APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUSUK TERATAI PUTIH

SUSUK TERATAI PUTIH

Di era kolonial Belanda, hidup Sumirah hancur setelah mengetahui suaminya yang kasar berselingkuh dengan penari. Penderitaannya kian berat akibat pelecehan dari para pria di desanya. Didorong dendam, ia melakukan ritual mengerikan dan bersekutu dengan iblis demi kecantikan abadi. Meski menjadi wanita tercantik di masanya, jiwanya perlahan terenggut. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi kutukan itu sembari menanti apakah cinta sejati dapat menyelamatkannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab-1 RAWA IRENG

Tahun 1821...

Terlihat tiga pria dewasa menerobos hutan dengan hanya menggunakan penerangan dari obor. Langkah mereka tampak terburu-buru seolah sedang mengejar binatang buruan.

“Cepetan, Jo! Nanti dia kabur!”

Pria yang dipanggil Paijo bergegas melebarkan langkah kakinya. Mengikuti instruksiu yang diberikan oleh Juragannya. Suara ranting kayu yang terinjak menghiasi malam itu.

“Kampret! Di mana cah ayu itu. Hampir tak sikep awak e malah ngilang. Cari terus, Man!” (Hampir saya peluk tubuhnya tapi menghilang.)

“Wokey, Juragan!” Pria berbaju lurik yang bernama Maman itu menanggapi lelaki yang dia panggil dengan sebutan juragan.

Lelaki dengan perawakan tinggi besar dengan luka goresan di wajah sehingga menampakkan kesan sangar pada dirinya. Lelaki itu dikenal sebagai Juragan Jarwo, antek Menir Belanda di daerahnya.

“Waduh! Apa-apaan kamu, Man! Berhenti kok dadakan.” Juragan Jarwo menabrak tubuh Maman yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Jura—gan, ki—ta pu—lang saja yuk, Juragan. It—u...” Maman berkata terbata-bata dengan telunjuk mengarah ke suatu tempat.

“Heh kampret, ngomong apa kamu? Nggak jelas. Ngomong opo koe, Man!” ( Bicara apa kamu, Man!”)

“Ra—wa Ire—ng, Juragan. Saya nggak berani masuk ke sana, Juragan.”

“Dasar penakut kamu, Man!”

Juragan Jarwo melotot ke arah Maman yang kakinya sedang bergetar hebat, perlahan celana panjangnya basah dan tercium bau khas orang buang air kecil. Hidung Juragan Jarwo kembang kempis.

“Ngompol kamu,Man! Lah kampret kamu, Man!” Bos Jarwo mengumpat Maman, anak buahnya yang sudah ketakutan tersebut.

“Maaf, Juragan. Saya nggak berani!” Maman mengambil langkah seribu, memutar kembali langkahnya agar dapat segera meninggalkan tempat tersebut.

Orang-orang menyebutnya Rawa Ireng alias Rawa Hitam. Orang pribumi percaya jika rawa ireng adalah tempat paling sakral seantero pulau jawa.

Dinamakan Rawa Ireng karena tempat tersebut memanglah hanya hamparan rawa-rawa yang jika ada orang yang kaki terjebak di Rawa maka akan terhisap dan tak akan bisa keluar lagi.

Selain karena daerah yang berupa rawa, disebut Rawa Ireng karena air rawa yang hitam seperti oli bekas serta aromanya yang busuk, begitu busuknya lalat pun sampai mati jika berada di tempat tersebut.

Warga percaya tempat itu adalah istana para lelembut, tempat para orang pintar cari wangsit dan tidak sembarangan orang bisa melangkahkan kakinya ke Rawa Ireng.

Jika hatinya buruk maka orang itu akan terseret masuk kedalam gelapnya Rawa Ireng dan takkan bisa kembali. Orang dengan hati busuk akan terhisap, bangkainya akan masuk ke dalam rawa dan tak dapat ditemukan lagi, yang tersisa hanya bau busuknya saja.

Konon, begitu banyaknya jasad yang tertelan Rawa Ireng hingga aromanya sangat busuk menyengat hingga berkilo-kilo jauhnya.

“Woy, Man! Malah minggat koe!” ( Malah kabur kamu!”)

Bos Jarwo berteriak memanggil anak buahnya tersebut, tapi sia-sia, Maman tak terlihat lagi punggungnya.

“Ya sudah, Jo. Sekarang tinggal kamu sama aku. Sekarang ayo kita kejar si Sumirah, keburu kabur dia. Kamu siap-siap, Paijo!”

Paijo tersenyum ke arah Juragannya, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sambil menunduk.

“Ngapunten, Juragan saya juga takut!” (Maaf, Juragan.) Paijo menyusul rekannya dan kabur meninggalkan Juragan Jarwo karena takut dengan Rawa Ireng.

“Dasar kurang ajar, tak ambil istri kalian semua nanti!” Bos Jarwo mengumpat karena ditinggal pergi oleh anak buahnya.

Sebenarnya dirinya juga takut dengan Rawa Ireng. Tapi hasrat dirinya terhadap Sumirah, wanita yang baru saja diusir suaminya itu membuat akal sehat Juragan Jarwo hilang. Kecantikan Sumirah membuatnya ingin segera menikmati molek tubuhnya.

“Sial!” Bos Jarwo mengumpat kesal.

Langkah kakinya seakan ragu untuk terus melangkah.

Tapi tiba-tiba sekelebat bayangan perempuan tertangkap oleh pengelihatannya.

Juragan Jarwo menyipitkan matanya berusaha memperjelas lagi siapa sosok yang baru saja dia lihat.

“Sumirah!” Juragan Jarwo tersenyum lebar.

Kakinya tanpa sadar mengikuti sosok tersebut. Tubuhnya semakin dalam masuk ke Rawa Ireng.

Terus dan terus Juragan Jarwo mengejar sosok yang dia panggil Sumirah.

Nafas Juragan Jarwo terputus-putus, Sumirah telah menghilang dari pandangannya.

Dia putus asa dan hendak memutar kakinya untuk pulang saja ke rumah. Hasratnya terhadap Sumirah hilang bersamaan dengan tenaganya yang habis.

“Hah! Opo kie!” (apa ini?)

Kaki Juragan Jarwo tak bisa diangkat seolah ada tangan yang mencekal kakinya. Juragan Jarwo dengan sisa-sisa tenaganya berusaha menarik kakinya.

Akhirnya kaki bisa terlepas dari cengkraman lumpur rawa, tapi tiba-tiba aroma menjadi berbau busuk. Juragan Jarwo langsung kabur, dia terkencing-kencing saat lari dari tempat mengerikan tersebut.

Sepasang mata menatapnya tajam dan terdengar suara mendesis.

“Mangan!” (Makan).

Lagi-lagi kaki Juragan Jarwo tersangkut dan kini dengan cepat menyeretnya ke dalam rawa.

“Paijo! Maman! Tolong!” Juragan Jarwo berusaha memanggil anak buahnya agar menolongnya tapi sia-sia. Tubuhnya semakin tenggelam dan kini sampai ke lehernya.

“Aaa!” Jeritan terakhir Juragan Jarwo menghiasi malam di Rawa Ireng.

BAB.2 CAH AYU

“Aku harus lari, jangan sampai Juragan Jarwo yang mata keranjang itu menangkapku lagi! Aku harus selamat.”

Seorang perempuan berlari menembus rimbunnya hutan yang gelap. Hanya cahaya rembulan yang menjadi penerang langkahnya.

Kain jariknya sobek hingga terlihat paha mulusnya, baju kebayanya sobek di bagian dada. Telapak kakinya terluka karena menginjak ranting-ranting kering yang tajam.

Nafasnya terputus-putus, tapi sekuat tenaga tetap dia pacu dengan menarik nafas sekuat-kuatnya berharap tenaganya takkan hilang.

Wanita itu adalah Sumirah, perempuan tercantik di kampungnya, kampung Kalimas.

“Sumirah! Sumirah! Jangan kabur kamu, Sumirah!” Juragan Jarwo berteriak kencang.

“Itu suara Juragan Jarwo. Oh tidak! Suaranya semakin dekat. Aku harus terus berlari, tidak sudi aku menjadi gundiknya!” Sumirah bermonolog dengan dirinya sendiri.

Perempuan yang baru saja ditalak oleh suaminya itu terus berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Hingga akhirnya dirinya terjatuh karena kakinya tersangkut pohon gadung. Durinya menancap dan menyisakan luka berdarah di betis Sumirah.

Sumirah kembali berdiri dan berusaha terus berlari walau kakinya harus berjalan dengan terpincang-pincang.

Dia terus berlari sambil menangis. Hatinya sakit, jiwanya rapuh, raganya tercabik-cabik, harga dirinya terinjak-injak dengan sangat mengenaskan.

“Kang Mas Permana, ini semua salahmu!”

Sumirah terus melanjutkan larinya, tangisnya kini benar-benar pecah. Bayangan suaminya tadi siang sungguh menancapkan amarah di sukmanya.

“Kang Mas! Apa yang kamu lakukan, Kang Mas! Kenapa kamu tega melakukan ini semua kepadaku, Kang Mas! Apa salahku!”

Sumirah yang baru saja pulang dari rumah uwaknya terkejut mendapati suaminya, Permana tengah bergumul dengan perempuan yang tidak halal baginya.

Perempuan itu adalah Gendis,. Seorang penari yang sangat terkenal di seluruh kampung. Penari yang dikenal dengan kemolekan tubuhnya yang sintal berisi, buah dada yang menantang setiap mata lelaki. Lenggokan tubuhnya saat menari mampu menghentikan laju angin seolah berhenti hanya untuk melihat dirinya menari.

Sebenarnya untuk kecantikan, Sumirah jauh lebih menawan dibandingkan Gendis. Sumirah dengan aura keibuan serta kelemah-lembutan tutur katanya yang menjadikannya primadona saat dirinya masih gadis dulu, sementara Gendis hanya bermodalkan pesona senyum genit serta suara yang dia buat mendayu-dayu memanja dan tubuhnya saja.

Mata Sumirah melotot melihat pemandangan menjijikan itu. Gendis tersenyum sinis saat melihat Sumirah memergoki suaminya tengah mencumbu dirinya dengan sangat liar. Sementara Permana suami Sumirah tampak acuh dan tetap melanjutkan kegiatannya, dia tak peduli dengan amukkan dan tangisan sang istri. Baginya Gendis lebih memberikannya kepuasan daripada Sumirah. Dirinya sudah bosan dengan perempuan yang sudah dia nikahi selama empat tahun itu. Raga Sumirah sudah tak lagi menimbulkan gairah di mata Permana.

Sumirah membanting pintu dengan kasar, matanya tak kuasa melihat hal yang menjijikan itu, terlebih kedua iblis itu sengaja membuatnya mendengar suara desahan serta rintihan kenikmatan dari mulut mereka.

Entah kenapa Sumirah tak mampu menggerakkan badannya, padahal sungguh dirinya ingin mencincang tubuh kedua manusia laknat tersebut. Tapi jangankan mencincang mendekati mereka saja kakinya mendadak terpaku, hingga akhirnya dia memilih keluar dan terduduk lemas di ruang tamunya.

Pendengarannya masih dengan jelas mendengar lenguhan demi lenguhan suara yang baginya sangat menjijikkan itu.

Sumirah hanya bisa menangis, hingga akhirnya suara itu berhenti dengan sendirinya.

Pintu kamar terbuka lebar, Sumirah mengangkat kepalanya dan melihat suaminya memakai kembali pakaiannya, sementara wajah kelelahan milik Gendis menyunggingkan senyum sinisnya, dia membiarkan tubuh polosnya tetap seperti saat Permana menikmatinya. Sengaja tidak dia selimuti, seolah memberi tahu bahwa Permana adalah miliknya.

Permana melangkahkan kakinya ke arah Sumirah yang terduduk di lantai sambil menangis, tangannya dia letakkan di pinggang, matanya menatap bengis Sumirah. Hingga detik kemudian, dengan kejamnya

Permana menampar wajah ayu Sumirah hingga tubuhnya tersungkur, bibir Sumirah mengeluarkan darah segar.

Terdengar suara rintih kesakitan saat Permana menendang tubuh istrinya hingga terjungkal. Tak hanya itu, bahkan dengan teganya tangan kanan Permana menarik rambut Sumirah hingga gelungannya terlepas.

Tangan Permana dengan kasar menarik rambut Sumirah hingga kepala istrinya itu mendongak ke atas.

Permana meludahi wajah sumirah yang telah basah oleh airmata.

Gendis keluar dari kamar ingin melihat Sumirah yang terinjak harga dirinya itu. Pakaian telah dia kenakan. Gendis duduk dengan jumawa menghadap Sumirah yang tengah disiksa suaminya.

“Aaa ... sakit Kang Mas ....” Sumirah merintih tatkala Permana menarik rambutnya.

Kepala perih rasanya, tapi sakit di hatinya seribu kali lebih perih.

Gendis mendekatkan wajahnya dengan kepala Sumirah yang tengah ditarik rambutnya oleh Permana. Gendis meludahi wajah Sumirah.

Bagai luka yang masih meneteskan darahnya sengaja dia siram dengan cuka. Perih tak terkira.

Lagi-lagi Sumirah memekik, Permana menjambak rambut Sumirah dengan kasar hingga banyak helaian rambut yang tersangkut di ttangannya Rambut Sumirah tergerai berantakan.

“Heh mandul! Pergi kau dari sini, mulai saat ini kau aku ceraikan. Wanita mandul sepertimu tak pantas dipertahankan,” suara Permana menggelegar, meremukkan hati Sumirah.

“Ta—pi aku harus pergi ke mana Kang Mas? Ini sudah malam. Lagipula rumah ini adalah milikku, warisan dari ramaku, kamu yang harusnya pergi bukan aku!”

Suara Sumirah terdengar sangat pilu tatkala Permana menyeret paksa tangan Sumirah lalu melemparkannya keluar pintu bagai anjing buduk.

“Ini rumahku, terserah kau mau ke mana. Ramamu sudah mati. Jadi harta beserta rumah ini milikku. Enyahlah kau dari hadapanku! Dasar wanita mandul!”

Rama Sumirah adalah juragan tanah yang sangat kaya raya, tapi entah kenapa sangat menyayangi Permana yang seorang pemabuk dan pemalas hingga akhirnya mengangkatnya sebagai menantunya, suami Sumirah.

Tapi hanya berhitung bulan pernikahan Sumirah dan Permana, rama Sumirah meninggal tiba-tiba, padahal tidak pernah sakit. Hingga akhirnya semua hartanya jatuh di tangan Sumirah yang secara otomatis menjadi milik Permana.

Warga kampung berkumpul melihat apa yang tengah terjadi, mereka iba dengan Sumirah tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Seluruh warga kampung sangat takut dengan Permana, karena mereka mempunyai hutang yang sangat banyak. Jika ada yang berani membantu Sumirah, maka dapat dipastikan orang itu akan kehilangan rumahnya karena disita oleh Permana si lintah darat.

Sumirah berdiri terhuyung-huyung. Dia diusir tanpa boleh membawa seperserpun uang, harta satu-satunya hanya pakaian yang melekat ditubuhnya.

Sumirah berjalan pelan meninggalkan rumah yang sudah dia tempati sedari kecil itu.

Gendis tertawa penuh kemenangan melihat Sumirah pergi, Permana menggandeng Gendis agar masuk ke rumah lalu menutup pintu dengan keras.

Sumirah berjalan menyusuri pinggir hutan, dia akan kembali kerumah uwaknya, hanya itu satu-satunya tempat dia kembali.

Tapi tiba-tiba dirinya dihadang oleh Juragan Jarwo, Maman dan Paijo. Mereka menyeret Sumirah ke tengah hutan dan melemparkan paksa Sumirah ke dalam gubuk tua.

“Jo, Man, kalian jaga di luar, aku mau bersenang-senang.”

“Wokey, Juragan. Siap!”

Sumirah ketakutan, dia tak sudi tubuhnya disentuh oleh Juragan Jarwo. Sumirah berusaha lari, tetapi tubuhnya dengan mudah ditangkap Juragan Jarwo karena memang tubuh dan tenaga mereka jauh berbeda.

Dengan beringas Juragan Jarwo membuka paksa kancing kebaya Sumirah dengan susah hingga sobek karena ditahan tangan Sumirah.

“Wadoh....” Juragan Jarwo menjerit kesakitan.

Sumirah menggigit tangan Juragan Jarwo, sehingga dapat berdiri dari posisi yang ditimpa tubuh besar Juragan Jarwo.

Juragan Jarwo menarik paksa jarik yang digunakan oleh Sumirah hingga sobek hingga terlihat paha mulus milik Sumirah.

Sumirah yang terpojok akhirnya mendendang keras pusaka Juragan Jarwo dan kabur melalu pintu belakang gubuk.

Sumirah terus berlari hingga dirinya sampai di Rawa Ireng.

Dia menyadari bahwa Rawa Ireng adalah tempat keramat yang dijauhi semua orang, yang konon katanya orang yang masuk tak dapat lagi keluar.

Sumirah tak peduli, dia lebih memilih mati di Rawa Ireng daripada dinodai oleh Juragan Jarwo.

Sumirah menangis tersedu, kini dia berada di pusat Rawa Ireng. Dirinya sudah tidak mendengar lagi suara langkah kaki mengejarnya. Sumirah berfikir jika Juragan Jarwo dan anak buahnya pasti tak berani mengikuti dirinya hingga ke Rawa Ireng.

Sumirah terduduk di tanah rawa yang lembab dan basah.

“Aaa!” Sumirah berteriak kencang sambil memukul-mukul keras dadanya.

Sumirah terus memukul-mukul dadanya berharap sesak di dadanya bisa keluar, berharap rasa sakit di dadanya bisa berkurang. Tapi nyatanya sia-sia.

“Aaa!” Permpuan ayu tersebut terus berteriak dengan putus asa, dia tak peduli lagi jika para penghuni Rawa Ireng akan marah karena terganggu dengan teriakan dan tangisnya. Baginya rasa sakit dihatinya sangat besar, dia tak peduli jika dia harus mati di Rawa Ireng.

Tiba-tiba bau bangkai tercium dengan pekat, bukan tak menyadari hal ini tapi Sumirah sudah tidak peduli.

Dirinya kembali memukul-mukul dadanya dengan keras, tangisnya kembali pecah dan terdengar sangat menyayat. Dia mengeluarkan semua air matanya, biarlah kering asal perasaannya membaik.

Tapi sebanyak apapun air matanya keluar, justru rasa sakit di hatinya semakin terasa. Dia merasa menjadi wanita bodoh dan lemah karena tak mampu melawan Permana suaminya, manusia berhati iblis itu.

Tiba-tiba bau busuk itu menghilang dan berubah menjadi wangi aroma kenanga.

“Mungkin ini akhir dari hidupku,” Sumirah berkata lirih sambil terus menangis dan memukul dadanya dengan keras.

Sumirah sudah siap mati dimakan lelembut Rawa Ireng.

Mata Sumirah terpejam, bersiap-siap menghadapi murka para penghuni Rawa Ireng.

Aroma bunga kenanga semakin tercium pekat, Sumirah lemas dan pasrah.

Namun apa yang Sumirah pikirkan tidak terjadi, tidak ada hal buruk yang menimpa dirinya.

Justru dia mendengar suara halus perempuan memanggil dirinya.

“Cah Ayu ....” (Anak cantik.)

BAB.3 NYAI MUTIK

“Cah Ayu....”

Sumirah mendengar suara halus perempuan memanggil dirinya, tengkuknya meremang, matanya semakin dia tutup rapat. Suaranya masih tetap menangis sesenggukkan. Sumirah sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya.

“Cah Ayu, ojo nangis. Menengo.” ( Anak cantik, jangan menangis. Diamlah...”

Suara lembut perempuan terdengar kembali. Sumirah perlahan menghentikan tangisnya.

“Cah Ayu, bukak o mripatmu.” ( Anak cantik, bukalah matamu.)

Sumirah membuka pelan matanya, detik kemudian matanya terbuka lebar, matanya melotot melihat apa yang ada di depannya.

Seekor ular kobra sebesar pohon jati yang berusia ratusan tahun tengah menatap wajahnya, sisiknya yang berwarna putih susu berkilau memantulkan cahaya rembulan. Matanya merah bagaikan batu delima, gigi taringnya tajam bagai sebilah pedang. Ular itu tapi tak beraroma amis khas hewan melata, melainkan ber-aromakan wangi bunga kantil.

Perlahan kepala ular semakin mendekati wajah Sumirah.

Dekat dan semakin dekat hingga sang ular hanya berjarak beberapa centi dari wajah Sumirah.

Mata sang ular yang merah memantulkan wajah Sumirah yang seolah ditelan olehnya.

Sumirah pingsan, sang ular kobra berputar mengelilingi tubuh tak berdaya milik Sumirah, kepalanya berdiri menatap tajam Sumirah yang tengah pingsan.

Dari kejauhan tampak sinar obor yang perlahan mendekat ke arah sang ular.

Perempuan dengan kemben warna emas dan kain jarik lurik yang senada, rambut hitam lurus sepinggang miliknya ia biarkan tergerai begitu saja. Perempuan tersebut merapatkan kedua telapak tangannya lalu dia tempelkan di dada dan menunduk khidmat.

“Sugeng dalu, Ratu. Wonten punapa memanggilipun kawula?” ( Selamat malam ratu, ada apa sehingga memanggil saya).

Sang ular mendesis, lidah bercabangnya menjulur-julur.

“Bawa perempuan ini ke pondokmu, Mutik. Lalu sembuhkanlah dia. Aku menyukainya, tapi aku tidak bisa membawanya ke istanaku selagi bukan dari keinginan hatinya sendiri. Aku hanya bisa membawa mereka-mereka yang berhati busuk, atau mereka yang membutuhkan bantuan dariku. Tapi sayangnya perempuan ini datang ke sini bukan untuk meminta bantuanku, juga hatinya masih bersih. Setelah dia sadar tanyakanlah kenapa dia sampai ingin mati di Rawa Ireng. Jika dia butuh bantuan, maka akan aku bantu.”

“Siap nampi dhawuh, Gusti Ratu.” (Siap menerima perinta,h Gusti Ratu.)

Sang ratu pergi meninggalkam Nyai Mutik dan Sumirah yang pingsan.

Nyai Mutik menatap tubuh Sumirah lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pantas saja gusti ratu tertarik dengan perempuan ini, auranya sama dengan warna sisik sang ratu, tapi sayangnya aku tak mungkin membopongmu hingga ke pondokku!”

Nyai Mutik memejamkan mata lalu mulutnya komat-kamit, tak lama kemudian muncul lagi ular hitam bertanduk emas sebesar pohon kelapa mendekatinya.

Ular hitam itu mendesis dan menjulurkan lidahnya ke tubuh Sumirah.

“Panganan!” ( Makanan!”) Lagi, ular hitam itu mendesis sambil menjulurkan lidahnya kearah tubuh Sumirah.

“Pangan o nek koe pingin mati!” ( Makan saja kalau kamu ingin mati)

Ssstt... ssstt ...

Ular hitam itu kembali menarik lidahnya.

“Wangine enak banget, nggawe luwe. Iki sopo Mutik?” ( Aromanya sangat enak, bikin lapar. Perempuan ini siapa?)

“Lapar? Bukannya kamu baru saja makan manusia yang mengejar perempuan ini?”

“ Kae Ora enak, mambu bacin. Nek iki wangi ne enak. Iki sopo Mutik? Kok ora koe jawab pitakonku ket mau.” ( Dia tidak enak, baunya busuk. Kalau perempuan ini baunya enak . Dia siapa Mutik? Dari tadi tidak kau jawab pertanyaanku.)

“Aku yo gak ngerti sopo, pokok e ojo koe pangan. Perintah gusti ratu, koe gendong wedokan iki, terus gowo ning pondokku. Eling, ojo koe pangan. Wani mangan siap- siap mati koe.” ( Aku juga tidak tahu, jangan kamu makan, ini perintah gusti ratu, kamu gendong saja dia, lalu antar ke pondokku. Ingat, jangan kamu makan. Kalau nekat siap-siap kamu mati.”

Setelah mendengar perintah dari Nyai Mutik, dalam sekejap mata ular hitam bertanduk emas itu merubah wujudnya menjadi seorang pria tampan.

“Ngopo berubah dadi menungso, koe gowo wae pakek buntut mu.” ( Ngapain berubah jadi manusia? Kamu bawa saja dia pakai ekormu!”)

“Wedokan iki ayune pol Mutik, man eman ndak awakke mambu...!” (Perempuan ini cantik sekali Mutik, sayang nanti badannya bau.

“Heleeh, kakean lakon koe, wis gowo meng pondokku.” ( Heleh, banyak gaya kamu,sudah cepat bawa dia ke rumahku)

***

Sinar mentari pagi masuk ke pondok yang bergaya kuno akan tetapi masih sangat kokoh. Cahayanya menembus jendela hingga membuat Sumirah yang sejak semalam pingsan terbangun saat matanya merasa silau.

“Sudah sadar, Cah Ayu?”

Nyai Mutik yang menyadari jika tamunya telah sadar bergegas menghampirinya.

Sumirah bangun perlahan dari dipan, kepalanya masih sedikit pusing. Dia mengarahkan pandangannya ke penjuru pondok.

“Minumlah, Cah Ayu!”

Nyai Mutik memberikan secangkir teh hangat untuk Sumirah, sementara yang diberi minuman menerimanya dengan tangan gemetar.

“Apakah aku sudah mati?” Sumirah bertanya lirih sambil menatap wajah ayu perempuan di depannya yang terlihat begitu menawan seperti bidadari.

“Minumlah dulu, Cah Ayu. Setelah itu kau boleh menanyakan semua yang ingin kau tanyakan dan akan aku jawab.”

Sumirah mengangguk lalu perlahan meminum teh hangat yang sangat wangi tersebut hingga akhirnya sakit kepalanya hilang. Tenaganya terisi kembali, Sumirah memeriksa seluruh tubuhnya, bersih tanpa ada sedikitpun luka. Padahal tubuhnya sangat kotor dan penuh luka. Sumirah sangat heran.

“Kalau boleh tahu anda siapa? Saya di mana? Dan kenapa menolong saya?”

Mutik tersenyum, ternyata suara perempuan yang telah ditolongnya sangat halus, cocok dengan wajahnya yang sangat ayu.

“Sebelum saya jawab pertanyaanmu, saya ingin tahu siapa namamu dan kenapa kamu bisa sampai di Rawa Ireng.”

Sumirah bergetar, dia teringat dengan ular putih yang sangat besar itu. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Nyai Mutik menggenggam perlahan tangan Sumirah.

“Tenanglah, Cah Ayu. Ceritakanlah perlahan.”

Entah kenapa tiba-tiba Sumirah merasa tenang setelah tangannya disentuh oleh Nyai Mutik.

“Nama saya Sumirah, Nyai. Saya tidak sengaja sampai ke Rawa Ireng saat dikejar-kejar orang yang mau menodai saya. Saya Diusir oleh suami saya, Nyai.”

Sumirah pun menceritakan semua peristiwa yang dia alami sebelum dirinya sampai di Rawa Ireng. Sesekali air mata membasahi wajahnya. Nyai Mutik yang mendengarkan cerita Sumirah sambil mengangguk-anggukan kepala, sesekali dia mengepalkan tangan dengan kuat.

Nyai Mutik tidak menyela sedikitpun perkataan Sumirah. Dia biarkan Sumirah menceritakan semua himpitan di hatinya hingga selesai.

“Sudah selesai ceritanya, Cah Ayu?”

Sumirah mengangguk sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.

“Kamu tau, Sumirah. Lelaki yang mengejarmu sudah mati di Rawa Ireng, dia mati karena hatinya busuk.”

“Juragan Jarwo mati ....” Sumirah bergumam pelan, tak menyangka antek Menir yang terkenal bengis itu mati mengenaskan di Rawa Ireng.

“Namaku Mutik, Sumirah. Orang-orang memanggilku dengan sebutan Nyai Mutik.”

“Nya—i Mu—tik?” Sumirah menyebut nama perempuan cantik di hadapannya dengan terbata-bata.

Nyai Mutik terkekeh melihat ekspresi Sumirah.Sementara itu Sumirah tidak tahu harus takut atau bahagia bertemu dengan Nyai Mutik.

Ternyata perempuan cantik yang telah merawatnya adalah perempuan yang sangat dihormati di seluruh pelosok pulau jawa. Bahkan para Menir Belanda pun segan terhadapnya.

Konon nyai Mutik sudah berusia dua ratus tahun, tapi wajahnya masih sangat cantik seperti gadis perawan. Tubuhnya juga sangat terawat dan indah. Gendis wanita penggoda itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pesona Nyai Mutik.

Alasan lain kenapa Nyai Mutik sangat disegani karena ilmu kebatinan yang luar biasa. Banyak rumor yang mengatakan tak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh nyai Mutik. Hal itu dapat dilihat dari wajah Nyai Mutik yang tak ada tanda-tanda penuaan sedikitpun.

Bagi Sumirah kemapuan Nyai bukanlah rumor, dia telah membuktikannya sendiri, luka di tubuhnya hilang tak berbekas dalam semalam.

Hati kecil Sumirah tercubit, dia tiba-tiba teringat dengan hinaan yang dia terima dari Permana suaminya, lebih tepatnya mantan suaminya karena dia telah dicerai.

Dia ingin membalas dendam semua perlakuan yang diterima dirinya. Perlahan api dendam membakar hatinya.

Nyai Mutik tersenyum saat melihat jika aura Sumirah mulai memudar dan perlahan tertutup kabut hitam.

“Nyai, maaf jika saya lancang, bolehkah saya ....”

Sumirah ragu, tapi dia harus jujur mengatakan keinginannya. Menurutnya kesempatan ini tidak datang dua kali.

Sementara itu Nyai Mutik tersenyum menunggu Sumirah melanjutkan perkataannya.

“Tolong jadikanlah saya muridmu, Nyai.”

BAB-4 UWAN SETUNGGAL

Nyai Mutik tersenyum miris, sambil menggelengkan kepalanya perlahan setelah mendengar permintaan perempuan ayu yang semalam ditolongnya. Sementara itu Sumirah menunduk takut bila Nyai Mutik marah kepadanya.

"Apa tujuanmu sebenarnya, Cah Ayu. Sehingga kamu ingin menjadi sepertiku? Sekarang, coba kamu lihat ke arahku, Cah Ayu." Nyai Mutik berkata lirih.

Sumirah mengangkat wajahnya, bola matanya beradu dengan bola mata milik Nyai Mutik.

Sumirah kaget karena tiba-tiba bola mata Nyai Mutik berubah seperti mata seekor ular, bukan bola mata manusia normal.

Tubuh Sumirah kaku, matanya seolah terkunci dan dipaksa menatap bola mata milik Nyai Mutik.

"Jika menatap mataku saja kau ketakutan, apa mungkin kau bisa menjadi sepertiku, Sumirah?"

Perlahan bola mata Nyai Mutik kembali seperti semula, sedangkan tubuh Sumirah terjatuh ke lantai. Tubuhnya penuh keringat dan bergetar hebat, nafasnya cepat. Dadanya terasa sesak, bahkan dia sampai harus bernafas menggunakan mulutnya.

Perlahan Nyai Mutik mendekati tubuh Sumirah yang lemas, dan memegang jemarinya yang dingin.

Nyai Mutik memejamkan kedua matanya, perlahan hawa hangat mengalir dari tangannya dan berpindah ke tubuh milik Sumirah. Sumirah mengangkat wajahnya yang sedikit pucat. Nyai Mutik tersenyum, perlahan didudukan tubuh Sumirah di atas dipan.

"Kamu tahu, Cah Ayu. Segala sesuatu yang kamu inginkan pastinya ada yang harus dikorbankan. Semakin besar hal yang kamu inginkan pastinya yang harus dikorbankan juga sama bahkan lebih besar lagi. Jika kau ingin mutiara maka kamu harus menyelam ke dasar lautan. Jika kamu ingin emas maka kamu harus menggali gunung. Apa kamu paham maksud dari perkataanku, Sumirah?"

Sumirah mengangguk perlahan tanpa berani menatap kembali wajah Nyai Mutik.

"Pulanglah ke rumahmu, mantapkan dulu niatmu, apa tujuanmu, lalu jika kamu sudah benar-benar yakin, kamu kembalilah kemari, Cah Ayu. Karena jika kamu sudah membuat keputusan, maka tak bisa di batalkan lagi."

"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan lagi, Nyai." Sumirah berkata dengan ragu.

"Katakan saja, Cah Ayu. Akan aku jawab pertanyaanmu."

"Kenapa saat itu saya tidak bisa melawan keinginan Permana, Nyai? Padahal saya sangat ingin membunuhnya."

Nyai Mutik tersenyum lalu menatap tajam ke arah Sumirah.

"Kamu terkena guna-guna, Sumirah."

"Guna-guna, Nyai?" Sumirah mengulangi perkataan Nyai Mutik.

"Iya, Sumirah. Kamu terkena guna-guna. Selamanya kamu tidak akan bisa lepas dari mantan suamimu itu. Setelah bercerai kamu akan selalu menjanda. Seluruh orang yang ada didekatmu akan meninggal.Tak akan ada yang bisa menikahimu. Walaupun si pria sangat mencintaimu. Kamu tidak akan menikah dan tidak akan bisa mempunyai keturunan."

Sumirah menggelengkan kepala mendengar penjelasan dari Nyai Mutik. Dirinya selama ini tak merasa di guna-guna. Dirinya merasa kalau dia memang tulus mencintai Suaminya itu.

"Kamu terkena guna-guna uwan setunggal, Sumirah. Itu dapat dibuktikan dari adanya uban yang hanya ada satu, tepat di uyeng-uyeng kepalamu. Uban itu tidak bisa dicabut oleh sembarang orang kecuali si penanam guna-guna atau orang yang ilmunya lebih tinggi, Cah Ayu. Pengirim guna-guna itu tentu saja mantan suamimu. Itulah alasannya kenapa kamu tak bisa melawan semua keinginan dari dia."

"Tolong lepaskan pengaruh guna-guna itu, Nyai. Saya mohon. Saya ingin terlepas dari guna-guna yang di kirim oleh Permana, Nyai."

Nyai Mutik menggelengkan kepala, menolak permintaan dari Sumirah.

"Saya tidak boleh ikut campur dengan apa yang terjadi padamu, Sumirah. Itu sudah takdirmu. Kamu jalani semuanya dulu. Nanti ada masanya kamu akan bertemu dengan jalan bercabang yang akan mengubah takdirmu. Lebih baik sekarang kamu pulang ke rumahmu, Sumirah!"

"Saya harus pulang kemana, Nyai? Saya sudah diusir dari rumah saya sendiri?" Sumirah menangis bingung, kemana dirinya akan pulang setelah dia diusir oleh Permana.

"Bukankah kamu masih ada uwakmu, Cah Ayu? Pulanglah ke rumah uwakmu, Sumirah. Tak baik kau berlama-lama di sini tanpa ada penjanjian dengan kanjeng ratu kami. Bukan aku mengusirmu, Sumirah. Akan tetapi aroma tubuhmu sangat wangi dan menggoda para lelembut Rawa Ireng. Nyawamu bisa terancam jika terlalu lama berada di sini. Kamu mengertikan maksudku, Cah Ayu. Ini demi kebaikanmu."

"Bagaimana cara saya pulang, Nyai?"

Sumirah memahami situasinya, lebih baik dirinya menuruti perintah nyai Mutik daripada celaka. Dirinya juga tak mau merepotkan Nyai Mutik yang telah berbaik hati menolongnya.

"Mendekatlah kemari, Sumirah!"

Sumirah mendekatkan tubuhnya ke arah nyai Mutik.

"Pejamkan matamu!"

Sumirah menuruti perintah Nyai Mutik, lalu tiba tiba tengkuknya terasa dingin, kepalanya berat dan akhirnya Sumirah pingsan.

Ssst ....

Suara desisan ula terdengar begitu jelas.

Tak lama nampaklah seekor ular hitam bertanduk emas yang kemarin kembali datang menemui Nyai Mutik. Kini ia tak banyak bertanya. Ular hitam itu hanya diam menunggu perintah dari Nyai Mutik untuk dirinya.

"Gowo wedokan iki bali ning umah uwak e. Eling! ojo ngasi kemenungsan." ( Antar perempuan ini kembali ke rumah uwaknya. Ingat! Jangan sampai ketahuan oleh manusia yang lain.)

Sang ular kembali berubah menjadi lelaki tampan. Dia pun membopong tubuh Sumirah dan perlahan menghilang bersamaan dengan datangnya kabut. Nyai Mutik menggelengkan kepalanya.

"Sumirah sangat berbakat, tapi aku tak bisa memaksakan takdir, jika Sumirah memang berjodoh dengan kanjeng ratu, dia pasti akan kembali lagi ke sini. Tapi aku berharap kamu jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di Rawa Ireng ini, Cah Ayu"

Esok harinya Sumirah sudah berada di rumah uwaknya, dirinya terkejut karena terbangun di atas dipan. Seingatnya dirinya berada di Rawa Ireng dan bertemu dengan Nyai Mutik.

"Kamu sudah sadar, Nduk? Kamu pingsan selama dua hari dua malam, Nduk. Tadi, subuh-subuh ada warga yang menemukanmu pingsan di pinggiran sungai."

Seorang wanita tua agak bungkuk dengan penutup kepala menghampiri keponakannya, Sumirah. Wanita itu adalah Nyai Aminah, kakak perempuan dari rama Sumirah, yang sering dipanggil uwak oleh Sumirah.

"Sungai, Uwak? Bukannya saya ada di Rawa Ireng, Uwak?"

Nyai Aminah terkejut dengan pernyataan Sumirah.

"Astagfirullah, Sumirah. Kamu harus menjauhi tempat itu, jangan kau sebut namanya apalagi sampai datang ke tempat itu, kamu paham, Sumirah?"

Sumirah menganggukkan kepalanya, tangan nyai Aminah mengelus perlahan pucuk kepala milik Sumirah.

"Uwak sudah mendengar semuanya, Nduk. Kamu yang sabar ya, tetap dekat dengan sang pencipta. Uwak yakin setiap musibah pasti ada hikmahnya, Nduk. Uwak akan membantumu sebisa mungkin untuk mengambil apa yang menjadi hakmu."

Air mata Nyai Aminah menetes meratapi nasib keponakan yang sudah dia anggap seperti darah dagingnya sendiri. Dia tidak menyangka Permana begitu kejam. Dulu Nyai Aminah sangat menentang perjodohan Sumirah dengan Permana, ternyata firasatnya terbukti benar. Permana bukan lelaki yang baik.

Seminggu berlalu, dan selama itu pula Sumirah tinggal bersama uwaknya, hingga pada malam ke delapan, saat Sumirah dan Nyai Aminah tertidur. Seseorang dengan sengaja membakar rumah Nyai Aminah.

Sumirah dan uwaknya terjebak di dalam rumah yang tengah dilahap si jago merah.

Dari balik pohon tampak seseorang menyeringai puas, dia adalah Permana.

"Mati koe, Sumirah!" ( Mati kamu, Sumirah!")

BAB-5 ALASAN

“Kebakaran!”

“Tolong! Ada kebakaran!”

“Kebakaran!”

Suara kentongan dari bambu terus berbunyi di tengah malam buta, suara riuh warga berlari pontang panting mengambil air dengan ember untuk memadamkan api, tapi sia-sia kobaran api masih berdiri dengan gagahnya, panasnya siap memanggang manusia-manusia yang berani mendekati dirinya.

“Sumirah dan Nyai Aminah masih di dalam, bagaimana ini.”

Bapak kepala desa bingung, warga panik.

Permana tertawa-tawa melihat pemandangan di hadapannya. Setelah puas, lelaki itu pulang karena Gendis telah menunggunya di rumah.

“Pie Kang Mas? Wis mbok bakar si Sumirah? Ben kae mati terus aku paling ayu sak ndeso Kang Mas.” ( Bagaimana Mas? Sudah kamu bakar si Sumirah, biar dia mati lalu aku jadi wanita tercantik di desa Mas.)

Permana mengelus rambut ikal panjang milik Gendis yang selalu beraroma melati itu. Lalu mencubit pipi wanitanya itu dengan gemas.

“Uwis, tenang wae, Sumirah mesti mati nyusul ramane ning neroko” ( Sudah, tenang saja, Sumirah pasti mati, dan bertemu ayahnya di neraka”)

Gendis tersenyum puas, sejak kecil dia memang sangat membenci Sumirah yang anak orang kaya dan sudah sangat cantik walau masih belia. Iri dan dengki hati Gendis sudah tertanam sejak pertama kali Gendis bertemu dengan Sumirah sewaktu kecil.

Waktu Gendis berusia enam tahun, dirinya diajak sang bapak untuk bertemu dengan juragannya, Juragan Kuncoro yang terkenal kaya dan dermawan untuk mengambil upah karena sudah selesai memanen hasil sawah milik juragan. Saat itulah Gendis melihat Sumirah yang tengah memakan buah anggur, tahun 1821 buah anggur adalah buah yang sangat mahal, hanya bisa dimakan oleh para Nonik Belanda dan juragan pribumi yang kaya.

Gendis kecil yang kumal menatap dari atas sampai bawah bawah penampilan Sumirah yang cantik, bersih dengan pakaian ala anak-anak Belanda. Gendis mengepalkan tangannya lalu berbalik menatap dirinya sendiri yang hanya memakai pakaian warga pribumi yang kumal.

Semenjak itulah Gendis iri, dengki. Kenapa dirinya tidak menjadi anak juragan, kenapa bapaknya harus miskin?

Gendis dan bapaknya pulang setelah mendapatkan haknya, sekaligus Gendis diberikan bungkusan plastik besar yang entah apa isinya.

Gendis membuka bungkusan sesampainya di rumah. Ternyata isinya buah anggur dan pakaian yang mirip dipakai oleh Sumirah.

Bapak Gendis sangat bahagia dan menyuruh anak perempuannya itu mencoba pakaian pemberian dari Juragannya yang dermawan itu.

“Pakailah, Gendis. Pasti kamu sangat cantik pakai pakaian ini.”

Ibu Gendis membantu memakaikan baju pemberian dari Juragan Kuncoro ke tubuh anak perempuannya. Akan tetapi Gendis justru menolak lalu menginjak-injak pakaian tersebut.

“Aku ora doyan nganggo klambi bekas e Sumirah, Biyung. Tumbas wae sing anyar!” ( Aku tidak sudi pakai pakaian bekas dari Sumirah ibu, belikan aku pakaian yang baru saja!”)

“Iki anyar, Nduk. Udu bekas. Isih wangi plastik!” ( Ini baru, Nak. Bukan bekas, masih bau plastik)

“Pokok e aku emoh, Biyung! Aku rak sudi nganggo bekas e Sumirah.” Gendis mendorong ibunya hingga terjengkang.

Sang bapak yang emosi karena melihat sikap tak hormat dari anaknya akhirnya menampar pipi Gendis, ibunya hanya diam tak menolong karena paham kalau suaminya marah dengan kelakuan Gendis yang memang kelewatan.

“Rak usah dinggo klambine, ngko tak weh ke Sulastri wae adikmu, koe rak usah klambenan. Dasar anak kurang ajar. Tak bersyukur.” ( Tidak usah dipakai bajunya, nanti dikasihkan Sulastri saja adikmu, kamu tidak usah pakai baju sekalian.)

Gendis kecil memegang pipinya lalu menatap sang bapak dengan tatapan menantang.

“Kenopo Bapak kere? Kenopo Biyung kere, sesuk nek aku wis gedhe, ra sudi dadi wong kere koyo sampeyan, ora sudi!” ( Kenapa Bapak miskin? Kenapa Ibu juga miskin? Besok kalau saya sudah besar, tidak sudi jadi orang miskin seperti kamu, aku tidak sudi!”

Gendis berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk muka bapaknya.

Setelah meluapkan seluruh emosinya. Gendis melangkahkan kaki kecilnya untuk masuk ke kamar dan merebahkan badannya di dipan yang beralaskan karpet dari anyaman daun pandan. Gendis kecil menangis sambil mengepalkan tangannya dan bersumpah akan menjadi kaya dan cantik seperti Sumirah.

“Hey, kok melamun? Ayo kita tidur, sudah malam. Besok kita akan mendengar berita kematian Sumirah.” Perkataan Permana membuyarkan lamunan Gendis.

Gendis tersenyum manis, lalu memeluk manja tubuh Permana.

“Terima kasih, Kang Mas. Aku harap si Sumirah benar-benar mati.”

Mendengar perkataan Gendis menyumpahi Sumirah, Permana tak marah namun justru memeluk erat tubuh perempuan yang hanya berbalut kain jarik itu lalu menggendongnya ke kamar.

Bilang ingin istirahat, tapi nyatanya Permana kembali merasakan nikmat dunia bersama Gendis, bagi Permana tubuh milik Gendis selalu menantang kegagahan dirinya.

Di rumahnya, Sumirah yang merasa kepanasan terbangun dari tidurnya, dirinya kaget karena api sudah mengelilingi dirinya. Nyai Aminah yang terbangun juga tidak kalah kagetnya.

“Astagfirullah, kebakaran, Nduk. Kita harus segera keluar, Nduk. Cepat!”

Satu persatu kayu penyangga atap jatuh terbakar, Sumirah dan Nyai Aminah berusaha keras melarikan diri dari kepungan api. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Salah satu kayu yang terbakar menimpa tubuh Nyai Aminah. Sumirah berusaha menolong, tetapi kayunya terlalu kuat bahkan wajah milik Sumirah sudah terluka. Nyai Aminah meringis menahan panas dan sakit di punggungnya.

Dalam keadaan sekarat, Nyai Aminah komat-kamit sambil menutup matanya, tiba-tiba langit menjadi mendung dan turun hujan dengan derasnya.

Warga terkejut tapi senang secara bersamaan, api yang membakar rumah Nyai Aminah telah padam. Warga segera menolong Sumirah dan uwaknya.

“Mendekatlah, Nduk!”

Setelah berhasil keluar dari rumahnya, Nyai Aminah mengulurkan tangannya hendak memegang tangan Sumirah. Keponakan yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya itu.

“Bersabarlah, Nduk. Kamu jangan dendam dan jangan sampai berpaling dari Tuhan.”

Nyai Aminah meninggal saat itu juga setelah mengucap kata terakhirnya, lukanya sangat parah. Tubuh tuanya tak mampu menahan lagi rasa sakit.

“ Uwak! Aku kudu urip kalih sopo melih Uwak!” (Uwak, saya harus hidup dengan siapa lagi?”)

Sumirah menangis tersedu-sedu. Pikirannya terlalu sakit untuk mampu berpikir secara jernih. Dia kehilangan segalanya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di Rawa Ireng Nyai Mutik tengah berbincang dengan kanjeng ratu yang telah menjelma menjadi perempuan yang sangat cantik.

“Kenapa Kanjeng Ratu tidak menolong, Sumirah?”

Nyai Mutik bertanya, karena setahu dirinya sang ratu sangat menyukai Sumirah. Tapi kenapa ratunya itu justru diam saja saat mengetahui keadaan Sumirah yang mengenaskan.

Sang ratu menatap hamparan danau yang airnya sangat jernih, danau itu adalah Rawa Ireng, tapi berubah menjadi danau indah tatkala sang ratu mengubah dirinya menjadi manusia.

“Karena masih ada Tuhan di dalam hatinya, Mutik!”

BAB-6 TOLONG

Sumirah kini tinggal di gudang padi milik Nyai Aminah karena bangunan utama rusak parah. Beruntung si jago merah tak sampai melahap gudang padi yang terletak di belakang rumah uwaknya tersebut.

Sumirah bertahan hidup dari hasil mengais sisa-sisa harta benda milik uwaknya.

Perut milik Sumirah berbunyi, pertanda minta diisi. Sumirah melahap nasi jagung yang tadi dia beli di pasar, uang dari hasil menjual perhiasan milik Nyai Aminah yang tak sengaja dia temukan di reruntuhan rumah sudah hampir habis untuk menyambung hidupnya selama sebulan ini.

Bukan niat Sumirah hanya ingin menghabiskan harta uwaknya, dirinya berusaha mencari rezeki dengan cara menawarkan tenaganya kepada penduduk, tapi entah kenapa semua menolak dirinya.

Ada yang merasa ketakutan jika bertemu dengannya, tapi kebanyakan dari mereka menatap jijik mukanya yang rusak karena luka bakar waktu itu.

Hidung mancungnya kini sedikit pesek karena banyak dagingnya yang berkoreng dan terkelupas. Mata kanannya sedikit kabur. Serta hampir separuh dari mukanya terdapat bekas luka bakar. Bagi mereka yang baru mengenal Sumirah tidak akan percaya jika dia dulunya adalah wanita tercantik di desanya.

“Uwak, Sumirah kangen....”

Bulir air matanya mengalir di pipinya. Sumirah meratapi nasibnya yang begitu hina di mata manusia.

Sumirah tak menyangka dirinya yang masih berusia dua puluh tahun harus berakhir dengan sangat mengenaskan.

Sumirah menghapus dengan kasar air matanya, menghabiskan segera makanannya karena dirinya akan mencuci di sungai.

Sumirah terseok-seok membawa tubuhnya ke arah sungai. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu membuang muka. Sumirah hanya bisa menundukkan wajahnya yang sudah dia tutup dengan selembar kain dalam-dalam.

“Heh, demit borok, minggat kowe, ojo ngumbahi ning kali kene, gawe banyune mambu.” ( Heh, hantu koreng, pergi kamu dari sini, jangan cuci baju di sungai ini. Nanti airnya bau)

Seorang gadis mendorong tubuh Sumirah yang tengah membawa ember yang terbuat dari anyaman bambu dari arah belakang. Baju kotornya tumpah seluruhnya di atas tanah. Sumirah terduduk, matanya menatap tajam si perempuan yang mendorongnya.

“Ngopo mlerok-mlerok matamu, nantangi hah!” (Ngapain matamu melotot? Nantang kamu?)

Terlihat si perempuan menendang tubuh kurus Sumirah hingga tengkurap, lalu dirinya melangkahi tubuh Sumirah sambil tertawa mengejek diikuti kelima teman sebayanya. Sumirah mengepalkan tangannya.

“Lestari!” Sumirah menyebut pelan nama si perempuan yang menghina dirinya.

Lestari adalah adik dari Permana, mantan suaminya. Sifatnya tak jauh berbeda dengan sang kakak, angkuh, sombong dan merasa berkuasa dengan harta yang dimiliki oleh Sumirah.

Lestari beranggapan bahwa Permana sang kakak lah yang kaya, sementara Sumirah hanya menumpang hidup di tempat sang kakak.

Serta yang paling membuat Lestari membenci Sumirah tentu saja karena dia adalah perempuan yang sangatlah cantik. Itulah mengapa dirinya sangat senang tatkala mengetahui jikalau Sumirah sudah menjadi si buruk rupa.

Lestari bahkan yang menyebarkan fitnah jika penyakit Sumirah akan menular kepada gadis-gadis yang lain sehingga Sumirah dikucilkan.

Sumirah memungut satu persatu bajunya yang berserakan di tanah. Lalu melangkahkan kakinya ke hilir sungai yang semakin jauh dari pemukiman warga. Lestari masih terus menatapnya dan tidak mengizinkan dirinya mencuci pakaian di sungai ini.

Terengah-engah Sumirah melangkahkan kakinya ke arah sungai demi bisa mencuci pakaian miliknya.

“Aaa!”

Tiba-tiba rambut kusut Sumirah ditarik paksa oleh seseorang. Di tengah rasa perih di kepalanya mata Sumirah berusaha mencari siapa pemilik tangan tersebut.

“Permanaa ...!” Sumirah mendesis saat tahu siapakah gerangan yang telah membuatnya sakit seperti itu.

"Apa lihat-lihat! Dasar perempuan buluk, bau dan sundal!" Tubuh Sumirah terpelanting saat dengan kasar Permana melepaskan tangannya dari rambut mantan istrinya itu.

Sumirah tidak menanggapi ocehan Permana dan memilih untuk membuang wajahnya. wanita itu sungguh jijik dengan lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu dengan angkuhnya.

"Woy wanita hina, cium kakiku sekarang dengan begitu aku akan membiarkanmu hidup." Selesai berkata Permana dengan angkuhnya meludahi kepala Sumirah yang ada dibawahnya itu.

"Keparat! Tak puaskah kamu melakukan itu kepadaku. Tak puaskah kamu mengusirku dari rumah bapakku dan sekarang kamu menghinaku seperti ini. Kamu benar-benar manusia tak punya hati!" Sumirah meluapkan emosinya sambil menahan air mata yang hampir tumpah itu. Setidaknya, Sumirah tidak ingin terlihat lemah dan mengemis dihadapan lelaki yang telah membuat hidupnya hancur tersebut.

Permana mengangkat tangan kanannya dan tak menunggu waktu lama ada sepuluh lelaki mengelilingi Sumirah yang terduduk di atas tanah.

“Lakukan seperti yang aku perintahkan tadi!” Permana memberikan instruksi kepada anak buahnya.

“Aaa!” Sumirah melawan saat bajunya dirobek paksa oleh anak buat Permana.

“Brengsek kamu, Permana. Apa yang kau lakukan padaku hah! Tak puaskah kamu menyiksaku, Permana!” Sumirah berteriak.

Permana mengangkat sebelah tangannya, para anak buahnya menghentikan aksi mereka. Dia mendekati Sumirah yang berusaha menutupi kembali tubuhnya yang sebagian telah terbuka.

“Aaa...!” Sumirah menjerit kesakitan dengan tangan memegangi rambutnya yang ditarik oleh Permana.

Permana melotot tepat di mata Sumirah sambil tersenyum mengejek.

“Kamu harus mati, Sumirah. Gendis tak suka jika kamu tetap hidup. Aku ingin Gendis bahagia, jadi kamu harus mati, dengan syarat aku akan membuat kamu mati perlahan.” Permana tertawa puas melihat wajah Sumirah.

“Aaa...!”

Sumirah kembali menjerit saat Permana menempeleng kepalanya.

Permana menganggukkan kepalanya pertanda agar mereka kembali menyiksa Sumirah.

Sumirah dijamah secara bergantian oleh sepuluh anak buah Permana, sementara Permana tertawa terbahak-bahak menyaksikan Sumirah tersiksa.

Tubuh Sumirah lebam karena berkali-kali ditendang dan dipukul, bahkan anjing pun lebih mereka hargai daripada Sumirah.

Wajah Sumirah penuh luka, hidungnya mengalirkan darah. Pakaiannya terlepas seluruhnya. Kehormatannya dirampas dengan cara yang sangat hina.

“Permana....” Suara serak Sumirah masih terdengar.

Permana mengarahkan pandangannya ke salah satu anak buahnya.

Detik kemudian kepala Sumirah dihantam batu, darahnya mengalir. Tubuh Sumirah ambruk begitu saja di atas tanah.

“Heh, kok batunya kecil, Jo! Kurang besar. Buat supaya kepala Sumirah hancur!” Permana melotot ke arah Paijo karena memukul kepala Sumirah hanya dengan batu sebesar genggaman tangannya.

“Batunya berat, Juragan. Lagi pula Sumirah juga sudah mati. Kasihan kalau mayatnya hancur. Nanti kualat loh, Juragan.”

“Halah, kamu itu, penakut! Tidak akan kualat. Cepat ambil batu itu! Pukul Sumirah sampai kepalanya hancur.”

Paijo menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Juragannya yang menurutnya sudah keterlaluan itu.

Karena perintahnya tak dituruti oleh Paijo dan anak buahnya yang lain, Permana akhirnya bangkit dari duduknya, lalu mengangkat batu sebesar kepala manusia dewasa.

Saat hendak mengarahkan batu tepat di kepala mantan istrinya. Tiba-tiba langit gelap gulita, petir menyambar dan hujan turun dengan derasnya. Permana meletakkan dengan kasar batu yang telah dia angkat di sebelah kepala Sumirah.

“Kalian! Ayo balik, hujan!”

“Siap, Juragan!”

Permana dan anak buahnya berlari menerobos hujan yang turun dengan sangat derasnya.

Ternyata Sumirah masih hidup, tangannya berusaha menggapai sesuatu, suara seraknya terdengar memohon serta memanggil sebuah nama.

“Kanjeng Ratu, tolong saya ....”

BAB-7 SYARAT dan SUMPAH

Suara guntur saling bersahutan. Hujan deras menari bersama sang angin. Tangan Sumirah berusaha menggapai sesuatu, seluruh badannya mati rasa. Pandangan matanya semakin memudar. Ditambah dengan guyuran hujan yang bagai ribuan jarum jatuh dari langit tepat di atas kulitnya yang terluka dan penuh memar itu menyempurnakan rasa sakit yang diderita oleh sang wanita yang dikhianati oleh lelaki yang selama ini menjadi lintah menyedot habis harta dan juga kebahagiaannya.

Sumirah terus menggaungkan nama sosok yang diharap dapat mengangkatnya dari penderitaannya saat ini.

Tak lama sesosok pria melangkah ke arahnya, itu adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum kesadarannya menghilang.

Sang pria menutupi tubuh polos Sumirah dengan selembar kain jarik bermotif emas lalu membopongnya menembus derasnya hujan, membawanya ke tempat di mana Sumirah memanggil nama ratunya, penguasa Rawa Ireng.

Sang ratu yang berwujud seekor ular mengelilingi tubuh Sumirah yang tergeletak di sebuah meja batu. Sang ratu mendesis dan menjulurkan lidah bercabang miliknya. Mata merah delimanya menatap tajam ke arah Sumirah.

“Apakah kau begitu putus asa, Cah Ayu. Hingga kau memanggilku, bukan memanggil Tuhanmu.”

Sang ratu menjulurkan lidahnya yang bercabang ke tubuh Sumirah, perlahan Sumirah tersadar dari pingsannya.

Awalnya Sumirah kaget melihat kembali sang ratu yang berwujud ular putih raksasa, tapi perlahan Sumirah terisak, suara seraknya semakin membuat tangisnya terdengar pilu.

“Sssst ... menengo, Cah Ayu, ojo nangis meneh, kowe njaluk opo? Bakalan tak tulungi kekarepanmu!”

(Diamlah anak cantik, jangan menangis lagi, kamu minta apa, aku akan membantu semua keinginanmu).

“Tolong saya Kanjeng Ratu.”

“Kau ingin aku menolong untuk apa, Cah Ayu?”

Sumirah diam, bingung bagaimana cara menjelaskan tentang keinginannya kepada Ratu Penguasa Rawa Ireng di hadapannya saat ini.

Sang ratu mendekatkan kepalanya ke wajah Sumirah, mencari tahu isi hati sesungguhnya dari anak manusia yang ada di depannya. Mencari kepastian sebelum dirinya benar-benar membantunya, mencari kepastian apakah benar-benar sudah tidak ada Tuhan di dalam hati Sumirah.

“Jika aku membantumu, apa yang akan kau berikan padaku sebagai balas budi, Sumirah?”

“Apa yang kanjeng ratu inginkan dari saya? Saya sudah tidak punya apa-apa lagi selain nyawa saya.” Sumirah menunduk, karena dia memang tak punya apa-apa lagi untuk dipersembahkan kepada penguasa Rawa Ireng di depannya.

“Kau ingin lepas dari guna-guna uwan setunggal bukan, Sumirah?”

Wajah Sumirah mendongak tak percaya menatap wajah sang ratu, kenapa dia bisa tahu keinginannya.

“Lalu kau ingin menjadi cantik lagi kan, Cah Ayu? Seperti Mutik?”

“Be—nar Kanjeng Ra—tu.” Sumirah menjawab dengan terbata-bata karena tidak menyangka jika Penguasa Rawa Ireng itu tahu semua isi hatinya.

Kanjeng ratu menjulurkan lidah bercabangnya ke arah perut Sumirah.

“Berikan aku keturunanmu, maka akan aku kabulkan permintaanmu!”

“Keturunan? Maksud Kanjeng Ratu?”

Sumirah sungguh tak paham dengan apa yang dimaksud dengan keturunan, dirinya mandul karena selama empat tahun tidak mampu mengandung benih dari mantan suaminya.

“Kau sedang mengandung, Sumirah. Kau mengandung anak dari Permana. Berikan keturunanmu padaku, maka akan aku kabulkan permintaanmu!”

Sumirah otomatis memegang perutnya, dia tidak tahu kalau dirinya tengah mengandung benih Permana, buah hati yang dia tunggu-tunggu selama empat tahun. Anak adalah yang menjadi alasan kenapa dirinya dicerai, karena dituduh mandul. Apakah dia tega anaknya dimakan oleh penguasa Rawa Ireng demi membalas dendam kepada Permana. Ayah dari si jabang bayi dalam perutnya.

Kanjeng ratu melingkarkan badannya mengelilingi Sumirah, kepalanya menyembul lalu bergerak dari arah belakang mendekati pendengaran Sumirah.

“Aku tidak akan memakan anakmu, dia akan menjadi wadahku selanjutnya, dia akan menjadi ratu Rawa Ireng yang baru, Sumirah.”

“Anakmu tidak akan mati, Sumirah. Justru dia akan hidup abadi sebagai wadah dari jiwaku yang baru. Begitulah cara kami bangsa lelembut Rawa Ireng tetap kekal. Termasuk Mutik, dia juga akan mencari wadah baru setiap seratus tahun sekali, dan akan berganti kulit setiap sepuluh tahun sekali”

Sumirah masih terus diam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Kanjeng Ratu kepadanya.

“Apa kamu ragu, Sumirah? Kalau kamu ragu, pergilah dari sini, dan jangan kembali lagi untuk meminta bantuanku.”

Mendengar suara Kanjeng Ratu yang marah, Sumirah bergegas menjawab tawaran dari Ratu Rawa Ireng di hadapannya. Bagi Sumirah, kesempatan takkan datang dua kali.

“Tidak! Saya tidak ragu Kanjeng Ratu, saya hanya bingung, bagaimana cara saya menyerahkan si jabang bayi karena dia masih berada di rahim saya?”

Sang ratu menatap tepat di manik hitam milik Sumirah.

“Bersumpah setialah padaku, Sumirah. Lalu lupakan Tuhanmu. Niscaya aku akan membantumu. Jadikan aku tuanmu, tempat kamu meminta bantuan, dan serahkanlah nyawamu padaku maka kekhawatiranmu akan sirna.

Jadilah kau dayang abadiku, pelayan setiaku, dan lakukan semua syarat yang aku minta darimu, sebagai bukti janji setiamu padaku, Sumirah! Maka apa yang kau mau akan aku wujudkan.”

Sang ratu melepaskan lingkaran tubuhnya, kepalanya masih tetap menatap lurus ke mata Sumirah.

“Baik Kanjeng Ratu penguasa Rawa Ireng. Saya, Sumirah bersumpah akan memenuhi segala syarat yang Kanjeng Ratu berikan. Saya persembahkan nyawa saya, serta akan menjadi pelayan abadi, dayang setia, dan menjadikan Kanjeng Ratu tuanku selamanya.”

Setelah Sumirah mengucap sumpah setia, tiba-tiba tubuh kanjeng Ratu penguasa Rawa Ireng bersinar sangat terang, cahayanya menembus langit malam yang diselimuti mendung pekat.

Para warga desa Kalimas keluar dari rumahnya, menatap takjub sekaligus ketakutan dengan cahaya tersebut. Cahaya yang konon hanya muncul jika penguasa Rawa Ireng sedang murka serta akan terjadi hal yang mengerikan.

Suara kentongan dari bambu bergegas dibunyikan oleh warga pribumi sebagai pertanda jika hal buruk akan terjadi.

“Awas, ati-ati pagebluk, ojo podo metu seko umah, poso mutih o telu dino, ojo podo nyembeleh kewan. Ati-ati ratu lelembut rawa ireng ngamuk.! Ojo podo metu soko omah telu dino! Omahe siram o nganggo uyah segoro. “ ( Awas, hati-hati wabah bencana, jangan ada yang keluar rumah, lakukan puasa mutih selama tiga hari, jangan ada yang menyembelih hewan. Hati-hati penguasa Rawa Ireng sedang murka, jangan ada yang keluar rumah selama tiga hari, sekeliling rumah ditaburi dengan garam laut!”

Kepala desa dan sesepuh langsung memberi pengumuman dan arahan kepada warganya.

Kejadian dua ratus tahun silam kini terulang kembali.

Warga langsung menyebarkan garam di sekeliling rumah mereka, lalu menutup rapat pintu rumahnya.

Hal ini juga berlaku di kediaman Permana. Gendis yang ketakutan memeluk erat tubuh lelaki di sampingnya.

Anak buahnya sibuk menabur garam di sekitar rumahnya. Wajah Gendis pucat karena ketakutan.

“Kang Mas, ono opo iki sakjane?” (Kang Mas, ada apa ini sebenarnya?)

Permana tak menjawab pertanyaan Gendis, dirinya sibuk dengan pikirannya sendiri sambil mengepalkan tangannya.

“Sumirah, opo kowe isih urip?” ( Sumirah, apakah kamu masih hidup?)

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 LEGION
9.6
Kedamaian tiga bangsa kini terancam akibat hadirnya sosok misterius dari masa lalu. Tokoh ini memegang kunci penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ia juga menjadi figur sentral yang akan mengungkap kebenaran di balik sejarah kelam Legion yang lama tersembunyi. Lewat petualangan penuh misteri ini, identitas asli sang pendatang akan membongkar rahasia besar yang telah lama terkubur rapat dari dunia mereka.
Sampul Novel Anak Yang Tertukar
9.2
Kehidupan hampa Raya, seorang wanita kaya, mendadak berubah saat ia bertransmigrasi ke dunia novel menjadi Selina. Di sana, ia mendapati fakta bahwa Selina adalah anak yang tertukar sejak bayi akibat kelalaian suster. Menghadapi takdir baru yang manipulatif dan penuh intrik, Raya harus menentukan sikap. Apakah ia akan bertobat demi mengubah nasib buruk Selina, atau tetap menjadi sosok antagonis yang kejam? Setiap keputusan kini menentukan keselamatan jiwanya.
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Hubungan erat Adrian dan Wandi kini renggang sejak kemunculan Hesta. Gadis penuh misteri itu begitu memikat Adrian, tetapi Wandi justru melihat sosok mengerikan dalam dirinya. Wandi berjuang keras memperingatkan sahabatnya bahwa Hesta bukanlah manusia. Sejak mereka mengunjungi beringin tua yang angker, teror mistis mulai membayangi. Di tengah ancaman bahaya, sanggupkah Adrian menyadari kenyataan? Apakah asmara beda alam ini akan terwujud, atau malah berujung pada kehancuran?
Sampul Novel KUNYIT DARI SARANJANA
8.2
Lawen, pemuda Dayak Bakumpai, kini menjadi buronan paling dicari di kota gaib Saranjana. Tanpa tahu apa kesalahannya, ia terus diburu oleh Panglima tertinggi kerajaan. Ancaman bagi nyawanya kian nyata setelah Raja Saranjana menggelar sayembara besar. Siapa pun yang berhasil menangkap Lawen dijanjikan hadiah luar biasa, mulai dari separuh wilayah kekuasaan hingga takhta untuk menikahi sang putri raja. Lawen harus berjuang bertahan hidup di tengah kepungan seluruh isi kota.
Sampul Novel Menjadi Ibu Bukanlah Hal Mudah
9.2
Kehadiran sistem misterius 'Kamu Hebat, Kamu Maju' menantang siapa saja untuk membuktikan diri lebih baik dari orang lain demi imbalan besar. Di bawah aturan ini, seorang ibu dikhianati oleh ibu kandung, suami, dan putranya sendiri. Mereka menyeretnya ke pengadilan sistem demi merebut posisinya dan mengincar bonus puluhan miliar. Jika kalah, ia akan musnah dan menjadi budak mereka selamanya. Namun, alih-alih hancur, sang protagonis justru berhasil membalikkan keadaan dan meraup keuntungan hingga 60 miliar.
Sampul Novel My Destiny (Pewaris untuk Sang Kaisar)
9.1
Putri Xiara dari Kerajaan Guangshu harus rela menikahi Kaisar Li Qiang yang kejam demi kedamaian rakyatnya. Di dalam Istana Jin yang penuh intrik dan kebencian para selir, ia berjuang bertahan hidup sendirian. Selain melindungi diri, Xiara mengemban misi berat untuk melahirkan pangeran penerus takhta. Mampukah ia menghadapi kerasnya kehidupan istana dan meluluhkan hati dingin sang kaisar demi menuntaskan takdirnya?