APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUARA

SUARA

Pasca-perceraian orang tua, Suara yang berumur 12 tahun terpaksa tinggal di rumah tua kosong saat ibunya bekerja. Di sana, ia terus menghadapi teror gaib ayah tirinya sekaligus gangguan makhluk halus tiap malam. Namun, aduannya justru terancam membuat sang ibu menganggapnya gila. Sejak kecil diikuti lelembut, kini Suara harus berjuang sendirian atau memercayai sosok pelindung tak kasat mata yang selama ini mendampinginya secara rahasia.
Bab
Bagikan

Bab 1

Sebenarnya, aku bukanlah murit yang bandel. Tapi, karena

teman-temanku suka membangkang dengan peraturan sekolahan yang ada, lambat laun akupun juga terbawa oleh mereka.

Seperti biasa. Di hari Kamis aku mengikuti kegiatan

extrakulikuler pencak silat, yang ada di SMP ku. Kegiatan dimulai pada jam satu. Tapi, jam satu kurang lima menit, aku malah memesan baso sama teman-temanku di kantin sekolahan.

Belum juga habis separo, baru makan satu butir pentol aja, kakak

pelatih sudah datang. Bingung pasti, antara mau dibuang atau dimakan.

Dibuang sayang mau dimakan panas banget.

Takut kena hukumuman suruh dowwer sampai dua kali putaran

lapangan sepak bola lagi, dengan mantap kutinggalkan tuh, makanan favorit sejuta umat. Aku bergegas ke kamar mandi wanita untuk ganti seragam pencak.

Karena sudah penuh, dan hanya ada satu kamar mandi yang tersisa, dan kabarnya, kamar mandi satu ini memang keramat tak boleh di masukki. Tapi, terpaksa

aku memasukkinya. Karena masih enneg dengan hukuman minggu lalu, aku sampe lemes dan muntah-muntah, si pelatih gak kasih ampun. Jadi, pura-pura aja gak

sanggup lagi, padahal males. 🤪

Mengenai kamar mandi keramat ini, kabarnya dulu, dulu banget

tepatnya kapan juga aku tidak tahu. Ada seorang siswi yang melahirkan di kamar mandi ini. Dan membuang bayinya yang masih hiddup ke dalam wc. Walau sempat

bingung juga, kulihat lubang wc segitu, terus, bayinya segede apa kok bisa bisa masuk? Apa mungkin dia lahiran premature?

Next. Tak lama kemudian, setelah bayi itu hanyut ke dalam

closet si ibu berteriak histeris. Keesokannya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa oleh penjaga sekolah. Sejak saat itu, banyak desas desus kalau di sekitar toilet itu angker. Banyak yang melihat penampakan seorang wanita

menggendong anak, kadang juga seorang anak yang berlari-lari sambil tertawa sendiri. (gak tau, waras apa tidak.)

Tidak terjadi masalah saat aku ganti baju di sana. Sampai

keluarpun juga tetap semua baik-baik saja. Padangan mata juga tidak berubah. Wajah teman ya, masih tetap dengan wajahnya masing-masing. Tidak berubah angker, apalagi horor.

Tapi, saat mendengarkan kakak Pembina marah pada kami yang

bandel tadi, tiba-tiba saja kok pengen ketawa. Mana gak bisa ditahan lagi,

padahal ga ada yang lucu, gak ingat kejadian lucu dan tidak ada yang

menggelitiki perut.

Akhirnya tertawa pun tak dapat dihindari. Aku tertawa ngakak

sampe jungkir balik saat latihan, jam istirahat pun juga masih ngakak. Jangan tanya bagaimana reaksi teman-teman. Apalagi para pelatih yang galaknya au ah… gak usah diceritain. takut yang bersangkutan keselek.

mereka marah besar padaku. Tapi, apa daya, aku tak bisa menghentikan tawaku sampai kegiatan berakhir. Jam lima sore, ya hanya aku tertawakan saja.

Karena aku ke sekolah naik angkutan umum, horror banget, kan kalau aku terus tertawa. Nanti yang ada dikira stress lagi. Padahal

waras, dan tertawa bukan mauku. Tapi, itu juga di luar kenadaliku.

Aku memberanikan diri meminta salah satu kakak pelatih yang

naik motor untuk mengantarkanku kembali ke kos-kosan. Ya, masih kelas satu SMP

bahkan aku dulu sudah jadi anak kos. Karena orang tua tinggal di luar kota.

"Mas, minta tolong dong. Perutku sakit, nih. Anterin aku

pulang, ya?" ucapku memohon.

Kulihat dari raut wajah mas Ahmad (nama samaran) juga santai

saja. Tidak keberatan.

"Ya sudah, ayo sini kuantar."

Akupun naik ke atas motor bebek dan masih saja tertawa.

Padahal ga ada yang lucu, sebenarnya aku juga lelah. Soal do'a, jangan tanya

lagi, ayat kursi, al-fatehah juga sudah kubaca berulang kali sampai kubayangkan

siksa kubur. Tapi, gak mempan.

Begitu motor yang kami naiki sudah keluar dari pagar

sekolah, tertawaku sudah berkurang tak separah sebelumnya. Terlebih setlah melewati taman bacaan yang letaknya kurang lebih limaratus meter dari sekolahanku, aku sudah bisa diam. Tinggal perut aja, rasanya kaya kram.

"Kok diam, gak ketawa lagi, Ra?" tanyanya, memulai percakapan.

"Gak," jawabku singkat. Karena lemes, perut juga sakit.

"Kamu kenapa sih, tadi itu kok tiba-tiba saja ketawa kek

orang kesurupan? Kamu sadar tidak sih tadi itu?"

Sepertinya dia mulai kepo dengan apa yang terjadi padaku.

Tapi, karena aku berfikir dia hanya ingin tahu saja, bukan peduli, ya sudahlah.

Diam lebih baik. Gak usah dijawab. Kalau pun dia ngambeg dan menurunkan aku di

sini. Tigaratus meter lagi juga sudah sampai di tempat tinggalku.

Ternyata dia cukup baik juga jadi orang. Dia tidak

menurunkanku di tengah jalan. Melainkan tepat di depan pagar rumahn yang aku

tinggali.

"Benar ini, kan rumah kamu?" tanyanya sambil melihatku yang

tiba-tiba saja diam. Mungkin dia sudah berfikir macam-macam tentangku. Tapi, aku ini normal tidak apa-apa. Cuma lemes saja.

"Iya, benar Mas. Makasih, ya?" ucapku dan langsung ngeloyong

begitu saja memasuki pagar dan membiarkan dia tetap di depan pagar tanpa kuajak

basa-basi mampir dulu. Aku takut, gimana kalau nanti dia mampir beneran? Yang

ada nanti malah dikira orang sekitar kami ngapa-ngapain lagi.

Oh, iya. Mas Ahmad itu salah satu pelatih yang baik dan sabar. Dia orangnya tinggi, besar berkulit putih matanya sipit. Kaya orang cina. Padahal, aslinya, aku gak tahu, belum pernah nanya. Dia masih sekolah, kalau tidak salah dia kelas dua SMK.

Dengan rasa jengah dan bosan aku menapakki tangga rumah dan

menaiki teras yang cukup tinggi. Kira-kira satu meteran. Selama dua bulan sudah aku menempati rumah tua ini. Rumahnya besar, memanjang ke samping seperti ada

dua ruang tamu dan dia pintu masuk, yang maha luas tapi, kamarnya sempit, hanya muat dimasuki satu

tempat tidur berukuran 200x140cm an dan satu meja kecil, yang bahkan untuk aku

belajar juga tidak muat dengan buku-bukuku, itu sudah cukup sesak. Khas sekali dengan bangunan

kuno.

Di rumah ini ada dua dapur. Yang bagian depan dapur digunakan untuk

memasak menggunakan kompor. Tempatnya juga luas banget, dan ke belakang lagi

ada pintu di sana ada tempat mencuci piring dari semen, dan dua buah tungku yang berjajar.

Jika kalian penasaran dengan kejadian aneh yang ada di sini,

yang tentunya kualami sendiri, jangan tanya. Banyak. Sampai aku sebagian besar lupa. Saking banyaknya.

Selain model rumahnya yang kuno, letak bangunan ini juga ke

dalam banget jauh dari jalan raya. Samping kebun yang luas dan belakang rumah ada rimbunan pohon bambu.

kiri kanan kebun. Jadi, kalau malam hari ya sunyi. Sekalipun Cuma serratus

limapuluh meter ke depan sudah jalan raya. Tapi, kalau malam ya gelap. Akan terasa jauh jika seandainya dikejar setan.

Aku juga heran, kenapa ibuku mencarikan aku tempat kok kaya

gini. Sebelumnya memang aku ngekos. Tapi, si pemilik kosnya julid. Skip aja,

terlalu sakit kalau diceritain. Jadi, dia memindahkanku di tempat ini. Tempat

yang sebenarnya lebih cocok untuk uji nyali daripada tempat untuk beristirahat kala lelah dari pulang sekolah.

Ku lempar tas ke atas kursi tua, dan aku segera masuk ke

dalam kamar yang hanya ditutup dengan kelambu warna kuning dan menghempaskan

badanku di atas kasur kapuk yang ditutupi dengan sprei batik. Adem dan nyaman memang. Tapi, tak bisa kuteruskan. Atau, aku malah ketiduran, karena ini juga sebentar lagi sudah magrib.

Dengan lngkah berat dan malas kulangkahkan kakiku yang

tearasa berat ini menuju kamar mandi. Ya, badan sakit semua karena walau

keadaan tak sadar dan terus tertawa para pelatih tetap melatihku dengan keras tadi. Tapi, ada keanehan. Biasanya orang yang tertawa itu lemah. Cuma, aku tadi bisa menang saat adu gulat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Hidup Halimah berubah mencekam saat ia tiba-tiba mampu melihat dimensi gaib mengerikan dan para calon tumbal yang terancam mati. Kemampuan misterius ini membawanya pada dilema batin yang gelap: apakah ia harus ikut memburu tumbal demi bertahan hidup? Di tengah teror yang terus mengintai, Halimah harus berjuang keras mengungkap rahasia kutukan kuno tersebut sekaligus menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Sampul Novel Dia Menjadi Gila Setelah Mengurungku di Gudang Pendingin
8.5
Demi menghukum pasangannya atas insiden yang membuat Nelly, cinta pertamanya, terkunci di kantor, William Yuardi mengurung wanita itu di gudang pendingin tak terpakai dengan semangkuk air. Namun, mesin pembeku itu mendadak aktif setelah ia pergi. Korban berjuang meminta tolong hingga dindingnya dipenuhi bekas darah dari jarinya. Tujuh hari kemudian, saat William membuka pintu untuk menuntut permohonan maaf, ia hanya menemukan seonggok mayat yang telah membeku sepenuhnya.
Sampul Novel Ganjaran Nafsu
7.8
Terperangkap dalam kondisi antara hidup dan mati, aku mengalami eksistensi yang mengerikan tanpa kebutuhan biologis seperti makan atau tidur. Meski kesadaranku sepenuhnya pulih, tubuhku lumpuh total di tengah kegelapan pekat yang sunyi. Tanpa interaksi, kewarasanku perlahan terkikis oleh waktu yang tidak lagi terasa. Namun, tepat ketika keputusasaan hampir merenggut segalanya, keheningan abadi itu mendadak pecah oleh suara ketukan misterius dari luar.
Sampul Novel Pembalasan Atas Kekejaman Suamiku
8.7
Perubahan drastis sikap suami sejak masa kehamilan memasuki usia tujuh bulan menyisakan tanda tanya besar. Saat malam tiba, ia mendadak menjadi sosok yang sangat bergairah dan menuntut keintiman dalam kegelapan total. Meski membingungkan, perubahan tekniknya yang luar biasa justru membangkitkan hasrat sang istri hingga desahan mereka menggema di seluruh penjuru rumah setiap larut malam. Keanehan memuncak di siang hari, ketika sang suami kembali menjadi pria yang sangat sopan dan bahkan tidak berani menyentuhnya sama sekali.
Sampul Novel PERHIASAN TERKUTUK
8.5
Kematian Budhe Sastro menyisakan misteri kelam. Orang-orang yang mengurus jasadnya kini menjadi sasaran teror gaib yang mengerikan. Roh mendiang kembali dari alam kubur, menghantui mereka hingga satu per satu kehilangan akal sehat dan tewas secara mengenaskan. Mengapa arwahnya begitu murka? Kesalahan fatal apa yang tak sengaja diperbuat oleh para pemulasar jenazah tersebut? Selidiki rahasia gelap di balik kutukan yang menuntut balas tanpa ampun ini.
Sampul Novel Tumbal Pengantin Iblis
8.4
Kalina, putri CEO yang menyamar jadi siswi biasa demi kedamaian, mendapati hidupnya berubah total. Akibat tak sengaja membuka segel terlarang, ia bertemu pemuda misterius bernama Elang. Kini, Kalina menguasai permata keramat kaum siluman yang membuatnya jadi buruan makhluk-makhluk buas. Di tengah dunia modern ini, ia harus berjuang bersama Elang demi melindungi pusaka tersebut sekaligus bertahan hidup dari kepungan para pemangsa yang mengancam nyawa mereka.