
Suamiku Menukar Nyawa Anakku Dengan Kekasih Gelapnya
Bab 4
Semua uang di tabunganku dihabiskan oleh Hans. Yang tersisa hanya 4 juta.
"Nggak punya uang? Cari saja Shane. Bukannya kondisi Jade bisa begini gara-gara kamu? Kalau kamu menjual diri dan memberinya obat itu, dia pasti sudah sembuh dan pulang sekarang, 'kan?" timpal Hans dengan tidak acuh.
"Irene, aku nggak ngerti apa hakmu menyalahkanku di sini. Aku cuma mengejar impian masa mudaku. Sementara itu, kamu cuma bisa mengancamku dengan nyawa putri kita."
Begitu ucapan ini dilontarkan, terdengar suara tepuk tangan yang antusias dari ujung telepon. Orang-orang memuji keberanian Hans. Hans berani melakukan gebrakan baru untuk mengejar impiannya. Orang-orang pun mengatakan Hans adalah pahlawan Carol.
Sungguh konyol! Bagaimana bisa seorang pria yang mengabaikan nyawa istri dan putrinya disebut sebagai pahlawan bagi wanita? Aku tidak ingin mendengar sorakan yang menusuk telinga itu. Aku langsung mengakhiri panggilan.
Orang-orang ini seperti segerombolan nyamuk, mengisap darahku dan darah putriku hingga kering. Setelah itu, mereka baru bersedia melepaskan kami.
Aku berusaha mencari pinjaman sepanjang malam. Setelah meminjam dari kerabat dan teman, aku akhirnya mengumpulkan 200 juta. Ketika aku hendak membayar, resepsionis malah mengatakan tidak perlu lagi.
Kemudian, dokter menunjuk ruang operasi di belakangku. Lampu di atas pintu ruang operasi telah padam. Pintu dibuka, Jade didorong keluar. Hanya saja, kali ini berbeda. Wajah Jade telah ditutupi dengan kain putih.
"Bu, kami dan Jade sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter dengan ekspresi sedih.
"Kanker pankreas sangat berbahaya. Sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Semalam dia mengalami pendarahan internal yang parah. Aku sendiri nggak tahu gimana dia bisa bertahan sampai sekarang. Dia sangat kuat."
Dokter menepuk bahuku untuk menghibur, "Sebelum dibius, Jade bilang dia nggak sakit. Dia menyuruhku menyampaikan, jangan mencemaskannya."
Aku menjulurkan tanganku untuk menggenggam tangan mungil yang terkulai lemas di pinggir ranjang. Ekspresiku terlihat bengong. Jade tidak menggenggam tanganku. Dia benar-benar sudah pergi.
Aku masih ingat bagaimana penampilan Jade waktu baru lahir. Dia terlihat mungil dan menggemaskan. Saat itu, aku sedang berbaring di ranjang dengan kelelahan dan pusing. Sementara itu, Jade menarik napas dalam-dalam dan menangis sekuat tenaga. Setelah diam, Jade meraih jari kelingkingku dengan penasaran.
Putriku masih begitu kecil. Dia pasti ketakutan menempuh jalannya sendirian. Meskipun begitu, dia masih menghiburku agar tidak cemas.
"Ibu tahu kamu anak paling kuat," gumamku sambil menggenggam tangannya dengan wajah berderai air mata. 'Jangan takut. Dua hari lagi, ibu akan menemanimu.'
"Aku turut berduka." Dokter sudah terbiasa melihat kematian. "Di dunia ini, nggak ada obat untuk membangkitkan orang yang sudah meninggal. Sesedih apa pun kamu, Jade nggak akan bisa kembali lagi."
Bagaimana mungkin tidak ada. Dokter hanya tidak tahu bahwa obat itu diberikan ayah Jade kepada orang lain.
Ketika teringat aku dan Jade akan berkumpul dua hari lagi, aku merasa sangat lega. Putriku tidak mungkin berjalan terlalu cepat. Asalkan aku mengejarnya, aku pasti bisa menyusulnya. Ketika menunggu di rumah duka untuk mengambil abu Jade, aku menelepon Hans lagi. Karena dia mabuk semalam, dia seharusnya belum bangun sekarang.
"Irene, kamu ini nggak ada habis-habisnya ya." Ternyata Hans sudah bangun. " Aku sedang mengadakan acara pembukaan untuk filmku. Kamu bisa berhenti menggangguku nggak?"
Hans membentakku, tetapi berbicara dengan lembut kepada orang lain di sana.
"Aku langsung berbicara ke intinya, Jade sudah pergi."
"Nggak mungkin." Hans menyahut dengan lugas, "Kalau Jade sudah pergi, mana mungkin kamu meneleponku dengan setenang ini. Jade bukan alat bagimu untuk mendapat simpati. Kalau kamu berani mengutuknya lagi, aku akan langsung menceraikanmu!"
Anda Mungkin Juga Suka





