APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Pengangguran Akut

Suamiku Pengangguran Akut

Farida menjalani pernikahan pelik dengan Adam, suami manja yang malas bekerja. Sejak awal, hubungan mereka tidak direstui oleh Nadia, sang ibu mertua yang gemar menyudutkan Farida. Walau terus dicap sebagai beban, Farida terpaksa meminta bantuan makanan ke rumah Nadia agar bisa bertahan hidup. Di tengah tekanan mertua yang dominan dan kepasifan sang suami, sanggupkah Farida bertahan dalam rumah tangga penuh derita dan konflik ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Tapi aku sudah berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik, Bu," kata Farida.

"Menjadi ibu rumah tangga yang baik? Baik apanya." Nadia menarik ujung bibirnya dengan begitu sengit.

"Ibu rumah tangga yang baik itu nggak pernah ngerepotin," lanjut Nadia.

"Maksud ibu apa? Aku ini istrinya Mas Adam, Bu. Aku hanya meminta hak ku saja sebagai istri tidak lebih." Farida menyelesaikan nada suaranya yang bergetar.

"Sudahlah nggak usah drama pake nangis segala," Adam terlihat tak peduli dengan perasaan Farida yang sudah hancur, sehancur-hancurnya.

Nadia menggeleng melihat Farida yang menunduk menahan air matanya agar tak sampai jatuh. Sepertinya ada rasa heran yang teramat sangat di dalam hati Nadia pada Farida yang tidak bisa dia ucapkan secara langsung.

"Farida, harusnya kamu itu mikir. Adam nggak kerja tapi aku masih bisa menghidupi kamu dan juga anakmu tapi coba kamu lihat dirimu sendiri. Apa kamu bisa nggak merepotkan suamimu terus. Kamu itu masih punya orang tua, mbok minta sama dia. Jangan hanya menuntut suamimu terus." Nadia mendengus kesal.

"Sudahlah Bu. Percuma juga ibu marahin dia. Dia akan tetap seperti itu," kata Adam.

"Hmmm kamu benar juga," ucap Nadia membenarkan kata-kata anaknya.

"Yasudah sekarang kamu ikut ibu ke rumah, nanti ibu kasih beras dan lauk-pauk juga," kata Nadia.

"Makasih ya, Bu." Adam tersenyum pada Nadia.

"Iya, Dam. Pokoknya kamu nggak perlu pikirin apa kata istrimu ini ya. Kamu nggak perlu cari kerja kalo emang belum ada." Nadia mengusap pundak Adam.

"Ya Allah, beginikah cara ibu mendidik dan mendewasakan Mas Adam selama ini," batin Farida terheran melihat Nadia yang sama sekali tidak mengingatkan Adam untuk segera mencari pekerjaan.

***

Setelah Nadia pulang ke rumah, Farida pun kemudian menyusulnya seperti perintah Nadia yang memintanya agar datang ke rumahnya untuk mengambil beras lagi.

Sebenarnya Farida tak ingin lagi meminta-minta dan bergantung pada mertuanya, tapi nyatanya gak segampang itu. Lagi-lagi dirinya menengadahkan tangan meminta mertuanya membantu keluarganya.

Meski menahan malu dan juga rasa sakit di dalam hatinya. Nyatanya Farida masih memiliki muka untuk datang ke rumah Nadia dengan tangan kosong.

"Assalamualaikum," ucap Farida mengucapkan salam.

Tak ada sahutan dari Nadia maupun suaminya. Tapi tak lama, datang bapak mertuanya yang hanya memakai sarung dan kaos oblong.

Tatapannya terlihat tajam memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanpa ragu, Farida langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Mau apa kamu ke sini? Mau minta beras lagi, ya?" tanya bapak mertuanya yang seperti sudah hafal dengan kebiasaannya.

"I-iya, Pak. Tadi ibu meminta saya ke sini untuk mengambil beras," jawab Farida dengan nada pelan.

"Hmmm sudah aku duga sih. Kamu dan Adam pasti akan kembali ke sini untuk meminta bantuan kami," ucap bapak mertuanya yang masih menggenggam tangan Farida.

Farida hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan bapak mertuanya. Ia sendiri sebenarnya sudah malu, tapi mau bagaimana lagi.

Farida menarik tangannya yang masih digenggam oleh bapak mertuanya saat bersalaman, namun tiba-tiba tangan bapak mertuanya menahan tangannya membuat Farida mendongak menatap wajah bapak mertuanya.

"Ya Tuhan, kenapa bapak menahan tanganku," batin Farida sudah ketakutan. Ia berusaha menarik tangannya meski tanpa kata keluar dari mulutnya.

Farida melirik ke arah wajah bapak mertuanya yang tampak tersenyum genit padanya sembari menahan tangannya.

"Pak, lepaskan tanganku," pinta Farida akhirnya memberanikan diri mengatakan kalimat itu.

"Kalau dilihat-lihat kamu cantik juga, ya," ujar bapak mertuanya menjawab perkataan Farida dengan tangan yang masih memegang erat tangan Farida.

*** Nasib yang Sama Apakah Karena Keturunan

"Kamu sudah datang rupanya."

Suara Nadia membuat Farida sangat terkejut hingga menarik kuat tangannya dari genggaman bapak mertuanya.

Saat itu juga bapak mertua Farida membiarkan tangan Farida lolos begitu saja karena tak mau membuat Nadia curiga.

"Alhamdulillah ya Allah. Engkau masih melindungi ku," batin Farida bersyukur. Ia mengusap pelan tangannya yang bekas digenggam kuat oleh bapak mertuanya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya jika Nadia tak datang saat itu.

Mungkin saja bapak mertuanya belum melepaskan genggaman tangannya dan bisa saja bapak mertuanya malah bertindak tak baik padanya lebih jauh karena bapak mertuanya yang memang sangat genit padanya.

"Ini beras dan juga lauk-pauknya." Nadia mengulurkan dua bungkusan plastik hitam.

Wajah Nadia terlihat sangat ketus dan tak ada senyum dari bibirnya. Nada suaranya pun terdengar sedikit keras dan tak ramah di telinga.

Farida mencoba menerima bungkusan itu dari tangan Nadia. Hatinya sangat teriris mendapat perlakuan yang tak baik dari mertuanya, tapi Farida tak bisa melakukan apapun.

Semuanya karena Adam yang tak mau mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya sampai-sampai Farida nyaris dilecehkan oleh bapak mertuanya sendiri.

Jika Nadia tidak segera datang, entah apa yang akan terjadi padanya. Padahal Farida sudah berusaha menutup rapat tubuhnya dengan memakai baju gamis panjang dan jilbab yang menutupi dadanya.

Namun, tetap saja ada mata-mata jahil yang seolah bernafsu setiap kali melihat tubuh yang bahkan sudah ditutup rapat oleh pemiliknya.

"Itu beras dan lauk-pauk untuk anakku dan juga cucuku bukan untukmu. Kalau kamu mau makan, ya kamu harus usaha cari sendiri."

Bak ditusuk jarum. Kalimat itu begitu menancap di dalam hatinya hingga menyisakan rasa sakit dan nyeri yang teramat sangat.

Luka yang tak berdarah itu membuat Farida ingin menangis, namun lagi-lagi ia tak bisa membiarkannya jatuh begitu saja.

"Iya, Bu."

Hanya kalimat itu yang bisa Farida ucapkan sembari menunduk.

"Yaudah, kamu mau ngapain lagi di sini!" kata Nadia ketus.

"Ya sudah kalau begitu Farida pamit pulang ya, Bu, Pak," kata Farida.

Tangannya diulurkan kembali mengarah pada ibu mertuanya namun, tak dibalas oleh Nadia. Ia justru melengos membuang pandangannya dari Farida.

Farida hanya bisa menghembuskan napas pelan menerima respon yang tak baik dari ibu mertuanya.

Namun, tangannya mendadak menjadi gemetaran dan juga dingin karena saatnya ia kembali berjabat tangan dengan bapak mertuanya yang genit untuk berpamitan.

"Pak, Farida pamit pulang, ya," ucap Farida mengulurkan tangan.

Kali ini Farida mendapatkan perlakuan yang baik. Bapak mertuanya meloloskan tangannya begitu saja sampai akhirnya ia pulang.

Saat pulang dari rumah Nadia, Farida berpapasan di jalan dengan ibunya. Wajahnya tampak sedih dan matanya sedikit berkaca-kaca.

"Ibu darimana, Bu. Ibu kenapa? Kok nangis?" tanya Farida pada ibunya.

Farida menghentikan langkah kakinya dan berdiri tepat di depan ibunya. Dalam hati Farida sudah menebak apa yang membuat ibunya bersusah hati saat itu. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya yang sudah menua.

Bukannya menjawab, Nani malah meneteskan air matanya hingga berjatuhan membasahi pipinya yang keriput.

Farida semakin dibuat khawatir oleh Nani. "Bu, ada apa? Kok ibu malah nangis?" tanya Farida cemas.

"Ibu tadi habis dari warung buat hutang beras tapi nggak dikasih sama ibu warungnya, katanya hutang ibu sudah menumpuk jadi ibu tidak boleh berhutang lagi."

Nani bercerita dengan sesenggukan. Terkadang kalimatnya sedikit tersendat, namun Nani kembali melanjutkannya.

"Ya Allah, ibu." Farida memeluk tubuh ibunya yang kurus dan lebih rendah daripada dirinya.

Farida merasa sangat sedih dan juga lemas. Otot-otot tangannya seolah tak mampu lagi membawa beban meski hanya beras satu kantung berukuran sedang.

"Ya Allah ujian apa lagi yang Engkau berikan pada keluarga ku," batin Farida.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Sejak kecil, Iris diadopsi oleh keluarga Stewart dan tumbuh menjadi kekasih rahasia dari pamannya, Vincent. Di balik reputasi playboy-nya, CEO itu bersikap sangat dingin pada Iris. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak Vincent demi pernikahan bisnis. Ingin lepas dari penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun di hari pernikahan, Vincent justru datang bersimpuh dan memohon agar Iris tidak pergi.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela harus menelan kepahitan saat cintanya ditolak dan dihina oleh Zero, sahabatnya yang posesif. Setelah berhasil bangkit dan menemukan kebahagiaan baru bersama Tirta, masa lalunya kembali mengusik. Menjelang pernikahan mereka, Zero tiba-tiba hadir untuk merusak segalanya. Meski bayang-bayang mantan kekasih Tirta ikut mengintai, ancaman terbesar tetaplah Zero. Dengan kekuasaan dan obsesi gilanya, putra konglomerat itu bertekad merebut kembali Pamela.
Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita yang masih dibayangi masa lalu, bertemu Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, dan dingin. Wajahnya sangat mirip mendiang mantan tunangan Bunga. Demi membalas sebuah jasa, Rio memutuskan menikahi Bunga. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria berwajah serupa?
Sampul Novel Dendam Anak Tiri
9.1
Kemiskinan dan hinaan masa kecil mengubah Alena menjadi sosok ambisius yang haus balas dendam. Ia bertekad menghancurkan keluarga ayah kandungnya yang kaya raya karena telah menelantarkannya. Di sisi lain, Alyssa, adik tirinya yang manja, tidak menyadari bahwa kehidupan mewahnya akan segera terusik. Pertemuan mereka memicu konflik besar saat rahasia persaudaraan terungkap. Akankah misi Alena berhasil atau justru berakhir duka bagi keduanya?
Sampul Novel GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
9.6
Demi membiayai pengobatan sang nenek, Cinta rela kuliah sambil bekerja keras. Namun, kepolosan mahasiswi ini justru dimanfaatkan pamannya sendiri yang tega menjualnya demi materi. Nasib mempertemukannya dengan seorang konglomerat yang berniat melindunginya karena jatuh cinta. Sayang, hubungan mereka tidak berjalan mulus. Cinta harus menghadapi kejamnya persaingan bisnis serta intimidasi dari keluarga besar neneknya yang terus menuduhnya atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
Sampul Novel JANDA YANG TERNODA
9.4
Tigran, penerus takhta Mayori Group yang menguasai pasar pangan Asia, jatuh hati kepada Naomi, seorang janda satu anak bernama Kayla. Hubungan mereka ditentang keras oleh orang tua Tigran demi melindungi nama baik keluarga dari desas-desus. Namun, Tigran memilih menentang mereka dan menikahi Naomi secara siri. Setelah melewati rintangan berat yang menguras perasaan, mereka akhirnya memperoleh restu keluarga dan memulai lembaran baru yang harmonis.