
Suamiku Pulang, Tapi Aku Menyesal
Bab 5
Aku bahkan tidak pernah biarkan dia minum setetes alkohol pun.
Dengan susah payah aku bantu dia jaga kesehatan pencernaannya.
Tapi saat ini, agar “Kesayangannya” tersenyum, dia minum bir tanpa ragu.
Tiba-tiba aku tidak tahan lagi.
Ternyata saat orang sangat marah, mereka tidak mampu tetap tenang, berpikir rasional atau pertimbangkan untung ruginya.
Dengan otakku yang bergemuruh, aku menyerbu maju.
Merebut gelas dari tangan Hendra dan membantingnya ke lantai.
“Bajingan!”
Aku berteriak.
Hendra menatapku dengan kaget.
“Ah…”
Vianie tampak ketakutan, dia mundur dua langkah dan terjatuh. Secara tak sengaja, panci berisi kuah mendidih di sebelahnya pun ikut jatuh, minyak panas memercik ke wajah dan dahinya.
Dia berteriak.
Hendra terkejut dan berteriak, “Vianie!”
Semua orang berkumpul di sekelilingnya.
Tiba-tiba bahuku terdorong dengan kekuatan yang dahsyat.
Aku kehilangan keseimbangan, tersandung dan jatuh, dahiku terbentur sudut meja.
Salah satu anak muda menatapku dengan tajam.
“Dari mana datangnya wanita gila ini! Jangan kira bisa kabur setelah lukai orang!”
Aku menyentuh kepalaku dan merasakan cairan hangat mengalir turun dari kepalaku, mengaburkan pandanganku.
Dalam bayangan darah, aku melihat Hendra berlari ke arahku dengan panik.
Aku tak peduli dan berteriak dengan marah, “Aku sudah lihat semua! Aku sudah lihat foldernya!”
“Kalian berdua bajingan! Kalian menjijikkan!”
Dalam tiga bulan terakhir, setiap kali aku teringat apa yang terjadi, rasanya seperti mimpi.
Mimpi buruk.
Mimpi yang menakutkan.
Akibat tekanan yang kuterima, ditambah benturan di kepala, setelah berteriak keras, aku pun pingsan karena marah.
Ketika aku terbangun di rumah sakit, aku lihat Hendra duduk di sebelahku, kepalanya tertunduk.
Aku berbicara dengan lemah, “Pergi!”
“Jangan muncul di hadapanku lagi, menjijikkan!”
Tubuh Hendra bergetar, dia menatapku dengan wajah berkumis tak terurus. Lalu dia bicara dengan suara serak, “Caroline, jangan marah. Hal ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku ulurkan tanganku, ambil termos di atas meja dan melemparkannya kepadanya.
Dia tidak menghindar, kepalanya terkena termos itu.
Termos itu pun jatuh ke lantai dengan suara “bruk”.
Dia menutup mata pasrah, membungkuk untuk ambil termos itu, lalu menghela napas dan berkata, “Terserah kamu mau pukul atau marahin aku. Karena masalah sudah jadi gini, aku nggak akan bela diri lagi. Aku cuma mau bilang, aku dan dia nggak pernah lewat batas!”
Aku menatapnya sambil menggertakkan gigiku, “Jadi? Aku harus puji kamu atas moralmu yang tinggi? Terima kasih karena nggak berhubungan seks?”
Hendra menatapku dengan ekspresi sedih.
“Apa kamu harus bicara sekasar itu?”
Aku menekan telapak tanganku erat di bawah selimut, berusaha menahan diriku agar tidak gemetar.
“Emangnya kata-kataku sekasar perbuatan kalian itu?”
“Aku mau muntah tiap kali kuingat apa yang kalian berdua tulis! Pura-pura polos lagi! Hubungan plato apanya! Kalian itu tetap pasangan bajingan!”
Dulu, ketika baca novel atau nonton sinetron, saat lihat tokoh-tokoh perempuan nangis histeris dan ribut-ribut karena diselingkuhi suaminya, aku selalu merasa mereka terlalu biarkan emosi mereka meluap. Mereka tidak cukup tidak tenang dan tak sopan.
Aku merasa, ‘itu cuma cowok, kalau sudah kotor, buang saja.’
Tapi sekarang, saat hal itu benaran terjadi padaku, aku malah tak bisa kendalikan diri.
Aku dipenuhi amarah dan rasa pengkhianatan. Dadaku serasa mau meledak. Aku ingin sekali ucapkan segala kata kasar pada mereka. Ingin sekali kuseret mereka dan hancur bersama!
Anda Mungkin Juga Suka





