APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMIKU SAINGANKU

SUAMIKU SAINGANKU

Kehidupan Rila jungkir balik usai dijodohkan dengan Arga, rival terberat sekaligus Ketua OSIS yang bersikap dingin di sekolahnya. Di balik ketampanannya, Arga menyimpan dendam misterius pada Rila. Kini, Rila terpaksa tinggal serumah dengan cowok yang selalu berambisi mengalahkannya itu. Di tengah sengitnya persaingan akademis dan misteri masa lalu, sanggupkah Rila bertahan? Akankah kebencian di antara mereka perlahan luluh menjadi cinta manis di tengah badai konflik?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah sebagai murid baru. Dengan langkah mantap, aku turun dari taksi dan memandang gedung sekolah yang megah di depanku. Sekolah ini tidak asing bagiku, aku sudah melihatnya di foto-foto yang kuterima saat pendaftaran. Tapi rasanya berbeda saat aku benar-benar berdiri di depannya.

Aku tak pernah menyangka bisa bersekolah di sini. Sekolah yang hanya bisa di masuki oleh kalangan elite, sekarang menjadi tempatku belajar. Rasa bahagiaku mengalahkan rasa penasaran yang sebelumnya menghantui pikiranku.

Kenapa kedua orang tuaku tiba-tiba memindahkan aku ke sini? Padahal mereka hanya pekerja paruh waktu biasa.

Aku menarik napas panjang dan melirik jam tangan. "Aduh! Kelasku!" Aku panik.

Jam pelajaran pertama hampir dimulai, dan aku belum tahu di mana kelasku. Dengan buru-buru, aku berlari menuju gedung utama, berharap tidak terlambat.

Namun, tiba-tiba saja, langkahku terhenti ketika kakiku tersandung. Aku terjatuh dengan keras ke lantai, map berisi surat-suratku berhamburan. Ketika aku mencoba bangkit, terdengar suara tawa mengejek di belakangku.

"Ups, nggak sengaja," suara seorang perempuan yang jelas-jelas tidak tulus meminta maaf.

Aku mendongak, dan mendapati seorang gadis dengan senyum penuh kepuasan di wajahnya, bersama dua temannya yang ikut tertawa. Salah satu dari mereka, yang berdiri paling dekat denganku, menambahkan...

"Makanya kalau jalan, pakai mata! Jangan pakai dengkul!"

Aku langsung tahu siapa mereka, anak-anak populer di sekolah ini, geng berkuasa yang sudah kudengar dari Yuni, tetanggaku. Katanya, pembullyan masih marak di sini dan kini aku paham maksudnya.

Gadis yang baru saja menjatuhkanku adalah Ericka, sang ratu sekolah yang terkenal di kelas 12. Selain wajah cantiknya yang selalu menjadi pusat perhatian, ia juga dikenal karena sifatnya yang kejam. Di sampingnya berdiri Siska, tangan kanannya yang selalu menurut tanpa banyak bicara, dan Dinda, si pendiam yang tatapannya seperti ingin membunuh.

Aku mulai mengumpulkan surat-surat yang berceceran, berniat cepat-cepat pergi. Namun saat aku hendak bangkit, Siska mendorongku ke tembok dengan keras.

"Berani banget lo nyuekin kita!" bentaknya, matanya melotot.

"Maaf, saya buru-buru," gumamku, mencoba menghindari konflik.

"Oh, songong banget ya lo! Lo nggak tahu siapa gue?" Ericka mendekat, menarik daguku kasar agar mataku menatap langsung ke arahnya.

"Manusia," jawabku, mencoba tetap tenang, "tapi berhati setan!" lanjutku tanpa pikir panjang.

"Sialan!" Ericka langsung mengangkat tangannya, siap menamparku.

"Dasar anak pindahan gak tahu diri!"

Aku merasakan detak jantungku semakin cepat. Mataku tertutup rapat, sudah siap menerima tamparan itu, tapi... hening. 

Tidak ada apa-apa. Tanganku, yang tadi dicekal oleh Siska dan Dinda, kini terasa bebas. Perlahan, aku membuka mata, penasaran dengan apa yang terjadi.

Seorang pria berdiri di depanku, tubuhnya tinggi dan berotot, meski tidak terlalu besar. Tangannya menahan tangan Ericka yang hampir mengenai wajahku. Ia menepis tangannya dengan tenang, lalu menatap gadis itu dingin.

"Berhenti," katanya singkat, tapi penuh wibawa.

Ericka, yang biasanya mendominasi, tampak kehilangan keberaniannya seketika. Dengan enggan, dia menarik tangannya dan mengajak kedua temannya pergi tanpa sepatah kata lagi. Aku berdiri diam, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

"Terima kasih," ucapku pelan, merasa lega.

Pria itu hanya menatapku sekilas, senyumnya tipis dan dingin. Tanpa membalas ucapanku, dia berbalik dan pergi begitu saja, seakan aku tidak penting. Aku terdiam di tempat, merasa aneh. Campuran antara perasaan berterima kasih dan... dicampakkan?

Aku menggeleng, berusaha mengusir pikiran aneh itu, dan melanjutkan langkahku menuju ruang kelas. Namun, sosok pria itu terus berputar di kepalaku.

Begitulah pertemuan pertamaku dengan Arga, si Ketua OSIS jenius dan dingin. Siapa sangka, dia akan menjadi sainganku di sekolah ini, dan entah bagaimana, dia adalah suamiku sekarang.

..

..

"Sial, jam berapa ini..." suara terkejut Agra membangunkanku dari mimpi buruk.

Ya, aku berharap pernikahan kami ini hanyalah mimpi buruk dalam tidurku. Namun kenyataannya, ini adalah mimpi buruk yang harus kujalani sepanjang hidup.

Kehidupan baru sebagai pasangan suami istri dimulai dengan semangat pagi yang lebih seperti kekacauan. Alarm pagi membangunkan kami dari tidur yang nyenyak, dan aku langsung merasakan ketegangan di udara. Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh, dan panik menyergapku. 

Aku melompat dari tempat tidur dan menuju kamar mandi dengan cepat, hanya untuk menemukan Arga sudah berada di sana. Kami saling bertatap muka melalui kaca pintu kamar mandi yang tertutup, dan tanpa perlu berkata banyak, kami tahu bahwa kami berada dalam situasi yang sama sekali tidak nyaman.

"Aku belum siap!" teriakku panik dari luar kamar mandi, suaraku bergema di lorong rumah.

Arga hanya mendesah, suaranya berat namun terkontrol, lalu memutar kunci kamar mandi. Ia keluar dengan rambut basah yang masih menetes, mengenakan handuk yang disampirkan di bahu, dan memandangku dengan ekspresi datar.

"Cepat, kita sudah telat," katanya, nadanya terdengar sedikit tajam, tapi penuh kepastian.

Aku langsung menyelinap masuk ke kamar mandi, menyambar peralatan mandi dan melakukan semuanya dengan kecepatan kilat. Di luar, terdengar langkah-langkah kaki Arga yang mondar-mandir di kamar. Setiap detik seolah berlomba melawan waktu, dan aku hampir bisa merasakan ketegangan menebal di udara.

"Cepatlah, kita tidak punya waktu untuk drama pagi ini," suara Arga dari balik pintu terdengar datar, namun menambah tekanan.

Selesai dengan mandi, aku segera berpakaian secepat mungkin. Aku berlari menuju dapur, berharap bisa mendapatkan sarapan meskipun hanya seteguk susu putih. Arga sudah ada di sana, berdiri sambil mengunyah roti bakar dengan ekspresi serius di wajahnya. Tangannya yang kuat menyandarkan tubuhnya pada meja dapur, dan matanya melirik jam dinding dengan penuh kecemasan.

"Kita benar-benar harus cepat," ulangnya, kali ini suaranya lebih tenang, tapi jelas-jelas menyimpan kekesalan tersembunyi.

Tanpa menanggapi, aku hanya mengangguk sambil meraih roti yang tergeletak di meja dan menyesap sedikit susu dingin. Kami makan dalam diam, dan suasana terasa tegang, seperti ada banyak hal yang belum terucap namun dipendam. Pikiranku berlari, mencoba mengejar waktu sambil menenangkan perasaan tak nyaman di dada.

Setelah beberapa menit, kami akhirnya melesat keluar pintu dan berlari ke mobil. Suara langkah kami di trotoar bergema dalam keheningan pagi, menciptakan suasana yang makin canggung di antara kami.

Sebelum masuk ke mobil, Arga berbisik pelan. "Ingat, kita akan berpisah sebelum sampai di gerbang sekolah. Jangan sampai ada yang tahu kita datang bersama. Mereka akan curiga."

"Suami macam apa kamu..."

Arga mengangkat tangannya, meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Bukan waktunya untuk berdebat, Ny. Arga!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Don Juan
9.1
Ketampanan dan tubuh atletis membuat pria ini dengan mudah memikat hati para wanita. Berawal dari keisengan belaka, ia justru terjerumus ke dalam kecanduan hubungan terlarang. Ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan saat menjalin perselingkuhan berisiko dengan istri orang lain secara rahasia. Kisah ini menyoroti perjalanan penuh gairah seorang pria yang nekat menantang bahaya demi mengejar kenikmatan sesaat yang sembunyi-sembunyi.
Sampul Novel Anak Kembar Milik Hot CEO
8.8
Kehancuran hidup Amber sebagai anak konglomerat membuatnya terpuruk. Saat putus asa, kesalahan fatal terjadi ketika ia mabuk dan keliru memasuki kamar hotel milik Julian Kingston, pria berkuasa yang terkenal kejam. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, Amber telah melahirkan anak kembar yang merupakan darah daging Julian. Terjebak situasi rumit, mampukah Amber menghadapi tuntutan dari sang CEO yang berwatak dingin tersebut?
Sampul Novel Dendam Membara CEO Mesum
8.5
Kehidupan mapan Jent sebagai CEO terusik oleh konflik pernikahan karena belum memiliki anak. Didorong rasa curiga, ia membuntuti istrinya diam-diam dan memergokinya tengah berselingkuh dengan pria lain. Dikhianati dengan kejam, Jent enggan memilih jalan cerai biasa. Ia menyusun rencana pembalasan yang matang dan sadis untuk menghukum sang istri beserta kekasih gelapnya. Pengalaman pahit ini mengubah karakter Jent menjadi sosok yang dingin demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Dicampakkan Suami dalam Kebakaran Rumah
8.6
Dua saudara perempuan menikah di hari yang sama dengan sepasang sahabat: kapten pemadam kebakaran dan polisi. Mereka hidup bertetangga di lantai apartemen yang sama hingga bencana kebakaran melanda. Di tengah kepungan api, panggilan darurat mereka diabaikan oleh para suami. Tragedi ini menyebabkan satu bayi lahir mati dan yang lain keguguran. Menghadapi kenyataan pahit dan pengkhianatan ini, kedua saudara tersebut sepakat mengambil langkah tegas untuk menceraikan suami mereka.
Sampul Novel Dimanjakankan oleh Bos Mafia Kejam
9.0
Khloe hancur setelah dikhianati saudari dan tunangannya sendiri di hari pernikahan hingga ia dipenjara tiga tahun. Usai bebas, penderitaannya belum usai karena ia dipaksa melayani pria tua demi menyelamatkan ibunya. Di masa sulit ini, takdir mempertemukannya dengan Henrik, seorang bos mafia kejam. Di balik reputasi dinginnya, Henrik justru melindungi Khloe dengan penuh kasih sayang. Bersama Henrik, Khloe siap membalas dendam pada semua orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Gairah di Kota kecil
8.2
Nikmati kisah asmara modern yang hangat dengan latar sebuah kota kecil yang sunyi namun sarat emosi. Lembar demi lembar novel ini menyajikan kedekatan emosional dan interaksi intim yang membara di antara para tokohnya. Pembaca diimbau bersikap bijaksana, karena alur cerita yang disajikan secara mendalam ini dirancang untuk memicu imajinasi serta fantasi romantis tentang hubungan fisik yang sangat mendalam dan terasa begitu nyata.