APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TAK MAU DIMADU

TAK MAU DIMADU

Pernikahan harmonis yang dibangun selama lima tahun kini berada di ambang kehancuran. Badai datang menerpa saat seorang wanita dari masa lalu Ilham tiba-tiba hadir kembali. Kehadiran orang ketiga ini seketika merusak kebahagiaan dan meruntuhkan komitmen suci mereka untuk menua bersama. Pengkhianatan tersebut menghancurkan gairah hidup yang ada. Akankah rumah tangga mereka mampu bertahan di tengah gempuran masa lalu yang merusak segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Dek, Mas mau nikah lagi!" Aku yang tengah duduk di sofa ruang tamu seketika berdiri. Menatap bingung pria yang baru saja melewati pintu depan.

"Ap-apa, Mas?" tanyaku mencoba memastikan. Berharap apa yang baru saja melewati telingaku hanya sebuah kebohongan belaka.

"Mas mau nikah lagi! Titik!" ulangnya bagai petir yang menyambar tepat di ubun-ubunku. Wajah menegang, telinga pun rasanya berdengung mendengar perkataan suamiku yang mendadak.

Nikah lagi? Yang benar saja. Aku bukan wanita yang menentang poligami, silakan siapapun boleh melakukannya, tapi jangan suamiku. Aku nggak mau. Nggak akan pernah mau. Lebih baik pisah dari pada cintanya tak hanya terbagi untuk wanita lain.

"Kok, tiba-tiba? Kita nggak lagi berantem loh, Mas! Kita nggak ada masalah, rumah tangga kita adem ayem, kok!" kataku berapi-api. Sebelum-sebelumnya tidak ada pertanda apapun yang menjurus ke arah sana. Suamiku pun baik, hangat, dan penuh perhatian, seperti biasa. Kami … baik-baik saja. Setidaknya, itu menurutku.

"Pokoknya mas mau nikah lagi!" ulangnya bagai sembilu yang menusuk-nusuk telinga bahkan hati ini. Kurangku apa?

Apa … belum adanya keturunan di antara kami sebagai bibit masalahnya? Tapi, kenapa harus nikah lagi, sih? Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memiliki anak. Adopsi mungkin, itu jauh lebih baik ketimbang dipoligami.

"Gaji aja pas-pasan kok mau nambah lagi. Ini gimana, Mas? Pikir dong! Jangan mau enaknya aja!" Lahar amarah dalam dada kian membumbung.

"Itu bisa dipikir belakangan," katanya sambil bersedekap.

"Belakangan gimana? Perbaiki dulu sikapmu, agamamu, keuanganmu, setelah itu barulah memikirkan menambah istri! Jangan hanya memikirkan enaknya aja, Mas!"

Dia kira bakal enak memiliki dua istri. Kasur, dapur, sumur, bisa digilir seenaknya. Iya kalau adil, kalau condong sebelah, bisa-bisa yang didapat malah kebuntungan.

"Pokoknya, kamu harus siap dimadu!" Dia masih kukuh pada keputusannya. Bahkan, telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. Pertama kalinya, pria yang kuhormati selama ini sebagai imam saat salat, kepala keluarga, dan kesabarannya yang patut menjadi teladan, bersikap tak sopan seperti ini.

Aku jadi penasaran, seperti apa wanita yang berhasil merubah sikap lelaki ini.

"Nggak!" tegasku. Dia punya keputusan, aku pun sama.

"Aku sudah bawa calon," ungkapnya semakin membuatku meradang.

"Sayang, ke sini Sayang." Kepalanya menoleh pada pintu.

Sayang? Panggilan yang biasanya membuatku melayang, kini disematkan juga pada si jalang? Benar-benar kurang ajar kamu mas.

Kuikuti arah pandang pria depanku. Terlihat wanita tinggi semampai muncul di sana. Kulitnya putih, bersih, mengkilap bak porselen. Badan lenggak-lenggoknya yang seperti gitar spanyol terpampang nyata karena dress pas badan yang dikenakannya.

"Aduhai." Satu kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Sungguh, melihat siluetnya saja sudah seperti bidadari yang digambarkan di buku-buku dongeng. Aku yang wanita normal pun pasti jatuh hati pada bentuk indah itu.

"Bagaimana? Sempurna bukan?" ucap suamiku bangga. "pilihan siapa dulu, Ilham." Tangannya menepuk-nepuk dada. Begitu bangganya sampai menyebut namanya sendiri.

Mataku mengerjap, jemari pun mengusap-usap netra, wajah sosok bidadari di depan pintu terlihat samar, buram, nyaris tak terlihat.

"Anu, Mas, kok mukanya silau." Netraku memicing, mencoba memperjelas laju pandang. Tetap saja, wajah --yang kata suamiku-- sempurna itu tak terlihat sedikitpun. Mata, hidung, bahkan dagunya, putih. Hanya rambut dan leher ke bawah hingga ujung kaki yang terlihat jelas.

"Ngarang! Jelas-jelas cantik gitu, ya! Bilang aja kamu iri karena kalah jauh! Kamu itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengannya! Dia langsing, kamu … meskipun bisa dibilang nggak gemuk, tapi pipi tembem dan badan berisimu cukup mengganggu mata," katanya tak pedulikan hatiku yang hancur berkeping-keping.

Bagaimana bisa, seorang suami terang-terangan membandingkan istrinya dengan wanita lain. Jahat kamu mas.

"Beneran! Nggak kelihatan itu mukanya, Mas." Aku masih mengusap-usap netra dengan keras. Bagaimana mungkin, mataku yang masih normal mendadak rabun begini?

"Halah! Susah emang ngadepin orang yang iri hati!" ucap suamiku sambil berjalan ke arah selingkuhannya itu.

"Mas! Mau kemana kamu, Mas." Aku berteriak. Namun, pria itu tetap maju tanpa menoleh sedikitpun padaku. Merangkul pinggang ramping kekasihnya, dan melangkah semakin jauh.

"Mas!" Aku masih berteriak. "Mas Ilham!" meraung pun tak ada arti. Sejoli itu sudah tak terlihat lagi.

Aku terduduk di lantai, menyembunyikan wajah yang di banjiri air mata di sela-sela lutut yang tertekuk. Aku tak kuat lagi untuk tidak menangis. Hatiku sakit, perih, luka yang suamiku torehkan begitu dalam hingga diri ini tak mampu menahannya.

"Mas Ilham …!"

***

"Dek, bangun." Badanku terus-terusan berguncang. Perlahan, netra yang tertutup mulai terbuka. Berat, perih, tapi aku harus mencobanya.

"Dek, bangun. Astaghfirullah. Nyebut, Dek," seru Mas Ilham. Samar-samar kulihat lelaki itu masih setia mengguncang-guncang tubuh ini. Mencoba membangunkanku dari tidur. Sesekali menampar pipi, penuh sayang loh agar cepat sadar.

"Astaghfirullah sakit, Mas. Teganya kamu menamparku!" Aku terbangun dengan berderai air mata. Tangan kanan mengusap-ngusap pipi yang kena tampar.

"Enggak usah drama, Dek, orang cuma pelan ya. Lagian, mimpi apa sih sampai nangis sesenggukan begitu? Manggil-manggil nama mas terus lagi," katanya sambil tertawa.

Semua ini gara-gara kamu tahu nggak! Jadi, itu hanya mimpi? Mas Ilham mau poligami, dan wanita itu juga cuma mimpi? Syukurlah jika begitu adanya.

Aku terduduk bersila di ranjang. "Oalah, Mas, aku mimpi kamu bawa calon madu ke rumah ini." Tanganku menepuk kening.

"Ya Allah, Dek, mimpimu itu mengada-ada. Kebanyakan nonton sinetron ikan terbang sih." Tawa suamiku semakin berderai. Tangannya terulur, menyeka air mata di pipiku.

Diri ini nggak gemuk kok, hanya sedikit berisi. Beratku lima puluh delapan kilo dengan tinggi badan seratus enam puluh, bukankah itu termasuk ideal?

"Kamu itu satu-satunya, Dek, disini." Mas Ilham menunjuk dadanya, tepat di jantung. Lah gombal lecek.

"Beneran ya, Mas?" Aku meremas tangannya yang masih berada di pipiku.

"Satu aja nggak habis-habis ya, menul-menul gini, aku ya nggak bakalan berpaling, Dek," kata Mas Ilham meninggalkan kecupan di keningku. Lalu turun ke hidung, turun lagi hingga bibir. Cukup lama dia bermain di sana. Aku pasrah dan berusaha mengimbanginya.

Suamiku ini, pandai sekali menenangkan hati yang gundah. Bagaimana mungkin suami yang begitu lembut memperlakukanku bakal tega berpaling, selingkuh, bahkan menikahi gundiknya itu. Nggak, itu nggak bakal terjadi. Semoga ….

"Ya sudah aku mau bobok lagi," ucapku saat tautan kami terlepas. Kembali merebahkan diri, lalu memiringkan badan membelakangi Mas Ilham.

"Loh, Dek, sudah bangun ini." Keningku berkerut dalam. Bangun? Astaga … kututup mulutku yang mengaga.

Aku berdeham lalu berkata, "Bangun, ya ditidurin lagi, Mas. Masih gelap gulita ini loh." Aku berpura-pura tak paham maksud terselubung suamiku itu.

"Ini yang bawah, Dek, ya elah gak peka banget," rengeknya terasa semakin mendekat. Bahkan, embusan napas hangatnya terasa di tengkuk leherku, merembet hingga ceruk leher.

"Nggak mau, Mas. Salah siapa mau poligami," kataku seraya menahan tawa.

"Itu kan cuma mimpi, Dek."

Aku tahu itu hanya bunga tidur, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal dalam dada. Aku resah, kepikiran, tak tenang.

"Kenapa, Mas Ilham masuk mimpiku? bawa calon madu lagi." Aku masih enggan berbalik untuk sekedar menatapnya.

"Dek ... Dek," rengeknya semakin mendekatkan badan.

"Tidur, Mas." Aku memejamkan mata sambil terus cekikikan. Duh, menggemaskannya suamiku ini.

"Dek, nggak mau bobok ini."

Aku menghela napas. Menetralkan degup jantung yang kian menjadi-jadi. "Iya, iya." Aku menghadapnya sambil menunduk malu-malu.

Lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, selama itu pula selalu tidur di ranjang yang sama, tak terhitung lagi sudah berapa kali kuserahkan raga ini untuknya, tapi setiap kali memulai aku masih saja merasa gugup, malu, dan jantung berdebar-debar. Selalu, seperti waktu pertama kali melakukannya.

Suamiku tersenyum, tangannya mulai memberikan sentuhan lembut nan memabukkan.

Bercampurnya pasangan halal malam ini, semoga Allah titipkan nyawa yang bersarang di rahimku. Janin yang akan kukandung selama sembilan lebih. Titipan yang amat-sangat kami nanti-nantikan.

Aku dan Mas Ilham sudah menikah selama lima tahun, dan belum juga memiliki keturunan. Padahal kami tidak ada kendala dalam kesuburan, semua hasil medis tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bagus semua, kata beberapa dokter yang pernah kami kunjungi. Metode kimia, herbal, bahkan sampai urut peranakan pun sudah pernah aku lakukan.

Memang belum rejekinya, mau berusaha seperti apapun kalau Allah belum menghendaki semua itu tidak akan terjadi. Aku yakin, Allah memiliki rencana tersembunyi untuk kami yang tak henti-hentinya berusaha.

Semoga, apa yang aku khawatirkan, hanya sebatas kekhawatiran saja, Mas. Semoga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
8.8
Diceraikan suami kikir yang kerap menghina latar belakang pendidikannya, seorang wanita miskin terpaksa menuruti kehendak orang tua untuk menikahi duda kaya. Tanpa landasan cinta, pernikahan kedua ini membawa ketidakpastian baru. Mampukah ia bangkit dari trauma masa lalu akibat perlakuan buruk mantan mertua, lalu merajut kebahagiaan sejati bersama suami barunya? Ikuti perjuangan menyentuh hati dalam memulihkan luka batin di tengah biduk rumah tangga yang terpaksa.
Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Erick, pemuda berusia dua puluh tahun, terpaksa mengambil langkah ekstrem demi melunasi biaya rumah sakit ibunya. Ia bersedia menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis yang sangat dominan dengan kecenderungan BDSM. Kini, hidup Erick dipenuhi kekerasan, makian, serta penghinaan. Sanggupkah Erick bertahan melewati hubungan dewasa yang sangat ekstrem ini demi menyelamatkan sang ibu?
Sampul Novel Dibuang Suami Diperistri Tuan Presdir
8.1
Lima tahun pernikahan Zara dan Harry yang semula tenang hancur seketika. Demi melunasi utang raksasanya, Harry tega menjual Zara kepada seorang pria kejam sebagai jaminan. Di tengah penderitaan akibat dijadikan pemuas nafsu, Zara tidak tinggal diam. Ia mulai menyelidiki alasan di balik utang besar suaminya hingga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Kisah rumah tangga yang penuh pengkhianatan dan konspirasi ini mengandung konten dewasa khusus pembaca cukup umur.
Sampul Novel GAIRAH LIAR PENGANTIN PENGGANTI
9.7
Belia Anastasya nekat menjadi pengantin pengganti bagi Bianca demi biaya operasi sang nenek. Ia pun menikahi Arkan Devano Haditama, pewaris kaya raya Haditama Group, dengan syarat dilarang jatuh cinta. Meski awalnya Arkan bersikap dingin dan benci perjodohan ini, kebersamaan intim satu malam mengubah segalanya. Kini Belia terjebak dilema rasa, terlebih saat identitas aslinya terancam terbongkar karena Bianca menuntut posisinya kembali.
Sampul Novel Harga Cinta Terpendam
9.0
Dulu aku terpaksa menghancurkan Bram demi melindunginya. Sekarang, ia kembali sebagai pengacara berdarah dingin yang berniat merebut Kania, putriku. Bram sama sekali tidak menyadari bahwa Kania adalah anaknya sendiri, dan aku sedang berjuang melawan leukemia yang mematikan. Di tengah tuntutan hukumnya yang kejam, aku harus bertahan hidup. Menjelang ajal, kuikhlaskan semuanya untuk Kania dan kutinggalkan sepucuk surat yang akan menghancurkan hidup pria yang sangat kucintai.
Sampul Novel Istri kecilku
8.8
Setiap pasutri mendambakan keluarga yang harmonis, tetapi jalan ke sana tidak pernah mudah. Kini, Bella dan Aris harus menghadapi ujian berat dalam pernikahan mereka. Masalah ekonomi dan kesetiaan menjadi tantangan besar yang menguji keteguhan cinta keduanya. Di tengah tekanan yang kerap menghancurkan rumah tangga lain, nasib pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Sanggupkah mereka bertahan melewati badai ini, atau justru memilih menyerah?