengemban misi rahasia demi menguak misteri kematian ibunya. Saat satu demi satu topengnya terbuka, dunia terenyak menyadari bahwa ia jauh lebih hebat dari suaminya.
Sampul Novel Terpaksa Berbagi Ranjang
8.3
Kisah romansa modern khusus dewasa ini ditujukan bagi pembaca matang yang siap secara mental. Alurnya menyajikan eksplorasi mendalam tentang hubungan intim dan intens di tengah kehidupan masa kini. Anda akan diajak mengikuti perkembangan emosi para karakter saat mereka menghadapi berbagai situasi menantang yang penuh rintangan. Pastikan kesiapan diri Anda sebelum menyelami setiap babak penuh dinamika dalam narasi yang disajikan ini.