APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Punya Wanita Idaman Lain

Suamiku Punya Wanita Idaman Lain

Kelahiran anak pertama yang dinanti justru menjadi awal keretakan pernikahan Selena dan Roy. Akibat komunikasi yang memburuk sejak masa kehamilan hingga melahirkan, hubungan mereka kian mendingin. Di tengah renggangnya jarak di antara mereka, Roy yang didorong hasrat seksual tidak biasa memilih untuk mendua. Ia tenggelam dalam perselingkuhan dengan wanita lain, hingga tega menelantarkan kewajibannya demi ego pribadi.
Bab
Bagikan

Bab 1

[Sayang, aku pulang agak malam, kamu dan Cheryl makan duluan aja, ya!]

Selena menghela nafas dengan berat. Pesan dari suaminya, Royano Budiman, menganggu suasana hatinya yang bersemangat merampungkan laporan kerja hariannya. 

Diliriknya sudut kanan bawah laptopnya, pukul 17.15. Suaminya selalu memberi kabar menjelang jam pulang kantornya. Entah sengaja atau memang baru sempat memberi kabar. 

Selena berniat acuh, tak ingin membalas pesan itu. Jarinya bergerak lincah pada keyboard laptop, melakukan pemeriksaan ulang pada setiap sheet dan file laporannya. Namun matanya tidak berhenti melirik ponsel. 

[Iya, sayang. Jangan telat makan malam, ya! Oiya, kalau bisa hari ini bacain buku dongeng baru untuk Cheryl.]

Ditambahkannya emoticon kiss diakhir pesan. Berharap suaminya mengerti kerinduan hatinya membagi waktu bersama dengan Cheryl. 

Ah. Tidak seharusnya aku takut meminta perhatian dari suami sendiri, bagaimanapun ini demi Cheryl, buah cinta kami. Bayi berumur  3 tahun yang sedang bersemangat mengeksplor dunianya. 

Selena memijit batang hidungnya perlahan. Ia mulai jenuh bersikap seolah semua baik-baik saja. Ia enggan mengakui pernikahan mereka semakin dingin, meski baru akan genap 4 tahun bulan depan. 

Dua menit berlalu sejak Selena membalas pesan Roy, tidak ada balasan lagi. Selalu begitu. 

"Apa lagi yang kau harapkan, Selena? Jangan menunggunya pulang!"

Monolog yang membantunya melepaskan rasa sesak tertahan di dadanya. Ia bergegas untuk pulang. Tangannya membereskan laptop kerja dan merapikan meja. Ia terbiasa meninggalkan meja dan kubikel kerjanya dalam keadaan bersih dan rapi. 

Sudah pukul 18.00, ia perlu ke toilet sebelum memesan taksi online. 

"Lena, belum pulang?" Harris, managernya, menyapa dari ruangannya. 

"Loh! Bapak masih ada?" Selena memundurkan langkahnya ke arah pintu ruangan. 

"Baru selesai zoom meeting dengan direktur" seru Harris tanpa menoleh ke arah Selena berdiri.

"Semangat, pak! Ada kebijakan baru atau kerja tambahan, pak?" Ia masih berdiri di pintu. 

"Nothing, masih sama dengan minggu lalu" jawaban pendek dari Harris membuat Selena kehabisan akal. 

Ia berlalu setelah berpamitan. Mustahil membuat percakapan hangat dan panjang dengan managernya. Baik berdua maupun dalam tim, managernya konsisten pelit berbicara, bahkan menghindari kontak mata. 

Selena mengingat lagi hari pertama Harris bergabung di kantor, itu dua tahun yang lalu. Saat itu Selena ditunjuk oleh direktur untuk membawa Harris berkenalan ke seluruh departemen. Candaan teman-teman ditanggapi Harris dengan senyum tipis dan 'oh' saja. 

Meski sejauh ini belum pernah ada masalah yang berarti dalam pekerjaan dengan Harris, Selena sangat berhati-hati agar tetap nyaman dalam bekerja. Stigma bos laki-laki manipulatif dan suka melecehkan staff perempuan tidak ada dalam tampilan harian Harris. 

Selena bergegas dari toilet setelah menerima panggilan dari supir taksi online pesanannya. Digenggamnya tas kerja di tangan kanan, shoulder bag kesayangan yang dihadiahkan Roy saat ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. 

"Yaah! Lupa lagi!" Selena mendengus kesal, tas bekalnya masih tertinggal di meja kerja. Ia berlari kecil sambil menulis pesan singkat ke supir agar menunggu. 

"Bugh!" Tubuhnya menabrak seseorang dan hampir kehilangan keseimbangan. 

"Kamu bisa lebih hati-hati?" Harris membantunya berdiri tegak. Telapak tangannya yang besar menempel di punggung dan panggul Selena. Alih-alih menegakkan posisi berdiri, Selena malah memeluk Harris karena posisinya yang juga belum seimbang. 

Terlalu asik dengan ponsel sambil berlari kecil membuatnya menabrak Harris di pintu masuk ruangan departemen mereka. 

"Kamu gak papa? Ada yang sakit?" Harris membuat jarak sambil memasukkan tangan ke kantong celananya. Matanya lurus menatap Selena. 

Belum hilang degub jantung karena panik, Selena malah semakin gugup karena tatapan mata Harris. 

"E ... saya gak apa-apa, pak. Saya minta maaf" Sedikit nyeri di dahinya, sepertinya akibat benturan dengan dagu Harris. 

Menyadari kecanggungan yang harus diakhiri, Selena mengangguk pamit, "Tas bekal saya ketinggalan, pak. Saya buru-buru karena taksi pesanan saya sudah di lobby" 

Ia berlalu dari hadapan Harris tanpa menunggu sahutan pria itu. Rasa gugup makin menjadi saat ia lihat Harris masih berdiri memandanginya. 

"Pak, saya duluan. Saya pamit kedua kali, nih!" erang Selena pelan dengan senyum. Harris melangkahkan kakinya mengikuti Selena. 

Keduanya membisu saat mengantri lift dan turun ke lobby. Selena yang tak ingin lebih canggung lagi langsung menuju taksi pesanannya. 

"Huft ... apes banget, sih! Untung pak Harris gak marah" Selena ingat Harris terdesak ke pintu kaca saat tabrakan tadi. Diusapnya dahi yang masih perih, tak hanya karena benturan juga karena janggut kasar Harris yang baru tumbuh menggesek dahinya. 

'Kepalanya tadi nabrak kaca, dong!' Mulut Selena membulat. Ia ingat lagi, Harris tampak baik-baik saja tadi bahkan menatapnya lama. Tatapan yang membuat Selena gugup, rasa khawatir terpancar dari netra coklat tua itu. 

Ada buncah hangat di dadanya, sudah lama ia tidak melihat hal itu di mata Roy. Sejak hamil dan melahirkan Cheryl ada jarak tercipta. Entah sejak kapan mereka saling acuh dan abai, tidak ada lagi pelukan hangat dan obrolan enak di rumah. Ia rindu tatapan sayang Roy. 

Matanya mendadak memburam. Genangan air bersiap jatuh dari sudut matanya. Tidak, ia tidak boleh menyerah. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Malah akan membuatnya tampak semakin konyol di depan Roy. 

Diusapnya lengannya perlahan. Pelukan Harris terekam jelas dalam memorinya. Kedua telapak tangan yang menempel menopang punggung dan panggulnya, juga perut dan dada Harris di dadanya. Ia bahkan merasakan paha kokoh Harris berada diantara kedua pahanya saat akan terjatuh. 

Selena memejamkan mata, menahan gejolak yang muncul karena ingatannya. Ia malu dengan dirinya, tak seharusnya tubuhnya merespon cepat hanya karena pelukan Harris.  Tubuhnya berdenyut, ia butuh pengalihan. 

Dipandanginya jalanan yang padat dengan kendaraan serupa. Jam pulang kantor memang tak ayal membuat macet. Semua orang ingin segera tiba di rumah bertemu dengan keluarga atau sekedar melepas penat dari sibuknya pekerjaan. Sama hal dengan dirinya, selalu ingin tiba lebih awal di rumah, memeluk Cheryl dan main berdua. Sambil menyiapkan makan malam untuknya dan Roy, andai Roy mau pulang lebih awal.

Jalanan kembali lancar saat memasuki area perumahan tempat tinggal mereka. Selena berusaha tetap optimis dan bersemangat. Ia tak ingin Cheryl bertemu dengan wajah muram atau lelahnya. Senyum nakal terbentuk di bibirnya, ia punya rencana dipenghujung  malam. 

Bunyi pesan masuk di ponselnya tepat saat taksi berhenti di depan pagar rumahnya. Selena merogoh tas dan memberikan sedikit tip untuk si supir. 

Kak Ipah membukakan pagar dengan sigap dan menyapa dengan riang, seriang Cheryl yang sudah duduk manis di sofa teras. 

"Halo, mama ...." teriak Cheryl yang tetap duduk menyaksikan Selena mencuci tangan di wastafel pojok teras. 

"Haii ... Cheryl, anak mama ... tunggu, ya!" 

Cheryl semakin girang melihat mamanya berjalan ke arahnya. Tangannya bertepuk lebih cepat dengan celotehan lucu dari bibirnya. 

Selena memainkan gerakan cilukba sambil menirukan lompatan kecil Cheryl. Keduanya semakin ceria dengan berpelukan dan saling cium. Cheryl menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher mamanya. Posenya terlihat semakin manja dan manis saat tangannya memeluk erat leher mamanya. 

"Cheryl rewel hari ini, kak? Makannya banyak, gak?" 

Selena akhirnya duduk setelah Cheryl tenang dalam pangkuannya. 

"Anak baik Cheryl-nya, mama!" Kak Ipah, baby sitter yang dipercaya Selena sejak Cheryl bayi menirukan gerakan cilukba saat menjawab pertanyaan majikannya. 

"Kak Ipah sudah makan malam? Lauk tadi siang cukup, kan?" 

"Aman, aku sudah kenyang, Lena!" ujarnya sambil meletakkan tas Selena ke atas meja. 

"Seriusan? Masuk, yuk! Aku masakin mie goreng, kita makan bareng" Selena berdiri dan membawa Cheryl ke dalam rumah, Kak Ipah mengekor. 

"Aku langsung pulang, ya, Lena! Mama nitip belanjaan tadi" Kak Ipah sibuk dengan tas dan jaketnya. 

"Oh ... itu yang di kulkas, kalo butuh diambil aja, kak!" Selena meletakkan Cheryl dia karpet yang sudah dipenuhi mainan. 

"Makasih, Lena. Mama nitip beli benang untuk rajutannya." Selena mengantar Kak Ipah sampai ke gerbang. 

Seperti biasa Selena akan menunggui hingga sepeda motor Kak Ipah berlalu dari blok perumahan mereka dan menutup gerbang. 

Dikuncinya pintu dan berlalu ke dapur setelah memastikan Cheryl nyaman dengan mainannya. Ia butuh sedikit waktu untuk membersihkan diri dan mengisi perut. 

Urusannya harus selesai sebelum jam tidur Cheryl. Ia memilih memotong buah terlebih dahulu, mencicipinya dan menyiapkan bahan untuk tumisan sayurnya. 

Baru saja tumisan sayurnya matang, Cheryl terdengar mendekat ke dapur sambil menangis. Selena berjongkok menunggu putrinya tiba di pelukannya. 

"Cheryl bosan? Gak ada mama yang nemenin main, ya?" Digendongnya putri semata wayangnya menuju meja makan. 

"Mau temani mama makan?" Cheryl menurut saat didudukkan di high chair di sebelah mamanya. Tangannya menggenggam potongan buah melon. 

Ditariknya nafas lalu melepaskannya perlahan. Ia butuh suasana hati yang tenang saat makan. Hal yang sulit didapatkan oleh ibu-ibu yang memiliki batita. Seperti Cheryl yang selalu ingin dekat dengannya, membuatnya tidak leluasa mengerjakan urusan domestik rumah tangga. 

Ia pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga, sejak usia kandungannya lima bulan. Kesibukan di kantor dan adaptasi dengan kehamilan pertamanya membuatnya tidak sanggup mengerjakan urusan rumah. 

Hingga usia Cheryl setahun, Roy meminta Selena berhenti menggunakan jasa ART. Roy beralasan kurang nyaman dengan ART yang tinggal bersama di rumah. 

Sebenarnya Selena masih membutuhkan jasa asistennya, namun Roy kerap menuduhnya manja dan tidak mau belajar mandiri. Pertengkaran tak terelakkan dan selalu berakhir dengan aksi bisu Roy. Dengan berat hati Selena memberhentikan asisten yang usianya terpaut 5 tahun dengannya.  

Mangkoknya bersih tak bersisa, Cheryl tampak menguap dengan potongan melon di mulutnya. Putrinya tidak mengunyah buah karena sudah mengantuk. Ia urung untuk mandi. 

"Aduh, manisnya anak mama. Nungguin mama makan, ya!" Selena menggendong Cheryl ke kamar di lantai dua. Dengan telaten Selena membersihkan bekas buah dari tangan dan mulut putrinya, juga mengganti pakaian yang basah karena terkena liur. 

"Waktunya membaca buku iniiii ..." pekik Selena pelan sambil mengayunkan buku tebal berisi cerita bergambar di hadapan Cheryl yang sudah rebahan di kasur. 

Membacakan buku menjadi kegiatan rutin untuk Cheryl sejak lepas ASI setahun lalu. Selain memberi stimulus melalui gambar dan cerita, Cheryl lebih mudah tertidur tanpa drama rewel. Sehingga Selena masih memiliki cukup waktu untuk dirinya dan urusan rumah tangga. 

Terdengar dengkuran halus, Selena meletakkan buku perlahan dan menutup tubuh putrinya dengan selimut. Ia beranjak perlahan dan mencari letak tasnya. 

Bunyi pesan masuk di ponselnya. Dibukanya layar benda pipih itu. 

[Aku gak janji, sayang. Kamu dengan Cheryl aja, ya!] 

Balasan dari Roy pukul 18.45. 

[Sayang, tidur duluan ya. Aku pulang larut. Nanti aku cerita, ya!] 

Pesan dari Roy lagi, baru saja, pukul 20.30.

Selena terduduk lemas. Rencananya menggoda Roy gagal. Hatinya lagi-lagi kecewa, Roy bahkan tidak menanyakan keadaannya. 

Sudut matanya melirik chat room Roy, terlihat tulisan online di status Roy. Jarinya mengetik sejumlah kata namun urung dikirimnya. Ia malas berdebat. 

Ditutupnya chat room dengan Roy. Dahinya mengernyit melihat pesan masuk diurutan kedua. 

[Selena, dahimu tidak apa-apa? Saya kirimkan salep untuk mengurangi memarnya?]

Pesan dari Harris pukul 18.45.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berakhirnya Janji Setia Empat Puluh Tahun
8.7
Sebuah rahasia kelam terungkap saat seorang istri membersihkan laptop suaminya dan menemukan ribuan video vulgar sang suami bersama sahabat baiknya sendiri. Selama empat puluh tahun, ia memercayai alasan suaminya yang mengaku sakit setelah ia melahirkan, hingga mereka hanya menjalani pernikahan platonis tanpa keintiman fisik. Setelah seumur hidup berkorban, bekerja keras, dan membesarkan anak-anak mereka, wanita ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa seluruh hidup dan janji setia suaminya hanyalah sebuah kebohongan besar yang terencana.
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Mayzura terjebak rencana pernikahan dengan pria tua akibat utang ayahnya. Ketika mencoba kabur bersama sang kekasih, ia diserang penjahat sebelum akhirnya diselamatkan oleh Sadewa. Sadewa kemudian didelegasikan sebagai pengawal pribadi Mayzura menjelang hari pernikahan. Siapa sangka, interaksi intens justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka. Sanggupkah Sadewa melindungi Mayzura di tengah rintangan yang menghadang? Apa rahasia besar yang disembunyikan sang bodyguard?
Sampul Novel MAWAR EMAS SANG PEWARIS
9.2
Sebagai pewaris tunggal bisnis keluarganya, Lily terjebak perjodohan bisnis demi menguasai pasar global. Pernikahan tanpa cinta itu murni demi kekuasaan. Namun, segalanya rumit ketika Lily jatuh hati pada asisten pribadinya sendiri. Pemuda cerdas itu hidup dalam kemiskinan, memicu dilema besar dalam diri Lily. Kini, ia harus memilih antara menunaikan tanggung jawab warisan keluarga atau mengejar cinta tulusnya.
Sampul Novel Puber Kedua Sang Letnan Jendral
8.6
Kehidupan menjanda Nina kembali berwarna sejak mengenal Baskara, Letnan Jenderal TNI sekaligus calon besannya. Kelembutan dan kepedulian sang jenderal yang sering mampir ke warungnya sukses membuat Nina terpikat. Namun, kebahagiaan itu seketika runtuh saat Nina melihat Baskara di televisi bersama seorang selebriti terkenal. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, Nina mulai meragukan ketulusan serta niat sebenarnya dari sang perwira tinggi selama mendekatinya.
Sampul Novel Putri Yang Ditukar
8.8
Dibuang sejak kecil ke panti asuhan, Syaqilla harus menghadapi kenyataan pahit saat ibu kandungnya kembali. Alih-alih kasih sayang, kepulangan sang ibu justru membawa penderitaan baru. Dua tahun kemudian, ia bahkan tega menjual Syaqilla kepada rentenir demi melunasi tumpukan utangnya. Mengapa sang ibu begitu membencinya hingga merusak masa depannya? Kini, Syaqilla terjebak dalam dilema batin antara bakti anak dan kepedihan yang mendalam.