
Suamiku Pulang, Tapi Aku Menyesal
Bab 2
Pria di belakangku berteriak dengan marah dalam kegelapan, suaranya melengking.
“Untuk apa ungkit dia? Untuk apa?”
“Aku sudah kembali! Aku dan dia telah terima hukuman yang pantas kami terima! Kamu sudah dapat apa yang kamu inginkan!”
“Caroline, kamu mau apa lagi?!”
Aku tidak ingin apa pun.
Aku cuma tidak tahan dan merasa sedih.
Aku cuma ingin merobek topeng palsu yang menutupi hidupku.
Aku dan Hendra adalah teman sekelas saat kuliah.
Kami bertemu dan jatuh cinta di sebuah acara sekolah, menikah setahun setelah wisuda dan melahirkan putri kami, Melisa Prananta di tahun berikutnya.
Semuanya berjalan lancar dan alami.
Aku ekstrovert, lincah, ceria dan suka berinteraksi dengan orang lain.
Dia introvert dan kemampuan risetnya berada pada level teratas dalam industri ini, tapi karena dia tidak pandai bersosialisasi, kariernya tidak mengalami kemajuan.
Aku merasa bakatnya sangat disia-siakan, jadi dengan keterampilanku, aku berhasil mengenal pimpinannya yang bernama Stev Lorenzo, tentu saja dengan bantuan pimpinanku.
Selama itu, aku bangun pagi tiap hari untuk buat kue kering dan melintasi setengah kota untuk antarkan kue itu pada ibu dari Ketua, Bu Nia Lorenzo yang sangat suka kue kering.
Tapi Hendra sangat memandang rendah kelakuanku ini.
“Semua orang bisa lihat kemampuanku. Ngapain kamu lakukan hal memalukan gini? Kalau nanti kamu gagal, aku hanya bakal malu!”
Aku dengan hati-hati melindungi harga dirinya sebagai peneliti, dengan tulus mengakui aku telah gegabah, lalu berkata sambil tersenyum, “Nggak apa-apa kalau gagal. Anggap saja aku hormat pada orang yang lebih tua. Lagian kenal pimpinan gitu juga berguna untuk karierku.”
Pak Stev mengagumi kegigihanku, apalagi kemampuan Hendra memang berbakat luar biasa, dia pun mendukungnya di kompetisi rekrutmen penting. Setelah lima tahun tersia-siakan di lembaga penelitian, Hendra akhirnya dapat promosi yang pantas.
Gaji dan bonusnya naik, tapi karena dia harus fokus pada penelitian dan manajemen sekaligus, dia jadi makin sibuk.
Tidak ada yang urus rumah, Melisa juga sedang dalam masa pertumbuhan yang penting.
Setelah diskusi, kami putuskan aku akan undurkan diri dari jabatan utamaku dan terima kerjaan yang lebih mudah, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk urus keluarga dan putri kami, sekaligus dukung perkembangan kariernya.
Aku selalu merasa diriku sangat beruntung.
Setiap aku pergi ke taman kanak-kanak untuk jemput Melisa, para ibu yang berkumpul untuk mengobrol selalu merasa bahwa keluargaku adalah model keluarga bahagia modern:
Cinta pertama yang berhasil, suami sukses dalam kariernya, punya pekerjaan yang santai dan putri yang periang dan imut.
Aku merasa bahagia dan puas.
Meski terkadang aku bisa sedih saat melihat rekan kerja yang dulu tidak sebaik aku, malah dapat promosi dan naik gaji, tapi aku selalu bilang pada diri sendiri bahwa keluarga adalah kesatuan ekonomi dan takdir. Meskipun aku telah korbankan beberapa hal, itu adalah solusi terbaik untuk keluargaku.
‘Begini sudah cukup.’
Pertama kali aku lihat nama Vianie itu pada laporan penelitian yang ada di meja kerja.
Ada dua nama yang tertulis: [Hendra dan Vianie].
Saat itu aku sedang bawakan teh kesehatan yang kuseduh pada Hendra sambil bercanda, “Nama kalian berdua terdengar cocok. Hanya dengan lihat nama kalian, aku bisa bayangkan cerita drama yang panjang antara cinta dan benci.”
Saat itu, aku begitu terhanyut dalam kebohongan kehidupan, hingga tak menyadari cahaya kelembutan di matanya saat ia menatap kata [Vianie].
“Dia masih lajang, jangan asal ngomong.”
Dia lalu menunduk, menyingkirkan laporan itu dan memperingatkanku dengan suara pelan.
Anda Mungkin Juga Suka





