APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Punya Wanita Idaman Lain

Suamiku Punya Wanita Idaman Lain

Kelahiran anak pertama yang dinanti justru menjadi awal keretakan pernikahan Selena dan Roy. Akibat komunikasi yang memburuk sejak masa kehamilan hingga melahirkan, hubungan mereka kian mendingin. Di tengah renggangnya jarak di antara mereka, Roy yang didorong hasrat seksual tidak biasa memilih untuk mendua. Ia tenggelam dalam perselingkuhan dengan wanita lain, hingga tega menelantarkan kewajibannya demi ego pribadi.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kamu yakin itu celana dalam Roy?" Delia meletakkan sepiring salad buah di meja. 

"Yakin, Del! Emang ada laki-laki di rumah selain Roy?" balas Selena sedikit kesal. 

"Kali aja tertukar dengan orang lain" lagi Delia menggoda Selena yang terlihat semakin cemberut. 

"Ya ampun, Del! Kamu ada-ada aja! Jelas-jelas aku yang beliin pakaian dalam itu, Roy gak pernah ikutan belanja pakaian, tiap hari aku yang cuci, gak mungkin punya orang lain" Ia tahu Delia sedang menghiburnya dengan caranya. 

Iya, Selena merasa perlu teman bertukar pikiran setelah jawaban tidak masuk akal dari Roy di meja makan pagi tadi. Dia ingat Roy bersikap tenang, sedikit cuek, meski nada bicaranya sedikit meninggi. 

"Bercak putih? Yang mana?" 

"Yang ada di daleman kamu, Roy. Di bagian belakang!" sahut Selena dengan cepat. 

"Oh ... yang itu ... itu lendir ingus. Kemarin, waktu mandi aku bersih-bersih" terang Roy santai. Kelewat santai dengan ponsel di tangan kiri dan mulut yang masih penuh.

"Ingus gimana? Sebanyak itu? Baunya beda, Roy!" Selena mulai berang.

Cheryl kebingungan karena suapan mamanya terhenti jauh dari mulutnya. 

"Banyak? Bau beda? Maksud kamu apa, sih, sayang?" Suara Roy melunak. Akhirnya matanya menatap lurus ke Selena. 

Selena tahu caranya tidak akan membuahkan hasil. Bodohnya dia sudah mencuci celana itu, barang bukti hilang. Ujaran berikutnya tentu akan membuat ia tampak konyol di depan Roy. 

"Segitunya kamu rindu dengan punyaku, sayang" Senyum jahil di wajah Roy mendadak membuat perut Selena mual. 

"Jadi ... tadi masih berangkat bareng ke kantor, kan?" Delia menyadarkan Selena dari lamunan. 

"Masih! Gak ada gunanya juga ngambek, gak bakal dibujuk, yang ada aku telat ngantor" Selena memasukkan suapan terakhir ke mulutnya. 

Setelah tiba di kantor, Selena langsung mengabari teman dekatnya, Delia Wibowo, kalau ia ingin mampir makan siang. Tadinya mereka teman sekantor. Delia memilih resign karena kehamilan pertamanya lemah, beberapa kali mengalami flek dan rembes ketuban. 

Suaminya, Richard Permadi, memberi ide untuk membuka usaha pastry, mengingat Delia rajin membuat kue. Awalnya Delia pesimis, tapi karena sudah hobi akhirnya betah dan bertahan sampai sekarang. 

Maka disinilah Selena sekarang, menghabiskan jam istirahat dan makan siangnya sambil mencurahkan kegundahannya tentang Roy. 

"Tuh, salad buahnya dihabisin juga. Aku yang buatin, loh!" Delia terus mengamati wajah sahabatnya. Tepatnya menunggui Selena menghabiskan bekal makan siangnya. 

"Masih kenyang, Del. Aku bawa ke kantor aja nanti, yah! Sekalian promosi ke teman-teman" senyum tulus Selena yang menjadi favorit Delia. 

"Bilang aja kamu takut gendut!" ejekan yang selalu berhasil mencairkan suasana di tiap curhat galau mereka. 

"Eh ... emang iya? Aku gendutan? Aku kucel, Del? Makanya Roy sampai sedingin itu?" Mendadak ia tak nyaman dengan dirinya. 

"Apaan, sih? Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, sayang!" hardik Delia gemas. 

"Jadi ... apa yang harus aku lakukan, Del?" 

Tubuhnya bertumpu pada kedua siku di meja. Kepalanya menunduk dalam. Ia takut pada pikirannya sendiri. Bagaimanapun pernikahannya masih banyak, setidaknya untuknya.

"Saranku, jangan menunjukkan sikap curiga yang membuat Roy semakin tak nyaman, tapi mulai lah waspada" Delia sendiri tidak yakin dengan ini, "Lupain kejadian tadi pagi, tapi mulai buka mata lebar-lebar, lihat apa kebiasaan Roy yang baru" 

Terdengar menakutkan dan membingungkan bagi Selena. Bukankah itu yang selama ini dia lakukan? Berpikir bahwa semua dalam kendali, bersikap seolah tidak ada masalah, dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran. 

"Aku perlu cari tahu ke kantornya, gak, Del?" 

"Hah? Buat apa? Jangan mempermalukan dirimu sendiri, sayang!" Delia beranjak dari kursi mengambil kemasan salad. Mata Selena mengikuti kemana Delia bergerak. 

"Selena, percayalah, jika cinta kalian kuat, maka akan selalu ada jalan untuk kembali"

"Kalau ternyata cinta itu tak lagi untukku?" suaranya terdengar parau. 

"Lepaskan. Jangan terpaksa tinggal hanya untuk saling menyakiti" 

***

"Bu Lena, salad buahnya enak! Beli dimana?" Rani, rekan kerjanya menghampiri kubikelnya. 

Delia sengaja menambah salad buah beberapa kemasan lagi dan menolak untuk dibayar. 

"Aku tahu gimana pusingnya berhadapan dengan tumpukan lembar invoice dan berjam-jam di depan monitor. Mengunyah mencegah kejang otak, betul gak?" 

Keduanya tertawa lepas saat ingat kesibukan di kantor. 

"Itu dari Delia, tadi aku main ke tokonya sebentar" jawab Selena menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia selalu berusaha menatap lawan bicaranya meski sedang berbincang hal sederhana. 

"Oiya? Apa kabar Bu Delia?" Rani antusias mendengar nama Delia. Beberapa rekan kerja yang lain ikut menimpali dari kubikel masing-masing. Delia yang ramah, cerewet dan selalu ingin hasil kerja yang maksimal. 

Obrolan mereka berhenti saat pintu masuk utama terbuka, Harris memasuki ruangan. Pandangan bertubrukan mata dengan Selena. 

"Selena ...." panggil Harris begitu menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya. 

"Saya, pak" Sebentar saja yang dipanggil sudah berdiri di pintu masuk ruangan khusus manager.

"Ini apa?" jari panjangnya menunjuk kotak salad di mejanya. 

"Oh, salad buah, pak. Saya yang taruh disitu. Dicoba ya, pak!" Selena menghampiri meja Harris. Masih dengan posisi berdiri menjelaskan salad buah pemberiannya. 

Selena menutupi rasa canggung karena tubrukan kemarin. Ia harus tetap bekerja dengan profesional, toh dia tidak dirugikan malah bermimpi aneh. Aneh? 

"Ada sendok yang bisa saya pakai?" Harris masih belum mengalihkan pandangannya dari wajah lawan bicaranya. 

"Sebentar, pak" 

Berjalan perlahan kembali ke kubikelnya dan mengambil sendok di laci meja. 

"Ini, pak" 

Sendok diletakkan persis di atas kotak salad. Harris sudah fokus dengan laptopnya. 

***

Seisi ruangan berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Sesekali terdengar obrolan tentang update pembayaran pelanggan yang mereka handle. Saling berbagi informasi tentang kebiasaan sistem pembayaran si pelanggan.

Apalagi kalau sudah menjelang berakhirnya jam kerja, Selena fokus menarik laporan kerja timnya dari sistem database untuk dibuatkan update daily report. Itu salah satu tugasnya sebagai supervisor collection di perusahaan ini. 

Umur kerjanya sudah terbilang lama, lima tahun. Namun untuk posisi supervisor baru dijalaninya dua tahun terakhir. Ia menikmati tugasnya yang bertambah dan berusaha meningkatkan performa kerja. 

Awalnya Roy tidak setuju dengan promosi jabatan Selena. Khawatir Cheryl tidak terurus, alasan klise. Meski sempat terjadi pertengkaran kecil, Roy mengijinkan Selena menerima promosi itu. 

Cheryl seolah mengerti isi hati mamanya. Ia bertumbuh dengan sehat dan jarang sakit. Jam tidurnya teratur, melahap habis setiap makanan yang sudah disediakan, dan aktif. Pertumbuhan yang sesuai dengan usianya membuat Selena semakin semangat bekerja. 

Sejujurnya ia tidak menargetkan apapun dalam dunia kerjanya. Tidak pula berambisi mengejar jabatan. Memiliki kesibukan di rumah dan di kantor sama saja baginya. Yang terpenting ia bisa menjadi berguna di setiap perannya. 

Pun begitu dengan besaran kompensasi dan benefit yang ia dapat. Sejauh lima tahun, ia dihargai sesuai performa kerja. Perusahan tempat ia bekerja sangat fair akan hal itu.

Rekan kerja dan atasannya menjadi support system yang solid. Terutama sejak Harris menjadi managernya, banyak kebijakan yang dibuat untuk mempermudah teknis kerja timnya. Meski jarang terlibat obrolan yang bersifat personal, semua bawahan Harris, termasuk dirinya nyaman dengan pekerjaan masing-masing. 

"Kalian gak bosan pulang malam melulu?" tanya Harris saat meeting mingguan mereka, "Saya heran kerjaan kalian itu apa saja sampai harus pulang malam" 

Selanjutnya setiap orang dimintai daftar tugas dan daftar nama pelanggan yang di-handle. Membuat timetable harian dan mingguan selama 3 bulan kehadiran Harris. 

Akhirnya mereka menemukan teknis kerja yang lebih efektif dengan dibantu kebijakan oleh Harris. Target pekerjaan tercapai dan berusaha tidak pulang lewat malam. Sangat melegakan untuk ibu anak satu seperti Selena. 

Kesibukannya terhenti sejenak saat layar ponselnya berkedip. Terlihat sebuah pesan masuk dan pukul 17.00 di layar. Mungkin Roy yang memberi kabar, pikir Selena. 

[Dijemput seperti biasa kan, sayang? Mau makan malam diluar?] 

Spontan bibirnya membentuk selarik senyum.

[Iya. Kabari kalau sudah sampai di lobby, ya! Makan malam bawa Cheryl, boleh?] 

Seperti biasa, tak lupa menambahkan emoticon kiss diakhir pesan. Roy masih online dan terlihat mengetik. 

[Oke, sayang] 

Selena hampir memekik senang jika saja tak menyadari Harris yang bersiap pulang. Kali ini jangan ada drama ketinggalan lagi Selena! 

Semoga makan malam kali ini menjadi awal yang baik untuk memperbaiki komunikasi mereka yang memburuk akhir-akhir ini. Benar kata Delia, ia harus melupakan tentang bercak putih di celana dalam Roy, tapi juga harus mulai waspada dengan kebiasaan baru suaminya. 

Mungkin saja ajakan makan malam kali ini hanya pengalihan. Apapun itu, Selena harus menyiapkan diri. 

Satu persatu rekan kerjanya pamit setelah Harris berlalu. 

"Bu, dijemput? Saya duluan, ya!" Rani menjenguk kubikel kerja Selena. 

"Oh ya ... hati-hati di jalan, sampai ketemu besok!" sahut Selena sambil merapikan meja kerjanya. 

Roy sudah menunggu, Selena bergegas turun ke lobby. Sampai lupa touch up, disempatkannya mampir ke toilet lobby memulas lipstik dan merapikan rambut ikal sepunggungnya. 

Lagi-lagi karena ingin segera bertemu Roy, langkah panjangnya yang terburu-buru membuatnya menubruk punggung seseorang yang baru keluar dari toilet pria. 

"Aduh! Maaf ...." tubuhnya mengambil jarak dengan pria di hadapannya. Matanya membola saat melihat Harris lah pemilik punggung itu. 

"Kamu buru-buru?" Harris yang tampak baik-baik saja mundur selangkah memberi ruang untuk Selena. 

"Iya, pak. Maaf, ya" Selena segera berlalu dengan sedikit membungkuk di depan Harris. Ia merasa bodoh, terlalu tergesa-gesa, akhirnya berakhir konyol. Kenapa Pak Harris lagi, sih? Mati gue! 

Roy menyambutnya dengan senyuman, sedikit belaian saat menyelipkan rambut halus Selena ke belakang telinga. 

"Sudah reservasi tempat makannya, sayang? Minta disediain high chair untuk Cheryl, ya!" tanya Selena dengan semangat. Ia terlihat sangat antusias. 

"Belum, sayang. Setelah ku pikir-pikir lagi, waktunya terlalu malam untuk bawa Cheryl keluar rumah. Gimana kalau Sabtu aja. Kan ngantor setengah hari, kita bisa bawa Cheryl main dulu. Gak lama lagi, kog! Dua hari lagi sudah Sabtu!" bujuk Roy santai. 

Selena termangu, hatinya seperti dicubit. Perih. Ekspresinya spontan kembali ke mode awal. Datar. Lebih baik diam saja ketimbang semakin disakiti.

Mereka tiba di rumah tepat waktu. Cheryl dan Kak Ipah sudah menunggu di teras sambil bermain. Selena memilih duduk di teras, berbincang sebentar dengan Kak Ipah sebelum berpamitan pulang. 

Memasuki rumah, tidak terlihat keberadaan Roy di ruang keluarga. Selena berusaha tidak peduli. Menyibukkan diri di dapur sambil sesekali bercanda dengan Cheryl. Mungkin masih ada kesempatan saat makan malam, harap Selena. 

Cheryl menggosok-gosok matanya, mulai rewel karena mengantuk. 

"Cheryl mama antar ke kamar, ya!"  

Baru saja sampai di lantai 2, Roy muncul dari kamar. Berpakaian kasual dan sudah wangi. Ia kaget menyadari kehadiran Selena. 

"Cheryl, papa ijin keluar sebentar, ya!" Roy mengambil Cheryl dari gendongan Selena, membawanya ke kamar. 

Selena mematung, membiarkan Roy berdua dengan Cheryl, hatinya serasa hangat. Ini yang selalu ia tunggu, momen quality time Roy dengan bayi mereka. 

"Mama, buku dogengnya yang mana?" panggil Roy setengah berteriak. 

Meski mengantuk, Cheryl masih sanggup menepuk kedua tangannya melihat Selena membuka buku. 

"Sayang, dogengnya dibacain sama mama, ya! Papa belum mahir" Roy menarik tubuh Selena duduk di ranjang dekat Cheryl. 

Selena mendongak ke Roy, dahinya mengerut. 

"Kamu mau kemana? Makan dulu, aku sudah siapin makan malam" 

"Ini juga janji makan malam dengan calon klien yang meeting tadi pagi, sayang. Aku berangkat, ya!" Roy mengusap pucuk kepala Selena dan menjauh ke pintu. 

"Roy, tunggu!" Selena tidak tahan lagi.

"Nanti, ya, ngobrolnya. Aku janji pulang cepat" suara Roy mengecil dari balik pintu.

Tangisan Cheryl menghentikan langkah Selena di tangga. Ah, dia lupa Cheryl belum tidur nyenyak. Cepat ia kembali ke kamar Cheryl. Usapan halus di punggung menjadi andalan Selena agar bayinya kembali tidur. 

Saat Cheryl sudah tenang, samar terdengar dering ponsel dari kamar mereka. Bergerak perlahan dari ranjang, Selena mencari asal bunyi itu. 

Dering ponsel milik Roy, seingatnya diatur untuk panggilan memalui aplikasi WA. Matanya menemukan ponsel terletak diatas tumpukan baju kerja Roy. 

Panggilan berakhir sebelum Selena sempat menjawab. Sekilas terlihat pop up pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di kontak. 

[Sayang, jangan terlambat!]

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berakhirnya Janji Setia Empat Puluh Tahun
8.7
Sebuah rahasia kelam terungkap saat seorang istri membersihkan laptop suaminya dan menemukan ribuan video vulgar sang suami bersama sahabat baiknya sendiri. Selama empat puluh tahun, ia memercayai alasan suaminya yang mengaku sakit setelah ia melahirkan, hingga mereka hanya menjalani pernikahan platonis tanpa keintiman fisik. Setelah seumur hidup berkorban, bekerja keras, dan membesarkan anak-anak mereka, wanita ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa seluruh hidup dan janji setia suaminya hanyalah sebuah kebohongan besar yang terencana.
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Mayzura terjebak rencana pernikahan dengan pria tua akibat utang ayahnya. Ketika mencoba kabur bersama sang kekasih, ia diserang penjahat sebelum akhirnya diselamatkan oleh Sadewa. Sadewa kemudian didelegasikan sebagai pengawal pribadi Mayzura menjelang hari pernikahan. Siapa sangka, interaksi intens justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka. Sanggupkah Sadewa melindungi Mayzura di tengah rintangan yang menghadang? Apa rahasia besar yang disembunyikan sang bodyguard?
Sampul Novel MAWAR EMAS SANG PEWARIS
9.2
Sebagai pewaris tunggal bisnis keluarganya, Lily terjebak perjodohan bisnis demi menguasai pasar global. Pernikahan tanpa cinta itu murni demi kekuasaan. Namun, segalanya rumit ketika Lily jatuh hati pada asisten pribadinya sendiri. Pemuda cerdas itu hidup dalam kemiskinan, memicu dilema besar dalam diri Lily. Kini, ia harus memilih antara menunaikan tanggung jawab warisan keluarga atau mengejar cinta tulusnya.
Sampul Novel Puber Kedua Sang Letnan Jendral
8.6
Kehidupan menjanda Nina kembali berwarna sejak mengenal Baskara, Letnan Jenderal TNI sekaligus calon besannya. Kelembutan dan kepedulian sang jenderal yang sering mampir ke warungnya sukses membuat Nina terpikat. Namun, kebahagiaan itu seketika runtuh saat Nina melihat Baskara di televisi bersama seorang selebriti terkenal. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, Nina mulai meragukan ketulusan serta niat sebenarnya dari sang perwira tinggi selama mendekatinya.
Sampul Novel Putri Yang Ditukar
8.8
Dibuang sejak kecil ke panti asuhan, Syaqilla harus menghadapi kenyataan pahit saat ibu kandungnya kembali. Alih-alih kasih sayang, kepulangan sang ibu justru membawa penderitaan baru. Dua tahun kemudian, ia bahkan tega menjual Syaqilla kepada rentenir demi melunasi tumpukan utangnya. Mengapa sang ibu begitu membencinya hingga merusak masa depannya? Kini, Syaqilla terjebak dalam dilema batin antara bakti anak dan kepedihan yang mendalam.